NovelToon NovelToon
Target

Target

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:191
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembunuh Terdekat

Malam itu, apartemen Fred kembali terasa seperti kotak sepatu yang terlalu kecil untuk menampung pikiran yang terlalu besar.

Ia duduk di lantai dekat meja makan, punggung bersandar ke kursi, menatap panci kecil yang berisi air mendidih. Bunyi gelembungnya menenangkan, seperti rutinitas yang memaksa dunia kembali normal. Di atas meja, satu bungkus mi instan rasa ayam, sebotol saus cabai murah, dan buku catatan klinis yang masih terbuka—halaman tentang penanganan luka tembak.

Fred menatap kalimat-kalimat itu, lalu menghela napas.

“Aku harusnya fokus ujian,” gumamnya. Tapi tangannya tetap menuang bumbu ke mangkuk, tetap mengaduk, tetap menambahkan cabai seolah rasa pedas bisa mengusir ingatan.

Buronan mati di toilet kampus.

Catatan Maëlle.

Kata “TARGET” yang seperti cap hitam di punggungnya.

Ia mencoba menertawakan semuanya dengan logika sederhana: kalau ia tidak spesial, kenapa ada pembunuh yang mengincarnya? Tapi logika itu mulai retak ketika satu demi satu kejadian menolak disebut kebetulan.

Fred mengangkat garpu plastik, meniup mi yang panas, lalu makan. Rasanya biasa. Tapi yang biasa justru membuat dadanya sesak. Karena dunia “biasa” ini bisa pecah kapan saja.

Di luar jendela, kota mendengung pelan. Suara motor, langkah kaki, pintu lift yang berderit. Fred menatap pintu apartemennya beberapa kali, lalu memaksa berhenti.

Paranoid, pikirnya.

Maëlle bilang pergi dari Paris. Tapi aku… aku sudah memutuskan—

Ketukan pintu memotong pikirannya.

Tuk. Tuk. Tuk.

Fred membeku, garpu berhenti di udara.

Ketukan itu tidak keras. Tidak panik. Justru… tenang. Seperti orang yang tahu Fred akan membuka.

Ketukan kedua.

Tuk. Tuk. Tuk.

Fred menelan mi yang masih ada di mulut, tiba-tiba terasa seperti karet. Ia berdiri pelan, melangkah mendekati pintu tanpa suara. Matanya otomatis mencari sesuatu untuk dijadikan “senjata” — tapi di apartemen ini, yang ada cuma sendok kayu dan gunting kecil.

Ia menempelkan mata ke lubang pintu.

Di luar berdiri Léa.

Rambutnya sedikit basah, pipinya merah karena dingin, senyumnya lembut seperti biasa. Ia memakai jaket panjang dan syal tebal, membawa kantong kertas kecil—mungkin roti atau cemilan.

Fred menghembuskan napas lega, hampir menertawakan dirinya sendiri.

Ia membuka rantai pengaman dan membuka pintu.

“Léa? Jam segini?”

Léa tersenyum lebih lebar, mengangkat kantong kertas. “Aku bawa pain au chocolat. Kamu tadi di kampus kelihatan… kacau. Aku takut kamu nggak makan.”

Fred berdiri canggung di ambang pintu. Ada rasa hangat yang muncul di dadanya, rasa yang sudah lama tidak ia rasakan: perhatian yang tidak dituntut.

“Aku… aku makan,” Fred menunjuk mangkuk mi instan di meja, lalu langsung merasa malu karena itu terdengar menyedihkan.

Léa menatap ke dalam, lalu tertawa kecil. “Mi instan lagi? Fred, kamu ini… kamu harus hidup lebih manusia.”

Fred menggaruk belakang leher. “Budget mahasiswa.”

Léa melangkah masuk sebelum Fred sempat memutuskan apakah ia boleh. Apartemen itu terlalu sempit untuk menampung dua orang tanpa terasa intim. Léa menaruh kantong kertas di meja, lalu menatap Fred dengan ekspresi yang berbeda—lebih lembut, lebih dekat.

“Kamu tahu,” kata Léa pelan, “aku kadang iri sama kamu.”

Fred mengernyit. “Iri?”

