Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: WARISAN
Setelah adik Intania yang bernama Amelia membuka matanya, ia melihat sekeliling dengan linglung.
"Apa yang sudah terjadi pada ku...?" tanya Amelia dengan suara yang masih lemah.
"Kakak sakit hingga tidak sadarkan diri hampir tiga bulan," ujar Intania seraya berjalan mendekati tempat tidur Amelia dengan mata berkaca-kaca.
"Haaaa...! Benarkah aku tidak sadarkan diri selama itu...?" ujar Amelia dengan kaget.
"Iya, Kak. Kami sudah berusaha untuk kesembuhan mu tapi tidak membuahkan hasil. Hingga suatu ketika saat kami mencari obat untuk mu di hutan Gunung Lawu, kami bertemu dengan Bima. Dia lah yang menyelamatkan nyawa kami dari Raja Kadal Api dan juga yang menyembuhkan mu," jelas Intan pada Amelia.
Amelia menatap Bima dengan penuh rasa haru.
"Benarkah...? Bima, kami berhutang nyawa kepada mu. Dengan apa kami harus membayarnya...?" tanya Amelia dengan sungguh-sungguh.
"Tidak perlu sungkan, nona. Bukankah sebagai sesama manusia sudah seharusnya kita saling membantu. Toh kita ini tidak bisa hidup sendiri, cepat atau lambat kita akan membutuhkan satu sama lain," ujar Bima seraya tersenyum hangat sambil mengedipkan matanya kepada para wanita itu, yang mana membuat para wanita itu kagum kepada ketulusan Bima.
Setelah hening sesaat, Amelia bertanya lagi, "Bima, dari mana asal mu dan setelah ini kemana tujuan mu...?"
"Aku berasal dari sebuah padepokan kecil di puncak Gunung Lawu, Karanganyar. Guru ku adalah Ratu Ayu Kirana. Aku turun gunung untuk mencari pengalaman dan menyelesaikan tugasku. Untuk sekarang, aku pun belum tahu selanjutnya akan kemana," kata Bima dengan santai namun tetap rendah hati.
Mendengar penjelasan Bima, Amelia berkata dengan tulus, "Jika begitu, kamu bisa tinggal di Perguruan Anggrek Putih ini selama apa pun yang kamu mau. Pintu perguruan kami terbuka lebar untuk mu. Anggap saja ini rumah mu sendiri, Bima."
Mendengar itu, Bima mengangguk seraya berterima kasih.
"Maaf sudah merepotkan kalian," kata Bima.
"Tidak perlu sungkan, anggap saja rumah sendiri," sela Amelia seraya tersenyum manis.
Setelah itu Amelia memanggil Intania.
"Intan, antar Bima ke kediaman tamu kehormatan. Berikan tempat yang terbaik untuknya," kata Amelia memberikan perintah pada adiknya.
"Baik, Kak," ujar Intan dengan patuh.
"Bima, mari ikut dengan ku," ajak Intan.
Bima mengangguk sambil berjalan mengikuti Intan. Mereka berjalan melewati taman perguruan yang penuh dengan bunga anggrek bulan yang terlihat begitu indah dan harum. Di tengah taman itu terdapat sebuah bangunan yang berbentuk joglo pagoda yang begitu indah.
Bangunan dengan gaya klasik Jawa, di dalamnya terdapat banyak benda-benda antik dari Jepara dan Solo. Suasana di dalam pagoda ini sangat nyaman, ditambah lagi posisinya yang di tengah taman serta ada air mancur kecil yang membuat suasana di sini makin terasa menenangkan dan sejuk.
"Bima, sekarang ini jadi tempat tinggal mu selama di sini. Apa kau suka...?" tanya Intania.
"Tentu saja suka, Intan. Tempat ini sangat indah dan tenang. Terima kasih ya, Intan, untuk semua kebaikan mu," kata Bima sambil kembali mengucapkan terima kasih dengan tulus.
"Tidak perlu sungkan, kami lah yang seharusnya berterima kasih kepada mu. Baiklah, sekarang aku akan pergi, kau beristirahatlah dulu," kata Intan dan berlalu pergi.
Saat Intania sedang berjalan keluar dari joglo pagoda, Bima memanggilnya dengan nada usil.
"Intan...?"
"Iya...?" jawab Intania seraya menghentikan langkah kakinya.
