Ditinggalkan oleh calon suami seminggu sebelum pernikahan nya membuat hati Alina hancur lebur. Belum mendapatkan jawaban akan maksud calon suaminya yang meninggalkan dirinya, Alina kembali dikejutkan beberapa bulan kemudian akan permintaan pria yang belum menghilang dari hatinya itu.
"Aku mohon padamu, tolong rawat bayi ini. Aku memohon padamu Alina. Jaga Rosa dengan baik." Setelah mengucapkan itu, Edwin menghembuskan nafas terakhirnya.
Bagaimanakah kelanjutan nya? Apakah Alina akan membesarkan nya? atau justru mengikuti egonya? Dan bayi siapa itu sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Nilam Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semuanya Bohong!
"Kau.....bu-kan.... bukan ibunya? Jadi itu hanya lelucon? Aku dipermainkan?" Ujar Alina dengan tidak percaya.
"Ya, aku tau Nona orang yang baik. Aku baru bisa mengatakannya karena kita bertemu dan sebelum nya maaf, karena itu pekerjaan ku." Ujarnya dengan raut bersalah.
"Katakan lebih jelas!" Teriak Alina, untung saja mereka duduk diluar dan teriakan itu tenggelam dalam keramaian jalan yang hiruk pikuk. Wanita bayaran yang menjadi seorang Ibu itu mengerti kemarahan wanita muda di depannya.
"Keluarga yang nona lihat saat itu. Itu semua hanya sandiwara saja. Hanya itu yang aku bisa katakan, apa aku bisa pergi? Tolong jangan penjarakan aku...." Pintanya pelan.
"Hahahaha." Alina tertawa sumbang.
"Keluarga sandiwara. Semuanya palsu.... Ahahahaha."
Melihat Alina dengan pemikirannya sendiri, wanita itu memilih pergi dan Alina tidak lagi menghentikan nya. Ingatannya kembali tertuju ketika Edward mengajak nya menemui keluarga nya.
"Sayang, ini ayah dan ibuku." Alina disambut dengan baik disana dan diperlakukan seperti ratu.
Mereka berbincang-bincang hangat yang membuat Alina seperti keluarga disana.
"Kau mirip siapa sayang? Kau tidak terlihat seperti ayah dan ibu mu?" Tanya Alina pada Edward ditengah perjalanan mereka.
"Tidak mirip bagaimana? Aku juga punya mata, hidung dan semuanya lengkap." Jelas Edward dengan tawa.
"Bukan itu! Kau ini." Alina merajuk membuat Edward menghentikan mobil dan menghibur kekasihnya itu.
"Dengar Alina ku sayang, aku mirip dengan kakek ku. Jangan dipikirkan, apa kau meragukan ku?"
"Tidak, aku hanya penasaran. Karena itu , aku ingin memiliki anak yang mewarisi salah seorang diantara kita."
"Kalau aku ingin perpaduan sempurna kita." Jelas Edward memandangi wajah Alina yang kembali tersenyum.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Semuanya bohong, kau menipuku! Aghhh!" Alina berteriak keras disekitar danau yang memantulkan rasa sakit nya.
"Apa artinya aku dimata mu Ed? Apa ungkapan cinta itu juga bohong? Kau mempermainkan perasaan ku. Kau anggap aku apa? Rasanya sakit, sakit sekali......" Lirih Alina memegangi dadanya. Alina terduduk tanpa alas. Membiarkan rerumputan menempel di pakaian nya, sepatunya pun tidak tau kemana. Tangannya terus saja melempar batu ke arah danau yang menciptakan riak seolah menyalurkan rasa sakitnya. Kebohongan..... Dia dibohongi dengan baik oleh pria yang begitu ia cintai dan percayai.
******************
Bibi yang sedang memasak dibuat kaget dengan kembaliannya Alina yang melambungkan kakinya menuju kamar Rose. Bibi langsung mematikan api dan mengejar Alina dengan perasaan tidak enak.
"Nona, Nona ada apa?" Tanya bibi, tapi Alina seakan tuli dan membuka pintu kamar dimana bayi mungil itu tertidur pulas.
"Nona? Nona mau dibawa kemana Rosa?"
"Aku ingin membawanya ke tempat yang jauh! Dimana dia tidak akan terlihat lagi!" Jelas Alina.
"Nona jangan! Nona apa yang nona lakukan." Alina membawa Rosa meksipun bibi memohon padanya. Rasa amarah karena pengkhianatan yang terkuak memang Alina tidak bisa berpikir jernih.
"Kau hanya kesialan bagiku! Kau sebuah duri! Kau membuat ku semakin sakit! Jadi lebih baik kau menghilang dari hidupku! Aku tidak pernah menerima kebohongan apapun bahkan termasuk dirimu!" Rosa yang dibawa entah kemana terlihat bangun dan mulai menangis.
"Diam! Kau membuat ku kesal! Diam!" Sambil mengendarai mobil nya, Alina terus berteriak pada bayi perempuan itu.
"Kalau kau tidak mau diam, maka diamlah selamanya." Ditengah hujan yang turun dan gelapnya malam, Alina menggendong Rosa dan membawanya ke jembatan dimana sungai mengalir dengan deras.
Tangisan Rose tidak membuat Alina bergeming. "Akan lebih baik kau menyusul ayahmu yang pembohong besar itu." Alina perlahan melemaskan gendongannya membuat bayi mungil itu semakin menangis kencang.
"Selamat tinggal, aku berharap kau mengerti atas tindakan ku ini." Sedikit lagi maka bayi mungil itu akan jatuh terbawa arus deras.
Bersambung.......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.