“Kamu… jujur. Kamu nggak pura-pura keren. Kamu belajar keras, kamu peduli sama pasien, bahkan sama orang yang nggak kamu kenal.” Léa mendekat setengah langkah. “Itu… langka.”

Fred menelan ludah. Pujian seperti itu biasanya tidak ia dapat. Dalam hidupnya, ia lebih sering jadi orang yang “cukup baik,” bukan orang yang “dipilih.”

Dan jujur saja—Fred tidak merasa dirinya tipe orang yang akan dirayu.

Ia tidak tampan model iklan. Tubuhnya agak berisi, perut sedikit menonjol karena kebiasaan makan buruk dan kurang tidur. Rambutnya sering berantakan. Kalau pun ada yang menyukainya, biasanya itu muncul pelan, bukan datang malam-malam begini.

“Léa…” Fred ingin berkata sesuatu, tapi tidak tahu kalimat mana yang aman.

Léa tersenyum, lalu menyentuh lengan Fred pelan. Sentuhannya hangat.

“Aku serius,” katanya. “Aku… aku sebenarnya sudah lama ingin bilang.”

Fred merasakan pipinya panas. Ia mencoba menahan reaksi seperti anak SMA, tapi tubuhnya tidak bisa bohong.

“Bilang apa?” tanyanya, setengah berbisik.

Léa menatapnya beberapa detik, lalu menurunkan pandangan seolah malu. Ia menghela napas, seperti orang yang sedang mengumpulkan keberanian.

Kemudian, dengan gerakan yang sangat halus, Léa memasukkan tangan ke saku jaketnya.

Fred tersenyum gugup. Dia mau ngeluarin apa? Nomor telepon lagi? Surat?

Yang keluar adalah kilatan logam.

Pisau lipat.

Fred tidak sempat memprosesnya. Ia hanya melihat mata Léa berubah—bukan mata teman sekelas yang hangat, tapi mata yang datar, fokus, seperti orang yang sudah mengulang adegan ini berkali-kali.

“Maaf,” kata Léa—tapi suara itu bukan suara Léa yang ia kenal. Nada katanya terlalu tenang. Terlalu profesional.

Fred mundur refleks, punggungnya nyaris menabrak meja.

“Apa… Léa, kamu—”

Pisau itu meluncur ke arah perutnya.

Waktu melambat, tapi bukan seperti film. Lebih seperti tubuh Fred menolak percaya.

Lalu sebuah suara muncul dari tempat yang mustahil—dari dalam apartemen yang sempit itu.

“Jatuh.”

Satu kata.

Dingin.

Fred langsung menjatuhkan badan, seperti diperintah. Pisau Léa melewati udara, nyaris menyentuh bajunya.

Dan di saat yang sama—dari sudut gelap dekat lemari, sesosok bayangan bergerak cepat.

Maëlle.

Ia muncul seperti potongan malam yang hidup. Tidak ada suara langkah. Tidak ada kata-kata lebih.

Hanya kilat logam lain di tangannya.

Pisau bertemu pisau dengan bunyi tajam, pendek—seperti gigi besi saling menggertak.

Fred merangkak mundur, napasnya tersangkut. Matanya membelalak. Otaknya berteriak: ini tidak nyata.

Léa berputar cepat, mengincar Maëlle. Gerakannya bersih, seperti latihan. Tidak ada ragu, tidak ada panik.

Maëlle menahan serangan pertama, lalu menggeser tubuhnya setengah langkah ke samping, memotong sudut. Cara ia bergerak… bukan seperti orang yang bertarung di jalanan. Ini seperti militer, seperti orang yang paham jarak dan waktu.

Léa menyerang lagi—menusuk, menyapu, memaksa Maëlle mundur. Pisau mereka beradu beberapa kali, cepat, brutal, tapi terkontrol.

Fred menatap keduanya seperti menonton dua bahasa yang tidak ia mengerti: bahasa orang-orang yang hidupnya ditulis oleh kontrak dan kematian.

“Apa… apa yang terjadi?!” Fred terdengar kecil, tidak berguna.

Maëlle tidak menoleh

Léa tersenyum tipis, tapi itu bukan senyum. Itu pengakuan.

