Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.
Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.
Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.
Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?
Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 12. Merasa Bersalah.
“Vellano...” gumamnya pelan.
Alessia akhirnya bergegas menyusul suaminya ke lantai atas, menuju kamar utama tempat mereka tidur. Langkahnya terburu-buru karena takut Vellano semakin marah atau salah memahami perkataannya.
Namun baru beberapa anak tangga dinaiki, kakinya tiba-tiba salah berpijak.
“Aah!”
Pergelangan kakinya terkilir. Tubuh Alessia kehilangan keseimbangan dan terjatuh beberapa anak tangga. Suara benturannya terdengar cukup keras di tengah mansion yang sunyi.
Alessia meringis sambil memegangi kakinya.
“Ah... sakit.”
Ia mencoba bergerak, memastikan tidak ada bagian tubuh lain yang terluka. Untungnya, tidak ada luka serius. Hanya pergelangan kaki yang mulai membengkak dan terasa nyeri.
Alessia menghela napas lega, tetapi kemudian teringat bahwa Vellano masih berada di atas.
Ia menggigit bibir, menahan rasa sakit.
“Aku harus bicara dengannya.”
Dengan susah payah, Alessia mencoba berdiri. Namun baru beberapa langkah, rasa sakit kembali menusuk hingga membuatnya hampir jatuh lagi.
Dan di lantai atas, tanpa disadarinya, Vellano ternyata mendengar suara benda jatuh dari tangga.
Suara benturan dari tangga membuat Vellano yang baru saja memasuki kamar langsung terdiam. Rasa kesal yang sebelumnya memenuhi pikirannya seketika lenyap.
“Alessia?”
Tidak mendapat jawaban, Vellano segera berlari keluar kamar. Begitu sampai di tangga, ia melihat istrinya terduduk sambil meringis menahan sakit.
Wajah Vellano langsung berubah panik.
“Kamu jatuh?”
Alessia mengangguk kecil. “Kakiku... sepertinya terkilir.”
Vellano segera berjongkok di hadapannya. Ketika melihat pergelangan kaki Alessia yang mulai membengkak dan membiru, dadanya terasa sesak.
“Kenapa kamu tidak hati-hati?” tanyanya, tetapi nada suaranya justru terdengar penuh kekhawatiran.
“Aku mau menyusul mu.”
Vellano terdiam.
Alessia menunduk. “Aku mau bicara. Soal tadi...”
Vellano tidak langsung menjawab. Ia merasa bersalah. Beberapa menit sebelumnya, mereka bertengkar dan ia meninggalkan Alessia dalam keadaan emosional. Sekarang wanita itu justru terjatuh ketika berusaha menyusulnya.
“Sudah,” katanya pelan. “Jangan bicara dulu.”
Dengan hati-hati, Vellano mengangkat tubuh Alessia.
“Pegang aku.”
Alessia menurut.
Untuk pertama kalinya malam itu, tidak ada lagi pertengkaran di antara mereka—hanya kekhawatiran Vellano yang semakin sulit ia sembunyikan.
Vellano membawa Alessia kembali ke kamar utama dengan langkah hati-hati. Ia mendudukkan istrinya di tepi ranjang, lalu segera mengambil ponselnya.
“Aku panggil dokter Gustavo.”
Alessia hendak membantah, tetapi melihat wajah Vellano yang begitu serius, ia mengurungkan niatnya.
Beberapa saat kemudian, Dokter Gustavo tiba di mansion. Setelah memeriksa pergelangan kaki Alessia, ia menghela napas lega.
“Tidak ada tanda patah tulang. Hanya terkilir cukup parah. Bengkaknya memang akan muncul dan mungkin terasa sakit selama beberapa hari.”
Vellano yang berdiri di samping ranjang langsung bertanya, “Apa yang harus dilakukan?”
“Untuk sementara, jangan terlalu banyak berjalan. Kompres dingin dan tinggikan kakinya.”
Dokter Gustavo kemudian memberikan obat pereda nyeri serta membalut pergelangan kaki Alessia dengan perban elastis.
Alessia memperhatikan suaminya yang sejak tadi tidak beranjak sedikit pun.
