"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."
"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"
Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.
Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.
Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.
Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.
"Via... kita mulai dari awal."
"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Malam yang Tak Terduga
Levia ikut terdiam. Sesaat kemudian, sepotong ingatan milik pemilik tubuh asli muncul begitu saja.
Suara mesin itu... ia mengenalnya. Mobil Vandra. Dulu, setiap mendengar suara itu dari kejauhan, Levia akan langsung berlari keluar rumah dengan wajah penuh semangat.
Tak peduli sedang makan, menonton televisi, bahkan tak jarang meninggalkan Ratih yang masih mengajaknya mengobrol hanya untuk menyambut kepulangan suaminya.
Namun kini...
Vivian hanya menarik napas pelan. "Berarti manusia kutub itu pulang."
Ratih menoleh ke arah Levia. Tanpa sadar ia menunggu reaksi menantunya.
Apakah Levia akan kembali berlari seperti dulu?
Atau...
Suara pintu depan terbuka. Disusul langkah kaki yang semakin mendekat ke arah kamar.
Tok. Tok.
"Bu... aku pulang."
Suara berat Kapten Arvandra Jayasena terdengar dari balik pintu.
Levia dan Ratih sama-sama menoleh.
"Masuk, Van," sahut Ratih.
Pintu terbuka.
Vandra melangkah masuk sambil melepas jam tangan di pergelangan kirinya. Namun, langkahnya langsung terhenti ketika melihat seseorang duduk di sisi ranjang.
"Levia?"
Tatapannya bergeser ke tangan Levia yang masih menggenggam tangan Ratih.
Ada sesaat ketika ruangan menjadi sunyi.
Levia menoleh. "Malam."
Sapaan itu terdengar sopan. Datar. Sama seperti saat mereka bertemu di rumah Bram Gultom. Tak ada senyum berbunga-bunga. Tak ada tatapan penuh harap.
Vandra mengangguk singkat. "Malam."
Pandangannya kemudian beralih ke meja kecil di samping ranjang. Ada gelas air hangat, semangkuk bubur yang tinggal setengah, obat-obatan yang sudah tersusun rapi, juga handuk kecil yang tampak baru saja dipakai mengompres.
"Sejak kapan kamu di sini?" tanyanya.
"Belum lama."
"Kamu..." Vandra melirik ke arah jendela. "Aku lihat mobilmu di halaman."
Levia mengangguk. "Iya."
Vandra terdiam beberapa detik. "Kamu..." ucapnya pelan. "...datang karena tahu besok aku berangkat."
Levia menggeleng tanpa ragu. "Bukan."
Jawaban singkat itu membuat alis Vandra sedikit berkerut.
"Aku datang karena khawatir sama Ibu." Levia menatap Ratih sekilas sebelum kembali memandang Vandra. "Beliau telepon tadi. Suaranya kedengeran lemes. Aku cuma pengen mastiin kondisi Ibu baik-baik aja."
Vandra tidak langsung menjawab.
"Kalau soal keberangkatanmu..." lanjut Levia tenang, "...aku udah ngucapin selamat waktu di rumah Ayah."
Levia lalu bangkit dari duduknya. "Aku juga gak bermaksud mengganggu." Pandangannya bertemu dengan mata Vandra. "Atau bikin kamu gak nyaman."
Kalimat itu sederhana. Namun entah kenapa, dada Vandra seperti dihantam sesuatu.
Bukankah...
Selama ini justru itu yang selalu ia tuduhkan kepada Levia? Bahwa kehadiran wanita itu selalu membuatnya tidak nyaman.
Sekarang... Levia sendiri yang menjaga jarak.
Ratih diam-diam memerhatikan keduanya. Semakin lama, ia semakin yakin. Levia yang berdiri di hadapannya sekarang benar-benar berbeda dengan menantu yang dikenalnya selama ini.
Levia yang dulu menjadikan Ariandra pusat dunianya.
Sekarang...
Vandra sudah berdiri di depan mata pun, perhatian Levia tetap lebih banyak tertuju kepadanya.
"Via," panggil Ratih lembut.
Levia menoleh.
"Terima kasih... sudah datang."
Levia tersenyum hangat. "Ibu gak perlu berterima kasih. Selama ini Ibu juga baik sama aku."
Ratih menggenggam tangan menantunya sekali lagi. "Jaga kesehatan, ya."
"Ibu juga." Levia meraih tas yang diletakkannya di atas ranjang. "Kalau begitu, aku pamit dulu."
Ratih tampak ingin mengatakan sesuatu. Bibirnya sempat terbuka, tetapi kembali tertutup.
Sebenarnya ia ingin meminta Levia menginap. Namun, ia melirik Vandra yang masih berdiri tidak jauh dari pintu.
Hubungan mereka sedang tidak baik. Apa permintaannya justru akan membuat suasana semakin canggung?
Ratih menghela napas pelan. Belum sempat ia memutuskan...
DUARR!
Suara petir menggelegar memecah keheningan. Disusul embusan angin yang menggoyangkan dedaunan di luar jendela.
