Keira Azzalea datang ke Jakarta hanya demi satu hal: melunasi utang keluarga.
Menjadi pengasuh Mika di kediaman mewah keluarga Mahardika terasa bagai angin segar selain gajinya besar, tempatnya juga nyaman.
Masalahnya, rumah itu juga dihuni oleh Ian Xavier Mahardika.
Ian, putra sulung Nathaniel yang dingin dan skeptis, terang-terangan membenci Keira.
Bagi Ian, Keira hanyalah wanita parasit pemburu harta yang memanfaatkan kebaikan ayahnya. Hinaan pedas dan tatapan sinis jadi makanan Keira sehari-hari.
Namun, tinggal di bawah satu atap membuat benturan tak terelakkan.
Seiring berjalannya waktu, benci yang membakar perlahan berubah menjadi perhatian yang membingungkan.
Akankah permusuhan mereka luluh, atau justru tumbuh menjadi obsesi yang berbahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Senyum Ian
Keputusan Natasha untuk menginap di kediaman Mahardika malam itu benar-benar bisa disebut bencana nasional.
Tanpa merasa canggung, anak kolega bisnis Nathaniel itu langsung menata dua kopernya di kamar tamu lantai dua. Alasannya, AC apartemennya sedang rusak dan ia takut tidur sendirian.
Namun, semua orang di rumah itu yang masih punya akal sehat tahu alasan sebenarnya. Natasha hanya ingin terus menempel pada Ian.
Makan malam pukul tujuh lewat lima belas pun berlangsung dalam suasana yang cukup canggung.
Meja makan panjang sudah dipenuhi berbagai hidangan buatan Bik Yani. Nathaniel duduk di ujung meja, Ian di sisi kanan, sementara Natasha mengambil tempat tepat di sebelah pria itu.
Keira duduk di sisi kiri sambil memangku Mika yang sedang sibuk menyendok sup wortel. Ia lebih memilih mengurus anak itu daripada melirik dua orang di seberangnya.
"Ian, cobain daging ini, deh."
Natasha menyendokkan beberapa potong daging ke piring Ian dengan senyum manis.
"Kata Papi kamu, dari kemarin kamu sibuk banget di kantor. Kamu harus makan yang banyak biar gak lemas."
Ian menatap daging yang baru saja ditambahkan ke piringnya. Sendok dan garpu di tangannya bahkan berhenti bergerak.
"Aku punya tangan sendiri, Natasha," jawabnya datar. "Lagipula, aku gak suka daging yang terlalu banyak minyaknya."
"Duh, kamu mah begitu terus dari dulu! Suka jual mahal!"
Natasha tertawa kecil, lalu mengalihkan perhatian kepada Nathaniel.
"Om Nathaniel, Ian kok makin hari makin kaku, sih? Padahal waktu di Singapura dulu dia lumayan perhatian, lho, sama Natasha."
Nathaniel hanya menyeruput supnya sebelum terkekeh tipis.
"Ian memang begitu kalau sedang pusing urusan kantor, Natasha. Maklumin aja."
Dari seberang meja, Keira tanpa sengaja mendengus pelan.
"Hmp!"
Suaranya memang kecil, tetapi cukup jelas terdengar di tengah suasana makan malam yang tenang.
Ian langsung menoleh. Tatapannya bertemu dengan Keira yang buru-buru pura-pura sibuk menyuapi Mika.
Gawat! Si cewek ini pasti mikir gua ada apa-apa sama Natasha!
Ian menelan ludah.
Gua harus jelasin kalau gua gak pernah perhatian sama Natasha waktu di Singapura! Gua cuma gak sengaja numpang mobil dia gara-gara hujan badai!
Pikiran Ian mulai kacau. Ia teringat nasihat Edy dan Dimas semalam.
Cobain senyum! Minimal senyum tipis lima milimeter. Jangan ditekuk terus mukanya!
Ian menarik napas pelan.
Baiklah. Kali ini ia akan mencoba tersenyum kepada Keira. Senyum hangat untuk menenangkan perempuan itu sekaligus menunjukkan bahwa dirinya tidak seperti yang mungkin Keira pikirkan setelah melihat Natasha memeluknya di teras.
