ISTRI RAHASIA SANG MAFIA

ISTRI RAHASIA SANG MAFIA

BAB 1 — PRIA BERMATA BIRU SAFIR

Roma, Italia — Pukul 23.47

Hujan mengguyur jalanan Roma ketika Bianca Elena Laurent melangkah keluar dari taksi hitam yang membawanya ke sebuah hotel mewah di pusat kota. Gaun hitam sederhana membungkus tubuhnya, sementara rambut panjangnya yang bergelombang dibiarkan tergerai melewati bahu.

Ia tidak pernah menyukai tempat seperti ini.

Terlalu banyak orang kaya yang tersenyum sambil menyembunyikan kebohongan. Terlalu banyak pria berjas mahal yang menganggap uang bisa membeli segalanya.

Namun, malam ini Bianca tidak punya pilihan.

Ayahnya menghilang tiga hari lalu. Kakaknya tidak bisa dihubungi. Dan sebuah pesan misterius yang diterimanya satu jam sebelumnya memaksanya datang ke hotel tersebut.

Jika kau ingin mengetahui keberadaan Adrian, datanglah sendirian. Jangan membawa polisi.

Bianca menggenggam ponselnya erat-erat.

Adrian adalah satu-satunya keluarga yang tersisa baginya setelah ibunya meninggal. Sebagai perempuan keturunan Spanyol dari pihak ibu dan Timur Tengah dari pihak ayah, Bianca tumbuh dengan dua kebudayaan yang mengajarkannya tentang kehormatan keluarga. Ia bisa saja merasa takut, tetapi ia tidak akan membiarkan keluarganya hancur tanpa perlawanan.

Seorang pria bertubuh besar menghampirinya di depan pintu hotel.

"Bianca Laurent?"

Bianca mengangguk.

"Ikuti saya. Tuan Vieri sudah menunggu."

Nama itu membuat dadanya terasa sesak.

Vieri.

Ia pernah mendengar nama tersebut dari percakapan ayahnya yang terputus setiap kali dirinya memasuki ruangan. Sebuah nama yang selalu diucapkan dengan suara rendah, seolah menyebutnya terlalu keras dapat mengundang kematian.

"Siapa Tuan Vieri?" tanyanya, meskipun ia sudah menduga jawabannya.

Pria itu tidak menjawab.

Ia hanya membukakan pintu menuju lift pribadi.

Dan Bianca, dengan firasat buruk yang semakin kuat, melangkah masuk.

Pintu lift terbuka di lantai paling atas.

Lorong panjang membentang di hadapannya, diterangi lampu keemasan. Di ujung lorong terdapat pintu ganda berwarna hitam, dijaga dua pria dengan setelan formal dan ekspresi tanpa emosi.

Salah seorang membuka pintu.

Bianca melangkah masuk.

Ruangan itu luas, dengan jendela kaca setinggi langit-langit yang memperlihatkan pemandangan Roma di bawah hujan. Sebuah meja panjang berdiri di tengah ruangan. Gelas kristal, botol minuman mahal, dan beberapa map hitam tertata rapi di atasnya.

Seorang pria berdiri membelakanginya.

Setelan hitamnya tampak sempurna. Bahunya lebar, posturnya tegap, dan satu tangannya memegang gelas berisi minuman berwarna keemasan.

"Keluar," katanya.

Dua penjaga segera meninggalkan ruangan.

Pintu tertutup.

Bianca kini sendirian bersama pria yang bahkan belum memperlihatkan wajahnya.

"Anda mengirim pesan tentang kakak saya?" tanyanya.

Pria itu meletakkan gelasnya.

"Adrian Laurent."

Ia mengucapkan nama itu seolah sedang membaca vonis hukuman.

"Ya. Di mana dia?"

Pria itu berbalik.

Untuk sesaat, Bianca lupa bagaimana caranya bernapas.

Wajah pria itu memiliki ketegasan yang hampir tidak masuk akal. Rahangnya tegas, hidungnya lurus, dan rambut hitamnya disisir rapi ke belakang. Ada bekas luka tipis di dekat alis kirinya, nyaris tersembunyi oleh bayangan.

Namun, yang paling menarik perhatian Bianca adalah matanya.

Biru safir.

Dingin, tajam, dan menakutkan.

Mata seorang pria yang terbiasa melihat orang lain menundukkan kepala sebelum ia perlu mengangkat suara.

"Aku Dante Alessandro Vieri," katanya. "Dan kakakmu telah mencuri sesuatu milikku."

