Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.
Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.
Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.
Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.
Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 — Dua Orang yang Berbohong
Suara lonceng itu tidak terdengar lagi, tetapi dampaknya belum berakhir.
Di Ruang Sebelum Ada, semua pintu yang sebelumnya menghilang kembali muncul. Anehnya, jumlahnya kini bertambah menjadi sepuluh. Sembilan pintu berdiri mengelilingi ruangan, sedangkan pintu kesepuluh terletak tepat di belakang Gu Yuan.
Tidak ada gagang pada pintu itu. Tidak ada ukiran, lambang, atau tulisan yang menunjukkan apa yang berada di baliknya.
Hanya ada satu lubang kecil berbentuk lonceng hitam.
Gu Chen memperhatikannya sebentar, lalu menatap ayahnya.
“Pintu itu sebelumnya tidak ada, kan?”
Gu Yuan tidak menjawab.
Gu Chen mengangguk pelan. “Bagus. Berarti aku tidak perlu bertanya apakah kau mengenalnya.”
“Aku tidak tahu apa yang ada di baliknya,” jawab Gu Yuan.
“Bukan itu yang kutanyakan.”
Gu Yuan terdiam.
Lin Yue menyilangkan tangan. “Kalau kalian berdua selesai saling menguji, mungkin seseorang bisa menjelaskan kenapa pintu baru muncul setiap kali benda aneh berbunyi?”
“Karena tempat ini bereaksi terhadap sesuatu yang seharusnya tidak ada,” jawab pemuda tanpa nama.
“Penjelasan yang sangat membantu,” balas Lin Yue datar.
Bai masih berdiri agak jauh dari mereka. Sejak sosok bertopeng muncul, ia tampak semakin gelisah. Sesekali tangannya bergerak ke arah matanya, seolah ia berusaha mengingat sesuatu yang terkubur jauh di balik pikirannya.
Gu Chen menghampirinya.
“Kau bilang sosok bertopeng itu muncul pada hari namamu dihapus. Apa yang sebenarnya terjadi hari itu?”
Bai mengangkat kepala. “Aku tidak ingat seluruh kejadiannya.”
“Tentu saja.”
“Aku serius. Aku ingat sebuah ruangan, meja batu, dan seseorang yang berdiri di depanku. Dia memintaku memilih antara mempertahankan namaku atau mempertahankan seseorang yang tidak memiliki nama.”
“Siapa orang itu?”
Bai menutup mata.
“Ketika aku memilih, namaku menghilang. Namun, orang yang ingin kuselamatkan juga tidak pernah ditemukan.”
Gu Chen mengamati wajahnya. “Dan kau yakin orang yang meminta pilihan itu adalah sosok bertopeng tadi?”
“Tidak.” Bai membuka mata. “Aku hanya yakin bahwa suaranya sama.”
Gu Chen tidak langsung menanggapi. Ia sudah terlalu sering melihat bagaimana ingatan dapat dipotong, dipalsukan, atau ditanamkan untuk mempercayai kesimpulan semacam itu.
“Kalau begitu, kita punya dua kemungkinan,” katanya. “Sosok itu memang orang yang menghapus namamu, atau seseorang sengaja menggunakan suaranya agar kau mengira demikian.”
“Menurutmu, mana yang benar?” tanya Lin Yue.
“Menurutku, orang yang sengaja meninggalkan dua kemungkinan biasanya menginginkan kita memilih salah satunya.”
Gu Chen berbalik menuju pintu kesepuluh.
“Jadi, kita tidak akan memilih. Kita akan mencari tahu siapa yang mendapat keuntungan dari kebingungan kita.”
Ia mengeluarkan lonceng hitam. Retakan pada permukaannya masih memancarkan cahaya redup. Namun, ketika didekatkan ke pintu, lonceng itu tidak bereaksi.
Sebaliknya, potongan papan hitam di sakunya menjadi hangat.
Gu Chen mengeluarkannya.
Ukiran mata yang dicoret kini berubah menjadi sebuah garis melengkung. Bentuknya menyerupai senyuman.
“Benda ini mulai menyebalkan,” gumamnya.
“Letakkan di pintu,” kata pemuda tanpa nama.
Gu Chen menoleh. “Kau yakin?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa menyuruhku?”
