Canna adalah seorang gadis desa biasa yang di nikahi seorang pengusaha ternama secara diam-diam, setelah insiden memilukan. Bahkan tanpa sepengetahuan dirinya sendiri. Ia mulai menyadari sesuatu saat hatinya sudah mulai terbuka.
Namun, kesungguhan yang diperlihatkan Delano padanya tidaklah nyata. Lelaki tampan itu hanya menginginkan seorang bayi darinya. Setelahnya ia akan menceraikannya.
Rasa cinta yang mulai tumbuh dalam diri Canna, berbaur menjadi rasa benci.
Bagaimanakah nasib rumah tangga mereka kedepannya? Bercerai ataukah bertahan? Mampukah Canna melindungi buah hatinya dari orang-orang yang ingin mengambil keuntungan darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Sha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit Magh?
Tiga puluh menit sebelumnya, dikamar Canna.
"Canna! Bagaimana keadaanmu?" Daisy berjalan cepat kearah ranjang yang ditempati oleh Canna, meninggalkan Oryza yang masih berdiri diambang pintu.
"Daisy? Kamu...," Canna tak mampu berkata apa-apa lagi saat melihat keberadaan sahabatnya didepan matanya. Ia mengerjap beberapa kali. Bagaimana mungkin Daisy tahu keberadaannya, mungkinkah Delano yang memberitahunya. Tidak mungkin! Canna melirik keambang pintu, menatap Oryza yang mengangguk kearahnya.
"Iya. Ini aku. Kenapa kamu sakit tidak memberitahukannya padaku!" Daisy merangkul Canna dengan setengah merajuk.
"Aku tidak apa-apa. Hanya pusing sedikit saja!" Canna terkekeh menerima rangkulan sahabatnya.
"Tidak apa-apa bagaimana? Kamu di infus begini. Pasti sakitmu sangat parah," Daisy melepaskan pelukannya. Beralih memperhatikan kamar yang di tempati Canna.
"Aku tidak separah itu. Aku sudah bilang kalau aku hanya pusing dan muntah saja, tetapi Tuan Delano sangat berlebihan padaku! Dia pikir aku hampir mati saja!" gerutunya kesal mengingat sikap Delano yang sangat panik tadinya. Beruntung kehamilannya dapat ditutupi oleh dokter Ana atas permintaannya. Kalau tidak, mungkinkah para dokter yang datang akan membuatnya lebih sakit lagi dengan kemurkaan Delano.
"Apa!? Kamu magh kronis!" sahut Daisy keras membuat Canna meringis mendengarnya. Rupanya sahabatnya ini tidak fokus dengan ucapannya tadi.
"Kenapa kamu tidak fokus saat aku bicara!" ucap Canna. Ia memperhatikan Daisy yang justru terpaku pada kamar yang ditempatinya. "Apa yang kamu perhatikan sejak tadi?"
"Kamu beruntung sekali menjadi pelayan di rumah ini. Sudah memiliki tuan yang sangat tampan, baik hati, ditambah lagi dengan kamar yang seluas ini!" Daisy terpekik sendiri tanpa menatap kearah Canna.
Canna mendelik kesal mendengarnya, terdiam beberapa menit lamanya.
"Kamu sangat beruntung, Canna!" ucapnya sekali lagi.
"Beruntung apanya!?" gumam Canna sendiri, seraya mengulas senyum terpaksanya.
Tidak ada yang bisa dilakukan Canna kecuali mengangguk terpaksa. Seandainya Daisy tahu kebenarannya, mungkin pujiannya terhadap Delano sirna sudah. Yang ada justru caci dan maki serta sumpah serapah. Beruntung apanya, dihari pertamanya diculik saja, Canna sudah di perkosa olehnya hingga hamil. Tanpa sadar Canna meraba perutnya dengan perasaan sedihnya.
"Apakah semua pelayan di rumah ini difasilitasi dengan kamar seluas dan semewah ini?" Daisy menatap Canna yang sejak tadi terlihat melamun.
"Hei. Ada apa denganmu? Apakah kamu merasa ada yang sakit? Dimana?" Daisy tampak panik melihat Canna yang masih terdiam dan menghiraukan ocehannya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya terlalu senang saja karena kamu sudah menjengokku kesini!" tersenyum dengan ringan.
"Tentu saja aku harus menjengukmu. Aku satu-satunya sahabat yang setia padamu. Lagipula, aku tidak bisa hidup tanpamu!"
"Oh iya. Aku juga punya kejutan untukmu. Selain aku yang datang kemari. Coba tebak, siapa yang ikut bersamaku?" Daisy tersenyum menggoda, menaik turunkan alisnya.
"Siapa?" tanya Canna tidak sabaran, tidak mampu untuk menebak karena lelaki yang dikenalnya sangatlah sedikit.