Bianca menegakkan bahunya.

"Kalau begitu, laporkan dia kepada polisi."

Senyum tipis muncul di bibir Dante.

"Polisi?"

Ia berjalan mendekat. Langkahnya tenang, tetapi setiap gerakan memancarkan ancaman yang tidak perlu dijelaskan.

"Kau benar-benar tidak tahu siapa aku, bukan?"

"Aku tidak tertarik mengetahui kehidupan pribadi orang asing."

"Sayangnya, kehidupan keluargamu sudah terhubung dengan kehidupanku."

Dante berhenti beberapa langkah di hadapannya.

Bianca bisa mencium aroma parfum maskulin yang samar, bercampur dengan aroma hujan dari jasnya. Ia membenci kenyataan bahwa pria itu memiliki daya tarik yang sulit diabaikan.

Tetapi ketampanan bukan alasan untuk mempercayai seseorang.

Terutama seseorang yang memandang manusia seperti bidak catur.

"Apa yang dicuri kakak saya?" tanyanya.

"Dokumen."

"Dokumen apa?"

"Sesuatu yang bisa membuat beberapa keluarga kehilangan kekuasaan mereka."

Bianca menggeleng tidak percaya.

"Anda menculik kakak saya hanya karena selembar kertas?"

Tatapan Dante berubah.

"Jangan pernah menyederhanakan sesuatu yang tidak kau pahami."

"Aku tidak akan takut hanya karena Anda memakai jas mahal dan memiliki penjaga di setiap pintu."

Keheningan jatuh.

Dante menatapnya lama, seakan baru saja menemukan sesuatu yang tidak biasa.

Kebanyakan orang yang berdiri di hadapannya akan menunduk, meminta ampun, atau berusaha menyenangkan hatinya. Perempuan ini justru menatap balik dengan kemarahan yang nyaris menyala di matanya.

"Berani juga," gumamnya.

"Aku tidak datang untuk menghibur Anda."

"Tidak. Kau datang karena ingin menemukan kakakmu."

Dante mengambil sebuah map dari meja, lalu meletakkannya di hadapan Bianca.

Di dalamnya terdapat beberapa foto.

Foto ayahnya sedang berbicara dengan seorang pria di sebuah gudang. Foto Adrian memasuki gedung yang tidak dikenalnya. Dan foto terakhir membuat darah Bianca terasa membeku.

Ayahnya.

Terbaring di ranjang rumah sakit, dengan dua penjaga berdiri di dekat pintu.

"Kapan foto ini diambil?" Suara Bianca melemah.

"Tiga hari lalu."

"Di mana dia?"

"Tempat yang aman."

"Apakah dia terluka?"

Dante tidak segera menjawab.

Bianca mencengkeram tepi meja.

"Jawab saya!"

"Dia masih hidup."

Kedua kata itu seharusnya melegakan. Namun, Bianca tahu ada sesuatu yang belum dikatakan pria itu.

"Apa yang Anda inginkan?"

Dante menutup map tersebut.

"Kau akan menikah denganku."

Bianca menatapnya tanpa berkedip.

Lalu ia tertawa pendek, bukan karena merasa lucu, melainkan karena tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.

"Maaf?"

"Pernikahan kita akan dilangsungkan tiga hari dari sekarang."

"Anda gila."

"Mungkin."

"Saya bahkan tidak mengenal Anda!"

"Kau akan memiliki cukup waktu untuk mengenalku."

Bianca mendorong map itu menjauh.

"Saya tidak akan menikahi pria yang mengancam keluarga saya."

Dante tidak tampak tersinggung. Ia justru mengambil sebuah dokumen lain dan membuka halaman terakhirnya.

"Perusahaan ayahmu memiliki utang besar kepada keluargaku. Saham pengendali perusahaan itu sekarang berada dalam bahaya. Pernikahan ini akan menghentikan proses pengambilalihan dan memastikan keluargamu tetap memiliki hak atas bisnisnya."

Bianca membaca dokumen tersebut dengan tangan gemetar.

Tanda tangan ayahnya tertera di sana.

Tetapi ada sesuatu yang terasa janggal pada tanggal penandatanganannya.

"Ini tidak mungkin," bisiknya. "Ayah saya tidak pernah menyebutkan perjanjian ini."

"Barangkali karena dia tidak ingin kau mengetahui seberapa jauh dia telah terlibat."

Bianca mengangkat wajahnya.

"Jadi, Anda ingin saya menikahi Anda demi sebuah kesepakatan bisnis?"