“Karena kalau aku tahu apa yang akan terjadi, aku pasti sudah melakukannya sendiri.”
Gu Chen memandangnya beberapa detik, lalu tertawa pendek.
“Setidaknya, kau jujur tentang ketidaktahuanmu.”
Ia menempelkan potongan papan itu pada pintu.
Tidak terjadi apa-apa.
Gu Chen menunggu beberapa saat sebelum mengetuk pintu dua kali.
“Kalau ada orang di dalam, silakan keluar. Aku sedang tidak punya waktu untuk permainan tebak-tebakan.”
Terdengar suara dari balik pintu.
“Kalau kau benar-benar tidak punya waktu, seharusnya kau tidak datang.”
Gu Chen membeku.
Suara itu milik Gu Yuan.
Namun, Gu Yuan yang berdiri di belakangnya masih berada di tempat yang sama.
Lin Yue segera menarik busurnya. Bai mundur, sementara pemuda tanpa nama menatap pintu dengan ekspresi terkejut.
Gu Chen perlahan menoleh kepada ayahnya.
Gu Yuan tidak bergerak.
“Jangan buka pintunya,” katanya.
Dari balik pintu, suara yang sama kembali terdengar.
“Jangan dengarkan orang di luar. Dia bukan ayahmu.”
Gu Chen mengusap wajahnya.
“Hebat. Sekarang bahkan pintu bisa berbohong.”
Ia menempelkan telinganya ke permukaan pintu.
“Kalau kau benar-benar Gu Yuan, jawab satu pertanyaan.”
“Apa?”
“Apa kalimat terakhir yang kau ucapkan kepadaku sebelum aku meninggalkan Desa Qingyuan?”
Gu Yuan di belakangnya langsung menjawab, “Apa pun yang terjadi, jangan pernah percaya pada takdir.”
Suara dari balik pintu tertawa.
“Dia mengulang kata-kataku.”
Gu Chen mengerutkan kening.
Gu Yuan tidak menyangkalnya.
“Karena kalimat itu memang berasal dariku,” katanya. “Aku mengatakannya kepadamu pada hari kau meninggalkan desa. Namun, bukan itu pertama kalinya kau mendengarnya.”
“Apa maksudmu?”
“Kau pernah mendengarnya sebelum aku memberimu nama Gu Chen.”
Suasana kembali hening.
Gu Chen menatap pintu. “Kalau begitu, apa yang kau katakan saat pertama kali memberiku nama?”
Kali ini, Gu Yuan tidak menjawab.
Suara dari balik pintu pun terdiam.
Untuk beberapa detik, hanya terdengar napas mereka sendiri.
Kemudian, dari balik pintu, terdengar suara anak kecil.
“Aku tidak memberimu nama.”
Gu Chen merasakan tengkuknya menegang.
Suara itu melanjutkan, “Aku hanya mengembalikan nama yang sudah kau berikan kepadaku.”
Potongan papan hitam di tangannya mendadak retak.
Satu garis tipis menjalar dari ukiran mata hingga ke ujungnya. Dari celah itu muncul cahaya putih, membentuk sebuah gambar kecil di udara.
Seorang anak laki-laki berambut hitam berdiri di hadapan seorang anak perempuan.
Wajah keduanya tidak terlihat jelas.
Anak perempuan itu menyerahkan sebuah lonceng kepada anak laki-laki tersebut.
“Kalau suatu hari nanti kau lupa siapa dirimu,” katanya, “bunyi lonceng ini akan membantumu mengingat.”
Anak laki-laki itu menerima lonceng tersebut.
“Kalau aku tetap tidak ingat?”
Anak perempuan itu terdiam sejenak, lalu menjawab, “Berarti aku harus mengingatnya untukmu.”
Gambar itu menghilang.
Gu Chen menatap lonceng di tangannya.
Benda yang selama ini ia anggap sebagai peninggalan ayahnya ternyata mungkin berasal dari seseorang yang bahkan tidak dapat ia ingat.
Seseorang yang pernah berjanji untuk mengingatnya.
“Siapa anak perempuan itu?” tanya Lin Yue pelan.
Gu Chen menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Namun, untuk pertama kalinya, ia merasa kehilangan seseorang yang tidak pernah benar-benar dikenalnya.
