[🚫Hati-hati, novel ini bisa buat kamu terbang melayang-layang lalu jatuh ke dalam empang🚫]
Kisah Tuan Muda Rico.
Pria dewasa yang dijodohkan dengan gadis amit-amit bernama Bebiana.
Tidak hanya merepotkan, gadis belia itu juga memiliki hobi aneh. Yaitu mencuri apa saja yang bisa dijadikan uang demi menuruti hobinya bermain game.
Akankah Rico bisa bertahan memiliki istri yang hobinya maling sana-sini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anarita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Badan Bebi mulai gemetar. Keringat dingin bercucuran di sekujur tubuh akibat menahan sakit yang teramat sangat dari bagian intinya.
Rico yang merasakan ada gelagat aneh dari perempuan itu mulai melirik ke samping. Menatap Bebi di tengah-tengah pencahayaan lampu minim. Dia pikir gadis itu gemetar karena menahan tangis dan terlalu memikirkan kejadian buruk yang menimpanya hari ini.
"Kenapa? Kamu masih sedih gara-gara ayahmu yang meninggal, atau gara-gara ayah kandungmu yang ternyata masih hidup?" tanya pria itu iseng.
Sebenarnya Rico merasa terganggu dengan tingkah Bebi. Beberapa kali gadis itu menggerakkan tubuhnya seperti cacing tanah yang disiram air garam. Membuat Rico tak nyaman untuk mulai terpejam.
Sementara Bebi terus berusaha tenang melawan rasa sakit pada tubuhnya. Semakin dilawan sakit itu semakin menuntut tak berperasaan.
"Aku tidak sedih, hanya menyesal telah lahir ke dunia." Bebi berhenti sejenak, mengambil napas dalam-dalam untuk menetralkan rasa sakit yang kian merambat ke penjuru tubuh lainnya.
"Ya mau bagaimana? Siapa suruh dulu kamu ikut lomba lari," kata Rico meledek.
"Huh!" Sebisa mungkin Bebi berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan Rico. Ia yakin bisa melewati semua ini. Besok juga sembuh, pikirnya.
"Kalau tahu kelahiranku tidak diharga seperti ini, lebih baik aku menyerah dari awal saat masih jadi kecebong. Untuk apa aku capek-capek ikut lomba lari kalau ujung-ujungnya tidak berguna seperti ini! Setelah aku berhasil menjadi kecebong yang paling berkualitas, kehadiranku malah tak diinginkan. Ayah Dianu membenciku karena menganggapku sebagai penyebab meninggalnya ibu, ayah kandung apalagi, tidak mau mengakui sama sekali. Lengkap sudah penderitaanku, tidak ada satu pun yang berpihak dan menghargai kalau aku juga manusia!" kesalnya panjang lebar.
"Jangan seperti itu." Rico berusaha menghibur. "Kamu harus bisa melanjutkan hidup. Tidak perlu muluk-muluk, cukup jadilah seperti tai! Meskipun tidak dihargai, tapi tidak ada yang berani menginjak-injak tai!"
Sebuah quote sialan yang entah ia dapat dari mana Rico lontarkan. Bebi sedikit terlonjak, namun dipikir-pikir apa yang Rico katakan ada benarnya juga. Tidak akan ada orang yang berani menginjak ta*
"Benar tidak yang kukatakan? Kasar, tapi sangat masuk diakal." Menoleh lagi, berusaha menjangkau wajah Bebi yang terbalut oleh kegelapan.
"Hmmm.Kata-katamu memang benar. Tapi aku manusia bukan ta—" Bicara gadis itu terhenti.
Bebi meraba bagian bawahnya yang ternyata sudah sangat basah. "Awhk!" pekik perempuan itu pelan.
"Kenapa?"Rico memperhatikan Bebi yang mendadak diam setelah memekik pelan.
Tak mendapat jawaban apa pun, tangan pria itu terulur ke bagian hidung untuk meraba lubang pernapasan Bebi.
