NovelToon NovelToon
Puteri Rahasia Sang Ratu

Puteri Rahasia Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Suesant SW

Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.

Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.

Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6. Delapan Tahun Menunggu

Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika kabar tentang mayat di Paviliun Fengyi mulai merayap ke seluruh penjuru Istana Weishan.

Mula-mula, kabar itu hanya berupa bisikan di antara para penjaga gerbang. Kemudian, ia menjalar ke dapur kekaisaran, menyusup ke ruang cuci jubah, melintasi lorong-lorong panjang tempat para kasim membawa nampan perak, hingga akhirnya tiba di telinga para pejabat yang baru saja bangun dari tidur mereka.

Di balik dinding-dinding merah yang menjulang tinggi, nama Permaisuri Wang Laoyin mulai disebut dengan suara tertahan.

Ada yang terkejut.

Ada yang tidak percaya.

Ada pula yang menutup mulut sambil bertukar pandang, seolah-olah mereka baru saja menyaksikan runtuhnya sebuah gunung suci yang selama puluhan tahun dianggap tidak mungkin roboh.

Namun, di antara semua orang yang mendengar kabar itu, tidak ada yang menunjukkan keterkejutan lebih sempurna daripada Selir Lan Zifey.

Ketika berita kematian pengawal pribadi permaisuri sampai ke Paviliun Zhaoyang, perempuan itu sedang duduk di dekat jendela, menyisir rambut panjangnya dengan sisir giok. Cahaya pagi menyentuh wajahnya yang cantik, menerangi kulitnya yang putih bak porselen dan bibir merahnya yang menyerupai kelopak mawar yang baru merekah.

Di hadapannya, sebuah cermin perunggu berukir bunga peoni memantulkan sosok perempuan yang tampak begitu lembut, begitu anggun dan begitu jauh dari segala bentuk kejahatan.

Selir Lan Zifey mengenakan jubah sutra merah muda dengan sulaman burung bangau berwarna perak. Rambutnya disanggul tinggi, dihiasi tusuk konde emas berbentuk bunga teratai dan seutas untaian mutiara yang menjuntai di dekat telinga. Di pergelangan tangannya melingkar gelang giok hijau yang merupakan hadiah dari Raja Han Quan ketika putranya baru berusia seratus hari.

Di atas meja kecil, sebuah mangkuk porselen berisi bubur teratai masih mengepulkan uap tipis. Aroma kayu gaharu memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi bunga peoni yang diletakkan dalam vas porselen putih.

Segalanya tampak tenang. Terlalu tenang untuk sebuah pagi ketika kehormatan seorang permaisuri sedang dipertaruhkan.

Seorang kasim yang baru saja tiba, berlutut di luar tirai.

"Yang Mulia Selir, hamba membawa kabar dari Paviliun Fengyi." Suara Kasim itu memecah sunyi

Lan Zifey tidak segera menjawab.

Ia menggerakkan sisir giok dari pangkal rambut hingga ujungnya, perlahan dan teratur, seolah-olah tidak ada berita di dunia ini yang cukup penting untuk mengganggu rutinitasnya.

"Katakan." Sahutnya kemudian terdengar seperti tak tertarik.

Kasim itu menundukkan kepala lebih dalam.

"Pengawal pribadi Permaisuri Wang ditemukan tewas di kamar Yang Mulia Permaisuri. Raja telah memerintahkan penyelidikan. Seluruh Paviliun Fengyi sekarang dijaga ketat."

Sisir di tangan Lan Zifey berhenti.

Hanya sesaat. Kemudian, perempuan itu meletakkan sisirnya dengan hati-hati.

"Benarkah?" Terdengar seperti nada terkejut seakan tersedak.

"Bagaimana mungkin hal seperti itu terjadi di kediaman seorang permaisuri?" Ia menutup mulut dengan ujung lengan bajunya.

"Astaga... sungguh mengerikan." Keterkejutan yang sempurna. Kasim itu menunduk semakin dalam.

"Para pelayan sudah mulai membicarakannya, Yang Mulia." Tambah sang kasim lagi, sedikit bersemangat

Lan Zifey memandang bayangannya sendiri di cermin. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Sangat sedikit.

Senyum yang tidak lebih dari gerakan samar pada bibir seorang perempuan yang sedang mengagumi keindahan wajahnya sendiri. Lalu sesaat kemudian senyum itu menghilang.

Ketika ia menoleh kembali fokus kepada kasimnya, wajahnya telah berubah menjadi wajah seorang perempuan yang baru saja mendengar tragedi paling memilukan dalam hidupnya.

"Siapkan tandu." Nada perintah itu malah terdengar riang berbanding dengan pias wajahnya yang terlihat sedih Kasim itu mengangkat kepala.

"Yang Mulia hendak pergi ke mana?" Tanya sang Kasim ragu.

Lan Zifey berdiri, dua pelayan segera menghampirinya untuk merapikan jubah dan memasangkan jubah luar berwarna putih gading di atas bahunya.

"Aku harus menghadap Raja." Ia menghela napas panjang, seolah-olah beban seluruh kerajaan baru saja diletakkan di pundaknya.

"Bagaimanapun juga, Permaisuri Wang adalah pemimpin para perempuan di istana. Apa pun yang terjadi, aku tidak mungkin berpangku tangan ketika kehormatan keluarga kerajaan sedang terancam." Kalimat penuh keprihatinan itu terlontar dari bibir merah mudanya. Kasim itu menunduk dalam-dalam.

