RCR S1 ~ Bercerita dimana seorang gadis SMA berkepribadian ceria, humoris dan juga ceroboh yang sering mengalami mimpi yang sangat aneh. Yaitu, menjadi seorang Putri Kerajaan Eropa Abad Pertengahan dengan gaun mewah serta permata indah yang terbalut di tubuhnya. Tidak hanya sampai disitu, terdapat seorang lelaki bernama Ken yang tidak lain adalah teman sekelasnya yang memiliki paras sangat serupa dengan Pangeran yang ada dalam mimpinya. Mengapa hal itu bisa terjadi? Apakah ada rahasia di balik itu semua?
RCR S2 ~ Bercerita dimana terbukanya rahasia kepingan puzzle dalam mimpi yang selama ini dialami oleh Ruby. Gadis itu secara ajaib terlempar di kehidupan masa lalunya. Yaitu, Kerajaan Eropa Abad Pertengahan. Disinilah ia harus terjebak dalam dunia kerajaan yang sesungguhnya. Dunia yang penuh dengan rahasia, intrik, dan pengkhianatan. Hingga akhirnya, kepingan puzzle itu akan terbuka seutuhnya. Gadis itu menemukan Reinkarnasi Cintanya. Reinkarnasi Cinta Ruby.
RCR S3 ~ Kembalinya Ruby di kehidupan asalnya. Namun, takdir baru telah siap menyambutnya. Sebuah dunia dimana ia merasa betapa dangkalnya ilmu manusia dan betapa hebatnya kuasa Tuhan. Sebuah profesi yang membuat gadis itu lebih menghargai setiap detak jantung karena ia bisa berhenti tiba-tiba, kapan saja. Profesi yang menuntut pengorbanan besar, demi menyelamatkan nyawa manusia.
(First novel yang acakadulnya akan dibuat sebagai kenang-kenangan 😂)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diar Rochma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Love Test for Reyhan (2)
Mendengar jawaban Reyhan seketika Nina pun terbengong dibuatnya, mulutnya terbuka lebar seakan tidak menyangka Reyhan mengatakan perasaannya semudah itu. Mata Nina pun terbelalak menatap Reyhan dan tak dapat berkedip sama sekali.
"HAHAHA ... aduh sakit perutku Nin." Reyhan terkekeh sambil memegangi perutnya.
"Apaan sih? Kamu tadi bercanda?" gumam Nina sambil menyilangkan tangannya dan menatap Reyhan dengan tajam.
.
.
.
.
.
.
.
"Hmm, nggak bercanda kok, suka kan bukan berarti cinta Nina, aku suka sama Ruby, aku juga suka sama kamu, suka sama Rio yang duduk di sebelahku ini walaupun dia jail, suka sama semuanya hahaha," jawab Reyhan dengan tenang sambil tak henti-hentinya tertawa.
"Ahh, sialan kamu Rey, kamu ngerjain aku ya," kernyit Nina lagi.
"Udah kamu balik lagi sana! Habis ini Bu Enny dateng," seru Reyhan sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
Nina pun berjalan kembali dengan wajah yang ditekuk. Disisi lain aku, Anggita, dan Sabina hanya mengawasi Reyhan dari kejauhan sesuai dengan rencana sebelumnya. Jika mendengar dari jawaban Reyhan, sekilas sudah bisa disimpulkan bahwa Reyhan memang tidak ada tanda-tanda menyukaiku seperti yang mereka kira sebelumnya, apa mungkin hanya aku yang terlalu percaya diri? Tak lama Bu Enny pun masuk ke dalam kelas. Kami memulai materi pelajaran seperti biasanya.
Di Kantin Saat Jam Istirahat
"Hmm sialan, bisa-bisanya jadi aku yang dikerjain si Reyhan," gerutu Nina sambil menyeruput es teh di atas meja.
"Haha kayaknya Reyhan tahu maksud rencana kita deh Nin, dia kan bukan cowok bodoh di kelas." Anggita mencoba menenangkan.