Saat itulah Rico baru tahu bahwa sejak tadi napas Bebi terengah-engah seperti orang yang sedang menghadapi sakaratul maut.
"Apa yang terjadi denganmu, Petasan Banting?" Buru-buru Rico duduk dan menyalakan lampu otomatis dengan satu tepukkan tangan. Bebi di sampingnya sudah nyaris pingsan. Matanya terpejam dan mulai merintih tidak jelas.
"Sakit ... sakit ... sakit."
"Apanya yang sakit?" Rico menyeka titik-titik keringat yang memenuhi seluruh permukaan wajah perempuan itu. Ia makin membelalak begitu melihat darah banyak sudah merembas di ranjang yang Bebi tiduri.
"Astaga, darah! Kamu haid?"
Bebi menggeleng samar.
"Lalu darah apa ini? Tidak mungkin 'kan kamu melahirkan?" Saking paniknya pria itu sampai lupa bahwa tadi siang ia sudah melakukan hal tidak senonoh pada perempuan itu.
"Tolong ... aku," rintih Bebi seakan melihat malaikat maut sudah berada di atas kepala. Kesadarannya mulai tak seimbang karena seluruh ruangan terasa menggelap.
"Tahan dulu! Biar kupanggilkan dokter untuk memeriksamu!"
Pria itu segera berlari ke kamar sebelah. Tempat di mana ayahnya mungkin sedang tertidur pulas merengkuh asa dan mimpi.
"Ayah .... ayah! Cepat buka pintunya, Ayah! Ayah ... Ayah! Cepat buka! Bebi terluka parah Ayah!"
Tiba-tiba Rico teringat perbuatannya tadi siang. Jangan-jangan ini gara-gara perbuatan Dipsy?
"Arghh!"
Pria itu berteriak frustasi. Ia tidak akan memaafkan Dipsy jika sampai perbuatan itu disebabkan olehnya. Tapi ... siapa lagi yang membuat Bebi seperti kalau bukan Dipsy—nya.
Brakk!
Pintu dibuka dengan cara dibanting.
"Ada apa? Ada apa dengan Bebi?" Tuan Wicaksono berteriak seraya melotot ke arah anaknya. Membuat Rico sedikit tersentak karena ulah si tua bangka itu yang tak kalah heboh menanggapi kepanikannya.
"Apa yang terjadi pada anak itu sampai kamu berteriak-teriak dan membuat jantung ayah mau copot!" kesal tuan Wicaksono pada sang anak.
"Bebi yah ... dia pendarahan!"
"Melahirkan? Kok bisa?"
"Pendaran Yah! Bukan melahirkan!"
"Astaga! Cepat panggilkan kepala pelayan agar segera menghubungi dokter pribadi keluarga kita. Kenapa kamu malah membangunkan Ayah? Kamu pikir ada gunanya?"
Merasa omongan ayahnya benar, Rico menjambak rambutnya sendiri saking kesalnya.
"Akh! Sialan! Kenapa aku jadi bodoh seperti ini?"
Pria itu segera berlari panik menuruni anak tangga. "Pak Pram ... Pak Pram!" Suaranya menggelegar di bawah sana. Jika jantung kepala pelayan tidak kuat mungkin langsung copot karena teriakan Rico tidak manusiawi.
Wicakno sampai dibuat menggelengkan kepala. Ia berjalan ke kamar samping untuk melihat keadaan Bebi. Pria tua itu refleks membulatkan matanya begitu melihat Bebi memegangi bagian intinya dengan keadaan sudah berdarah-darah.
"Astaga Nak! Kasihan sekali kamu. Apa jangan-jangan ini kiriman santet dari kampung? Siapa yang membenci anak baik sepertimu, Bebi?"
***
Dahlah aku cape ama keluarga ini gendeng ini. 😑😑😑
.... Up lagi kalu rank hadiahnya udah di 20 besar.
wkakakaaakakakaaaaaa....
🤦🤦🤣🤣🤣🤣🤣🏃🏃🏃🏃