“Kamu tidak perlu terlihat seperti aku baru mengalami kecelakaan besar,” gumamnya mencoba bercanda.
Vellano menatapnya datar. “Setelah melihat kakimu membiru, menurutmu aku bisa santai?”
Alessia terdiam, lalu tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya malam itu, ketegangan di antara mereka perlahan mencair.
......................
Pagi akhirnya tiba. Cahaya matahari perlahan menyusup melalui celah tirai kamar utama. Vellano yang sejak tadi terjaga menoleh ke arah Alessia yang masih tertidur lelap.
Tatapannya kemudian turun pada kaki Alessia yang masih dibalut perban dan terlihat sedikit bengkak. Rasa bersalah kembali muncul di dadanya.
Ia seharusnya tidak meninggalkan Alessia dalam keadaan emosi semalam.
Vellano meraih ponselnya, berniat bersiap ke kantor. Namun setelah melihat jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh, ia mengurungkan niat tersebut. Para maid pasti sudah datang sejak pukul enam.
Ia keluar kamar dan memanggil salah seorang maid.
“Siapkan sarapan untuk Alessia.”
Maid itu mengangguk. “Untuk Nyonya? Apa yang biasanya beliau makan?”
Vellano terdiam.
Pertanyaan sederhana itu justru membuatnya bingung.
“Apa saja yang sehat.”
Maid tersebut menahan senyum. “Tuan ingin saya buatkan bubur?”
“Boleh.”
“Telur?”
“Boleh.”
“Buah?”
“Boleh.”
Maid itu akhirnya bertanya, “Jadi, Tuan mau apa sebenarnya?”
Vellano menatapnya datar.
“Buatkan saja sarapan.”
Maid tersebut buru-buru mengangguk sambil menahan tawa.
Tak lama kemudian, sarapan selesai disiapkan. Anehnya, Vellano mengambil nampan itu sendiri.
“Tuan, biar saya saja yang mengantar.”
“Tidak perlu.”
Maid itu hanya bisa mengangkat bahu.
Vellano kembali ke kamar membawa nampan sarapan. Ia meletakkannya di meja kecil, lalu duduk di sisi ranjang.
“Alessia.”
Tidak ada jawaban.
Ia menyentuh bahu istrinya perlahan.
“Bangun.”
Alessia mengerang kecil sebelum membuka mata. Begitu melihat Vellano duduk di sampingnya sambil membawa sarapan, matanya langsung membesar.
“Kamu?”
“Selamat pagi.”
Alessia berkedip beberapa kali. “Kenapa kamu belum ke kantor?”
Vellano menggeleng. “Hari ini aku tidak pergi.”
“Kenapa?”
“Aku mau merawat mu.”
Alessia terdiam.
Vellano menatap kaki istrinya yang masih bengkak. “Aku merasa bersalah karena semalam. Kalau aku tidak pergi begitu saja, mungkin kamu tidak akan terburu-buru mengejar ku dan akhirnya jatuh.”
Alessia menunduk sebentar.
“Jadi... kamu membatalkan kantor hanya karena aku?”
“Bukan hanya karena kamu,” jawab Vellano tenang. “Karena istriku terluka.”
Alessia langsung terdiam.
Kemudian Vellano mendorong nampan ke arahnya.
“Makan.”
Alessia melihat sarapan itu, lalu menatap Vellano curiga.
“Kamu yang masak?”
Vellano langsung mengernyit.
“Jangan menghina aku sepagi ini.”
Alessia akhirnya tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya setelah pertengkaran mereka, suasana kamar kembali terasa hangat.
Setelah sarapan selesai, Alessia mencoba turun dari ranjang. Namun baru saja kakinya menyentuh lantai, wajahnya langsung meringis.
“Pelan-pelan,” ujar Vellano.
“Aku bisa sendiri.”
Vellano menatapnya datar. “Tentu. Seperti tadi malam?”
Alessia langsung terdiam.
Dengan susah payah, ia akhirnya membiarkan Vellano membantunya berjalan menuju kamar mandi. Setiap langkah terasa nyeri karena pergelangan kakinya masih bengkak. Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Alessia kembali ke kamar dengan bantuan suaminya.