"Ya udah kita nggak boleh nyerah, masih ada tes cinta yang kedua!" ucap Nina menggebu-gebu.
"Udah ... udah ... nggak perlu! Percuma juga karena Reyhan nggak mungkin suka sama aku, dia itu baik sama semuanya. Udah kalian nggak usah capek-capek tes cinta cintaan lagi ah," sahutku.
"Yah, gimana sih Ruby, ini masih belum berakhir! Kita tes yang terakhir aja deh, habis ini kita nggak akan ganggu Reyhan lagi." Nina meyakinkan. "Gimana?"
"Hmm ...," Aku hanya berdehem dan memikirkannya sekali lagi.
"Ya udah, terserah deh," sahutku.
Kami bertiga pun kembali berkumpul sama seperti formasi sebelumnya seolah sedang mengatur strategi di lapangan sepak bola.
.
.
.
.
.
.
.
"Gimana kalau sekarang kita lakukan tes yang lebih ekstrim?" sahut Nina.
"Hah? Ekstrim? Apaan?"
"Nanti kan ada jam pelajaran olahraga, Ruby harus pura-pura jatuh saat olahraga, nah kita lihat Reyhan nolongin Ruby atau nggak, gimana?"
"Yah, kira-kira dong Nin kalau buat rencana, iya kalau habis jatuh aku langsung ditolongin Reyhan, lah kalau nggak? Bisa-bisa jadi bahan ketawaan duluan aku sama yang lainnya, enggak deh makasih," gerutuku dengan sedikit sewot.
"Hahahaha kamu tenang aja, nanti kalau misalnya Reyhan nggak nolongin, kita akan langsung lari buat nolongin kamu kok," Anggita terkekeh.
"Iya Ruby, ini untuk yang terakhir deh, kita coba dulu, lagian pura-pura jatuh aja kok nggak jatuh beneran." Sabina meyakinkan.
Aku hanya diam!
Setelah lama berfikir akupun memutuskan untuk mengiyakan permintaan mereka, agar mereka tidak lagi menggangu Reyhan dan untuk yang terakhir kalinya. Tetapi sesungguhnya aku juga sedikit penasaran apa isi hati Reyhan yang sebenarnya, karena sejujurnya akupun juga mengaguminya, aku mengagumi sikapnya dan juga kelembutannya. Apakah Reyhan memang benar menyukaiku mengingat dia begitu baik kepadaku, ataukah hanya perasaanku saja?
Love Test for Reyhan 2
Saat Jam Pelajaran Olahraga
Olahraga kali ini kami akan lari mengitari lapangan, semua siswa berkumpul di lapangan terbuka dengan menggunakan seragam olahraga. Satu persatu mulai membuat barisan dan bersiap di lapangan.
"Baik anak-anak kalian lari keliling lapangan sebanyak 3 kali, nanti sesudahnya boleh berkumpul di lapangan indoor untuk melakukan pendinginan," perintah Pak Dhimas guru olahraga.
Pruiiiitttt!
Suara peluit semprit yang ditiup oleh Pak Dhimas dari mulutnya terdengar nyaring di telinga. Kami pun mulai berlari mengitari lapangan. Nina, Anggita, dan Sabina melihat ke arahku dengan mengedipkan matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya seolah mengirimkan sebuah kode kepadaku. Tentu saja aku tahu apa yang mereka maksud, mereka menyuruhku untuk berpura-pura jatuh. Namun aku juga bingung kapan waktu yang tepat harus menjatuhkan tubuhku yang tidak salah apa-apa ini.
"Dikiranya acting jatuh itu gampang kali ya? Apa mereka pikir aku cucunya jekicen gitu?" gumamku sambil berlari pelan.
Aku pun membolak-balikkan bola mataku untuk melihat kesekelilingku, nampak sebuah pemandangan indah yang menyilaukan mata, pemandangan itu berasal dari barisan murid laki-laki tampan yang sedang berlari pelan mengelilingi lapangan. Mereka adalah Ken, Reyhan, dan Anton.
