“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.
Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.
Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.
Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah pasaran
Suara Ayunda adalah sutra yang ditenun dengan pecahan beling, halus namun mengancam. Raras merasakan tatapan wanita itu menelanjanginya, bukan sekadar pakaian lusuhnya, melainkan menembus hingga ke tulang, mencari-cari kebenaran yang ia sembunyikan rapat-rapat. Jantungnya yang tadi berdebar kencang kini terasa berhenti, membeku di antara dua tarikan napas.
“Maaf, Ibu?” Raras memaksa suaranya keluar, terdengar sedikit bergetar dan bingung, persis seperti yang diharapkan dari seorang gadis desa di tengah gedung pencakar langit. Ia menundukkan kepala sedikit, menghindari tatapan menusuk itu.
Ayunda melangkah satu putaran kecil, mengamatinya dari samping. Aroma parfumnya yang mahal, campuran lili dan cendana terasa menyesakkan.
“Saya tidak suka mengulang pertanyaan. Saya tanya, apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
“Saya… saya rasa tidak, Bu,” jawab Raras pelan.
“Wajah saya memang pasaran. Sering dibilang mirip si A, si B.” Ia memberanikan diri mengangkat wajahnya sejenak, memasang ekspresi polos yang telah ia latih di depan cermin.
“Mungkin Ibu salah orang.”
Petugas keamanan di meja resepsionis, yang tadi sibuk dengan bukunya, kini menatap Ayunda dengan hormat.
“Ada masalah, Bu Ayunda?”
Ayunda tidak menjawab petugas itu. Matanya masih terkunci pada Raras. Ia melihat getaran kecil di sudut bibir gadis itu, melihat cara bahunya sedikit menegang. Ada sesuatu yang tidak beres, instingnya berteriak. Namun, di saat yang sama, logika bisnisnya mengambil alih. Membuat keributan di lobi karena seorang calon office girl adalah hal yang konyol dan tidak efisien. Itu akan menjadi gosip murahan.
“Mungkin,” desis Ayunda akhirnya, nadanya dingin. Ia melirik dari ujung sepatu datar Raras yang kusam hingga ke ikatan rambutnya yang terlalu biasa. Hinaan tanpa kata.
“Lupakan saja, wajahmu memang pasaran.”
Dengan satu gerakan anggun, Ayunda berbalik dan berjalan menuju lift pribadinya, meninggalkan jejak parfum dan hawa dingin yang menusuk. Raras tidak berani bernapas lega sampai pintu lift perak itu tertutup rapat. Ia bisa merasakan tatapan penasaran dari beberapa karyawan yang lalu lalang. Ia kembali menunduk, berusaha menjadi tidak terlihat.
“Atas nama Rara, ya?” tanya petugas keamanan itu, kembali pada tugasnya.
“I-iya, Pak.”
“Lantai dua puluh dua, ruang 2205. Nanti bertemu dengan Ibu Rina dari bagian personalia.”
“Baik, Pak. Terima kasih.”
Dengan langkah yang terasa berat, Raras berjalan menuju lift umum, punggungnya terasa panas seolah tatapan Ayunda masih membakarnya dari kejauhan. Permainan ini ternyata jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.
***
Ruang 2205 adalah sebuah kantor kecil berdinding kaca dengan pemandangan gedung-gedung lain yang sama menjulangnya. Seorang wanita berusia akhir tiga puluhan dengan kacamata berbingkai tipis tersenyum ramah dari balik mejanya. Ibu Rina.
“Selamat pagi, Mbak Rara. Silakan duduk,” sapanya dengan profesional.
“Selamat pagi, Bu. Terima kasih.” Raras duduk di kursi di hadapannya, meletakkan tas selempang sederhananya di pangkuan.
“Saya sudah baca berkas lamaran kamu,” kata Ibu Rina sambil membuka sebuah map.
“Pengalaman kerjanya memang belum banyak, ya. Hanya membantu di warung keluarga dan beberapa pekerjaan serabutan.”
“Betul, Bu. Tapi saya pembelajar yang cepat dan siap bekerja keras,” jawab Raras dengan kalimat yang sudah ia siapkan. Kalimat yang terdengar standar dan tidak terlalu menonjol.
Ibu Rina mengangguk-angguk kecil, matanya memindai Raras dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Sebenarnya, posisi Office Girl ini tidak membutuhkan kualifikasi tinggi. Yang penting rajin, jujur, dan cekatan. Kamu yakin sanggup?”
“Saya sanggup, Bu.”
Hening sejenak. Ibu Rina menutup map itu, lalu menatap Raras lekat-lekat.
“Begini, Mbak Rara. Sejujurnya, lamaran kamu ini datang dengan sebuah catatan khusus. Ada rekomendasi dari… pihak atas. Jadi, wawancara ini sebenarnya hanya formalitas belaka.”
Jantung Raras berdebar. Eyang. Tentu saja ini pekerjaan Eyang Putra. Pria tua itu tidak akan membiarkannya berjuang sendirian sepenuhnya. Ia memberinya sebuah pintu, meski pintu itu adalah pintu servis.
“R-rekomendasi, Bu?” Raras berpura-pura bingung.
“Saya tidak kenal siapa-siapa di sini.”
“Tidak perlu dipikirkan,” Ibu Rina tersenyum tipis.
“Anggap saja kamu beruntung. Kamu diterima. Bisa mulai bekerja besok pagi. Jam tujuh sudah harus ada di sini untuk pengarahan dari kepala tim General Affairs. Paham?”
“Paham, Bu. Sangat paham. Terima kasih banyak, Bu Rina.” Rasa lega yang luar biasa membanjiri dirinya, menenggelamkan sisa-sisa ketegangan dari pertemuannya dengan Ayunda.