Begitu kembali ke ranjang, Vellano memastikan kakinya berada dalam posisi nyaman sebelum mengambil tabletnya.
Beberapa menit kemudian, suasana kamar kembali tenang. Vellano sibuk membaca laporan berisi angka-angka perusahaan, sementara Alessia bersandar di kepala ranjang sambil memainkan ponselnya.
Hingga tiba-tiba ponsel Alessia berdering.
Mama.
Alessia langsung mengangkatnya.
“Selamat pagi, Ma.”
Suara Nyonya Fabiola terdengar ceria dari seberang. Setelah berbasa-basi sebentar, pertanyaan yang selama beberapa waktu terakhir selalu dihindari Alessia kembali muncul.
“Bagaimana dengan rencana bulan madu kalian?”
Alessia membeku.
Ia melirik Vellano yang masih fokus pada tabletnya.
“Bulan madu?”
“Iya. Mama dan Papa ingin tahu kapan kalian pergi. Jangan bilang kalian belum merencanakannya.”
Alessia mulai panik.
Pernikahan mereka memang hanya sebuah kontrak. Mereka bahkan tidak pernah membicarakan bulan madu sedikit pun.
Namun karena gugup, mulut Alessia bergerak lebih cepat daripada pikirannya.
“Kami... akan pergi ke Maladewa, Ma.”
Jari Vellano yang sedang menggulir layar tablet langsung berhenti.
Kepalanya perlahan terangkat.
Matanya membesar.
“Hah?”
Alessia menoleh.
Vellano menatapnya seperti baru saja mendengar berita perusahaan bangkrut.
Di seberang telepon, Nyonya Fabiola justru terdengar sangat bahagia.
“Benarkah? Maladewa? Wah, Mama senang sekali! Kalian akhirnya punya waktu untuk menikmati waktu berdua.”
Alessia tersenyum kaku.
“Iya, Ma.”
“Baiklah, Mama tidak akan mengganggu. Nanti kabari Mama soal tanggal keberangkatannya.”
Klik.
Telepon berakhir.
Kamar mendadak hening.
Alessia perlahan menurunkan ponselnya.
Vellano masih menatapnya.
“Maladewa?”
Alessia menelan ludah.
“Aku... gugup.”
“Kau bilang kita mau bulan madu?”
“Aku tidak sengaja.”
“Tidak sengaja menyebut Maladewa?”
Alessia menunduk.
Vellano mengusap wajahnya frustrasi. “Alessia, kita bahkan tidak pernah membicarakan bulan madu.”
“Aku tahu.”
“Dan sekarang ibumu sudah mengira kita akan pergi?”
Alessia semakin merasa bersalah.
“Aku bisa menjelaskannya.”
Vellano menatapnya tajam. “Silakan. Aku juga ingin mendengar bagaimana caramu menjelaskan bahwa istriku sendiri baru saja memesan bulan madu tanpa memberitahu suaminya.”
Alessia spontan tertawa kecil melihat ekspresinya.
Namun tawa itu langsung berhenti ketika Vellano mengangkat alis.
“Ini lucu?”
“Sedikit.”
Vellano menghela napas panjang.
Mereka berdua sama-sama sadar bahwa masalah baru saja muncul.
Mereka tidak pernah merencanakan bulan madu.
Tidak pernah memilih tempat.
Tidak pernah menentukan tanggal.
Bahkan belum pernah membicarakannya.
Namun sekarang, Maladewa sudah terlanjur terdengar begitu nyata—setidaknya bagi Nyonya Fabiola.
Ketenangan kamar belum sempat kembali setelah percakapan mengenai “bulan madu” yang tidak sengaja diumumkan Alessia kepada ibunya. Vellano masih menatap istrinya dengan ekspresi tidak percaya ketika tiba-tiba ponselnya kembali berdering.
Siapa yang menelpon...
...****************...
Tebak siapa yang menelpon,Ansley?Maxime?
Ikuti terus kelanjutannya, terimakasih yang susah mampir.Jangan lupa tinggalkan jejak ya.
Semoga sehat selalu salam damai 🥰