"Dia adalah___"
"Ma'af. Jam besuk sudah habis!" Oryza berdiri tepat di belakang Daisy, memotong dengan cepat ucapan wanita tersebut sebelum Canna mengetahuinya. Ia tidak mau mendengar kemarahan Delano untuk yang kesekian kalinya. Dan Canna justru mendapatkan pelampiasannya, diruang tamu pun keadaan Delano sudah dikatakan hampir meledak karena kedatangan Pinus kerumahnya dengan maksud menjenguk Canna.
"Apa!? Kenapa dibatasi seperti ini?" sahut Daisy melotot. Berdecak kesal terhadap sikap Oryza padanya. Padahal pembicaraan seru mereka baru saja ingin dimulai.
"Silahkan anda keluar, Nona!" perintah Oryza pada Daisy.
"Tapi... Hei! Aku belum selesai bicara!" ucap Daisy keras. Ia kesal dengan Oryza, bahkan sejak pertama kali bertemu tadi. Bahkan lelaki itu sudah menghiraukan dirinya dipertemuan pertama mereka, dan juga sangat menyebalkan dan sombong. Padahal jabatannya dirumah ini hanyalah seorang pelayan.
"Ma'af Nona. Jam besuk Anda sudah habis. Jadi, silahkan anda keluar dan biarkan Canna beristirahat!" Fiore datang dan kembali memperingati Daisy untuk yang kesekian kalinya
Daisy melirik pada Canna, berharap wanita itu mau mempertahankannya. Tetapi ia sadar kalau Canna juga seorang pelayan di rumah ini. Mana ada seorang pelayan punya kuasa. Ia berdecak kesal melirik kearah Oryza dan Fiore yang berdiri pada posisi semula. Sungguh hebat, mampu mempertahankan posisi berdiri seperti itu selama berjam-jam.
"Canna. Istirahat yang banyak ya, biar kita cepat berkumpul di kampus lagi. Dan juga, ka Pinus masih menungguku di bawah," bisik Daisy pelan.
Canna terbelalak mendengarnya, menggenggam erat tangannya. Pipinya tampak bersemu merah. Terlihat jelas dari wajahnya yang pucat.
"Pinus juga kemari?" balasnya berbisik.
Daisy mengangguk dan memeluk Canna sebentar sebagai perpisahan. " Iya. Dia yang datang mengantarkan aku. Tapi sayang, tuanmu yang arogant melarang dirinya untuk bergerak dari ruang tamu. Hanya aku yang diizinkan olehnya untuk membesuk dirimu. Tetapi itupun ada batasannya. Benar-benar menyebalkan!"
Canna terkikik mendengarnya. Tak lupa ia merangkul Daisy dengan erat untuk melampiaskan perasaan senangnya karena lelaki pujaannya juga perduli padanya.
"Nona. Anda sudah melebihi batasan waktu yang kami berikan. Mohon pengertiannya!" ucap Oryza menginterupsi, mengganggu momen mereka.
"Iya iya. Aku tahu kok!" Daisy kembali berdecak kesal, memeluk Canna berlama-lama saja juga ada batasannya. Sungguh terlalu peraturan rumah Delano ini. Daisy melepaskan pelukannya, ia berjalan mengikuti langkah pelayan yang membimbingnya.
"Aku pulang! Jaga kesehatanmu. Ingat! Kalau ada apa-apa segera telpon aku!" ucap Daisy saat ia berada diambang pintu. Canna mengangguk terharu mendengarnya.
"Benarkah Pinus kemari?" tanya Canna menatap Oryza yang masih berdiri dihadapannya. Berharap Oryza bersikap baik padanya selain dingin dan tatapan tajamnya itu.
"Nona. Sebaiknya kamu jangan terlalu senang dengan kedatangan lelaki asing kerumah Tuan. Apakah kamu tidak tahu kalau Tuan tidak suka kalau ada pelayan yang mengundang keluarga ataupun temannya untuk datang kemari tanpa seizinnya!" sahut Oryza.
Canna terdiam mendengarnya, menatap wajah datar Oryza. Bahkan lelaki dingin itu sama sekali tidak bisa diajak bicara.
"Sebaiknya kamu segera istirahat saja. Agar kesehatanmu cepat pulih!" Oryza berbalik dan meninggalkan kamar Canna.
"Tunggu!" teriak Canna.
Oryza menghentikan langkahnya.
"Bisakah aku bertemu dengan Tuan Delano? Aku rasa ada hal yang harus aku bicarakan dengannya!" pinta Canna.
Oryza hanya menatapnya sekilas, tanpa menjawab ia meneruskan langkahnya.