"Perintah Yang Mulia akan hamba laksanakan." Ia mundur dengan langkah teratur, lalu menghilang di balik tirai.

Begitu pintu tertutup, Lan Zifey tidak lagi bergerak.

"Delapan tahun," gumamnya sambil menyeringai, pias wajah yang penuh sandiwara duka tadi berubah seketika.

Ya, delapan tahun ia hidup di bawah bayang-bayang perempuan lain, delapan tahun ia harus menundukkan kepala ketika Wang Laoyin memasuki aula, sementara para pelayan berlutut dengan penuh hormat dan para pejabat memuji kebijaksanaan sang permaisuri. Delapan tahun itu dirinya menyaksikan Raja Han Quan memandang perempuan itu dengan kelembutan yang tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.

Dan selama delapan tahun pula, ia menunggu. Menunggu saat ketika mahkota phoenix tidak lagi bertengger di kepala Wang Laoyin.

Menunggu saat ketika seluruh penghormatan yang selama ini mengelilingi perempuan itu berubah menjadi penghinaan.

Kini, saat itu telah tiba.

Lan Zifey mengangkat tangan dan menyentuh tusuk konde emas di rambutnya.

"Permaisuri," bisiknya dengan suara yang hampir menyerupai belaian, "kau terlalu lama berdiri di tempat yang seharusnya menjadi milikku."

Lalu Ia berbalik.

Di sudut ruangan, seorang pelayan berpakaian hijau berdiri dengan kepala tertunduk. Gadis itu telah bekerja di Paviliun Zhaoyang selama tiga tahun dan dikenal sebagai pelayan yang patuh, tetapi wajahnya pagi itu tampak pucat. Lan Zifey memandangnya sedikit lama.

"Mei'er." Panggilnya kemudian

Pelayan itu menggenggam kedua tangannya erat-erat.

"Ya, Yang Mulia." Sahutnya dengan gugup

"Apakah kau masih ingat apa yang harus kau lakukan?" Suara Selir Lan Zifey begitu lembut tetapi sedikit menekan.

"Hamba... hamba ingat."

"Bagus."

Lan Zifey berjalan mendekat. Ujung jubahnya menyapu lantai dengan suara lembut.

"Ingatlah, kau tidak sedang melakukan sesuatu yang kejam. Kau hanya menyampaikan apa yang kau ketahui. Jika seseorang bertanya, kau akan mengatakan bahwa kau pernah melihat Shen Rui memasuki Paviliun Fengyi pada malam hari." Lan zifey berucap lagi kali ini menunjukkan itu sebuah perintah. Mei'er mengangkat wajah dengan ketakutan.

"Tetapi, Yang Mulia... hamba tidak pernah melihatnya sendiri." Mei'er gemetar.

Keheningan jatuh.

Wajah Lan Zifey tidak berubah, tetapi tatapannya perlahan menjadi dingin.

"Benarkah?" Mata Lan zifey menatap dengan penuh intimidasi, seakan menuntut Mei'er

Mei'er segera berlutut.

"Maafkan hamba! Hamba hanya takut. Hamba tidak tahu apakah semua ini akan berakhir dengan baik." Ucapnya dengan takut.

Lan Zifey membungkuk sedikit, lalu mengangkat dagu pelayan itu dengan ujung jarinya.

"Mei'er, lihat aku."

Pelayan itu terpaksa mengangkat wajah.

"Apa yang lebih menakutkan bagimu?" tanya Lan Zifey lembut. "Mengatakan sesuatu yang diperintahkan kepadamu, atau kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan keluargamu?"

Wajah Mei'er memucat, matanya berkaca- kaca, pelayan muda itu benar-benar gemetaran

Lan Zifey tersenyum dengan seringai penuh kemenangan.

(Bersambung yaaaa... Yuk jangan lupa dukung author suppotnya🥰)

1
Eka Burjo
oke lanjut 👍
Suesant SW: siap lanjutttt
total 1 replies
Eka Burjo
lanjut
Eka Burjo
akhirnya selesai juga maratonku🤭
Suesant SW: mkasih bnyak dah marathon😄😄😄
total 1 replies
Eka Burjo
oke lanjut 👍
Rara
apa aku kedua thor
Aisyah Suyuti
good
ˡᵃⁿᵃ✰͜͡𝐯𐝃
semangat terus dengan karya² barunya Thor 💪💪💪💪💪
Sri Rahmawati
ibu yg bijak 😍😍
Sri Rahmawati
pertama ☝️☝️☝️
Deandra
lanjut thorrr
Eka Burjo
huhuhu aku ikutan 😭
Sri Rahmawati
/Angry/
Rara
😔😔😔😔😔
🌼EmeLBy🌼
lanjut
🌼EmeLBy🌼: Masih OL thor hihihihii
sama
total 2 replies
Sri Rahmawati
peluk dariku Yang Mulia 🤗🤗🤗
Sri Rahmawati
ku menangis 😭😭😭
Sri Rahmawati
aku maraton bacanya baru tau hari ini dan udh hbs satu pak tisu 😭😭😭
Sri Rahmawati
hadir Thor 🥰🥰
Suesant SW: makasih Kak Sri🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Rara
sediiih
Rara
lanjut marathon
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!