"Bukan hanya itu."

Dante melangkah mendekat sekali lagi. Kali ini, ia berhenti cukup dekat hingga Bianca dapat melihat pantulan cahaya pada iris biru safirnya.

"Ada seseorang di dalam keluargaku yang ingin melihatmu mati."

Jantung Bianca berdegup keras.

"Apa hubungannya dengan saya?"

"Orang itu percaya bahwa kakakmu membawa bukti yang dapat menghancurkan kami. Selama kau berada di luar perlindunganku, kau akan menjadi sasaran."

"Dan menikahi Anda akan membuat saya aman?"

"Menikah denganku akan membuat semua orang berpikir dua kali sebelum menyentuhmu."

Bianca menatap pria itu, berusaha menemukan kebohongan di balik ekspresinya.

"Kenapa saya?"

Untuk pertama kalinya, Dante terdiam lebih lama daripada yang diperlukan.

Lalu ia menjawab dengan suara rendah.

"Karena ayahmu membuat kesepakatan dengan ayahku bertahun-tahun lalu. Kesepakatan yang seharusnya tidak pernah dilanggar."

"Kesepakatan apa?"

"Itulah yang harus kita cari tahu."

Bianca mundur satu langkah.

"Aku tidak akan menjadi istri rahasia seorang mafia."

Dante menatapnya dengan dingin.

"Kalau begitu, temukan cara lain untuk menyelamatkan keluargamu sebelum matahari terbit."

Ia kembali ke meja, seolah percakapan mereka telah selesai.

Bianca berdiri terpaku.

Ia ingin membenci pria itu. Ingin menampar wajah tampannya dan meninggalkan tempat tersebut tanpa menoleh lagi.

Namun, bayangan ayahnya di ranjang rumah sakit membuat kakinya tidak bergerak.

"Jika saya setuju," katanya akhirnya, "ada satu syarat."

Dante menoleh.

"Katakan."

"Saya ingin bukti bahwa ayah dan kakak saya masih hidup. Saya juga ingin jaminan bahwa mereka tidak akan disentuh oleh siapa pun dari keluarga Anda."

Dante memperhatikannya beberapa detik.

"Kau sedang mencoba bernegosiasi denganku?"

"Saya sedang melindungi keluarga saya."

Senyum samar muncul di wajah pria itu.

"Baiklah, Bianca Laurent. Aku menerima syaratmu."

Ia mengulurkan tangan.

Bianca memandangi tangan itu seolah sedang menatap seekor ular berbisa.

"Jangan salah paham," katanya. "Saya menyetujui kesepakatan ini, bukan Anda."

"Aku tidak membutuhkan cintamu."

"Bagus. Karena saya tidak akan pernah mencintai Anda."

Dante mendekatkan wajahnya sedikit, tanpa menyentuhnya.

"Kita lihat saja nanti, cara mia."

Bianca tidak mengerti mengapa dua kata itu terdengar seperti janji sekaligus ancaman.

Ia akhirnya menjabat tangan Dante.

Hangat.

Kuat.

Dan entah mengapa, genggaman itu membuatnya sadar bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Di luar jendela, petir menyambar langit Roma.

Sementara Bianca sibuk memikirkan keluarganya, Dante menatap perempuan itu dengan ekspresi yang tak dapat dibaca.

Ada satu hal yang tidak ia ceritakan.

Ia tidak memilih Bianca semata-mata karena perjanjian lama kedua keluarga.

Ia memilihnya karena sebuah foto yang ditemukan di ruang kerja ayahnya bertahun-tahun lalu.

Foto seorang perempuan muda yang memiliki mata persis seperti Bianca.

Perempuan yang meninggal pada malam ketika ibu Dante dibunuh.

Dan di belakang foto itu, terdapat sebuah kalimat yang ditulis dengan tinta merah:

Jangan pernah biarkan putri keluarga Laurent menikah dengan seorang Vieri. Jika itu terjadi, kebenaran tentang kematian ibumu akan terungkap.

Bab 2 — Kesepakatan Berdarah.

