NovelToon NovelToon
CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Tamat
Popularitas:2.4M
Nilai: 5
Nama Author: iska w

Seorang presdir tampan pemilik gedung raksasa yang bernama Samuel, rela membesarkan seorang anak yang imut, lucu dan menggemaskan yang bernama Kenzo itu sendirian, dia memang anak yang nakal dan bandel namun sebenarnya dia anak jenius, puluhan baby sister sudah mengundurkan diri karena tidak sanggup melayani bocah yang sering dipanggil Yoyo itu.

Sehingga suatu hari ada anak magang yang bernama Rinjani, karena kesalahannya dia terpaksa menjadi baby sister demi kelangsungan magangnya di perusahaan itu.

Hingga seiring berjalannya waktu tumbuh benih-benih cinta diantara mereka.

Akankah Kenzo setuju?

Akankah mereka bisa bahagia selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iska w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Kekasih Bayaran

...Happy Reading...

Mengucapkan janji bisa dikatakan perkara yang mudah. Namun, untuk bisa jadi orang yang selalu menepati janji, terkadang terasa sulit. Tak sedikit orang yang mudah mengumbar janji daripada menepatinya.

Terutama orang yang sedang jatuh cinta, sering kali mengumbar janji pada pasangannya. Padahal ujung-ujungnya, mereka terkadang bahkan akan mengingkarinya.

Prinsip Samuel, dia tidak mau mengumbar janji-janji manis, dia lebih kepada pembuktian cinta, bukan kata tapi ke perlakuannya.

" SEKARANG KITA PUNYA HUBUNGAN..!" Ucap Samuel dengan mantap, dia tidak mau Jani semakin salah paham dengan omongan Marvin tadi, dia lebih baik mengungkapkan perasaannya saja, dari pada Jani illfeel duluan pikirnya, walau dia tidak berkata secara langsung, namun setelahnya dia langsung dengan santainya menikmati bi bir ranum Jani yang terasa manis itu.

" Hemphh.." Setelah beberapa saat Jani terlena oleh keterkejutannya menerima serangan mendadak dari Samuel, dia langsung sadar dan kembali ke dunia nyata, karena suara umpatan Marvin pun memekakkan telinga, sehingga Jani segera menghantukkan kepalanya ke kepala Samuel agak keras, karena tangannya dihimpit oleh tubuh kekar Samuel.

" Aww..."

" Kenapa dihantukkan beneran sih?"

" Jangan pake tenaga dong." Samuel mengusap keningnya yang sedikit nyeri.

Tulilut..

Tiba-tiba suara ponsel Samuel berbunyi, menghilangkan rasa canggung pada diri Rinjani.

" Yaa... Ada apa Nisa?" Samuel langsung menggeser tombol hijau saat sekertarisnya menelpon, pasti ada yang penting pikirnya, karena ini sudah bukan jam kerja.

" Selamat malam pak, maaf menggangu." Sapa Nisa dari balik telpon.

" Ya.. katakan, ada perlu apa?" Tanya Samuel langsung kepada intinya.

" Begini pak, saya sudah mendapatkan babysitter yang pas untuk Yoyo."

" Dia bukan dari Agen, dia tetangga saya."

" Jadi saya tahu betul bagaimana dia."

" Bagaimana pak?"

" Apa bapak mau menerimanya?" Tanya Nisa yang berbicara panjang lebar, dia sangat antusias sekali, karena tetangganya tadi cerita kalau dia butuh pekerjaan, dan kebetulan dia orangnya penyayang dan penyabar, pasti bisa menangani sifat nakal Yoyo yang terkadang memusingkan kepala itu.

" Hmm... tentu saja."

" Terima saja, tapi datang kerumahnya nanti tunggu perintah dari saya selanjutnya." Ujar Samuel, karena dia belum punya alasan lain untuk menahan Jani agar tetap tinggal dirumahnya.

" Lho?"

" Kenapa pak?"

" Apa ada masalah lain?" Tanya Nisa terheran, pasalnya dulu big bossnya itu selalu saja menyuruhnya agar cepat-cepat mencari pengganti babysitter Yoyo, tapi sekarang kenapa ditunda pikirnya.

" Jangan khawatir." Samuel berjalan menjauh dari Marvin dan Jani kearah dapur.

" Bilang sama tetanggamu itu, dia sudah diterima."

" Tapi datangnya nunggu arahan dari saya saja."

" Tapi walau dia belom datang bekerja, hari ini juga dia mulai digaji." Ucap Samuel dengan santainya, uang bukan masalah baginya, apalagi untuk Yoyo.

" Owh begitu."

" Baik pak, nanti saya sampaikan."

