Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut."Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis."Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas."Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Arjuna tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar seperti getaran di udara yang membuat bulu kuduk Jelita berdiri. Bukannya merasa terhina, ia justru melangkah selangkah lebih dekat hingga aroma kayu cendana dan hawa sedingin es dari tubuhnya mengepung indra penciuman Jelita.
Arjuna menunduk, wajahnya yang sempurna berada tepat di depan wajah Jelita. Dengan seringai nakal, ia sengaja menarik tangan Jelita dan meletakkannya tepat di atas dadanya yang bidang dan terbuka, memaksa jemari gadis itu merasakan kulitnya yang sepucat pualam namun sekeras batu.
Di balik pilar besar, Dinda dan Ira menutup mulut mereka dengan tangan. Kamera ponsel Dinda menangkap visual yang mustahil. Jelita tampak sedang berhadapan dengan sosok pria tinggi besar yang bercahaya kebiruan, namun sosok itu tampak samar-samar di layar ponsel.
" Gila! Ini benar-benar nyata Ira." Bisik Dinda pelan nyaris tanpa suara, sambil terus menatap bayangan di layar ponselnya.
" Sebenarnya hantu macam apa itu? Kita harus membantu Jelita," Putus Ira
Sementara kini Arjuna menarik pinggang Jelita dengan satu tangan yang kuat, memaksa tubuh Jelita menempel pada tubuhnya yang dingin namun terasa seperti medan magnet. Ia merunduk, membenamkan wajahnya di ceruk leher Jelita, menghirup aroma tubuh gadis itu dengan rakus.
Jelita tidak lagi melawan. Ia memejamkan mata, tangannya yang gemetar perlahan merayap naik dan mencengkeram bahu kokoh Arjuna. Gelang hitam di tangannya bersinar terang seiring dengan sentuhan Arjuna yang semakin intim.
Tiba-tiba, mata Arjuna melirik tajam ke arah pilar tempat Dinda dan Ira bersembunyi. Seringai nakal sekaligus mematikan muncul di wajah tampannya.
Tanpa melepaskan pelukannya pada Jelita, Arjuna menggerakkan jari telunjuknya yang bebas. Seketika, ponsel di tangan Dinda terasa membara hingga panas, memaksa Dinda menjatuhkannya ke tanah. Prak! Layar ponsel itu retak.
Suhu di sekitar Dinda dan Ira mendadak turun hingga mencapai titik beku. Angin kencang bertiup di dalam ruangan tertutup itu, menerbangkan dedaunan kering ke arah mereka.
"Siapa yang membawa lalat-lalat berisik ini ke tempatku Sayang? Cup!" tanya Arjuna sambil memberikan kecupan dingin yang lama di kening Jelita, matanya tetap menatap tajam ke arah persembunyian Dinda.
Sementara Dinda di buat tidak bisa bernapas, ingin berteriak pun tidak bisa mulutnya di bungkam oleh ira.
" Diam dinda! kita harus membantu Jelita, lupakan soal ponselmu itu, sudah berapa kali aku Peringatkan! kamu tetap ngeyel rasakan Ternyata hantu itu juga membencimu karna terlalu mengusiknya," Bisik Ira dengan menahan Dinda, kini dinda menatap ponselnya dengan tatapan lesu.
Arjuna tidak melepaskan tatapan predatornya dari balik pilar, meskipun bibirnya masih menyentuh kening Jelita dengan lembut. Ia merasakan ketakutan yang luar biasa memancar dari Dinda dan Ira, dan baginya, rasa takut itu adalah musik yang menyenangkan.
Arjuna melingkarkan kedua lengannya di pinggang Jelita, mengunci tubuh gadis itu dalam dekapan yang sangat erat hingga Jelita harus mendongak untuk meraup udara.
Asap biru di sekeliling Arjuna mendadak berubah menjadi gelap dan tajam seperti bilah pedang, berputar-putar di sekitar mereka berdua sebagai peringatan bagi siapa pun yang berani mendekat.
"Mereka hanya temanku, Arjuna! Jangan sakiti mereka," rintih Jelita sambil mencengkeram kemeja putih Arjuna yang terbuka, berusaha menarik perhatian makhluk itu kembali padanya.
Di balik pilar, Dinda masih berusaha mengatur napasnya yang sesak, sementara Ira terus membekap mulut sahabatnya itu dengan kuat. Mereka bisa melihat bayangan Arjuna yang kini tampak lebih padat dan nyata, seolah-olah kegelapan ruangan itu sendiri yang membentuk tubuhnya.
Bayangan Arjuna memanjang di ruang dekan tersebut, merayap menuju kaki Dinda dan Ira seperti cairan hitam yang merusak.
Suara bisikan-bisikan halus yang tidak manusiawi mulai terdengar di telinga Dinda, membuat kepalanya terasa berdenyut hebat.
"Ira... dia melihat kita... dia benar-benar ingin membunuhku," isak Dinda dalam hati, matanya menatap lesu ke arah ponselnya yang layarnya hancur tak bersisa di lantai.
" Aaaaaaaaakkkhhh lari Ira," Teriakan Dinda memecah keheningan mencekam di dalam ruang dekan. Dengan sisa tenaga yang didorong oleh rasa takut yang luar biasa, ia menarik tangan Ira, memaksa tubuh mereka untuk berbalik dan berlari menjauh dari bayangan hitam yang merayap.
Kabut hitam yang menyelimuti Dinda seolah memiliki ribuan tangan kecil yang menarik ujung pakaiannya, menghambat langkahnya. Koridor gedung yang tadinya terasa pendek, kini seolah memanjang tanpa ujung, dengan pintu-pintu yang membanting tertutup sendiri saat mereka melewatinya.
Suara tawa rendah Arjuna bergema di sepanjang lorong, tidak berasal dari satu arah, melainkan seolah-olah tembok-tembok gedung itu sendiri yang sedang menertawakan usaha pelarian mereka.
"Jangan menoleh, Dinda! Terus lari!" teriak Ira dengan napas tersengal, meskipun ia merasakan suhu di sekitarnya begitu dingin hingga paru-parunya terasa membeku.
Di dalam ruang dekan, Arjuna sama sekali tidak bergerak dari posisinya. Ia membiarkan lalat-lalat kecil itu terbang dalam ketakutan, karena perhatiannya kini sepenuhnya kembali kepada gadis di pelukannya.
Arjuna melepaskan kemeja putihnya sepenuhnya, membiarkan tubuh bagian atasnya yang atletis dan bercahaya biru pucat terpampang nyata di depan mata Jelita. Ia kembali merapatkan tubuh Jelita, membiarkan kulit hangat gadis itu bersentuhan langsung dengan dadanya yang sedingin es.
Jemari panjang Arjuna bergerak naik, mencengkeram lembut tengkuk Jelita, memaksanya untuk terus menatap mata hazel yang kini berpendar merah redup.
"Lihat aku, Jelita," bisik Arjuna, suaranya kini terdengar begitu rendah dan sensual. "Teman-temanmu sudah pergi. Sekarang, tidak akan ada lagi gangguan. Kau adalah milikku sepenuhnya malam ini."