"Di mana aku bisa menemukan mu jika nanti aku merindukan mu...?" ujar Bima yang sengaja menggoda Intania dengan senyum nakalnya.
"Bimaaaaa, jangan menggoda ku terus," jawab Intania seraya berlari kecil keluar dengan wajah yang memerah seperti kepiting rebus, membuat para pelayan di taman tertawa kecil melihatnya.
Melihat tingkah Intania, Bima hanya tersenyum puas telah berhasil menggodanya. Setelah kepergian Intania, Bima pun naik ke lantai paling atas joglo itu. Saat berada di lantai paling atas, Bima merasakan aura langit dan bumi di Desa Ngargoyoso ini yang cukup besar dan murni.
Lalu ia pun duduk bersila untuk berkultivasi sejenak untuk menyegarkan tubuhnya setelah seharian bertarung dan mengobati.
Saat sedang berkultivasi, Ayu Lestari, Roh Pedang Pembalik Langit, memanggil Bima dari dalam lautan jiwanya.
"Tuan, aku merasakan ada energi binatang legendaris di dalam tubuh mu," kata Ayu Lestari dengan suara kaget.
"Haaaa...! Benarkah, Ayu...?" tanya Bima kaget. "Lalu apa yang harus ku lakukan...?"
"Tuan, sepertinya ada binatang legendaris yang telah memilih mu untuk mewarisi kekuatan mereka," jelas Ayu Lestari.
"Bukankah aku sudah cukup kuat setelah mewarisi kekuatan dari Eyang Jagat...?" jawab Bima.
"Tuan, saat ini kamu memang sudah sangat kuat, tapi warisan dari binatang legendaris sangat istimewa. Misalnya jika Tuan mendapat warisan Naga Ilahi, Tuan bisa bergerak dan bernafas di dalam air, di dalam lautan, bahkan di dalam lumpur Rawa Pening tanpa mengeluarkan energi tenaga dalam sedikit pun. Bukankah itu sangat membantu mu, Tuan...?" jelas Ayu Lestari pada Bima.
"Perlu Tuan ketahui, binatang legendaris selama ratusan ribu tahun ini tidak pernah mewariskan ilmu mereka kepada siapa pun, terutama kepada manusia. Sebab menurut mereka, manusia hanyalah makhluk serakah yang tidak akan pernah merasa puas bahkan jika mereka telah menelan dunia. Tuan, kamu sangat beruntung jika benar-benar mewarisi kekuatan itu, mungkin kamu lah manusia pertama di Nusantara yang dipercaya oleh binatang legendaris," jelas Ayu Lestari panjang lebar meyakinkan tuannya itu.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Ayu Lestari, Bima bertanya lagi, "Ayu, lalu apa yang harus ku lakukan sekarang...?"
"Berkonsentrasilah dan rasakan kehadiran aura itu di dalam tubuh Tuan. Ikuti asal aura itu hingga ke pemiliknya. Setelah itu Tuan akan tahu sendiri apa yang harus dilakukan selanjutnya," jelas Ayu Lestari.
Bima mengikuti instruksi yang dikatakan Ayu Lestari. Perlahan ia merasakan aliran energi yang berbeda dari miliknya. Energi yang sangat kuno, panas, dingin, dan agung.
Bima terus mengikuti dan merasakan energi itu. Setelah beberapa saat, ia merasa kesadarannya berada di sebuah lautan awan merah keemasan yang sangat luas.
"Di mana ini...?" gumam Bima.
"SELAMAT DATANG, ANAK MUDA...!!"
Terdengar suara menggelegar yang menggema di tempat itu. Bima pun segera melirik ke arah sumber suara itu.
Di hadapannya, ada tiga binatang raksasa yang sangat agung sedang melayang di angkasa.
Tanpa rasa takut, Bima pun datang menghampiri ketiga binatang itu.
Seraya bertanya dengan hormat, "Siapa kalian, dan apa yang kalian inginkan dari ku...?"
"Kami adalah binatang ajaib yang diberkahi. Kami terlahir dan tercipta dari energi murni langit dan bumi Nusantara. Aku adalah Phoenix Api Nirvana dari Gunung Bromo, aku adalah Naga Ilahi Dua Belas Cakar dari Laut Selatan, aku adalah Kura-Kura Putih Surgawi dari Danau Toba," kata makhluk itu memperkenalkan diri mereka masing-masing dengan suara yang menggema.
