Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27. Keributan di Pagi Hari
“Aku tahu, Opa.”
"Tapi namanya Althea Twina Darmawan, Opa. Persis dengan nama kembaranku yang tlah hilang."
Napas Arnold sedikit tertahan. "Namanya benar-benar Althea?"
Alvara mengangguk. "Kita tak boleh buang waktu lagi."
Mereka sudah kehilangan terlalu banyak waktu.
“Kita akan segera bertemu saudara kembarku, Opa.” Kali ini, suaranya terdengar lebih mantap. “Ayo, kita pulang.”
Arnold mengangguk pelan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada harapan yang kembali tumbuh di antara mereka. Harapan yang masih rapuh, tetapi cukup kuat untuk membuat keduanya berani melangkah lagi.
.
.
Pada suatu pagi, keributan pecah di halaman rumah kos Dea.
Suara seorang perempuan paruh baya terdengar lantang, memecah ketenangan pagi. Ia berdiri di depan bangunan kos dengan wajah masam, ditemani seorang pria yang usianya sebaya dengannya.
“Mana anak itu? Kenapa setelah menikah dia tidak pernah mengabari kami? Ternyata dia malah semakin membuat malu saja! Bukannya tinggal bersama suaminya malah memilih tinggal di kos-kosan ini? Buang-buang uang aja!”
Perempuan itu melirik ke arah pintu-pintu kamar kos seolah berharap Dea segera muncul begitu mendengar suaranya.
Namun, tak ada jawaban.
Di sampingnya, seorang remaja laki-laki berdiri dengan wajah tak kalah kesal. Dua gadis kecil yang tampaknya masih duduk di bangku sekolah dasar berada tak jauh dari mereka. Keduanya sesekali saling pandang, belum sepenuhnya memahami mengapa orang-orang dewasa di sekitar mereka begitu marah sejak pagi.
Keributan itu rupanya terdengar sampai ke bangunan sebelah.
Pemilik kos yang tinggal di sana bergegas keluar. Ia masih mengenakan daster rumah saat menghampiri rombongan tersebut.
“Ada apa ini? Kenapa Ibu sekeluarga sudah membuat keributan sepagi ini?” tanyanya, berusaha menahan rasa kesal karena merasa terganggu
Perempuan paruh baya itu segera menoleh.
“Kami mau mencari Dea!”
“Dea?” Ibu kos mengernyit. “Memangnya ada apa sampai harus berteriak-teriak begini?”
“Urusan keluarga. Ibu tidak perlu ikut campur.”
Jawaban itu membuat pemilik kos menghela napas. Ia sudah cukup lama mengenal Dea sebagai penghuni yang pendiam dan tidak pernah membuat masalah. Karena itu, kedatangan keluarga yang langsung membuat keributan seperti ini membuatnya curiga.
“Kalau memang urusan keluarga, kenapa harus berteriak sampai selueuh penghuni kos ini mendengar?” tanyanya. “Bicaralah baik-baik. Penghuni lain masih ingin beristirahat.”
Perempuan itu mendengus.
“Bagaimana kami tidak marah? Anak itu sudah menikah, tetapi tidak pernah mengabari kami. Sekarang, mengirim uang pun tidak lagi!”
Ibu kos terdiam sesaat.
“Menikah? Emang sejak kapan Dea menikah? Kenapa di antara kami tak ada yang tahu?”
“Emangnya, dia tak pernah membawa suaminya ke sini?” sahut perempuan itu tanpa ragu. “Sejak menikah, bukannya mengirimkan uang lebih banyak, dia malah tak pernah lagi mengirim uang kepada kami. Padahal, harusnya dia menunjukkan bakti kepada kami yang sudah membesarkannya!”
Nada suaranya meninggi pada kalimat terakhir, seolah-olah membesarkan Dea merupakan pengorbanan besar yang harus dibayar seumur hidup.
Ibu kos menatapnya dengan kening berkerut.
“Harusnya Ibu dan Bapak bangga melihat Dea yang sedang berjuang menyelesaikan pendidikan kedokterannya. Bukan malah datang ke sini untuk menuntut uang!”
“Lalu kenapa? Kami juga punya kebutuhan!”
Pria yang sejak tadi berdiri di samping perempuan itu akhirnya ikut bersuara.
“Sudahlah. Kita datang ke sini untuk mencari dia, bukan berdebat dengan pemilik kos.”
Ia menoleh ke arah deretan kamar.
“Dea! Keluar! Kami tahu kamu ada di sini!”
Suara panggilannya menggema di halaman.
Beberapa penghuni kos mulai membuka pintu kamar. Ada yang hanya mengintip, ada pula yang berdiri di ambang pintu dengan wajah ingin tahu. Tak seorang pun berani ikut campur.
Ibu kos kembali menghadang mereka sebelum rombongan itu melangkah lebih jauh.
“Jangan masuk sembarangan. Saya akan memanggil Dea kalau memang dia ada di dalam.”
“Kalau begitu, cepat panggil!” bentak perempuan paruh baya itu.
Ibu kos menatapnya dengan tajam. Ia tidak suka cara keluarga itu memperlakukan Dea, terlebih setelah mendengar bahwa kedatangan mereka berkaitan dengan uang.
Namun, ada rasa heran yang melekat dalam kepalanya. 'Kalau dia sudah menikah, kenapa dia tak pernah terlihat bersama suaminya?' ucapnya dalam hati.
“Baik. Tunggu di sini. Saya akan memeriksa apakah Dea ada di kamarnya.”
Perempuan itu melipat kedua tangan di depan dada, wajahnya masih menyiratkan kemarahan. “Cepat, lah. Kami tidak punya banyak waktu.”
Ibu kos berbalik menuju bangunan utama, sementara suara bisik-bisik mulai terdengar dari antara penghuni yang menyaksikan kejadian tersebut.
'Emang, Dea menikah dengan siapa? Sama cowo yang selalu mengantar dan menjemputnya itu kah?' Sang pemilik kos yang menelusuri pintu demi pintu masih merasa cukup heran.
Tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara Dea dan keluarganya.
Namun, satu hal terlihat jelas: kedatangan mereka pagi itu bukan untuk menanyakan kabar atau memastikan Dea baik-baik saja.
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan rumah kos sederhana tempat Althea Twina Darmawan tinggal.
Pintu mobil terbuka. Seorang perempuan turun dengan celana hitam berbahan mengilap dan atasan senada. Tubuhnya tegap, langkahnya mantap. Ia menutup pintu mobil, lalu membetulkan posisi kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya.
Keributan di halaman mendadak mereda.
Semua orang menoleh ke arahnya.
“Nah, itu Kak Dea!” seru salah satu gadis kecil dengan wajah sumringah.
“Kak Dea!”
*bersambung*
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella