Gimana jadinya jika seorang anak konglomerat menikahi seorang biduan dangdut karena perjodohan kakek mereka di masa lalu.
Kalau Indonesia punya Nela Kharisma, Tristan Trijaya punya Nala Kharina. Gadis delapan belas tahun yang suka dia panggil bocil, yang ternyata seorang biduan dangdut dan suka nyanyi di acara kawinan.
Tristan yang adalah pemimpin perusahaan kakeknya saat ini, harus mau menikah Nala atas dasar janji kakeknya pada sahabatnya (kakek Nala) yang sudah meninggal. Demi mempertahankan harta yang tidak akan dibiarkan jatuh ke tangan sepupunya sendiri yang juga adalah rival besarnya, Tristan setuju menikahi Nala meski ia sendiri sudah punya kekasih.
Tapi sikap Nala yang polos, apa adanya, dan punya badan bak gitar spanyol itu seringkali membuat Tristan hampir gila. Seatap dengan gadis itu bikin hidup Tristan jadi warna warni kayak balonku ada lima. Bisakah Tristan menahan diri dan melupakan perjanjian yang sudah ia buat dengan Nala?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karaoke Room
Usia pernikahan baru menginjak satu minggu. Nala dan Tristan udah pindah ke rumah Tristan. Nala juga udah punya kamar sendiri. Kamarnya Tristan yang kini dia tempati dan Tristan di sebelahnya.
Tristan jadi suka ngalah juga semenjak kenal Nala. Dulu, Tristan paling gak suka kamarnya ditempatin orang lain. Tapi sekarang, dia oke aja kasih kamarnya buat ditempatin Nala.
Beben udah punya rumah sendiri. Kandang yang cukup besar dibikin khusus buat dia di belakang. Ada hiasan pohon di dalamnya, lumayan kuat buat diajak gelantungan.
"Nala kangen rumah deh." ujar Nala pagi hari sebelum Tristan berangkat ke perusahaan. Mereka lagi sarapan.
"Ini kan rumah lo juga, La."
"Beda, banyak kurangnya rumah ini."
"Fasilitas di sini lengkap, Nala Sayang. Lo mau gym ada, lo mau berenang kayak ikan mujaer bisa, lo mau apa aja bisa."
"Nala gak bisa karokean."
Tristan menunda satu suapan terakhirnya pagi ini.
"Ntar gue bikin, biar lo betah disini."
"Bener?" tanya Nala dengan mata berbinar bahagia.
"Iya. Abisin makanannya, bawel."
Nala tersenyum senang. Dalam pikiran Nala karokean yang dimaksud Tristan tuh kayak di rumah dia. Yang pake kaset bajakan terus pake mic jadul. Pokoknya jaman dulu banget.
Ternyata beberapa hari kemudian, rumah itu kedatangan beberapa orang asing yang akan mendesain ruang karaoke keluarga khusus untuk Nala. Nala gak ngerti sih awalnya orang-orang itu pada ngapain, tapi setelah beberapa hari ia mendengar cek sound, barulah ia terlonjak kegirangan.
"Taraaaaaa ...Gimana, lo suka?" tanya Tristan ketika membawa Nala ke ruangan luas yang sudah disulap jadi ruang karoke pribadi mirip sama tempat-tempat karaoke orang-orang ternama yang ada di Indonesia.
"Waaaah ... bagus banget. Mirip sama punya artis-artis. Makasih ya Tristan." Nala menghambur memeluk Tristan tanpa sadar.
Tristan mendadak panas dingin ketika Nala mendekap tubuhnya erat juga dengan sedikit goyang-goyang, kini ada yang tegak tapi bukan keadilan. Hayolah Neng, kita pecah telor di ruang karoke sebagai peresmian.
Pecah telor kepalamu! Putusin dulu itu Ratu garong. Nala gak akan kasih malam pertama dan malam-malam nikmat selanjutnya. Nala sekarang udah muter-muter di ruangan gede itu. Dia lagi asyik milih lagu.
Tristan ikutan masuk, membiarkan dirinya menyaksikan kegembiraan Nala yang berakibat kesejukan pada hatinya sendiri.
"Ayo goyang!" Nala udah tarik tangan Tristan mengajak suaminya itu bergoyang. Tristan awalnya gak bergerak tapi dengar suara sang biduan yang mendayu-dayu akhirnya dia goyang bareng Nala.
Nala dan Tristan udah asyik saling sahut-sahutan. Keduanya bernyanyi juga bergoyang.
Menyanyi dan menari, Tristan mulai lupa daratan. Dia gak peduli jogetnya gak nyambung yang penting sang biduan sesenang itu.
"Asyiiik banget, Nala bisa nyanyi tiap hari disini." kata Nala setengah teriak karena bunyi musik yang menghentak bikin budeg.
"Lo suka kan?" tanya Tristan lagi memastikan.
"Suka, makasih ya."
"Gue juga seneng kalo lo suka."
Nala mengangguk kemudian sangking semangatnya berjoget, Nala limbung dan hampir jatuh. Dia enggak jatuh kok, karena ada Tristan yang menahan tubuhnya sekarang.
"Tristan, lepasin Nala."
Tristan menggeleng tapi malah mendekatkan wajahnya. Nala mematung bahkan ketika Tristan kembali memagut bibirnya mesra. Awalnya Nala mencoba menolak, tapi gimana ya kalo udah sama-sama enak. Alah, biasa bae bekicot nyari kesempatan keremangan.
Kini pagutan mesra itu sudah menjalar hingga ke leher. Nala sudah duduk di atas pangkuannya. Keduanya saling menatap. Apalah ini, dua-duanya kok melanggar perjanjian!
"Gue bakal putusin Ratu."
Nala terkesiap. Seolah tak sadar dengan pendengarannya barusan. Tristan beneran gak ya?
"Kenapa?" tanya Nala serak.
"Karena, gue gak mau jadi manusia bodoh lagi."
"Terus?"
"Karena gue juga mulai suka sama lo."
Jujur Tristan. Nala tersenyum, lalu mengangguk.
"Kamu gak lagi ngibul?"
Tristan menggeleng. Nala tersenyum hangat. Semoga Tristan gak bohong dan gak sedang memanfaatkan kepolosan seorang Nala.
"Aa uu aa uu."
"Apaan tuh?" Tristan dan Nala menolehh lihat Beben lagi pegang mic sambil ngomong. Nala dan Tristan geleng-geleng, gak ngerti bahasa monyet.
keren mah pokoknya, suka sama kosakata yg dipakek mak othor..
semoga selalu diberi kesehatan ya mak..
tetap semangat berkarya dan semoga sukses selalu dimanapun dirimu berkarya..
🙏🏻💪🏻😘😍🥰🤩💕💕💕