NovelToon NovelToon
Bayangan Pewaris Kadipaten

Bayangan Pewaris Kadipaten

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata-mata/Agen / Ahli Bela Diri Kuno / Menyembunyikan Identitas / Era Kolonial
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hayisa Aaroon

Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?

Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.

Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.

Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.

Risikonya? Hampir mati setiap hari.

Akankah Arjo bertahan?

Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Saling Membutuhkan

"Kami saling membutuhkan, Arjo." Kang Guru Harjo seolah membaca pikirannya. "Tanpa Ndoro Gusti Bupati, kami tidak punya tempat berlindung. Anak-anak itu akan terlantar di jalanan. Para pelarian akan tertangkap Belanda. Tapi tanpa kami, Ndoro Gusti Bupati juga rentan, tidak punya pengawal yang benar-benar setia, tidak punya mata-mata yang bisa dipercaya, tidak punya bayangan yang bisa menggantikannya di saat dia lelah atau terluka. Karena dari luar, dia harus terlihat kuat dan tak terkalahkan, agar musuh-musuh gentar."

Arjo terdiam lama, memandang lantai kayu di bawahnya.

‘Saling membutuhkan. Ndoro Gusti Bupati membutuhkan aku. Dan aku... juga membutuhkan beliau. Memangnya, siapa yang memberiku makan selama ini kalau bukan beliau?’

Ia mengingat kata-kata Ki Among tadi.

‘Kalau jabatan itu jatuh ke ningrat yang haus kekuasaan dan rakus harta, bisa hancur kadipaten ini.’

‘Benar juga. Kalau Gusti Bupati terbunuh dan kekuasaan jatuh ke tangan ningrat yang lain, ningrat yang benar-benar menjadi antek Belanda, apa yang akan terjadi pada padepokan ini? Pada anak-anak yatim itu? Pada para pelarian yang bersembunyi di sini?’

‘Semuanya akan hancur.’

Dan Arjo sendiri? Kalau perlindungan kadipaten dicabut, ia akan kembali menjadi bukan siapa-siapa. Bocah yatim tanpa nama, tanpa keluarga, tanpa tempat bernaung. Tapi di sini, paling tidak, dia mendapatkan ilmu.

Arjo menghela napas panjang.

"Saya mengerti, Guru."

Kang Guru Harjo mengangkat alis. "Sungguh?"

"Tidak sepenuhnya." Arjo mengangguk. "Semua intrik politik ini ... masih membingungkan. Tapi saya mulai paham. Kita semua saling membutuhkan. Kalau satu jatuh, yang lain ikut jatuh."

"Bagus." Kang Guru Harjo tersenyum, ada sedikit kelegaan di wajahnya. "Itu sudah cukup untuk sekarang."

Arjo mengangkat wajah, matanya berkilat dengan semangat baru, bukan lagi frustrasi atau kekecewaan.

"Tapi Guru," suaranya lebih tegas dari sebelumnya, "saya tidak mau mati begitu saja."

"Maksudmu?"

"Kalau semua orang berusaha bertahan dengan cara masing-masing. dengan intrik, dengan strategi, dengan permainan politik," Arjo menegakkan punggungnya, "saya juga akan begitu. Saya tidak akan jadi bayangan yang menurut saja, mengikuti ke mana badan pergi tanpa berpikir."

Kang Guru Harjo memandangnya dengan tatapan yang sulit dibaca.

"Saya harus jadi bayangan yang lebih pintar." Arjo melanjutkan. "Yang bisa membaca situasi. Yang tahu kapan harus maju dan kapan harus mundur. Yang bisa mengakali musuh-musuh Ndoro Gusti Bupati, dan kalau perlu … mengakali Belanda sendiri."

Hening sejenak.

Lalu, untuk pertama kalinya malam ini, Kang Guru Harjo tersenyum. Bukan senyum tipis yang biasanya, tapi senyum yang lebih lebar, lebih bangga.

"Akhirnya." Ia menepuk bahu Arjo sekali. "Akhirnya kau mulai berpikir seperti yang seharusnya."

