Cerita terinspirasi kisah nyata!
Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.
Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.
Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 - Teman Lama
Kala itu Galih hanya ditemani sunyinya malam. Hingga tak terasa malam berubah jadi pagi. Bersamaan dengan itu, sebuah mobil pick up lewat dan berhenti tepat di hadapan Galih. Ternyata itu adalah Bang Doni, yang memang setiap subuh selalu rutin mengantar sayur ke pasar di kota.
"Eh, kau Galih. Aku kira siapa tadi duduk sendirian di sini. Kau kenapa?" tukas Bang Doni.
Galih bergegas berdiri dan memaksakan dirinya tersenyum. "Wah... Pas sekali, Bang. Aku boleh ikut ke kota nggak?" balasnya.
"Boleh aja. Ya udah, naik!" sahut Bang Doni. Dia tak bertanya lagi saat melihat lebam di wajah Galih. Kerasnya Hilman pada Galih, memang sudah jadi rahasia umum di desa.
Galih memanjat ke bagian belakang mobil pick up milik Bang Doni, menyejajarkan duduknya di antara tumpukan keranjang kol dan karung wortel yang aromanya memenuhi udara subuh. Suara mesin mobil yang menderu membelah keheningan jalanan desa, membawa Galih perlahan meninggalkan tanah kelahirannya. Angin dingin menusuk pori-pori kulitnya, tetapi rasa perih di pipinya yang memar jauh lebih mendominasi.
Melihat dari kaca spion tengah bahwa Galih tampak menggigil dan murung, Bang Doni menurunkan sedikit kaca jendela samping lalu berteriak pelan agar suaranya terdengar sampai ke belakang.
"Galih! Kalau dingin, pindah ke depan saja! Sini, duduk di sampingku!" seru Bang Doni.
Galih ragu sejenak, namun akhirnya ia mengetuk pintu dan bergeser duduk di kabin depan. Hangatnya udara dalam mobil seketika menyapa tubuhnya yang gemetar.
Setelah beberapa saat keheningan tercipta di antara mereka, Galih memberanikan diri membuka suara. "Bang Doni... kira-kira di kota nanti, Abang tahu nggak tempat kost atau kontrakan yang harganya miring? Yang sewa bulanan atau kalau bisa harian dulu gitu, Bang."
Bang Doni menghela napas panjang, matanya tetap fokus menatap jalanan yang mulai remang oleh fajar. "Walah, Lih... kalau soal daerah kota, jujur aku ini cuma tahu jalanan ke pasar aja. Habis bongkar muatan, aku ya langsung pulang ke desa. Nggak pernah main-main atau paham daerah indekos."
Galih mengangguk pelan, menyenderkan kepalanya pada kaca mobil. Kekhawatiran kembali merayapi pikirannya. Uang seratus ribu rupiah pemberian ibunya tentu tidak akan bertahan lama jika ia tidak segera menemukan tempat bernaung yang murah.
Namun, Bang Doni tiba-tiba menepuk lingkar kemudi. "Tapi tenang aja. Aku kenal satu orang yang paham betul seluk-beluk kota. Dia pasti bisa bantu kamu cari tempat tinggal."
Mendengar ucapan itu, Galih menerka-nerka. Sebuah nama langsung terlintas di kepalanya. "Maksud Bang Doni... Aldi?"
Bang Doni tertawa kecil. "Pinter kamu! Siapa lagi kalau bukan si Aldi. Dia kan sudah dua tahun ini kuliah di sana. Pasti khatam soal urusan tempat tinggal murah buat anak perantauan."
Galih tersenyum tipis. Aldi adalah keponakan Bang Doni sekaligus teman Galih saat SMA. Dulu mereka sangat akrab, sering menghabiskan waktu bersama selepas sekolah. Namun, semenjak lulus dan Aldi memutuskan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di kota, komunikasi mereka perlahan memudar. Galih yang terkungkung oleh kekangan ayahnya tidak pernah punya kesempatan untuk sekadar menyapa atau bermain keluar desa lagi.
"Dia masih sering pulkam nggak, Bang?" tanya Galih pelan.
"Jarang banget. Sibuk katanya, entah sibuk kuliah atau sibuk organisasi," jawab Bang Doni santai.
Perjalanan berlanjut hingga sinar matahari pagi mulai menerangi langit. Mobil pick up akhirnya memasuki kawasan pasar induk kota yang sibuk. Bau rempah, deru mesin, dan teriakan para pedagang langsung menyambut kedatangan mereka. Bang Doni memarkirkan mobilnya di area bongkar muatan.