Pintu kesepuluh akhirnya terbuka dengan sendirinya.
Di baliknya terdapat sebuah ruangan kecil tanpa jendela. Di tengah ruangan berdiri meja kayu tua, dua kursi, dan sebuah cermin yang ditutup kain hitam.
Tidak ada benda lain.
Gu Chen masuk lebih dahulu, diikuti Lin Yue dan Bai. Gu Yuan berhenti di ambang pintu, sedangkan pemuda tanpa nama memilih tetap berada di lorong.
“Kenapa tidak masuk?” tanya Gu Chen.
Pemuda itu menatap ruangan tersebut dengan wajah tegang.
“Karena aku pernah masuk ke sana.”
“Kapan?”
“Sebelum aku menemukanmu.”
Gu Chen menunggu penjelasan lebih lanjut, tetapi pemuda itu hanya menggeleng.
“Ada bagian dari diriku yang tidak ingin mengingat ruangan itu.”
Gu Chen tidak memaksanya. Ia sudah memahami bahwa ketakutan terkadang lebih jujur daripada ingatan.
Di atas meja terdapat sebuah buku tipis. Tidak ada judul pada sampulnya. Gu Chen membukanya dan menemukan hanya satu halaman yang berisi dua kalimat.
ORANG PERTAMA MEMBERIKAN NAMA.
ORANG KEDUA MEMBERIKAN KEHIDUPAN.
Di bawahnya terdapat ruang kosong yang cukup lebar untuk satu baris tulisan lagi.
Gu Chen menyentuh halaman itu.
Tinta hitam muncul perlahan.
ORANG KETIGA MEMBERIKAN AKHIR.
Lin Yue membaca tulisan tersebut berulang kali.
“Tiga orang,” katanya. “Pencipta identitas, pencipta kehidupan, dan pencipta akhir.”
“Setidaknya, begitulah buku ini ingin kita percaya,” jawab Gu Chen.
Ia memeriksa halaman berikutnya.
Kosong.
Halaman ketiga juga kosong.
Namun, ketika ia membalik halaman terakhir, muncul sebuah tulisan yang membuat tangannya berhenti.
JANGAN BIARKAN KETIGANYA BERTEMU.
Di bawah tulisan itu terdapat tiga nama.
GU YUAN.
BAI.
Dan sebuah nama yang sebagian hurufnya telah dihapus.
Gu Chen memiringkan halaman untuk melihat sisa goresannya.
Hanya dua huruf yang masih dapat dibaca.
CH—
Bai mendadak mencengkeram meja.
“Jangan lanjutkan.”
Gu Chen menoleh. “Kau tahu nama itu?”
“Aku tidak tahu.”
“Kalau begitu, kenapa kau terlihat seperti baru saja melihat hantu?”
Bai menatap nama yang terhapus tersebut. Napasnya memburu, dan untuk sesaat bayangan sosok lain melintas di wajahnya—seseorang yang jauh lebih tua, dengan mata tertutup kain hitam.
“Aku pernah bersumpah untuk tidak mengucapkannya,” bisik Bai.
“Kepada siapa?”
Bai menatap Gu Chen.
“Kepadamu.”
Sebelum Gu Chen sempat menjawab, kain hitam yang menutupi cermin jatuh ke lantai.
Permukaan cermin tidak memantulkan ruangan.
Di dalamnya terlihat sebuah kota yang asing, dengan bangunan-bangunan menjulang dan langit berwarna merah gelap. Ribuan orang berdiri tanpa bergerak di jalanan. Di tengah kota, seorang pria berambut putih duduk di atas singgasana yang terbuat dari pecahan papan.
Wajah pria itu tertunduk.
Namun, ketika ia mengangkat kepala, Gu Chen melihat wajahnya sendiri.
Bukan wajahnya sekarang.
Wajah identitas pertama.
Pria berambut putih itu memandang ke arah cermin, seolah mampu melihat mereka dari seberang.
“Jadi, kalian akhirnya menemukan tempat ini,” katanya.
Gu Chen melangkah mendekat.
“Tempat apa ini?”
Pria di dalam cermin tersenyum tanpa kegembiraan.