"Kepala pelayan itu menyebalkan! Dia selalu diam seperti itu disaat aku berharap!" Canna membanting selimut yang ada di atas tubuhnya dan kembali menenggelamkan dirinya di balik selimut miliknya. Memejamkan matanya dengan perasaan kesal.
***
Langkah tapak kaki terdengar berirama, menggema disetiap sudut ruangan kamar yang ditempati oleh Canna. Tetapi wanita itu sama sekali tidak ingin menampakkan dirinya dibalik selimut. Ia masih merajuk karena sikap Oryza yang semaunya padanya. Ditambah lagi keinginannya untuk bertemu Pinus tetapi lelaki itu sama sekali tidak menyambangi kamarnya bersama Daisy.
"Apakah kamu tertidur?" Suara Delano terdengar sedikit lembut di telinganya. Tetapi Canna masih tetap pada posisinya.
"Baiklah. Kalau kamu sudah tidur. Aku tidak akan mengganggumu dan aku akan keluar!" Delano tahu kalau Canna tidak tidur. Dia hanya pura-pura tidur saja. Mana ada wanita itu sempat tidur di siang hari.
"Ada banyak hal yang harus aku urus!" Langkah kaki Delano kembali terdengar menggema dengan sepatu pantofel miliknya.
"Tunggu! Aku hanya ingin sedikit berbicara padamu!" Canna menyibak selimutnya dengan cepat.
Langkah kaki Delano terhenti dan berbalik menatap Canna yang sudah membuka selimutnya. Ia berdiri tidak jauh dari Canna, memasukkan tangannya kedalam saku celananya.
"Bagaimana keadaanmu? Apakah kamu masih ingin muntah dan juga merasa pusing?" Delano mendekat padanya. Ia khawatir Canna merasakan sesuatu tetapi tidak mau mengatakannya.
"Tidak. Aku sudah jauh lebih baik. Tapi, bisakah infus ini dilepas dari tanganku. Rasanya sangat tidak nyaman. Lagi pula, aku sudah baik-baik saja," ucap Canna mencicit saat menyadari tatapan Delano yang tajam padanya.
"Bagaimana mungkin aku percaya padamu. Kamu dalam keadaan sakit saja tidak pernah mengatakannya padaku! Dan sekarang! Kamu meminta hal yang yang mustahil padaku!"
Canna meringis mendengarnya, baginya morning sicknes bukanlah hal yang mesti dikhawatirkan karena setiap ibu muda yang mengalami morning sicknes, maka bayi yang dikandungnya pasti lebih kuat.
"Kalau saja Oryza tidak memberitahuku, maka selamanya aku tidak akan tahu mengenai sakitmu. Dan apakah kamu tetap bersikeras untuk pergi kuliah dan menemui lelaki itu! Dan menyembunyikan sakitmu dariku!"
Canna terkejut mendengar ucapan Delano yang menggelegar, entah ia marah pada Canna karena benar-benar khawatir ataukah ada sebab lain hingga mengungkit kata-kata 'lelaki itu'.
"Lelaki itu siapa?" tanya Canna bingung berusaha merespon ucapan Delano. Ia melupakan rasa ingin pipis yang ditahannya sejak tadi.
"Huh! Kamu masih pura-pura tidak tahu. Tapi kamu justru memanggil dan memintanya untuk datang kesini. Apakah kamu ingin aku membanting seluruh isi rumah ini dan memecat semua pelayan yang ada disini?"
"A...ap...apa masalahnya? Aku sama sekali tidak mengerti dengan yang kamu bicarakan!" sahut Canna mencicit. Ia benar-benar gugup menghadapi Delano yang kembali naik pitam.
"Bagus! Kalau kamu masih berpura-pura padaku. Maka aku akan menghukummu dan memberikan sesuatu yang tidak akan bisa kamu buang selamanya!" Delano menyugar rambutnya beberapa kali, merasa frustasi dengan sikap acuh Canna padanya.
"A...apa...maksudmu?" tanya Canna kembali terbata.
"Apa maksudku!? Kamu masih berani bertanya apa maksudku!"
Delano melangkah semakin dekat kearah Canna, membuat wanita tersebut mundur perlahan kearah kepala ranjang yang ditempatinya. Menatap penuh waspada kearah Delano. Ia takut Delano akan melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan.
"Kenapa mundur? Apakah kamu takut padaku?" ucap Delano dengan senyum miringnya. Membuat wajah Canna tampak memucat. Ia menatap pergerakan Delano yang meraih handphone miliknya. Bukan! Handphone yang baru kemarin diberikan oleh Delano padanya. Memeriksanya dan menatap kearah Canna sekilas.