Arjo merasa dadanya sedikit lebih ringan.

"Mana buku yang harus saya baca, Guru?"

Kang Guru Harjo bangkit dari duduknya, berjalan ke sudut pendopo tempat peti-peti kayu tersusun. Ia membuka salah satu peti, lalu kembali dengan setumpuk buku yang dibungkus kertas cokelat tebal yang diikat dengan tali rami.

Tumpukan itu berat, mungkin delapan atau sepuluh buku tebal. Arjo menerimanya dengan dua tangan, nyaris terhuyung oleh beratnya.

"Ini," Kang Guru Harjo menunjuk tumpukan itu, "adalah senjatamu. Hukum kolonial. Tata pemerintahan. Sejarah politik Hindia Belanda. Strategi diplomasi. Taktik Perang. Semua yang perlu kau ketahui untuk bisa mengakali Belanda dan antek-anteknya."

Arjo memandang tumpukan buku di tangannya.

‘Tebal sekali.’

Tapi ia tahu, ini adalah beban yang harus ia tanggung kalau ingin bertahan hidup.

"Baca semuanya. Hafalkan yang penting. Pahami yang rumit." Kang Guru Harjo duduk kembali di tempatnya. "Besok pagi, kita mulai dengan—"

Suara derap kuda memecah keheningan malam.

Arjo dan Kang Guru Harjo sama-sama menoleh ke arah gerbang padepokan.

Seekor kuda hitam melesat masuk dengan kecepatan tinggi, penunggangnya berpakaian serba gelap. Bahkan sebelum kuda itu sepenuhnya berhenti, sang penunggang sudah melompat turun, mendarat dengan gerakan yang terlatih, langsung berlari ke arah pendopo.

Kang Guru Harjo bangkit, melangkah cepat menghampiri.

Pria berpakaian hitam itu berhenti di depan pendopo, membungkuk dalam dengan dua tangan membentuk sembah.

"Kang Guru." Suaranya terengah-engah. "Surat dari Ndoro Gusti Bupati. Mendesak."

Ia menyerahkan sebuah amplop tebal.

Kang Guru Harjo menerimanya. "Terima kasih. Kau boleh pergi istirahat."

Pria itu membungkuk sekali lagi, lalu berbalik, secepat ia datang, secepat itu pula ia menghilang ke arah barak pengawal. Kudanya dituntun oleh murid yang berjaga.

Arjo bangkit dari duduknya, melangkah mendekat.

Kang Guru Harjo membuka amplop, menarik keluar beberapa lembar kertas panjang yang dilipat rapi. Matanya menyisir tulisan tangan yang memenuhi kertas-kertas itu.

Arjo mengintip dari balik bahu gurunya, dan mengerutkan dahi.

‘Itu bukan surat biasa. Itu... jadwal. Daftar panjang agenda harian yang ditulis dengan rapi dalam kolom-kolom teratur.’

Daftar itu berlanjut sampai beberapa lembar. Setiap hari penuh dengan agenda dari pagi sampai malam.

Kang Guru Harjo menghela napas panjang. Ia melipat kertas-kertas itu kembali, lalu berbalik.

Arjo sudah mundur beberapa langkah, memasang wajah datar.

"Sepertinya Ki Among Telik benar." Sang guru berbicara pelan, tapi setiap kata terasa berat. "Kau akan lebih cepat dan lebih sering menggantikan Ndoro Gusti Bupati."

Arjo menelan ludah. "Le-lebih cepat?"

"Ini," Kang Guru Harjo mengangkat kertas-kertas di tangannya, "adalah jadwal agenda bupati untuk dua minggu ke depan. Dan di surat pengantar, Ndoro Gusti Bupati meminta agar kau yang menghadiri... hampir semuanya."

Jantung Arjo berdegup lebih kencang.