Anton adalah teman sebangku Ken, dia adalah satu-satunya sahabat Ken yang dapat menahan aura dinginnya Ken dengan kepribadiannya yang humoris dan jahil namun terkadang jutek. Mereka adalah most wanted di sekolah ini. Tinggi mereka hampir sama sekitar 180cm, wajah tampan di atas rata-rata, dan baju olahraga yang terlihat begitu sexy saat mereka kenakan.
Lupakan sejenak tentang pemandangan indah itu, tujuanku kini adalah berpura-pura jatuh untuk mengetahui apakah Reyhan akan berlari menolongku atau tidak. Akupun mulai mencari celah untuk menjatuhkan tubuh malangku. Ini adalah pertama kalinya bagiku, entah aku akan mendapatkan Piala Oscar atau tidak jika berhasil melewati ini.
Kutengok ke kanan dan ke kiri, kulihat Reyhan sudah mulai mendekat. Nafasku tidak teratur, gerak-gerikku terlihat mencurigakan, lebih seperti seorang maling yang sedang kikuk ingin membobol rumah. Karena terlalu panik karena tidak pernah ber-acting sebelumnya, tiba-tiba kakiku tersandung oleh tingkahku sendiri.
Bruaaaakkkh!
Akupun terjatuh sungguhan!
"Aduuuuuh, sakit bangeeeet! Gara-gara ide gila trio macan kampret!" gumamku dalam hati.
"Hahaha siapa itu yang jatoh?"
"Hahaha lihat deh tuh si anak udik jatuh!"
"Hahaha kok bisa sih?"
Ternyata dugaanku benar, banyak murid yang justru malah menertawakanku, bukan seperti tertawanya seorang sahabat yang melihat temannya kesusahan yang ditertawakan terlebih dahulu barulah mereka menolong. Tetapi lebih ke tertawa seolah mereka puas aku terjatuh dan tidak akan sudi menolongku. Termasuk si Luna yang dari kejauhan nampak amat sumringah aku menjadi bahan ejekan.
Kini aku hanya terduduk menahan kakiku yang terasa perih, kupegangi terus lututku sambil kulihat sekelilingku tidak ada Reyhan dan teman-temanku, aku mulai kebingungan dan berharap ada seseorang yang datang menolongku.
"Oh Tuhan, kumohon kirimkanlah malaikat Mu untuk menolongku," batinku dalam hati.
Tak lama kurasakan ada seseorang yang mengangkat tubuhku, dia menggendongku sambil berjalan pergi meninggalkan kerumunan murid-murid yang sedang menertawakanku, kurasakan sentuhannya tidak asing bagiku, aroma parfum Italy yang telah melekat di dalam indra penciumanku, dan seolah aku pernah merasakan kejadian seperti ini sebelumnya, dia adalah Ken.
Sontak seluruh murid yang tadinya menertawakanku langsung bergeming, mata mereka terbelalak melihat Ken menggendongku. Lebih tepatnya melihat The most wanted menggendong orang yang mereka tertawakan, terutama Luna yang kini hatinya kian getir.
Entah sudah berapa kali dia menolongku dan menggendongku seperti ini, kurasakan tubuhnya di balik seragam olahraga tipisnya. Dia hanya mengarahkan wajahnya lurus ke depan, tanpa sepatah katapun, dan tanpa sedikitpun melihat ke arahku. Lagi-lagi jantungku berdegup kencang melihatnya sedekat ini, keringat dinginku bercucuran dengan sendirinya. Aku terpaku dan mematung bergeming. Mengapa dia yang selalu ada untukku? Si jutek dan dingin yang selalu aku hindari.
***
.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk Author dengan klik Like, favorit, komen, dan vote ya :)...
cinta yg sangat menyentuh hati
tetap semangat berkarya
TRUE BEAUTY
lah klo pantasi itu nama MC di sebut tanpa ada kata AKU ,