Dengan penuh konsentrasi, Ian mulai menggerakkan otot pipinya. Kedua sudut bibirnya ditarik ke atas, sementara matanya sedikit dipicingkan agar terlihat lebih ramah.
Sayangnya, hasilnya jauh dari harapan.
Bibir Ian melengkung kaku ke satu sisi. Matanya justru terlihat melotot, sementara alis tebalnya menukik tajam.
Bukannya terlihat ramah, wajahnya malah mirip psikopat dalam film horor yang sedang bersiap menerkam mangsanya di tengah hutan.
Keira yang hendak menyuapkan nasi ke mulut Mika langsung menghentikan tangannya.
Matanya membesar. Sendok di tangannya ikut bergetar.
"A-apaan tuh...?" bisiknya.
Ini cowok kenapa, dah?! Kesurupan hantu sumur tua apa gimana?! Kok mukanya jadi aneh begitu?!
Mika yang duduk di pangkuannya ikut memiringkan kepala, memperhatikan wajah Ian dengan bingung.
"Mbak Keira... Mas Ian kenapa mukanya meliuk-liuk gitu? Mas Ian sakit gigi, ya?"
Nathaniel yang duduk di ujung meja bahkan sampai berhenti mengunyah. Ia menatap putra sulungnya dengan dahi berkerut, kemudian menggeleng pelan.
Gila ini anak. Mau tebar pesona kok malah kayak meringis kena sengatan lebah.
Melihat reaksi semua orang, Ian akhirnya sadar betapa buruknya ekspresi yang sedang ia tunjukkan. Ia buru-buru mengembalikan wajahnya ke posisi semula.
Malunya bukan main. Kalau bisa, rasanya ia ingin menghilang ditelan bumi atau sekalian menceburkan diri ke dalam mangkuk sup.
Namun, kebiasaan lamanya kembali mengambil alih. Saat panik dan malu, mulut Ian selalu lebih cepat bekerja daripada otaknya.
"Kamu!"
Ian tiba-tiba menunjuk Keira menggunakan ujung garpunya. Suaranya cukup keras sampai Natasha ikut terkejut.
"Nyuapin anak kecil kok belepotan begitu?! Lihat tuh, kuah supnya netes ke piyama Mika! Niat kerja gak sih kamu?!"
Keira berkedip dua kali. Rasa takut akibat melihat ekspresi aneh Ian tadi langsung berubah menjadi kekesalan.
"Lho! Kuah supnya netes gara-gara Mika kaget lihat muka Mas Ian yang tiba-tiba aneh tadi!" balasnya tak mau kalah. Matanya ikut melotot. "Lagian saya nyuapinnya udah pelan-pelan, ya! Mas Ian aja yang dari tadi matanya kayak mau copot!"
"Mukaku gak aneh!" Ian membantah dengan suara tinggi. Wajahnya mulai memerah sampai ke telinga. "Aku cuma... cuma lagi senam wajah! Biar gak tegang!"
Keira menatapnya tidak percaya.
"Senam wajah apa yang bentuknya kayak mau menerkam orang?!" sahutnya sewot. "Serem tahu gak! Bikin Mika hampir keselek wortel!"
"Sudah, sudah!"
Nathaniel akhirnya turun tangan. Ia menepuk meja pelan sebelum menghela napas panjang.
"Ian, kalau kamu capek gara-gara urusan kantor, mending langsung naik ke kamar. Jangan bikin kerusuhan di meja makan." Nathaniel melirik putra sulungnya dengan tatapan prihatin. "Muka kamu tadi memang seram kok. Papi aja kaget."
"Papi!" protes Ian spontan.
Natasha yang sejak tadi kurang mendapat perhatian akhirnya ikut memegang lengan Ian.
"Iya, Ian... Kamu memang kelihatan aneh banget tadi. Kamu sakit, ya? Mau aku kompres di kamar?"
Ian langsung menoleh kepadanya dengan wajah semakin tegang.
Sementara itu, Keira kembali menyuapi Mika sambil menahan senyum.
Senam wajah katanya. Dasar beruang aneh!
semangat Kak 💪💪