Terpopuler

Comments

Zendyaa4

Zendyaa4

aku baca baca ini kak,tapi pelan pelan. semangat kakk💪
jangan lupa mampirr🤭

2026-10-31

1

Frida

Frida

💪

2026-11-04

0

Yiruma Nitya

Yiruma Nitya

Jadi penasaran

2026-11-01

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 — PRIA BERMATA BIRU SAFIR
2 BAB 2 — KESEPAKATAN BERDARAH
3 BAB 3 — HARGA SEBUAH PERNIKAHAN
4 BAB 4 — PENGANTIN DI TENGAH MALAM
5 BAB 5 — ISTRI YANG TIDAK BOLEH DIKENAL
6 BAB 6 — Kamar di Ujung Lorong
7 BAB 7 — Aturan Sang Don
8 BAB 8 — Sentuhan yang Terlarang
9 BAB 9 — Makan Malam Penuh Dusta
10 BAB 10 — Ciuman di Balik Pintu
11 BAB 11 — Perempuan dari Masa Lalu Dante
12 BAB 12 — Kecemburuan Sang Mafia
13 Bab 13 — Rahasia di Ruang Kerja
14 Bab 14 — Malam yang Mengubah Segalanya
15 Bab 15 — Nama yang Tertulis dalam Darah
16 Bab 16 — Pelukan Setelah Badai
17 Bab 17 — Pengkhianat di Meja Makan
18 Bab 18 — Bianca Mulai Melawan
19 Bab 19 — Ancaman untuk Sang Istri
20 Bab 20 — Ketika Dante Kehilangan Kendali
21 Bab 21 — Surat dari Masa Lalu
22 Bab 22 — Adrian yang Menghilang
23 Bab 23 — Darah yang Sama, Dendam Berbeda
24 Bab 24 — Pengakuan di Bawah Hujan
25 Bab 25 — Malam Terakhir di Roma
26 Bab 26 - Peluru untuk Bianca
27 Bab 27 — Pria yang Berlutut
28 Bab 28 — Pernikahan yang Terbongkar
29 Bab 29 — Pengkhianatan Luciano
30 Bab 30 — Harga Sebuah Kepercayaan
31 Bab 31 — Istri Sang Musuh
32 Bab 32 — Darah yang Menyatukan Musuh
33 Bab 33 — Pria yang Seharusnya Sudah Mati
34 Bab 34 - Dosa Masa Lalu Dante Vieri
35 Bab 35 — Pernikahan di Atas Pengkhianatan
36 Bab 36 — Surat Nikah yang Menghancurkan Cinta
37 Bab 37 — Pengkhianatan di Balik Kesetiaan
Episodes

Updated 37 Episodes

1
BAB 1 — PRIA BERMATA BIRU SAFIR
2
BAB 2 — KESEPAKATAN BERDARAH
3
BAB 3 — HARGA SEBUAH PERNIKAHAN
4
BAB 4 — PENGANTIN DI TENGAH MALAM
5
BAB 5 — ISTRI YANG TIDAK BOLEH DIKENAL
6
BAB 6 — Kamar di Ujung Lorong
7
BAB 7 — Aturan Sang Don
8
BAB 8 — Sentuhan yang Terlarang
9
BAB 9 — Makan Malam Penuh Dusta
10
BAB 10 — Ciuman di Balik Pintu
11
BAB 11 — Perempuan dari Masa Lalu Dante
12
BAB 12 — Kecemburuan Sang Mafia
13
Bab 13 — Rahasia di Ruang Kerja
14
Bab 14 — Malam yang Mengubah Segalanya
15
Bab 15 — Nama yang Tertulis dalam Darah
16
Bab 16 — Pelukan Setelah Badai
17
Bab 17 — Pengkhianat di Meja Makan
18
Bab 18 — Bianca Mulai Melawan
19
Bab 19 — Ancaman untuk Sang Istri
20
Bab 20 — Ketika Dante Kehilangan Kendali
21
Bab 21 — Surat dari Masa Lalu
22
Bab 22 — Adrian yang Menghilang
23
Bab 23 — Darah yang Sama, Dendam Berbeda
24
Bab 24 — Pengakuan di Bawah Hujan
25
Bab 25 — Malam Terakhir di Roma
26
Bab 26 - Peluru untuk Bianca
27
Bab 27 — Pria yang Berlutut
28
Bab 28 — Pernikahan yang Terbongkar
29
Bab 29 — Pengkhianatan Luciano
30
Bab 30 — Harga Sebuah Kepercayaan
31
Bab 31 — Istri Sang Musuh
32
Bab 32 — Darah yang Menyatukan Musuh
33
Bab 33 — Pria yang Seharusnya Sudah Mati
34
Bab 34 - Dosa Masa Lalu Dante Vieri
35
Bab 35 — Pernikahan di Atas Pengkhianatan
36
Bab 36 — Surat Nikah yang Menghancurkan Cinta
37
Bab 37 — Pengkhianatan di Balik Kesetiaan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!