“Targetnya keras kepala,” kata Léa, melirik Fred sekilas. “Dia pikir dunia cuma ujian dan stase.”

Fred ingin membantah, tapi lidahnya beku.

Léa menubruk lagi. Serangannya semakin agresif. Ia mencoba memaksa Maëlle ke ruang sempit dekat dapur, agar Maëlle kehilangan ruang gerak. Taktik yang rapi.

Tapi Maëlle seperti sudah membaca itu sebelum Léa memutuskan.

Dengan satu gerakan cepat, Maëlle memutar pergelangan tangan, menjebak pisau Léa sebentar—sepersekian detik saja—cukup untuk menghantam sisi tubuh Léa dengan siku, lalu menggeser posisi.

Léa terhuyung setengah langkah. Pisau di tangannya nyaris jatuh.

Maëlle tidak memberi waktu.

Ia masuk lagi, lebih cepat, lebih tajam. Tidak ada gaya, tidak ada pamer. Setiap gerakannya punya tujuan: melumpuhkan.

Léa mencoba bertahan, tapi ritmenya sudah pecah. Napasnya mulai berat. Matanya kehilangan tenang palsu itu.

Sebuah gerakan salah.

Maëlle memanfaatkannya.

Pisau Maëlle menyambar—bukan untuk “mengoyak” seperti cerita berdarah, tapi untuk mengakhiri kemampuan Léa bertarung. Léa tersentak, mundur, menggertakkan gigi, darah muncul tipis di kain jaketnya.

Fred menutup mulutnya sendiri dengan tangan. Ia hampir muntah.

Léa mengangkat pisau lagi, masih ingin menyelesaikan kontrak. Matanya menatap Fred—dan untuk sepersekian detik, Fred melihat sesuatu yang mengejutkan: bukan kebencian, melainkan kekosongan.

Seolah Fred cuma angka.

Maëlle melangkah maju, menghalangi.

“Kamu tidak akan menyentuh dia,” kata Maëlle.

Léa menyerang terakhir kali, putus asa, cepat.

Maëlle menangkis, menggeser, lalu—dalam satu gerakan yang terlalu cepat untuk mata Fred—mengubah arah.

Ada bunyi tercekik, seperti napas yang dipaksa berhenti.

Léa membeku.

Pisau Maëlle tertanam.

Di dada.

Tepat.

Dalam.

Léa menatap Maëlle, bibirnya bergetar seolah ingin berkata sesuatu—mungkin makian, mungkin nama, mungkin penjelasan—tapi yang keluar hanya udara.

Lalu tubuhnya ambruk ke lantai, membuat apartemen Fred terasa lebih sunyi daripada malam mana pun.

Fred gemetar dari ujung kepala sampai kaki.

Maëlle berdiri beberapa detik, memastikan tidak ada gerakan lagi. Wajahnya datar, tapi bahunya naik turun pelan—bukan karena takut, tapi karena tubuhnya juga manusia.

Ia menoleh pada Fred.

Tatapan Maëlle tajam, menembus.

“Kamu sekarang percaya?”

Fred membuka mulut, tapi tidak ada suara. Matanya turun ke tubuh Léa—teman sekelasnya—orang yang tadi memujinya, yang tadi membuatnya merasa “pantas” dicintai.

Dan sekarang… itu semua ternyata topeng.

“Aku…” Fred akhirnya bersuara, serak. “Aku… benar-benar target.”

Maëlle mengangguk satu kali. “Ini bukan main-main, Fred. Mereka bisa jadi siapa saja. Yang kamu anggap teman. Yang kamu anggap aman.”

Fred menelan ludah, air mata nyaris muncul tapi ia menahannya karena malu dan bingung. “Kenapa aku?”

Maëlle menatapnya, dan untuk pertama kalinya ada sesuatu seperti konflik di matanya—sebuah beban yang ia tidak mau tunjukkan.

“Aku belum tahu semua jawabannya,” katanya jujur. “Tapi kontraknya ada. Dan sekarang… kamu melihat buktinya.”

