Seluruh bangunan yang berada di pulau Kanawa terancam di gusur, karena kepemilikannya berpindah tangan pada pria asing berasal dari Jerman. Yang akan merubah semua isi pulau tersebut untuk di jadikan tempat wisata yang akan menambah kekayaannya.
Pria asing itu adalah Jerricco
Alessandro, pria sukses dalam bidang teknologi dan wisata mancanegara.
Tidak ingin mata pencaharian warga hilang begitu saja karena ke serakahan pria itu, Damara harus merelakan diri menjadi istri Jerry, agar dirinya serta seluruh warga pulau Kanwa tetap bisa bekerja dan mencari pundi-pundi rupiah.
"Hidupnya harus membawa banyak keuntungan besar untukku!" pria paru baya tersebut menyeringai sambil memandangi foto wanita berparas cantik dengan rambut sebahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukum Karma
“Rara.”
Damara hanya diam, dia tidak bisa menjawab panggilan sang ibu. Dia hanya bisa menahan isak tangis yang ingin keluar dari mulutnya.
“Pernikahan kalian baru di mulai, bukan seperti yang ibu alami. Ibu hanya setia kepada Papamu karena dia mendiang suami ibu, orang yang sudah banyak berjuang dan berkorban untuk ibu dan kalian.”
Damara mencoba mengeluarkan suaranya, “Ibu Jerricco tidak bisa melupakan dia Bu, bahkan di dalam mimpi pun dia tidak bisa melupakannya. Hati Rara sakit, Rara istrinya bu, tapi-“
Damara tidak bisa melanjutkan kata-katanya, dadanya sangat sesak.
Alice menghela nafasnya, dia tahu bagaimana sakitnya yang Damara rasakan. “Pulanglah ke rumah, ibu menunggumu.”
Damara menghapus air matanya, “Iya Bu.”
Setelah panggilannya terputus Damara menghapus air matanya, dia duduk termenung.
Damara mengambil kruk alat penyangga tubuh yang di beli Kevin sebelum sampai ke penginapan. Damara berjalan lalu membuka pintu, di depan pintu penginapan masih ada Kevin.
“Kevin aku ingin ke rumah ibu.”
“Baik nona.” Kevin berjalan di belakang Damara, sampai menuju mobil.
Kevin membukakan pintu untuk Damara, setelah itu dia masuk ke kursi kemudi dan mulai melajukan mobilnya.
Selama di dalam mobil, Kevin terus melirik Damara yang terlihat termenung. Sebenarnya dia tahu permasalahan apa yang di hadapi Damara, Kevin mendengar pertengkaran tuan dan nonanya.
Tapi Kevin tidak bisa lancang memberitahu Damara, tentang kisah asmara Jerricco. Bahkan tidak ada satu pun yang boleh membicarakan kisah Mira dan Jerricco, termasuk media.
Mobil yang di kendarai Kevin sudah sampai di rumah Damara, Kevin membantu Damara turun dari mobil.
“Lebih baik kamu pulang, aku tidak akan pergi ke mana-mana.”
“Baik, nona. Hubungi saya jika nona membutuhkan sesuatu.”
Damara hanya mengangguk dan masuk ke dalam rumah. Ibu menyambut hangat kedatangan Damara.
Alice tidak banyak bertanya pasal Jerricco, bahkan kini mereka sudah selesai makan dan sedang menikmati acara televisi di ruang tengah.
Damara hanya pura-pura menonton layar televisi di depannya, padahal isi kepalanya penuh dengan Jerricco yang membuatnya hatinya terasa sakit.
Damara menggigit bibirnya, dia memberanikan diri untuk menatap sang ibu. “Ibu,” panggil Damara.
Alice menarik tangan Damara ke dalam genggamannya. “Bicaralah, biar ibu tahu.”
Hati Damara kembali bergejolak, dia mengambil nafas sebelum mulai menceritakan semua permasalahannya pada sang ibu.
“Jerricco sangat mencintai wanita itu Bu, sama seperti Ibu yang masih mencintai Papa. Jerricco tidak menganggap-“ ucapan Damara terhenti karena air matanya keluar tanpa ia minta, seolah menggambarkan sakit yang Damara rasakan karena tidak di anggap ada oleh suaminya sendiri.
Alice mengusap bahu Damara, “Jerricco tidak mungkin menganggap kamu tidak ada, kamu ada di hatinya. Hanya posisi kamu dengan wanita itu terlampau jauh.”
Mendengar penjelasan sang ibu, tangis Damara semakin menjadi. Butiran bening itu terus meluncur berlarian satu sama lain seolah saling berkejaran.
“Kamu tidak pernah tahu kalau ibu pernah jatuh cinta setelah kepergian Papamu, tapi ibu menekan rasa itu supaya lebih kecil dan hilang di hati Ibu. Jerricco bisa jatuh cinta pada Rara, mungkin prosesnya bukanlah hal yang mudah.”
Alice menitikkan air mata, melihat tangis kesakitan yang di alami Damara. Mungkin ini karena Alice telah mencampakkan pria yang tulus mencintainya setelah kepergian suaminya, dan sekarang hukum karma itu berimbas pada Damara.
“Rara enggak bisa Bu, menjalani hubungan dengan pria yang tidak mencintai Rara, dan malah memikirkan wanita lain. Ini menyakitkan Bu, Rara tidak sanggup.” Dengan air mata yang turun begitu deras, Damara menggelengkan kepalanya menolak untuk melanjutkan pernikahannya.
Kenapa setelah menikah terjesan spt gadis cengeng..?
koq aku ga paham yaa