Adella Mahendra, gadis cantik dengan segudang prestasi. Kehidupannya bagaikan salah naik angkot, oper sana oper sini, pindah sana pindah sini.
Bagi sebagian orang, mungkin akan merasa senang jika berada di posisi Adel, tetapi tidak bagi Adel yang membuat dirinya harus di putar putar karena memiliki tiga orang tua yang sangat menyayanginya. Ditambah lagi dengan seseorang yang telah lama mencintainya dan begitu posesif terhadapnya.
Lanjut baca yuk, gimana jungkir baliknya Adel tetapi dengan sejuta pesona nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulina alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih seperti yang dulu
"Adel...."
Dokter Vikky menatap wajah Adel yang dari tadi masih menunduk, entah karena malu atau bagaimana.
"Mas serius, Mas ingin segera melamarmu secara resmi dan menikahimu secepatnya"
Deg
Jantung Adel lagi lagi berdetak sangat kencang, ini bukan sakit jantung, tapi jatuh cinta. Mata Adel dan Vikky saling bertemu, seperti mengisyaratkan sesuatu, hingga Adel sadar karena Dokter Vikky masih berlutut di depan nya
"Mas....bangun dulu gih" pinta Adella, karena memang gak enak melihat Dokter tampan itu berlutut
Dokter Vikky bangun dari adegan berlututnya, tetapi tangannya masih setia menggenggam tangan Adella.
"Mas....aku......"
"Shuttt......" jari telunjuk Dokter Vikky menyentuh bibir pink Adella
"Mas, tau...apa yang ingin kamu katakan, Mas akan menunggu"
Dokter Vikky tau, mungkin terlalu cepat untuk mengungkapkan perasaannya saat ini, sedangkan mereka baru saaja bertemu setelah berpisah sekian tahun
Sementara Adel melirik ke arah Papi, tetapi Papi Surya pura pura cuek dan tidak mendengarkannya
"Pi...." panggil Adel
Papi menoleh kemudian tersenyum dan mengangguk "Papi merestui kalian"
"Tuh kan han....Papi aja merestui loh" ucap Vikky menggoda
"Maksa" jawab Adel
"Iya, harus dan wajib"
Dokter Vikky meraih tangan Adel lagi, dan mencium tangannya
"Mas mau tanya, dan harus dijawab jujur"
"Emang aku pernah bohong"
"Adel udah punya pacar? aku mau jawabannya belum dan tidak"
"Hmm apa apaan itu, katanya mau nanya tapi malahan maksa jawaban"
"Kan pengennya gitu, Adel hanya milik Mas Vikky seorang"
"Gak di bolehin Papi pacaran, katanya udah ada yang nungguin aku, tapi aku juga gak tau siapa yang nungguin, orang nya aja gak pernah nongol nongol, ngasih kabar ja gak pernah"
Adel tersenyum tipis dengan melirik ke arah Dokter Vikku yang juga tersenyum penuh kemenangan
"Aku mau cari pacar aja, daripada nungguin yang gak jelas, aku juga gak tau dia siapa, Papi juga gak kasih tau, biar kapok....kapok deh, salah sendiri gak pernah hubungin aku"
"Jangan......."
"Jangan sayang....Mas sudah datang, jangan cari pacar ya, kamu calon istri Mas sayang"
Adel dan Papi tertawa bersama sama, apalagi Adel yang merasa puas sudah mengerjai Dokter Vikky. Sedangkan Dokter Vikky mencubit hidung Adel gemas dan berbisik
"Awas kamu han, tunggu pembalasanku, berani beraninya kamu ngerjain Mas"
"Hmm gak takut" balas Adel dengan mengedipkan matanya.
Dokter Vikky melihat jam di tangannya, lalu menghela nafas panjang karena harus meninggalkan kekasih hatinya, padahal dia sendiri masih kangen.