" Kalau begitu terima kasih pak, selamat malam."

Nisa langsung menutup sambungan teleponnya.

" Hmm.." Samuel memasukkan ponsel disakunya dan berjalan ke arah kulkas dua pintu itu, untuk mengambil air minum, untuk sekedar mendinginkan hatinya yang mulai kembali memanas karena sudah berhasil mengecas energi ekstra setelah sekian lama pensiun dari dunia percintaan.

Saat Samuel menelpon tadi, Marvin menggunakan kesempatan untuk berbicara hal penting kepada Rinjani yang langsung berpindah ketempat duduk yang single, takut kena setrum yang menggiurkan dari Samuel seperti tadi.

" Apa kamu juga menyukainya?" Setelah mengumpat kesal dan melihat Samuel pergi ke dapur, Marvin mengubah raut wajahnya menjadi terlihat serius.

" Ma.. maksud dokter apa?" Tanya Jani langsung kembali gelagapan, dia merasa terhakimi dengan pertanyaan Marvin, dia pun bingung, jadi dia tidak tahu harus menjawab apa.

" Jangan pura-pura."

" Kamu tahu kan kalau Samuel punya perasaan yang lain denganmu!" Marvin menatap tajam mata Jani yang terlihat gugup itu.

" Enggak.."

" Aku beneran nggak tahu."

" Aku tuh pyurr cuma kerja dokter." Jani mencoba berucap jujur.

" Jangan bohong, jangan coba-coba mempermainkan Samuel."

" Atau kamu akan berhadapan dengan saya!" Marvin tidak terima jika Samuel kembali terpuruk karena seorang wanita lagi, usaha yang dia lakukan untuk membantu menyembuhkan penyakit Samuel tidaklah mudah, jadi dia tidak ingin semua usahanya jadi sia-sia hanya karena hadirnya wanita baru di kehidupan Samuel.

" Suer pak."

" Ngapain juga aku bohong?"

" Nggak ada untungnya juga!"

" Nambah dosa iya." Ucap Jani langsung tidak terima.

" Trus kenapa kamu bisa tinggal bersama Samuel?"

" Bahkan dulu kekasihnya yang sangat dia cintai saja, tidak pernah diajaknya nginep dirumahnya?" Tanya Marvin langsung mulai mengkorek hal yang mengejutkannya itu.

" Saya itu babysitternya Yoyo dokter."

" Dulu saya nggak tinggal dirumahnya, hanya siang aja nemenin Yoyo."

" Itupun sama temen saya pak."

" Kalau sore aku juga pulang kok." Ucap Jani mulai menjelaskan.

" Kamu kerja part time gitu?" Marvin semakin bingung dibuatnya.

" Bukan.."

" Sebenarnya, aku tuh bukan babysitter Yoyo asli."

" APA!" Marvin langsung bangkit dari duduknya.

" Eitss... dengerin dulu kalau orang lagi ngomong."

" Emosian aja deh jadi orang!"

" Cepet tua, nanti nggak laku lho!" Ucap Jani kesal karena omongannya disela.

" Diiih... sory ya, gw sudah punya cewek, cantik dan sempurnaa!" Ucap Marvin dengan bangganya.

" Heleh.."

" Mana ada mahkluk sempurna dimuka bumi ini."

" Karena kesempurnaan hanya milik Tuhan semata." Ucap Jani langsung meremehkan omongan Marvin.

" Nggak usah ceramah deh!"

" Lanjut, kenapa kamu bisa kerja disana!" Marvin langsung mengembalikan topik semula.

" Sebenarnya saya tuh anak magang diperusahaan pak Samuel."

" Tapi karena sahabat saya dan saya melakukan sedikit kesalahan dengan Yoyo dan pak Sam hari itu, jadi kami dihukum untuk menjadi babysitter Yoyo, sampai Yoyo dapat mbak yang baru." Jelas Jani agar Marvin tidak salah paham dengannya.

" Kalau kamu babysitter Yoyo, kenapa kamu jadi dekat dengan bapaknya?"

" Dan gw lihat, Samuel sudah terbiasa denganmu, bahkan dia terlihat akrab, eeh bukan lagi.. tapi lebih ke manja denganmu."

" Kalian sudah seperti pasangan kekasih saja!" Marvin masih belum bisa menerima pernyataan dari Jani.

" Ceritanya panjang pak, bisa sampe besok pagi kalau diceritain secara mendetail."

" Intinya, saat pak Sam kambuh traumanya, aku orang yang ada didekatnya, dan sampai sekarang entah mengapa dia nempel mulu sama aku."