"Rencana awal, kau akan menggantikan beliau secara perlahan. Mulai dari tugas-tugas ringan di luar kadipaten dulu. Pertemuan-pertemuan yang tidak terlalu penting. Supaya kau bisa belajar sambil jalan." Kang Guru Harjo menggeleng. "Tapi sekarang... sepertinya rencana itu dipercepat. Jauh dipercepat."

Arjo tercenung. Dulu—bahkan tadi pagi—ia selalu berharap bisa lebih sering keluar. Bosan dengan padepokan. Ingin merasakan dunia luar. Ingin menikmati kemewahan sebagai bupati, meski hanya pura-pura.

Tapi sekarang?

Setelah mendengar betapa banyak musuh Bupati? Setelah tahu ada kelompok-kelompok misterius yang mengincar nyawanya? Setelah mengalami sendiri serangan di kereta tadi siang?

‘Duh Gusti …!’ batinnya penuh sesal.

Ia mengangkat wajah.

Kang Guru Harjo memandangnya, bukan dengan tatapan menghakimi, tapi dengan sesuatu yang mungkin bisa disebut simpati.

"Kau bilang tadi ingin jadi bayangan yang lebih pintar." Sang guru menyerahkan tumpukan buku yang tadi sempat diletakkan Arjo. "Sekarang waktunya membuktikan."

Arjo menerima buku-buku itu dengan perasaan campur aduk.

‘Aku harus menjadi bayangan yang lebih pintar dari badan yang dibayang-bayangi. Bayangan yang tidak mati konyol.’

Ia memandang tumpukan buku di tangannya, lalu memandang kertas-kertas jadwal di tangan Kang Guru Harjo.

‘Dua minggu. Puluhan agenda. Itu artinya ratusan kesempatan untuk dibunuh.’

Arjo menghela napas panjang.

‘Baiklah. Kalau memang harus begini, aku tidak akan menyerah tanpa perlawanan.’

1
lilyrose
pepet jo mungkin dia jodohmu 😊
Astuti Puspitasari
Ayo jo, kejar cintamu 🤭
Kustri
kiro" kelingan ro rupamu ra Jo🤔
deg" sir ya Jo, kui persembahan nggo bupati yo
Rahayu Wilujeng
sugeng dahar siang ndoro bupati🙏
Ricis
akhirnya ketemu lagi ya Jo, jangan konyol lagi ya Jo 😀
Teh Qurrotha
apakah Agnes kenal sama wajah Arjo yang sekarang, waktu penyerangan dkereta Arjo blm di make over
SENJA
nah itu makanya jangan terbawa emosi terus jo 😶
SENJA
kamu bakal di cap antek pki ada bukti atau ngga 🤭 makanya jangan kritis terang2an lah tahun 1920-30 an mah 🤭
SENJA
dan tan malaka dan pimpinan lain sebenernya ga setuju 🤭 ini aksi massa bukan massa aksi 😶
SENJA
tidak sesederhana yang terlihat 😶
SENJA
yah memang itu tugasmu kan 🤔 mau gimana? kejam tapi yah itu🤭
SENJA
sekarang udah telat jo 🤭
Muchamad Ikbal
muaaanteeep tenaan....🥳
ᵖᵓ➳⃟✿- 𝘀𝘆𝘂 ˢʸ֟ᵘ
Semua berawal dari tatapan lalu remashhhh an Arjo😭😭😭
Kenzo_Isnan.
waaahhh lha iki jo jo . .
Kenzo_Isnan.: tak melu ngamini wis pokok'e 😆
total 2 replies
Kenzo_Isnan.
malah adu nasib kalian bertiga to ya 😅
Kenzo_Isnan.
tedjo+arjo sama" gendeng 🤣🤣🤣
Kenzo_Isnan.
semangat jd bayangan kakak mu sendiri arjo . .
kira" bsk kalau udah tau soedarsono ini kakak'y dr ayah yg sama kira" gmn ya reaksi arjo
Muhammad Arifin
Iki Paleng jodohmu Jo 🤪🤪
Kenzo_Isnan.
kasian kamu arjo tp yakinlah sesudah hujan pasti ada pelangi yg menanti mu di dpn sana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!