Menceritakan seorang gadis yang bernama Anna, putri dari pemilik perusahaan besar yang tiba-tiba hidupnya berubah drastis setelah orangtuanya mengalami kebangkrutan. Karna keadaan akhirnya Anna terpaksa harus menikah dengan laki-laki pilihan papanya yaitu asisten pribadinya. Awalnya mereka tidak saling mencintai, namun seiring berjalannya waktu rasa itu tumbuh perlahan.
Namun apa jadinya jika laki-laki yang telah di pilihkan papanya itu ternyata adalah anak dari lawan bisnis papanya sendiri yang telah menyebabkan perusahaan papanya bangkrut. Selama ini laki-laki itu menyembunyikan identitasnya karna suatu alasan. Mungkinkah hubungan mereka masih bisa bertahan?
Penasaran dengan ceritanya, baca yuk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Natalia Okan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketemu cowok arogan
"Tuh kan malah pergi.." gerutu Anna setelah mendengar suara motor Rayyan meninggalkan rumah.
Mood Anna jadi berantakan sekarang. Sepertinya Anna harus ke luar rumah untuk menenangkan diri. Lagian juga badannya sudah terasa enakan setelah minum obat tadi. Segera Anna mengganti pakaiannya, dia memutuskan untuk pergi ke taman yang ada di komplek itu.
"Annaa..." tiba-tiba terdengar seseorang memanggil namanya. Dari suaranya Anna sudah tau jika Sari yang memanggilnya. Anna pun menghentikan langkahnya dan berbalik badan.
"Ehh Sari..." jawab Anna sambil menyunggingkan senyumnya.
Sari tampak ngos-ngosan karna mengejar Anna. "An, kamu apa kabar? aku pikir kamu udah nggak tinggal di sini lagi, abisnya udah nggak pernah keliatan lagi..." ucap Sari sambil mengatur nafasnya.
"Emangnya mau tinggal di mana lagi Sari, rumahku kan di sini sekarang.."
"Hehe..., kali aja kan An, kamu pulang ke rumahmu yang dulu..." Sari cengengesan. "Ehh btw kamu mau kemana An..?"
"Ke taman..."
"Waahh sama dong, aku juga mau ke taman nih. Mau ikutan senam aerobik bareng ibu-ibu.." ujar Sari sambil memperlihatkan giginya.
"Ooo ya udah bareng aja..." Anna dan Sari berjalan menuju ke taman.
"An.., kamu beneran di skors ya?" tanya Sari ragu-ragu.
"Ummpp.." jawab Anna santai.
"Kok bisa ya? padahal kan masalah kamu nggak berat-berat amat. Elsa aja baik-baik aja tuh, kemaren aku ketemu dia di kampus sama kak Dewa..."
Anna tidak menjawab, dia terus melangkahkan kakinya.
"An, kenapa kamu nggak datang aja ke kampus, mana tau pihak kampus mau mencabut hukumannya terhadap kamu.."
"Nggak perlu Sar, lagian aku juga udah nggak tertarik lagi kuliah di sana.." mood Anna jadi tambah buruk ketika Sari menyebut nama Elsa dan Dewa. Dua orang manusia yang sangat di bencinya.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di taman. Anna langsung mendudukkan dirinya di kursi yang ada di taman itu. Mungkin karna sore, orang-orang begitu ramai datang ke sana terutama untuk berolahraga. Ada yang bermain basket, dan ada juga anak-anak yang bermain bola. Sementara di sudut lainnya terlihat ibu-ibu yang sedang senam aerobik. Sari yang tadinya ingin ikut senam, malah ikut duduk di samping Anna.
Anna memejamkan matanya sambil menghirup udara segar yang ada di sana. Rasanya sangat tenang, tidak seperti berada di kontrakan tadi.
"Jerry..?? " tiba-tiba Sari berteriak di samping Anna.
"Ya ampun An, ada si ganteng Jerry..." ucap Sari histeris.
Anna menaikkan satu alisnya ke atas "Jerry siapa sih..?"
"Cowok idola aku An, dia itu kuliah kedokteran di Jerman dan jarang banget pulang ke Indonesia..."
"Yang mana sih..?" tanya Anna penasaran.
"Ituuu..." Sari menunjuk ke arah salah satu cowok yang sedang men-dribble bola dengan lincahnya. Cowok itu memang terlihat sangat tampan, apalagi dengan baju basket yang di kenakannya.
"Jerry... Jerry..." teriak Sari histeris. Namun laki-laki yang bernama Jerry itu sama sekali tidak menoleh. Mungkin karna lagi fokus menggiring bola di tangannya. Terlihat Jerry berkali-kali memasukkan bola itu ke ring.
"Ya ampun Jerry, kamu tu kenapa sih selalu saja terlihat ganteng dan gantengnya malah makin bertambah bikin aku makin cinta.." ucap Sari sambil memejamkan matanya. Sari sepertinya sedang melayang membayangkan dirinya dan Jerry.
Namun tiba-tiba bola basket itu terlempar ke luar lapangan, dan Buuuuuuugg, bola basket itu mengenai wajah Sari sehingga membuat Sari terjatuh.
