Satria Wira Pratama adalah Seorang pimpinan perusahaan besar yang terkenal dingin dan juga sangat kejam. Tiba-tiba menjadi tak berdaya menghadapi seorang OG yang super ceroboh. Melinda Permata Sari, seorang gadis yang berasal dari keluarga menengah kebawah memiliki tiga adik laki-laki yang super protektif terhadap kakak perempuan mereka.
Jarak usia keempatnya tidak terlalu jauh sehingga sering Linda (Panggilan Melinda ) dicap sebagai seorang play girl karena gonta ganti pasangan.
Kehidupan Linda yang biasa-biasa saja mulai berubah semenjak dia pindah bekerja di sebuah Perusahaan Adi Kuasa di Kota Metropilitan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Enam
H-1 Pernikahan Satria dan Linda
Suasana di rumah Linda sangat ramai penuh dengan saudara dan juga para tetangga yang membantu disana.
Linda tak habis pikir, pernikahan palsu ini kenapa terasa sangat nyata. Bahkan bisa dibilang ini benar-benar pernikahan yang diimpikan para wanita
Pagi-pagi sekali tadi dia sudah diusir oleh ibunya untuk melakukan perawatan pra nikah. Katanya biar kulitnya mulus dan keset gitu. Kinclong, kenyal kayak pantat bayi. Membayangkannya saja Linda sudah malas dan ngeri.
Entah apa yang dimaksud ibu, Linda pun tidak paham dan hanya menurut saja. Kini setelah usai perawatan Linda berniat akan istirahat sebentar di kamarnya. Namun dicegah oleh kedua adik kembarnya.
Linda tidak perduli dengan ocehan kedua adiknya yang terkenal usil itu. Linda dicegah agar tidak masuk ke kamar setelah pulang dari salon. Sesuatu yang mencurigakan dari tingkah keduanya.
"Mbak... ayolah jangan kesana. Nanti mbak jantungan..." Cegah Ikhsan namun tidak digubris sama sekali oleh Linda.
"Apaan sih kalian! Nggak usah rese deh. Aku capek. Mau istirahat. Dikira ke salon bakal enak. Nggak tahunya malah dipegang-pegang. Mana suruh lepas baju. Kalian jangan bersikap yang aneh ya. Minggir." Bantah Linda sambil mendorong tubuh adiknya.
Dengan sangat buru-buru Linda membuka pintu kamarnya. Setelah membukanya, mata Linda tak hentinya melotot tanpa berkedip sedikit pun. Sesuatu yang lain terjadi di kamarnya.
"Gue salah kamar nih..." Linda keluar kamar lalu masuk kemudian keluar lagi. Linda berpikir, apakah dia salah masuk kamar? Kenapa kamarnya nampak berbeda dari kamar yang biasa dia tempati? Ini aneh.
"Kenapa sih mbak," tanya Indra ikut bingung dengan tingkah Linda yang aneh.
"Ini kamar siapa dek," tanya Linda sedikit bingung.
"Iya ini kamarmu mbak," jawab Indra.
"Nggak lah, Kalian jangan becanda. Ini norak banget. Ini apa? Bunga banyak banget di atas kasur. Dikira ini kuburan? Dan ini? Sejak kapan kasur jadi tinggi empuk gini? Ini? Apa-apaan semua ini?" Banyak pertanyaan terlontar dari mulut Linda hingga lawan bicaranya pun bingung mau menjawab yang mana dulu.
Bagaimana tidak bingung? Tadi pagi kamarnya masih normal. Tidak ada keanehan seperti sekarang. Dan tidak ada benda aneh di dalam kamarnya.
Tapi sekarang? Udah kayak pelaminan. Mana banyak kelopak bunga mawar di kasur. Dan kasurnya pun berbeda dengan miliknya. Banyak bunga di tiap sudut kamar tanpa tertinggal sedikit pun. Dinding pun dihias dengan dekorasi yang cantik. Itu jika wanita normal pada umumnya. Pasti akan suka dan takjub jika kamarnya disulap seperti ini. Romantis. Kalau anak muda normal yang jatuh cinta. Tapi Linda kasusnya lain.
Linda kembali memeriksa setiap sudut kamarnya. Tanpa terlewat sedikit pun.
Apakah ini kamar pengantin?
Ini kan hanya bohongan.
Tapi kenapa harus mewah begini? Dan adat kuno yang harus ia jalani, dari siraman, pingitan sampai puasa. Semua harus dia lakukan.
Helloooo ini hanya drama. Bukan realita. Tapi kenapa kayak gini?
Pernikahan ini hanya kesepakatan semata. Bukan pernikahan kedua insan yang tengah jatuh cinta dan mengharapkan pernikahan romantis.
"Dek! Cubit mbak. Ini nggak mimpi kan?" Pinta Linda kepada kedua adiknya.
Dengan senang hati Ikhsan mencubit lengan Linda tanpa ragu.
Aawww
"Sakit bego!" Maki Linda yang merasa kesakitan karena cubitan adiknya.
"Gimana sih? Tadi minta dicubit. Giliran dicubit malah sewot nggak jelas gini..." Gerutu Ikhsan yang kena pukul di lengannya. Dielusnya lengan bekas cubitan Linda yang terasa perih.
"Ini... ini... apa-apaan semua ini?" Tanya Linda lagi, sambil menunjuk seisi kamarnya.
"Ooohhhh ini kiriman dari mas Satria. Satu paket sama dekorasi yang diluar sana. Dan kasurnya emang diganti sama yang baru tadi..." Jelas Indra menjawab kebingungan Linda
"Harus ya kayak gini?" Protes Linda sedikit kesal. Kebohongan yang indah. Sial!
"Trus mestinya gimana mbak," tanya Indra juga ikut bingung dengan ucapan Linda.
Ini terlalu indah untuk sebuah kebohongan, ntar kalo gue jatoh pas lagi terbang tinggi kan sakit.
Weeyyy!!!!
Linda terkejut karena teriakan Ikhsan.
"Apa sih? Ngagetin aja! Adek durjana," gerutu Linda.
"Lagian malah bengong. Takut kesambet aja. Besok kan mau nikah. Kan nggak lucu kalo calon mempelai wanita kesambet sebelum ijab..." ledek Ikhsan tanpa dosa kepada kakaknya.
Hahahahaha
Tawa dari kedua adiknya menambah kesal Linda yang masih bingung.
"Ni anak malah nyumpahin mbaknya kesambet." Secara bergantian Linda mencubit pinggang kedua adiknya. Diselingi tawa riang mereka.
Hahahaha
Semua yang ada dirumah itu ikut bahagia melihat ketiga saudara itu tengah bercanda. Tawa yang mungkin sebentar lagi takkan mereka lihat. Karena Linda pasti akan ikut dengan suaminya. Pikir mereka.
"Ada apa sih?" Tanya Ferry yang baru saja pulang dan melihat semua orang tertawa.
Karena penasaran, Ferry pun segera masuk. Melihat kedua adiknya tengah dipukul oleh kakaknya.
Entah keributan apa lagi yang dibuat oleh kedua adiknya hingga mereka harus dicubit oleh kakaknya.
Kali ini Ferry tidak ingin ikut campur, karena tak mau mendapat serangan dari kakaknya.
Hanya mengamati dari jauh, dan sesekali tersungging senyum di bibir Ferry.
Sebentar lagi rumah ini bakal sepi tanpamu mbak. Semua bakal sepi tanpa ada keributan darimu. Kami akan sangat merindukan keramaian di rumah ini.
Ferry lalu melangkah menuju kamarnya, kembali membayangkan suasana hangat di rumahnya.