“Tempat di mana aku membunuh orang yang memberiku nama.”
Gu Yuan yang berdiri di pintu tiba-tiba menghunus pedangnya.
“Jangan dengarkan dia!”
Pria di dalam cermin mengalihkan pandangan kepada Gu Yuan.
“Kau masih hidup juga rupanya.”
“Siapa kau?” bentak Gu Yuan.
Pria itu tertawa pelan.
“Kau benar-benar sudah melupakan semuanya, Ayah?”
Pedang Gu Yuan bergetar.
Bai jatuh berlutut.
Lin Yue mengangkat busurnya, tetapi anak panahnya tidak bisa diarahkan kepada sosok di dalam cermin. Permukaan kaca mulai retak, dan dari balik retakan terdengar suara ribuan orang menyebut nama yang sama.
Nama yang tidak dapat didengar Gu Chen dengan jelas.
Setiap kali suara itu hampir membentuk sebuah kata, pikirannya seolah menolak menerimanya.
Pria berambut putih itu berdiri dari singgasananya.
“Aku tidak akan memintamu mengingatku,” katanya kepada Gu Chen. “Aku hanya ingin kau menjawab satu pertanyaan.”
Gu Chen menatapnya dengan waspada.
“Apa?”
“Jika kau mengetahui bahwa orang yang memberimu nama telah membunuh seseorang demi membuatmu tetap hidup, apakah kau masih akan menganggapnya sebagai ayahmu?”
Gu Chen terdiam.
Ia menoleh kepada Gu Yuan.
Pria itu tidak membantah.
Dan di situlah Gu Chen menyadari sesuatu yang lebih mengerikan daripada kebohongan mana pun.
Mungkin selama ini ia bukan sedang mencari orang yang membunuh ayahnya.
Mungkin ia sedang mencari tahu mengapa ayahnya harus membunuh seseorang agar dirinya bisa hidup.
Cermin bergetar keras.
Pria berambut putih itu mengangkat tangannya, menempelkan telapak tangannya pada sisi kaca yang lain.
“Pilihlah, Gu Chen. Teruslah hidup sebagai anak yang diberi nama oleh seorang pembunuh, atau temukan nama pertamamu dan pelajari siapa yang sebenarnya mati demi kelahiranmu.”
Retakan terakhir menjalar melintasi wajahnya.
Sebelum cermin pecah, ia mengucapkan satu kalimat lagi.
“Dan jangan pernah percaya kepada orang yang mengatakan bahwa aku adalah dirimu.”
Cermin hancur.
Di antara pecahan kaca yang jatuh, sebuah benda kecil menggelinding ke kaki Gu Chen.
Sebuah cincin kayu.
Pada permukaannya terukir sembilan garis dan sebuah lingkaran kosong.
Gu Chen mengenali benda itu.
Itu adalah lambang yang sama dengan ukiran pada gelang kayu miliknya—gelang yang pernah ditemukan di menara Kota Wuming.
Namun, kali ini terdapat tulisan di bagian dalam cincin yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
PEMILIK: ORANG YANG MEMILIH UNTUK TIDAK DILAHIRKAN.
Gu Chen mengangkat cincin itu.
Di belakangnya, Gu Yuan berbisik lirih.
“Sekarang kau sudah tahu kenapa aku tidak pernah ingin kau menemukan nama pertamamu.”
Gu Chen menoleh.
“Tidak,” jawabnya dingin. “Sekarang aku baru tahu bahwa kau punya alasan untuk takut.”
Ia memasukkan cincin kayu ke sakunya, lalu berjalan menuju pintu.
“Aku akan mencari nama itu.”
Gu Yuan tidak menghalangi jalannya.
Namun, ketika Gu Chen melewatinya, ayahnya berbisik dengan suara yang nyaris tak terdengar.
“Kalau kau menemukannya, jangan sampai kau mengingat siapa yang pertama kali memanggilmu anak.”
Gu Chen berhenti sesaat.
Lalu ia terus berjalan.
Sebab untuk pertama kalinya, ia mulai mencurigai bahwa kebohongan terbesar dalam hidupnya bukanlah tentang siapa dirinya.
Melainkan tentang siapa yang pernah ia cintai sebelum ia dilahirkan kembali.