"Han....Mas tinggal sebentar ya, nanti Mas anterin kamu pulang'
Adel menggeleng "Aku tidur sini Mas, nemenin Papi"
"Pulang aja Del, Papi gak apa apa, nanti Om Roy biar nemenin Papi"
"Tidak Pi, aku mau tidur sini"
"Gak apa apa Pi, nanti aku juga nemenin Adel di sini, lagian ini juga nyaman buat tidur Adel, daripada dia di rumah malahan kepikiran Papi" ucap Dokter Vikky mencoba menarik perhatian Adel
"Hmm....ngrayu nih"
"Ya udah....Adel bobok sini gak apa apa temenin Papi, tapi besok wajib sekolah ya"
"Siap Pi" jawab Adel
"Kalau gitu nanti malam Mas kesini buat nemenin kamu makan malam"
"Ta-"
"Gak terima penolakan"
"Mas pergi dulu" ucap nya dengan mengacak rambut Adel
"Vikky pergi dulu Pi" Dokter Vikky langsung mencium punggung tangan Papi Surya
Pintu ruangan Papi Surya di tutup, itu tandanya kalau Dokter Vikky sudah pergi meninggalkan ruang inap Papi, sedangkan Adel masih saja mepihat ke arah pintu
"Ehem...." Papi Surya membuyarkan lamunan Adel, entah apa yang dipikirkan oleh gadis cantik itu
"Del" panggil Papi Surya
"Iya Pi, ada apa?"
"Gimana perasaanmu?"
"Masih sama seperti dulu" jawab Adel jujur
Papi Surya mengeryitkan alisnya, dia menatap putri cantiknya lekat lekat. Papi Surya tau gimana perasaan Adel saat ini, tidak dipungkiri jika putrinya masih kaget karena kedatangan Dokter Vikky dan menyatakan lamarannya mendadak.
"Tapi kamu ada rasa kan sama dia?"
Adel tersenyum malu dan mengangguk "Tapi kan gak secepat itu juga menerima nya Pi, masak baru aja ketemu langsung terima lamaran, gak asyik gak ada acara bucin bucinnya dulu gitu"
Papi mengacak rambut Adel "Terserah Adel, yang pasti menurut Papi, Dokter Vikky yang terbaik, dia sudah menunggumu dari dulu, Papi harap kalian bisa bersama, tapi semua Papi serahkan ke kamu, Papi gak mau memaksa"
"Adel tau Pi, tapi Aku mau tau keseriusan dia dulu"
"Nakal kamu sayang"
Ceklek
Pintu ruangan inap Papi Surya di buka oleh sepasang suami istri yang sudah tidak muda lagi.
"Mam....Pap....." teriak Adel langsung memeluk kedua orang tuanya itu.
Adel membawa Mam Delima untuk duduk di sofa, menghindarkan dari Papinya, karena Adel tau, Papi Surya masih menginginkan Mam Delima
Sedangkan Papah Kenzo menghampiri brankar Papi Surya
"Gimana keadaan lo" tanya Papah Ken
"Sudah membaik, karena ada Adel di sini"
Kedua laki laki itu masih saja berperang dingin, tidak dipungkiri jika Papah Kenzo juga masih menyimpan sedikit dendam pada Papi Surya. Dan kalau tidak karena Adel, Papah Ken dan Mam Delima tidak akan menjenguk Papi Surya
"Mam....aku malam ini bobok sini ya?" pinta Adel dengan manjanya
"Pulang aja ya sayang, kamu nantj tidurnya gak nyenyak, tau sendiri kan kasur di Rumah Sakit itu seperti apa"
Mam Delima belum menyadari jika beliau saat ini berada ruangan keluarga, yang pastinya dengan fasilitas yang lengkap tentunya, dan dengan kasur yang empuk
"Biarkan Adel menemaniku di sini, lagian ini tempatnya nyaman" ucap Papi Surya
"Adel sendiri gimana sayang" Papah Kenzo melihat ke arah Adel, dan seketika langsumg Adel mengangguk
"Yaudah kalau maunya Adel begitu, dan maaf Papah ma Mam kamu gak bisa lama lama, melihatmu saja kami sudah senang sayang"
Adel berdiri memeluk Papah Kenzo "Makasih Pap, dan memang sebaiknya bawa Mam Delima pulang segera"
Papah Kenzo tersenyum, beliau tau apa maksud ucapannya Adel, ya walapun Adel anak kandung Papi Surya, tetapi sampai kapanpun Adel tidak menginginkan Papi Surya memiliki Mam Delima nya
"Gue pulang dulu, jaga Adel dengan baik"
"Lo belum lupa ingatan, Adel itu anak kandung gue"
Adel yang melihat Papah Ken dan Papi Surya berrsitegang langsung menggandeng Mam Delima dan juga Pap Kenzo dan segera meninggalan Papi Sutya