“Satu hal lagi,” tambah Ibu Rina saat Raras hendak berdiri.
“Di sini, semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Terutama para petinggi. Tugas kamu adalah memastikan semua kebutuhan dasar mereka terpenuhi tanpa banyak bertanya. Buat kopi, bersihkan ruang rapat, antar dokumen. Kerjakan tugasmu dengan baik, jangan ikut campur urusan yang bukan urusanmu, dan jangan banyak bicara. Mengerti?”
“Sangat mengerti, Bu.” Itu adalah aturan yang sempurna. Menjadi tak terlihat adalah keahlian barunya.
***
Hari pertama bekerja adalah sebuah baptisan api. Raras, yang otaknya terbiasa menganalisis struktur narasi dan merangkai kata-kata puitis, kini harus berurusan dengan noda kopi di karpet, mesin fotokopi yang macet, dan pesanan makan siang puluhan karyawan dari berbagai divisi.
Tubuhnya yang tidak terbiasa dengan pekerjaan fisik terasa remuk di penghujung hari. Telapak tangannya sedikit melepuh karena terlalu lama memegang gagang pel, dan punggungnya pegal bukan main.
Namun, di tengah kelelahan itu, ada kepuasan aneh yang ia rasakan. Ia berhasil. Tidak ada seorang pun yang menatapnya lebih dari sedetik. Ia adalah Rara, si OB baru yang pendiam dan efisien. Ia adalah hantu berseragam biru dongker yang melintas di koridor-koridor sibuk, membersihkan sisa-sisa rapat penting, dan mendengar potongan-potongan percakapan bisnis tanpa ada yang menyadari kehadirannya.
Ia belajar dengan cepat. Ia tahu kopi Radya harus hitam pekat tanpa gula, yang selalu ia letakkan di meja asistennya, tidak pernah langsung di meja sang CEO. Ia hafal di mana letak file-file logistik dan kapan jadwal pengiriman surat. Tak butuh waktu lama untuk Raras menjadi bagian dari mesin raksasa bernama Cokrodinoto Group, sebuah sekrup kecil yang tak terlihat namun berfungsi.
Pada hari ketiganya, saat sedang mengumpulkan cangkir-cangkir kotor dari beberapa kubikel di lantai dua puluh empat, lantai khusus direksi dan administrasi pusat ia melihatnya.
Bayu.
Pria itu tidak sedang berjalan menuju ruang kerja Radya yang terletak di ujung koridor. Sebaliknya, ia berdiri di depan deretan lemari arsip baja di bagian administrasi keuangan, area yang sangat terbatas dan jauh dari jangkauan tugasnya sebagai ajudan pribadi CEO. Ia tampak gelisah. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada yang memperhatikan.
Raras segera berbalik, pura-pura sibuk mengelap meja di sebuah kubikel kosong, menggunakan pot tanaman sebagai perisai. Dari celah dedaunan, ia mengamati setiap gerak-gerik Bayu.
Bayu berbicara dengan seorang staf administrasi wanita yang tampak ketakutan. Pria itu menyerahkan secarik kertas kecil, lalu menunjuk ke salah satu lemari arsip dengan dagunya. Staf itu mengangguk kaku, lalu dengan tangan gemetar membuka laci lemari bertuliskan “ASET DAN AKUISISI LAMA”.
Raras menahan napas. Apa yang dicari Bayu di sana? Dokumen-dokumen di lemari itu berisi data-data sensitif perusahaan yang sudah puluhan tahun usianya, termasuk catatan kepemilikan aset-aset warisan keluarga.
Staf itu menarik sebuah map tebal berwarna cokelat kusam dan menyerahkannya kepada Bayu. Bayu membukanya dengan cepat, matanya memindai isinya dengan rakus. Ia tidak mengambil map itu. Sebaliknya, ia mengeluarkan ponselnya dan dengan gerakan cepat memotret beberapa lembar halaman di dalamnya. Kilat lampu kamera ponselnya yang dimatikan tetap menyisakan jejak pantulan samar di permukaan baja lemari.
Setelah selesai, ia mengembalikan map itu kepada staf tersebut dengan kasar.
“Ingat, kamu tidak pernah melihat saya di sini. Urusan ini antara kita saja,” desisnya dengan nada mengancam yang cukup pelan, namun Raras bisa membacanya dari gerak bibirnya yang tegang.
Staf itu mengangguk cepat, wajahnya pucat pasi, lalu segera mengunci kembali lemari arsip itu dan bergegas pergi dari mejanya seolah dikejar setan.
Bayu merapikan kembali jasnya, memasang wajah datarnya yang biasa, dan berbalik untuk pergi.
Tepat pada saat itu.
Saat ia berbalik, matanya tanpa sengaja bertemu dengan bayangan seseorang di panel kaca lift di seberang lorong. Sebuah bayangan seorang wanita berseragam OB yang sedang memegang lap, berdiri mematung di dekat pot tanaman.
Mata mereka bertemu di permukaan reflektif itu. Hanya sepersekian detik.
Bayu membeku. Wajahnya yang tenang seketika berubah. Itu bukan ekspresi kaget. Itu adalah ekspresi predator yang menyadari sarangnya telah diintai.
Raras merasakan darahnya surut dari wajahnya. Ia ketahuan. Ia lupa pada pantulan kaca itu. Ia terlalu fokus pada tindakan Bayu hingga melupakan sekelilingnya.
Pria itu tidak bergerak. Ia hanya menatap pantulan Raras di kaca, dan sebuah senyum tipis yang mengerikan, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya, mulai terukir di bibirnya.