"Aduuuhhhh..." Sari meringis kesakitan.
"Ya ampun Sar, kamu nggak apa-apa kan..?" Anna membantu Sari untuk bangun.
Sari awalnya ingin menangis karna kesakitan, tapi segera di tahannya karena melihat Jerry yang berjalan ke arah mereka. Langsung saja dia memasang senyum termanisnya.
Namun Jerry sama sekali tidak mempedulikan Sari, dia hanya mengambil bolanya. Dan itu membuat Anna sangat geram. Bagaimana mungkin dia tidak meminta ma'af setelah apa yang di lakukannya.
"Heyy.., cowok sok tampan.. Belagu banget sih lo, udah bikin anak orang celaka malah nggak minta ma'af.." ucap Anna sambil berkacak pinggang.
Jerry menghentikan langkahnya dan langsung berbalik badan. Seketika Jerry langsung menatap Anna dengan tatapan tajam. Baru kali ini ada cewek yang berani mengatai dirinya. Karna selama ini dirinya selalu di puja-puja karna ketampanannya dan juga kekayaan orangtuanya. Orangtua Jerry adalah seorang dokter terkenal sekaligus pemilik sebuah rumah sakit swasta di kota itu. Ibunya juga berprofesi sebagai dokter.
"Apa..?" tantang Anna dengan tatapan yang tak kalah sadis.
"An, udah aku nggak apa-apa kok...!" ucap Sari lirih.
"Nggak apa-apa gimana, liat tuh pipi kamu merah gitu. Enak aja nggak minta ma'af..."
"Nggak sakit kok An, beneran.."
"Tuhh dia aja bilang nggak sakit..." ucap Jerry cuek.
"Lo tu bener-bener sok kecakepan ya? apa susahnya sih minta ma'af..?" Anna semakin kesal.
"Iya.. ya gua minta ma'af, puass...?" ucap Jerry sambil berlalu pergi.
"Uuuuuhhhh.." Anna mengepal tangannya kuat. Baru kali ini dia menemukan laki-laki yang sangat arogan. Apa gunanya punya wajah tampan jika minim akhlak.
"Apa kamu masih mengidolakan cowok seperti itu..?" tanya Anna.
"Masih..." Sari mengangguk malu-malu.
"Astaga Sari..." Anna kehabisan kata-kata.
"Ehh Anna..., kamu di sini juga...?" tanya bu Wati yang tiba-tiba datang, ada bu Lastri juga. Mereka telah selesai senam.
"Iya bu..." jawab Anna sambil memaksakan senyumnya. Sesungguhnya dia masih kesal dengan cowok yang bernama Jerry itu.
"Ehh Sari, tu muka kamu kenapa..?" tanya bu Lastri.
"Nggak apa-apa bu, tadi aku jalan nggak sengaja numbur pohon..." ucap Sari berbohong.
'Sari.. Sari.., kamu rela berbohong demi cowok yang kamu suka'
Hahaha... bu Wati tertawa renyah. " Makanya Sar, kalau jalan itu pakai mata jangan pakai dengkul.." ledek bu Wati.
"Hehe.." Sari cengengesan.
"Abis senam kok bawaannya laper ya..? makan bakso yuk..." ucap bu Lastri sambil mengelus perutnya.
"Boleh tuh.., tapi traktir ya..." sahut Sari.
"Aahhh nggak bisa, tadi saya bawa uangnya pas-passan. Kalau laper pulang aja makan aja di rumah.." ucap bu Lastri sewot.
"Dasar pelit...! kan aku juga mau makan bakso..." Sari mencebik.
"Uluh..uluh.., kamu tu ya setiap hari udah di kasih uang jajan.." bu Lastri mulai hitung-hitungan.
"Ya udah, aku bayar sendiri..." Sari terpaksa mengalah.
"Aduuhh kok ibu sama anak jadi bertengkar ya..?" ucap bu Wati. "Yuk kita makan bakso, udah nggak sabar nih.."
"Yuuukk..."
Bu Lastri, bu Wati dan Sari segera berjalan. Sedangkan Anna masih tak bergerak.
"Anna, ayuukk..." ajak bu Wati.
"Lanjut aja bu, soalnya Anna lagi diet..." ucap Anna beralasan. Padahal dia sama sekali tidak pegang uang.
"Diet apanya? kurus gitu kok diet..?" sindir bu Wati.
"Badan Anna tu nggak kurus bu, tapi ideal. Susah lo membentuk badan kayak gini. Makanya Anna nggak mau makan bakso, takut gendut.."
"Cuma makan bakso semangkok, nggak bakalan juga nambah berat badanmu An. Saya yang traktir..." sahut bu Lastri.
"Loh.., tadi katanya bawa uang pas-pasan kok Anna malah di traktir..?" protes Sari.
"Udah nggak usah mgebacot kamu.."
Akhirnya Anna terpaksa ikut, walau bagaimanapun dia juga sangat ingin makan bakso. Sudah lama dia tidak makan makanan itu.
****
konflik trs sepanjang cerit