Fred menggeleng pelan, seperti menolak realitas. “Aku… aku nggak punya apa-apa. Aku cuma—”

“Besok kamu tinggalkan Paris,” potong Maëlle, suaranya tegas seperti perintah medis. “Tidak ada tawar-menawar.”

Fred tertawa kecil yang patah. “Dan ini?” ia menunjuk lantai, suara nyaris histeris. “Ini… Léa—”

Maëlle tidak menoleh ke tubuh itu lagi. “Aku urus.”

Kata-katanya pendek, tanpa detail. Bukan janji yang manis—lebih seperti prosedur.

Fred ingin bertanya bagaimana, tapi bagian dirinya yang masih waras menyadari: ia tidak ingin tahu. Ia hanya ingin ini selesai, meski tahu ini tidak akan selesai.

Maëlle berjalan ke arah jendela, menyingkap tirai sedikit, memeriksa luar.

“Kamu punya orang tua?” tanya Maëlle tanpa menoleh.

Fred mengangguk lemah. “Di desa. Di luar Paris. Aku… bisa naik kereta.”

“Bagus,” kata Maëlle. “Berangkat pagi. Jangan bilang siapa-siapa. Jangan posting apa-apa. Jangan pakai jalur yang sama dua kali.”

Fred menatap Maëlle, lalu berbisik, “Kamu ikut?”

Maëlle diam sebentar. Lalu ia menjawab dengan nada yang hampir tidak terdengar.

“Aku akan ada.”

Pagi datang tanpa ampun, seperti biasa.

Fred bangun dengan kepala berat, mata bengkak, dan perasaan seperti hidupnya sudah diperas habis semalam. Apartemen terasa… terlalu bersih.

Tidak ada tanda keributan.

Tidak ada barang jatuh.

Tidak ada darah.

Tidak ada tubuh.

Seolah malam itu hanya mimpi buruk.

Tapi catatan kecil di atas meja—tulisan Maëlle—membuktikan sebaliknya:

Stasiun. Gerbong tengah. Jangan menoleh terlalu sering.

Fred menatap catatan itu lama, lalu mengemas tasnya dengan gerakan mekanis: beberapa baju, laptop, charger, dokumen, sedikit uang tunai. Ia tidak mengambil banyak—seolah dengan membawa sedikit, ia bisa menyangkal bahwa ia “melarikan diri”.

Saat ia keluar dari apartemen, lorong terlihat biasa. Tetangga tua menyapu depan pintu. Seseorang memanggul belanjaan. Tidak ada yang menatap Fred.

Dan justru itu yang menakutkan.

Di jalan menuju stasiun, Fred merasa setiap orang adalah kemungkinan: pria yang berdiri terlalu lama di halte, wanita yang berjalan sejajar terlalu lama, anak muda yang memegang ponsel tapi tidak benar-benar mengetik.

Ia mencoba tidak menoleh, seperti catatan Maëlle. Tapi tubuhnya tegang sepanjang jalan.

Di stasiun, keramaian menenggelamkan rasa takutnya sedikit. Orang-orang berdesakan, koper bergesekan, pengumuman kereta berbunyi.

Fred membeli tiket, menahan tangan agar tidak gemetar.

Ia melangkah ke peron, melihat kereta yang akan membawanya keluar dari Paris.

Gerbong tengah.

Ia naik, mencari kursi dekat jendela, meletakkan tas, lalu duduk.

Baru saat itu ia menyadari: ia tidak melihat Maëlle sama sekali.

Tapi entah kenapa, ia percaya Maëlle memang “ada”.

Kereta bergerak. Paris mulai menjauh, bangunan berubah jadi garis-garis yang kabur.

Fred menatap keluar jendela, napasnya pelan-pelan kembali.

Di antara pantulan kaca, sesaat ia melihat bayangan seorang perempuan di ujung gerbong—tidak jelas, seperti refleksi yang bisa saja cuma ilusi.

Tapi Fred tahu.

Itu bukan ilusi.

Ia menutup mata, mengingat wajah Léa yang berubah, mengingat pisau, mengingat suara Maëlle.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Fred tidak bisa lagi berkata “tidak mungkin”.

Ia adalah target.

Dan mulai hari ini, hidup normalnya sudah selesai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!