Sebelum mulai menurunkan keranjang sayur, Bang Doni merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Ia menggeser layar dan menempelkannya ke telinga.
"Halo, Di? Kamu di mana? Ini Paman lagi di pasar... Iya, ini ada si Galih ikut Paman ke kota... Hah? Iya, Galih temanmu itu. Kamu bisa ke pasar sebentar nggak buat jemput dia? Kasihan dia... Ya udah, Paman tunggu ya."
Bang Doni mematikan sambungan telepon dan menatap Galih. "Dia lagi bersiap-siap. Katanya sepuluh menit lagi sampai ke sini."
Galih menunduk, ada rasa sungkan yang luar biasa mengganjal di dadanya. "Bang... maaf banget ya, aku jadi merepotkan Bang Doni sama Aldi begini."
Bang Doni menepuk bahu Galih dengan keras namun penuh kehangatan. "Ngomong apa kamu ini, Lih? Kita ini tetangga, sudah kayak keluarga sendiri. Kamu nggak usah merasa merepotkan. Yang penting sekarang kamu harus kuat. Hidup di kota itu keras, tapi kalau kamu rajin dan mau kerja keras, pasti ada jalan. Anggap saja ini langkah awal kamu buat mandiri."
"Terima kasih banyak ya, Bang," ucap Galih tulus. Kata-kata dari Bang Doni seolah menjadi pemantik semangat baru di tengah keterpurukannya.
Tak lama kemudian, suara raungan mesin sepeda motor berkapasitas besar mengalihkan perhatian orang-orang di area bongkar muatan. Sebuah motor sport fairing berwarna hitam mengkilap berhenti tepat di samping mobil pick up Bang Doni. Pengendaranya mengenakan jaket kulit hitam, celana jins gelap, serta helm full face yang tampak sangat modern.
Saat pengendara itu melepas helmnya, mata Galih membelalak sempurna. Ia terperanjat sampai tak mampu berkata-kata.
Pria bertubuh tegap, berambut rapi dengan gaya potong kekinian, dan berpenampilan sangat berkelas itu adalah Aldi. Sosoknya benar-benar berbeda dari Aldi yang dulu sering memakai kaos oblong lusuh dan sandal jepit saat di desa.
"Gila... keren banget kamu sekarang, Di!" puji Galih spontan, matanya tak lepas memandangi kendaraan dan penampilan temannya itu.
Aldi tertawa renyah, menyisir rambutnya dengan jemari tangan sebelum menyengir lebar. "Bisa aja kamu, Lih! Ini juga motor kredit, kok," gurau Aldi mencoba mencairkan suasana.
Aldi melangkah mendekat, berniat merangkul sahabat lamanya. Namun, begitu pandangannya tertuju pada wajah Galih, senyum di bibir Aldi mendadak pudar. Sudut mata Galih memar kebiruan, dan ada bekas luka kering di bibir atasnya.
Aldi mendekatkan wajahnya, memelankan suaranya hingga menjadi bisikan halus. "Lih... wajahmu kenapa? Dipukuli Pak Hilman lagi?"
Galih terdiam sejenak. Ia menunduk pelan, lalu mengangguk tanpa suara. Tidak ada gunanya berbohong kepada teman yang sudah tahu tabiat ayahnya sejak dulu.
"Kali ini aku udah nggak tahan, Di. Aku memutuskan buat pergi dari rumah," ujar Galih dengan nada mantap meski ada getaran di ujung suaranya. "Mulai sekarang aku mau hidup mandiri. Aku nggak bakal balik lagi sebelum aku berhasil."
Aldi menatap Galih dengan tatapan penuh empati dan keprihatinan. Ia tahu betul betapa beratnya penderitaan yang dialami Galih selama bertahun-tahun di bawah tekanan ayahnya.
"Bagus kalau kamu sudah berani ambil sikap, Lih," kata Aldi pelan seraya menepuk lengan Galih. "Jadi, sekarang kamu butuh bantuan apa dari aku?"
"Aku butuh bantuanmu buat cari tempat tinggal, Di. Yang murah aja, yang sesuai sama isi dompetku sekarang. Kalau ada kontrakan petakan atau kos-kosan kecil, yang penting aku ada tempat bernaung dulu sementara waktu," jelas Galih penuh harap.
Aldi tersenyum tipis dan merangkul pundak Galih. "Soal tempat tinggal gampang, kamu nggak usah pusing. Tenang aja, aku ada beberapa opsi yang bisa kita cek sekarang. Ayo naik ke motorku, kita bahas sambil jalan!"