"Bagus! Akhirnya kamu sadar diri juga kalau hanya aku lelaki yang boleh ada dikontakmu." Ada rasa senang saat melihat handphone milik Canna yang berisi satu kontak dirinya saja. Langkahnya semakin mendekat kearah Canna, bahkan duduk disisi tempat tidur Canna, mendekatkan dirinya sedekat mungkin pada wanita yang masih waspada tersebut.
"Dan ingat! Aku tidak hanya memberikan ancaman padamu, tetapi ancamanku tadi adalah nyata!" bisik Delano.
"Kenapa dia begitu dekat denganku? Bahkan membuatku merasa sesak napas?" Canna membatin. Tidak memperhatikan setiap ucapan Delano padanya.
"Apakah kamu mengerti?" Tangan Delano terulur meraih dagu Canna dan menatapnya sekilas. Ia melepaskan tangannya dengan segera, setelah tatapan matanya jatuh pada bibir basah Canna.
"Aku...tidak mengerti tentang hal yang kamu bicarakan barusan!" sahut Canna mencicit, membuat Delano membelalakkan matanya.
Bagaimana mungkin? Wanita ini! Delano mengubah ekspresinya menjadi sedikit bersahabat.
"Tidurlah. Aku akan menjagamu disini selama kamu beristirahat. Kalau terjadi sesuatu padamu, aku juga yang akan repotnya!" tangan Delano terulur mengacak rambut Canna pelan. Membuat wanita itu tersentak dan meringis tanpa mampu berbuat apa-apa.
"Derris! Antarkan semua pekerjaanku kekamar Canna!" perintah Delano melalui sambungan telpon.
Tidak lama setelahnya, Derris sudah datang dengan banyak berkas ditangannya. Meletakkannya dihadapan Delano. Membuat Canna kembali meringis karena sudah mengganggu pekerjaan Delano. Ia merasa tidak nyaman saat Delano mengawasinya secara langsung.
"Tuan! Apakah gajihku akan dipotong saat aku dirawat seperti ini?" tanya Canna ragu-ragu.
Delano mengangkat kepalanya sekilas, sebelum kembali meneruskan pekerjaannya tanpa menghiraukan pertanyaan Canna barusan.
"Menyebalkan! Dia tidak menghiraukan diriku!" ucap Canna kesal menggigit ujung kuku miliknya. Kembali menenggelamkan dirinya. Tanpa sadar, Canna sudah tertidur dengan posisi selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"Bagaimana keadaan wanita itu sekarang?" tanya Delano saat menyadari keterdiaman Canna setelah cukup lama.
"Nyonya sepertinya sudah tertidur!" sahut Derris mengamati pergerakan Canna.
"Bagus! Dia terlalu berisik. Sejak tadi selalu berkata tidak pasti dan juga gugup! Membuatku tidak tega untuk marah padanya!"
Derris mengangguk saja mendengarnya. Memperhatikan Delano yang sesekali tersenyum menatap keranjang Canna.
"Bagaimana dengan hasil pemeriksaannya? Apakah ada penyakit yang harus dikhawatirkan?" tanya Delano.
Derris terdiam mendengarnya, ia sama sekali tidak mendapatkan informasi mengenai penyakit Canna dari para dokter yang merawat Canna kecuali sakit magh yang dideritanya.
"Menurut pemeriksaan para dokter, dia hanya mengalami sakit magh."
Delano menghentikan pekerjaannya sesaat, berpikir sejenak sambil berdiri dan berjalan keranjang Canna. Menyibak selimut yang menutupi kepala Canna. Menurunkannya hingga sebatas dada.
"Apa yang sudah dilakukan wanita ini padaku, hingga aku jatuh cinta padanya saat aku melihatnya untuk yang pertama kalinya. Rasanya dia begitu familiar," gumam Delano. Mengecup sekilas dahi wanita itu sebelum kembali meneruskan pekerjaannya.
"Apakah mungkin sakit magh separah itu? Hingga dia mengalami muntah sehebat itu?" tanya Delano. "Sebaiknya kamu meminta dokter ahli dari luar negri saja untuk memeriksa riwayat penyakitnya. Aku takut, penyakitnya tidak terdeteksi oleh mereka."
"Baik, akan aku lakukan segera!" sahut Derris.
***
kau anggap apa jika ada wanita lain kayak gini, saat kalian (author dan reader) berbuat salah pada suami kalian dan rumah tangga kalian ada masalah dan datang wanita lain yang mendekati dan selalu baik pada suami kalian, wanita itu selalu merayu dan selalu mencari cara mendekati bahkan wabita itu menyarankan suami kalian untuk bercerai dan suami kalian juga bersikap baik pada suami kalian,
jadi kalian anggap apa wanita kayak gini, setelah kalian menilai maka kalian bandingkan sikap kalian pada louis, disitu lah kalian bisa lihat sifat aslinya kalian?