Dirga mengira Vara adalah istri polos yang mudah dibohongi. Namun, Vara sudah mengetahui perselingkuhan dan rencana busuk suaminya.
Kini, hanya perlu berpura-pura menjadi wanita yang sama... sebelum semuanya kebalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf palsu
“Mama!”
Dirga langsung menerobos masuk ke kamar ibunya tanpa mengetuk pintu.
Diana yang sejak tadi menunggu putranya segera bangkit dari ranjang.
“Bagaimana, Dirga? Vara setuju Mama kembali mengurus restoran?”
Dirga tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke sofa lalu menjatuhkan tubuhnya di sana. Napasnya terdengar berat.
“Nggak, Mah. Vara nggak mau Mama kembali ke restoran.”
Diana langsung berdecak kesal.
“Ck! Mama sudah bilang, kan? Vara benar-benar berubah.” Diana berjalan mondar-mandir dengan gelisah. “Dirga, bagaimana ini? Kalau rencana kita nggak berhasil, bagaimana?”
Wajah Diana terlihat cemas. Ia sudah menyusun banyak rencana untuk mengambil alih aset Vara. Jika Vara kembali, semua rencana mereka bisa berantakan.
Dirga menghela napas kasar.
“Mama coba minta maaf kepada Vara. Mungkin dia bisa memaafkan Mama.”
Diana terdiam.
“Tapi...”
“Mah, jangan egois dulu.” Dirga menatap ibunya serius. “Semua ini terjadi karena Mama. Sekarang Mama cuma perlu minta maaf kepada Vara.”
Diana masih diam.
“Dan ingat,” lanjut Dirga, “Mama harus kembali menjadi wanita yang lembut seperti biasanya. Jangan sampai Mama memperlihatkan sifat asli Mama. Bersikaplah sealami mungkin supaya Vara nggak curiga.”
Diana menghela napas.
“Kalau Vara nggak mau memaafkan Mama bagaimana? Bagaimana kalau dia tetap kekeh dengan keputusannya?”
Dirga terdiam.
Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil memikirkan sesuatu.
“Tidak masalah.”
Diana menatapnya.
“Yang penting Vara memaafkan Mama. Kalau Mama nggak kembali ke restoran untuk sementara waktu, itu bukan masalah. Yang penting dia nggak curiga.”
“Kalau begitu, percuma dong Mama minta maaf kalau tetap nggak bisa kembali ke restoran,” gerutu Diana.
“Mah, untuk saat ini permintaan maaf itu yang paling penting. Kita harus membuat Vara percaya bahwa Mama benar-benar menyesal.”
Dirga berhenti sejenak.
“Soal kembali ke restoran...” Ia tersenyum tipis. “Aku punya rencana lain.”
Diana mengangkat alis.
“Rencana apa, Dirga?”
Dirga tidak langsung menjawab.
Ia memastikan pintu kamar sudah tertutup rapat, kemudian mendekat kepada Diana dan membisikkan sesuatu.
Diana mendengarkan dengan saksama.
Beberapa saat kemudian, ia mengangguk-angguk.
“Mama setuju dengan rencana kamu.”
Dirga tersenyum menyeringai.
“Besok Mama minta maaf kepada Vara. Ingat, Mama harus mendapatkan maafnya.”
Diana mengangguk mantap.
“Iya. Kamu tenang saja. Mama akan membuat Vara percaya bahwa Mama benar-benar menyesal.”
“Bagus.”
Dirga kembali bersandar di sofa.
“Jangan sampai dia melihat sedikit pun kecurigaan dari Mama.”
Diana tersenyum tipis.
“Tenang saja. Mama tahu apa yang harus Mama lakukan.”
••
Pagi-pagi, Diana sudah berada di dapur. Ia menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
Bibi Rati yang melihatnya langsung mengerutkan kening. Ia merasa heran karena Diana sibuk di dapur. Biasanya, Diana hanya menyuruhnya menyiapkan sarapan.
“Bibi,” panggil Diana.
Bibi Rati segera mendekat. “Iya, Nyonya?”
“Bawa semua sarapan ini ke meja makan.” Diana menunjuk makanan yang sudah ia siapkan sejak tadi.
Bibi Rati mengangguk tanpa berani bertanya. “Baik, Nyonya.”
Tak lama kemudian, Dirga dan Vara turun dari tangga menuju meja makan. Keduanya sudah berpakaian rapi.
“Vara, Dirga, ayo sarapan,” ajak Diana sambil membawa semangkuk sup.
Vara mengerutkan kening. Tumben sekali mertuanya itu turun ke dapur dan menyiapkan sarapan sendiri.
Apa lagi rencana dia? batin Vara.
Vara dan Dirga duduk di tempat masing-masing, lalu mulai sarapan dengan tenang.
Di sela-sela makan, Dirga memberi isyarat kepada mamanya. Diana mengangguk, lalu menatap Vara.
“Bagaimana supnya, Vara? Kamu suka?”
Vara mengangguk. “Iya, Mah.”
Diana terdiam sejenak. Setelah itu, ia menatap Vara dengan wajah penuh penyesalan.
“Vara, Mama minta maaf, ya. Gara-gara Mama, restoran kamu jadi seperti ini. Maafkan Mama yang nggak bisa mengurusnya dengan baik.” Diana menundukkan kepalanya. “Mama teledor. Mama terlalu mengikuti keinginan Mama sendiri tanpa memikirkan akibatnya sampai membuat restoran kamu jadi buruk seperti ini.”
Diana mengusap sudut matanya, seolah sedang menahan tangis.
Vara meletakkan sendoknya, lalu menatap sang mertua.
“Mama benar-benar menyesal sudah melakukan itu. Seharusnya Mama menjaga amanah yang kamu berikan kepada Mama dan menjaga warisan orang tuamu. Tapi Mama malah teledor...” Suara Diana terdengar bergetar.
Ia menarik napas panjang.
“Mama ikhlas nggak mengurus restoran itu lagi, asalkan kamu mau memaafkan Mama.”
Suara Diana terdengar serak.
Vara menahan senyum kecil. Maaf, Ma. Akting seperti ini nggak akan membuatku percaya lagi.
Namun, ia hanya menyimpannya dalam hati.
Vara tersenyum tipis.
“Sudahlah, Mah. Aku sudah memaafkan Mama.”
Diana mengangkat wajahnya. “Benarkah?”
“Iya.” Vara mengangguk. “Aku nggak mau masalah ini membuat hubungan kita jadi buruk.”
Diana langsung menghela napas lega.
“Terima kasih, Vara. Mama benar-benar lega mendengarnya.”
Vara kembali mengambil sendoknya, tetapi sebelum melanjutkan makan, ia menatap Diana.
“Tapi ada satu hal yang harus Mama pahami.”
“Apa itu?”
“Untuk restoran, aku tetap akan mengurusnya sendiri.”
Senyum di wajah Diana sedikit menegang, tetapi ia segera kembali memasang ekspresi pasrah.
“Iya, Nak. Mama mengerti.”
“Maaf, Ma. Aku nggak bisa memberi Mama kesempatan lagi untuk mengurus restoran itu.”
Diana menggeleng pelan.
“Nggak apa-apa. Mama menerima konsekuensinya.”
Vara menatap Diana beberapa saat.
“Terima kasih sudah mengerti.”
Diana tersenyum lembut.
“Yang penting kamu sudah memaafkan Mama. Mama nggak ingin masalah ini membuat kamu membenci Mama.”
Vara membalas senyum itu.
“Tentu saja nggak, Ma.”