Franceska wanita cerdas berpendidikan tinggi, berparas cantik dan berprofesi sebagai guru matematika. Suatu kombinasi yang melengkapi penampilannya yang good looking, cemerlang dan bersinar dari keluarga sederhana.
Prestasi akademik, serta kecerdasannya mengola waktu dan kesempatan, menghentarkan dia pada kesuksesan di usia muda.
Suatu hari dia mengalami kecelakaan mobil, hingga membuatnya koma. Namun hidupnya tidak berakhir di ruang ICU. Dia menjalani penglihatan dan petualangan dengan identitas baru, yang menghatarkan dia pada arti kehidupan sesungguhnya.
》Apa yang terjadi dengan Franceska di dunia petualangannya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Petualangan Wanita Berduri."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. PWB
...~•Happy Reading•~...
Lima Hari Kemudian 》
Di SMA Pelita.
Setelah rapat darurat empat hari lalu, suasana sekolah jadi berubah. Walau para guru menyadari, ada keputusan petinggi sekolah tidak sesuai dengan aturan bagi siswa yang mengikuti kompetisi, mereka harus mendukung demi nama sekolah.
Tidak ada lagi canda tawa di antara para guru, karena waktu makin sempit. Besok sudah mulai babak penyisian, sehingga para guru mengabaikan rasa kesal dan marah atas keputusan ketua yayasan.
Apa lagi melihat arogansi wakil kepala sekolah yang ditunjuk oleh ketua yayasan sebagai ketua panitia, serta didukung oleh orang tua Lenox dan Juke. Para guru yang diberikan tanggung jawab, tidak bisa protes.
Mereka harus bekerja sama dengan salah satu guru dari luar sekolah yang dibayar oleh orang tua Lenox dan Juke. Mereka juga harus menerima intervensi orang tua Lenox dan Juke yang mengatur ini boleh, atau yang itu, tidak boleh.
"Mas, persiapan ngajar saja. Ngga usah perhatiin dan tarik nafas panjang pendek gitu." Bisik Ibu Yeni melihat Pak Murai duduk diam dalam ruang guru sambil melihat ibu Sance mengatur, lalu pergi.
"Sorry, tensi emosiku lagi naik lihat sikap wakepsek, melewati kepala sekolah."
"Apa lagi tidak ditegur ketua yayasan atas sikapnya pada Nita, jadi besar kepala." Pak Murai tidak bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya.
"Aku sudah pernah bilang, mengenai wakepsek. Jaringannya luas ke petinggi, jadi merasa di atas angin." Bisik Ibu Yeni.
"Dengan Nita jadi utusan harapan, kita jadi lihat kelakuan rekan guru. Banyak muncul penjilat dan yang cari aman."
"Tapi heran, mengapa Nita bisa jadi utusan sekolah harapan, ya." Bisik Ibu Yeni lagi.
Mendengar pertanyaan Ibu Yeni, Pak Murai mengajaknya menjauh dari rekan guru. "Sssttt... Hari itu, aku kasih saran ke dia, supaya ke harapan, karena khawatir dia istirahat sekolah atau ke sekolah yang salah."
"Sedangkan ini sudah semester akhir untuk ulangan naik kelas. Kasihan dia, kalau tertunda." Pak Murai menjelaskan, pelan.
"Kalau begitu, jangan sampai ada yang tahu. Nanti ada yang salah ngerti maksudmu."
"Aku baru bicara denganmu. Nita tidak mungkin kasih tahu ke orang lain, kalau aku yang kasih saran. Dan aku tidak menyangka, sekolah harapan mau mengutus dia."
"Mungkin dia datang tepat waktu dan dibutuhkan sekolah itu."
"Mungkin. Sekarang kita akan lihat apa yang terjadi setelah ini. Pasti akan makin panas, apa lagi orang tua Lenox dan Juke terus berkeliaran di sekolah."
~▪︎▪︎~
Di SMA Harapan.
Hernita dan Jefase masuk ke sekolah seperti biasanya, tapi tidak untuk belajar di kelas. Mereka diminta bertemu ketua yayasan dan kepala sekolah untuk persiapkan terakhir sebelum ikut kompetisi.
"Bagaimana, Jefase dan Hernita. Apa kalian sudah siap untuk kompetisi besok?" Tanya ketua yayasan.
"Sudah, Pak. Kami hanya istirahat untuk kompetisi besok, biar bisa fit dan fokus." Jawab Jefase.
"Kalau begitu, besok pagi datang ke sini, nanti kita bersama-sama ke tempat kompetisi." Ucap ketua yayasan yang sangat bersemangat melihat kesiapan Jefase dan Hernita.
"Oh, iya, Pak. Saya kira kami mau berangkat sendiri, karna Papah juga mau ikut, Pak."
"Kalau begitu, ajak Papahmu ikut dengan mobil sekolah. Kau juga Jefase, bisa ajak orang tuamu ikut, kalau mau bersama."