Levia yang tinggal beberapa langkah menuju pintu refleks menoleh. Langit yang tadi mulai redup kini telah berubah kelabu. Awan hitam menggantung pekat, seolah hujan deras akan turun kapan saja.
Ratih ikut memandang ke luar. "Via..."
"Iya, Bu?"
"Kelihatannya hujannya bakal deras... gimana kalau malam ini kamu nginep di sini aja?"
Levia terdiam sejenak. "Di sini?"
Ratih mengangguk. "Ibu gak tenang kalau kamu pulang malam-malam dalam cuaca begini."
Levia melirik keluar jendela sekali lagi.
Angin bertiup semakin kencang. Ranting-ranting pohon mulai bergoyang keras..Langit di luar hampir seluruhnya tertutup awan hitam. Sepertinya hujan tinggal menunggu waktu.
Tanpa sadar, jemari Levia sedikit menegang. Bayangan malam itu kembali melintas di benaknya.
Hujan deras. Jalan yang licin. Sorot lampu truk yang tiba-tiba muncul dari arah berlawanan. Suara benturan keras.
Lalu...
Mobil yang tercebur ke sungai.
Vivian refleks mengembuskan napas pelan. "Nyaris saja..." batinnya. "Kalau malam itu aku gak kecelakaan... mungkin aku gak akan pernah ada di sini."
Ingatan itu membuatnya enggan mengambil risiko berkendara saat hujan deras.
Ia kembali menatap Ratih. Namun sebelum sempat membuka mulutnya,
Vandra yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. "Kalau memang cuacanya begini..." katanya datar, "...nginep aja."
Entah mengapa, kalimat itu terdengar aneh bahkan di telinganya sendiri. Dulu, ia selalu berharap Levia tidak berada di rumah.
Sekarang...
Justru dirinya sendiri yang mengucapkan agar wanita itu tetap tinggal.
Levia menatap langit beberapa detik lagi sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Kalau memang hujannya bakal deres... malam ini aku nginep di sini."
Senyum Ratih langsung mengembang. "Syukurlah."
Dadanya terasa jauh lebih lega. Setidaknya malam ini... Ia tidak perlu khawatir membiarkan Levia pulang sendirian.
Sementara itu, Vandra diam-diam memandang Levia. Entah kenapa, wanita itu kini menerima ajakan menginap bukan karena ingin dekat dengannya. Melainkan karena menghargai permintaan ibunya.
Dan sekali lagi, perasaan ganjil itu kembali muncul di dadanya.
Levia membuka pintu kamar yang dulu ditempatinya selama hampir setahun. Tatapannya berkeliling ruangan. Tak ada yang berubah. Kasur yang besar. Lemari pakaian. Meja rias.
Lalu...
Pintu lain yang berada di sisi kanan kamar. Pintu itu menghubungkan kamarnya dengan kamar Vandra. Sudut bibir Levia berkedut.
"Astaga...."
Potongan-potongan ingatan kembali bermunculan. Levia berkali-kali mengetuk pintu itu tengah malam. Bahkan pernah membawa bantal dan selimut sendiri sambil memaksa ingin tidur bersama.
Namun hasilnya selalu sama. Pintu terkunci. Kadang Vandra bahkan mendorongnya keluar tanpa banyak bicara.
Vivian spontan menutup wajahnya.
"Ya ampun.... Levia... harga dirimu ke mana waktu itu?" Ia menggeleng berkali-kali. "Sekarang yang ngerasa malu aku, bukan pemilik tubuh aslinya."
Baru saja ia meletakkan tas di atas tempat tidur, seekor kecoa terbang entah dari mana.
Bzzzz!
"Hah?" Levia membeku.
Detik berikutnya, serangga itu mendarat tepat di bahunya.
"AAAAAAAAA!!" Levia menjerit sejadi-jadinya. "Kecoaaaa!!"
Ia melompat-lompat sambil mengibas bahunya. Namun bukannya pergi, kecoa itu justru kembali terbang. Lalu...
Hinggap di kepalanya.
"AAAAAA! JANGAAAN!!"
Levia berputar-putar tanpa arah. Panik. Benar-benar panik.
Di luar kamar...
Vandra yang baru hendak menuju kamarnya langsung menghentikan langkah. "Itu suara Levia?"
Tanpa berpikir panjang ia membuka pintu. "Ada apa—"
Belum sempat kalimatnya selesai...
Bruk!
Levia yang sedang berlari tanpa melihat arah langsung menabraknya. Tubuh keduanya kehilangan keseimbangan. Dan...
"Whoa!"
Brak!
...✨"Melepaskan bukan berarti membenci. Terkadang itu hanya cara terbaik untuk mulai menghargai diri sendiri."...
..."Orang yang dulu terus mengejar, suatu hari bisa memilih berhenti. Dan justru saat itulah langkahnya terasa paling berarti."✨...
.
To be continued
ayo Bu Sari ceritakan kalo si Ninis masuk kamar Bu Sari tanpa izin.
baru kenal dengan Levia sudah menawarkan delapan Gerai,itupun penawaran Awal..
maju terus Via...kamu tambah Sukses dan di belakangmu si Ninis tambah iri.
syukurin tuh si Ninis misinya gagal terus😄