" Sebenarnya aku juga risih, tapi juga kasihan kalau melihat dia kambuh, menggigil dan ketakutan begitu." Jani menghela nafasnya, prihatin kalau mengingat kejadian itu.

" Jadi kamu hanya kasihan dengannya?"

" Tidak punya perasaan lain dengannya?" Tanya Marvin yang kembali prihatin dengan nasip Samuel.

" Ya.. gimana ya?"

" Memang begitu kenyataannya dokter." Janipun belum menyadari arti kehadiran Samuel dihidupnya, karena dia memang belum kepikiran jauh kesana, dia hanya sekedar mengagumi ketampanannya saja saat ini, tidak pernah berpikir atau berharap lebih dari Samuel.

" Jangan memberi harapan palsu kepadanya."

" Jika memang tidak suka, katakan dengan tegas tidak!"

" Jangan kamu menikmatinya, apalagi memanfaatkannya."

" Karena aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

" Kalau sampai Samuel kenapa-kenapa karena kamu, aku pastikan akan mencarimu walau ke lubang semut sekalipun!"

" Jangan pernah sakiti dia."

" Dia sudah begitu terluka dan tersiksa menjalani hidupnya."

" Jangan menambah luka lagi didalam hatinya."

" Cam kan itu!" Marvin langsung kembali duduk di sofa.

" Wuidih... kenapa seolah-olah jadi aku yang disalahkan disini?"

" Aku nggak tahu apa-apa lho ini?" Jani malah jadi ngeri sendiri mendengar kata-kata Marvin yang sudah seperti ancaman itu.

Dan obrolan serius mereka terhenti ketika Samuel kembali dari dapur dengan membawa satu botol teh hijau dingin ditangannya.

" Kok pindah tempat duduk sih?" Samuel langsung duduk ditepi kursi yang diduduki Jani.

" See..?"

" It's Not my fault!" Ucap Jani tanpa suara kearah Marvin yang menatapnya.

" Nih... minum." Samuel membukakan tutup botol minuman itu dan memberikannya kepada Jani.

" Minum yang banyak, bi bir mu kering kan tadi." Bisik Samuel ditelinga Jani sambil kembali merangkul bahu Jani dengan tersenyum bahagia.

" Uhuuukk.."

" Uhuuukk.." Jani langsung menyemburkan air minumnya yang baru sampai dikerongkongan tadi.

" Tuuuh kan, kamu kalau makan dan minum selalu saja ceroboh."

" Pelan-pelan nggak bisa apa?" Samuel langsung memijit perlahan tengkuk leher Jani, dia tidak lagi memarahi Jani dengan kasar lagi, saat tangan dan bajunya terkena semburan air minum tadi, bahkan Samuel mengambil tissu dan membantu mengusap bi bir Jani yang basah.

" Heeh?" Marvin bahkan sampai terkejut melihat perlakuan Samuel, dia sudah lama tidak melihat Samuel bersikap lembut seperti ini setelah putus dengan Gladis dulu.

" Bodo amat lah!"

" Lakukan apa yang kalian suka saja!" Marvin merasa menjadi obat nyamuk disana, jadi dia lebih memilih beranjak pergi dari sana.

" Hmm.. istirahatlah!" Ucap Samuel yang masih asyik memandangi wajah Jani.

" Owh iya.."

" Lebih baik kalian menginap saja disini."

" Biar aku tahu bagaimana kondisimu nantinya."

" Coba nggak usah minum obat dulu."

" Kalau nanti malam kambuh, baru aku ambilkan obat."

" Tidak baik mengkonsumsi obat secara terus menerus."

" Jika kamu bisa berhenti total bahkan itu lebih bagus kan?" Marvin kembali menoleh kearah Samuel.

" Dan kamu!" Marvin menunjuk Jani yang langsung gelagapan.

" Yaa?" Jawab Jani terkejut.

" Jaga dia!" Perintah Marvin laksana komandan pemimpin perang.

" Okey tenang saja." Ucap Samuel menggangukkan kepalanya sambil tetap memandang Jani yang terlihat melamun itu, entah apa yang ada dipikirannya sekarang.

" Karena obatmu itu dosisnya tinggi, kalau terus menerus kamu minum, bisa membahayakan ginjalmu dan masih banyak efek fatal lainnya."

" Berusahalah untuk tetap tenang saat sebelum tidur."

" Pikirkan saja yang indah-indah okey!"

" Atau pikirkan saja cewek seksi dan cantik, atau yang bahe nol mungkin?"

" Siapa tahu bisa menambah imun tubuhmu, hehe.." Marvin langsung kabur ke kamarnya saat mata Samuel sudah melotot kearahnya.

" Ya udah, kamu mandi gih."

" Aku sudah kirim pesan sama pak sopir tadi, biar dia beliin piyama tidur di toko ujung sana."

" Kamu mandi dikamar mandi tamu ya."

" Aku mau mandi diatas."

" Nanti kalau sudah selesai, kamu nyusul ke kamar atas ya."

" Ingat.. jangan coba-coba kabur?"

" Jangan hanya bisanya makan gaji buta kamu!" Samuel mengoceh tanpa mendengarkan jawaban dari Jani terlebih dulu dan langsung pergi keatas dengan hanya meninggalkan senyuman untuk Jani yang ingin mengumpat tapi hanya tertahan didalam hati.

" Wah.. wah.. dia pikir aku ini apa?"

" Apa itu yang Dokter Marvin bilang punya perasaan lain?"

" Aku malah mikirnya, seolah-olah aku jadi 'Kekasih Bayaran' jadinya.

" Disini aku yang terluka dokter, bukan pak Samuel!"

" Aaaaa... astaga... siapalah aku ini..?" Jani mengacak rambutnya sendiri.

" Haaaah... kau jadikan aku.. kekasih bayaraaan..

untuk menemani saat kau merasa sepi..

bertahun lamanya kujalani kisah cinta sendiri.."

" Eeh.. itu kan kekasih bayangan ya kan, hihi.." Jani malah terkekeh sendiri setelah menyanyikan sebuah lagu.

" Bagus juga suaranya mbak."

" Nggak mau ikutan audisi apa itu namanya yaa?"

" Odol apa ya?" Ternyata sopir Samuel muncul dari depan pintu membawa satu paper bag yang cukup besar.

" Haha.. Idol pak, bukan Odol."

" Bapak kira mau sikat gigi apa?" Antara malu dan lucu yang Jani rasakan saat ini.

" Ini baju pesanan pak Samuel buat mbak katanya."

" Kalau begitu saya permisi mbak." Ucap Sopir itu menyerahkan baju yang dia bawa.

" Iya.. makasih ya pak."

" Waah... ada baju ganti buat besok juga ternyata."

" Dia memang selalu tahu apa yang gw mau, hihi." Jani melihat isi baju didalam paper bag yang bermerk itu.

" Sama-sama mbak." Ucap Sopir itu segera pergi dari sana.

Setelah menutup pintu Jani menuju kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya, dia berendam di bath up dengan sedikit aroma terapy, yang membuat badannya jadi lebih fresh, bahkan tanpa terasa sudah satu jam dia dikamar mandi.

" Wuuuiihh.. ada kamar nganggur dibawah nih."

" Lah.. mending gw tidur disini saja."

" Bersih kok tempatnya."

" Dari pada tidur diatas, waah... bisa bahaya nanti, banyak setannya."

" Hiiiiiiiiiiiiiiihhhh..." Jani membayangkan yang tidak seharusnya terjadi.

" Bukan muhrim juga, hehe."

" Waaah.. empuknya kasur ini." Jani merebahkan tubuhnya yang lelah, hingga tanpa sadar dia langsung tertidur pulas disana.

Sedangkan diatas, Samuel menunggu Jani sedari tadi sampai ikut tertidur di atas sana, hingga saat bayangan kelam itu kembali hadir dimimpi Samuel.

" Ja.. jangaaaaaann.. jangaaaan.."

" Gladiiiiisssssss awass kamu!"

" Aaaaaarrrgghhh... tiidaaaaaaaakkk...!"

Samuel berteriak sekuatnya dan langsung beranjak dari tidurnya dan berlari keluar kamar.

" Ja.. Ja.. Janiiiiiiiiiii..."

" Kamu dimanaaa?"

" Janiiiiiiii... jangan tinggalkan aku!"

Samuel langsung berlari menuruni tangga dalam keadaan setengah sadar, ditambah rasa panik dan tubuhnya yang kembali menggigil ketakutan.

" Saaammm..."

" Kemana sih gadis itu!"

" Saaaammmm.. awaass!" Marvin yang terbangun langsung berlari saat mendengar teriakan Samuel dari kamar sebelahnya, dia sengaja tidur dikamar sebelah Samuel untuk mengantisipasinya.

Glodaaaaaaaaaak!

Duubraaaaakkkkk!

Samuel yang belom begitu sadar terus berlari, akhirnya kakinya menabrak undakan tangga dan jatuh terguling kebawah, bahkan kepalanya terhantuk tembok diujung.

" Saaaaaammmm...." Teriak Marvin sekuatnya.

" Jaaaaniiiiiiiiii... kamu dimana?"