"Tidak usah, Pak. Saya saja yang ikut." Jefase menolak.
"Baik. Ini seragam sekolah yang akan kalian pakai besok." Kepala sekolah memberikan kantong berisi seragam yang baru untuk Hernita dan Jefase.
"Terima kasih, Pak." Hernita dan Jefase mengucapkan terima kasih sambil mengambil kantong dari tangan kepala sekolah.
"Sekarang kalian boleh pulang untuk istirahat, supaya besok bisa segar. Kalau ada perlu apa-apa, saling kasih info." Ketua yayasan memberi instruksi.
Baik, Pak. Terima kasih. Kalau begitu, kami permisi." Hernita dan Jefase berpamitan bersamaan lalu meninggalkan ruangan ketua yayasan.
"Jefa, pulang naik sepeda lagi?" Tanya Hernita setelah mereka berada di lorong.
"Iya. Biar cepat sampe rumah. Aku ngga bisa antar, karna ngga ada jok."
"Ngga. Mau bilang hati-hati aja di jalan. Jangan ngebut. Besok mau kompetisi." Ucap Hernita pelan, mengingatkan.
"Iya. Kau juga hati-hati. Mau naik apa?"
"Aku mau pesan ojol, biar cepat sampai rumah juga."
"Ok. Nanti kita saling kontak, sambil istirahat."
"Ok. By." Ucap Hernita setelah mereka berada di halaman.
"By." Ucap Jefase lalu menuju ke tempat parkir sepeda.
Setelah berpisah, Hernita berjalan cepat ke halte. Dia mengeluarkan ponsel dan kirim pesan buat Papahnya, bahwa dia sudah diizinkan pulang.
'Tunggu Papah di situ, ya. Papah antar penumpang sebentar.' Balasan pesan Papahnya, membuat Hernita cari kesibukan untuk mengisi waktu.
Dia duduk di halte sambil memeluk ransel dan membayangkan seragam baru yang akan dipakai. Dan merasa lega mendapat dukungan para guru dan teman-temannya.
Sekian lama menunggu, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya. Hernita mengabaikan, karena sedang memikirkan seragam baru yang diberikan kepala sekolah padanya dan Jefase.
"Nita, bikin apa di situ jam segini?" Terdengar suara orang menegur.
Hernita melihat kiri kanan halte yang kosong. Ketika melihat kaca mobil yang berhenti di depannya dibuka, dia terkejut dan tegang setelah tahu siapa yang ada dalam mobil.
Dia segera berdiri, saat pintu mobil dibuka. 'Rileks, Nita. Biarkan Mamah yang tangani dia.' Ucap Ceska saat melihat Ibu Sance di dalam mobil.
"Oh, Ibu Sance. Saya sedang tunggu jemputan, Bu." Jawab Ceska ikutan ramah.
"Mari Ibu antar." Ibu Sance makin ramah.
"Terima kasih, Bu. Saya mau naik ojol saja. Nanti merepotkan Ibu." Ceska berkata demikian untuk menguji maksud Ibu Sance menyapa Hernita.
"Tidak merepotkan, kok. Sekalian Ibu mau traktir Nita sebagai tanda minta maaf. Waktu itu sudah berkata kasar padamu." Wajah Ibu Sance seperti orang yang merasa salah.
"Tidak usah minta maaf, Bu. Saya sudah melupakan itu." Ceska terus berusaha menolak.
"Kalau kau sudah terima ditraktir, baru Ibu tahu kau sudah maafkan Ibu." Ibu Sance mendesak, tapi berusaha sikap manis.
Ceska letakan ransel di punggung lalu mendekati pintu mobil. "Padahal, Ibu tidak perlu begini. Terima kasih sudah mau mengantar saya." Ceska tidak menunjukan rasa curiga. Dia melangkah naik ke dalam mobil.
Ketika dia hendak duduk, dia melihat ibu Sance tidak sendiri. Tiba-tiba ada tangan pria terulur dari bangku belakang hendak menutup mulutnya dengan kain.
Tanpa menghitung, Ceska menggerakan sikut ke arah tangan yang mendekat. Sehingga tangannya berbalik arah. Kemudian Ceska mendorong dengan gerakan cepat, hingga tangannya mengenai wajah sendiri, maka terdengar suara erangan kaget dan langsung diam.
Ceska sudah melihat, Ibu Sance tidak sendiri dalam mobil. Jadi dia mau membuktikan niat hati Ibu Sance.
"Ini yang Ibu maksudkan mau mentraktir saya?" Tanya Ceska dengan wajah marah.
"Siapa, kau?" Bentak Ibu Sance setelah mengusai rasa terkejutnya.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~•○¤○•~...
yey akhirnya Hernita jd pemenangnya,,akhirnya kisah petualangan Ceska berakhir sudah😧alhamdulillah Ceska akhriny Juga sadar dan lekaS sembuh
Di tunggu ya dek karya selanjutnya 🙏❣️