" Jangan pergi, Janiiiiiiiiii..." Teriak Samuel tanpa sadar, dia benar-benar merasa ketakutan kembali.

" Hiiiihhh..." Jani langsung terduduk dari tidurnya.

" Kayak ada yang manggil-manggil nama gw dan pak Sam ya tadi."

" Waaahh... mimpi kali ya!"

" Kebanyakan mikirin dia kali ya, kenapa namanya sampai terngiang-ngiang di mimpiku?"

" Astaga Jani... eling Jani... eliiingggg!" Rinjani memukul-mukul kepalanya sendiri.

" Saaaaaaaammm..."

" Astaga, apa kamu melihat bayangan itu lagi?" Teriak Marvin langsung mendekati Samuel dan melihat lukanya.

" Kening kamu berdarah lagi." Marvin terlihat panik saat melihat darah menetes lumayan banyak dari kening Samuel.

" Ada apa sih?"

" Kirain cuma mimpi."

" Ternyata beneran!" Oceh Jani sambil mengucek matanya karena penglihatannya masih sedikit buram.

" Jani.. Jani.."

" Jangan pergi!" Samuel langsung mengulurkan tangannya ke arah Jani.

" HAAH..!"

" Pak Sam?" Jani langsung berlari kearah Samuel, saat melihat dia tergeletak dilantai.

" Bapak kenapa?"

" Astaga.. sampai berdarah begini?" Rinjani langsung memangku kepala Samuel yang masih tergeletak dilantai.

" Kamu kemana tadi?"

" Aku kan sudah bilang, jaga dia!"

" Malah kelayapan malam-malam." Marvin langsung menatap tajam kearah Jani.

" Astaga.. aku nggak kelayapan."

" Aku tidur dikamar bawah sono noh!" Jani menunjuk kamar tempat tidurnya tadi.

" Rinjani.."

" Peluk aku.. peluk aku.."

" Haiishh.."

" Mulai deh mulai.."

" Aaaarggghh... kita bukan muhrim pak!"

" Haduuuh ibuk... maafin eneng ya!" Mulut Jani mengumpat tapi tangannya langsung menarik tubuh Samuel kedalam pelukannya.

Karena rejeki tidak boleh ditolak 😅

Jangan pernah mempercayai seseorang yang hanya berkata tapi tanpa pernah berbuat. Karena ia mudah ingkar janji semudah ia berucap janji.

..."Jika sesuatu terasa indah pada awalnya, itu disebut janji, jika hal itu indah hingga akhirnya, itu disebut bukti."...

..."Kebahagiaan itu bukan sesuatu yang statis, dia harus dicari dan ditemukan terus menerus."...

... "Diusahakan. Diperjuangkan. Komitmen." ...

Jangan lupa jempolnya ya bosque☺

1
m Zaki mubalihg
banyak kata2 mutiaranya
Yant08
Luar biasa
Juragan Jengqol
ibunya ga ikut.... wah nyepelein ini namanya
Juragan Jengqol
sudah jam malam ini... 🤭🤣
Juragan Jengqol
lo juga ga berkelas jan. udah tau si bos punya trauma dan cemburuan, tapi ga bisa jaga mulut...
Juragan Jengqol
ya ga gitu juga jarkonah.... minum jus mah bisa kapan2 lah. lihat sikon lebih penting
Juragan Jengqol
Sayyidina Ali KW
Juragan Jengqol
sayyidina Ali KW
sri harjuni
bagus bnget
Nurjannah Rajja
O o oohhhhh udah ketemu benangnya tinggal jarumnya hehehe
Mas Al: Mbwak
total 1 replies
Nurjannah Rajja
Ada 2 cara thor hihihi
@Al**
Bagus ceritanya
Rustan Sarny Apul Sinaga
eh kok the end thor...?
kaget aku tuh....he he he
Rustan Sarny Apul Sinaga
wes angel iki thor...
Suyatno Galih
kusut2 pada, penyesalan Samuel sm emaknya skrng krn ketergantungan nya sm rinjani, saat tragedi musibah dl pada ngupet kemana harta Mulu yg di agung kan
Suyatno Galih
sokorin lue Sam terlalu lebay jd ketahuan kan sm ibu Jani kan, mbuat masalah teros
Suyatno Galih
debat tak faedah
Suyatno Galih
modus si Sam, memang ada ya trauma ato depresi kumat obatnya di kekepin yg anget2 sm yg empuk2 gitu. akal akalan si sam itu mah
Suyatno Galih
Jani mulai nakal ya kamu, makkkk anak gadismu mulai nakal nihhhhh
Suyatno Galih
satu kata buat Samuel "LEBAY"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!