"Tujuan kami adalah untuk mewariskan kekuatan kami kepada mu, karena kamu adalah orang yang terpilih. Sebab di dalam hatimu penuh dengan cinta kasih, ketulusan, dan tidak terdapat ambisi serakah layaknya manusia pada umumnya. Kau hidup dengan mengikuti kata hati dan kesenangan mu saja, tidak memikirkan kekuasaan atau ingin menguasai dunia. Kau adalah manusia yang mencintai kebebasan. Tapi kau memang sedikit nakal dan usil, terutama pada wanita, tapi itu tidak masalah selama kamu menyayangi mereka dengan cinta dan bertanggung jawab," jelas makhluk itu panjang lebar, membuat Bima garuk-garuk kepala karena malu.
"Baiklah, aku mengerti. Sekarang apa yang harus ku lakukan...?" tanya Bima.
"Aura kami telah lama berada di dalam tubuh mu, sejak kau lahir. Kamu cukup mengumpulkan nya ke titik inti cakra mu lalu memurnikannya. Dengan begitu, semua kekuatan yang kami miliki sudah menjadi milik mu," jelas makhluk itu memberikan arahan.
Bima mulai mempraktekkan apa yang telah para binatang legendaris itu jelaskan. Ia mulai mengumpulkan semua aura aneh di tubuhnya dan segera memurnikannya.
Seiring waktu berjalan, tubuh Bima mengeluarkan aura yang begitu kuat dan mengerikan namun indah. Perlahan di kepalanya muncul sepasang tanduk naga berwarna emas yang sangat indah dan berkilau. Di belakangnya pun muncul sepasang sayap api keemasan yang berkobar-kobar dengan gagahnya. Sekujur tubuhnya muncul baju zirah sisik naga yang melindungi seluruh tubuhnya dengan sangat elegan.
Penampilan Bima sungguh gagah, tampan, dan terlihat sangat agung. Dia seperti dewa perang dari legenda Tanah Jawa yang siap menumpas segala macam keangkaramurkaan.
Setelah selesai, Bima membuka matanya. Ia terlihat bingung dengan penampilannya sekarang saat melihat bayangannya di awan.
"Kenapa wujud ku jadi seperti ini...?" tanya Bima.
"Bima, kamu tidak perlu takut. Ini adalah wujud tertinggi mu, wujud Dewa Naga Phoenix. Kamu bisa menggunakan nya saat menghadapi musuh yang sangat sulit. Dengan wujud ini, kekuatan mu menjadi tak terbatas, karena wujud ini bisa menarik energi langit dan bumi secara langsung tanpa batas," jelas para makhluk itu agar Bima tidak khawatir.
"Tapi bagaimana untuk kembali ke wujud normal ku...?" tanya Bima dengan tidak sabar.
"Cukup kendalikan kekuatan itu dengan pikiran mu. Bayangkan dirimu kembali menjadi manusia biasa, maka akan terjadi sesuai yang kamu inginkan," kata makhluk itu.
Bima pun langsung mengendalikan pikirannya. Secara perlahan, tanduk, sayap, dan zirahnya menghilang, wujudnya kembali seperti semula, menjadi pemuda tampan biasa.
"Bima, dengarkan ini baik-baik. Kami akan menjelaskan beberapa keistimewaan dari kekuatan ini. Pertama, kamu memiliki Api Nirvana dari Phoenix Nirvana. Dengan api ini, kamu bisa menghanguskan apa saja, bahkan racun yang paling kuat, tapi tidak ada api apa pun di dunia ini yang bisa menyakiti mu. Kamu juga bisa terbang dengan kecepatan kilat dengan sayap Phoenix tanpa menggunakan energi tenaga dalam sedikit pun."
"Bima, dengan kekuatan Naga Ilahi, kamu bisa bernafas dan bergerak sesuka hati baik di dalam air, di dalam tanah, di dalam lahar Gunung Merapi, ataupun di luar angkasa."
"Dengan kekuatan Kura-Kura Putih Surgawi dari ku, seluruh tubuh mu di selimuti zirah tak terlihat yang mana dengan itu tidak ada satu jenis senjata apa pun yang bisa melukai mu kecuali kamu menginginkan nya. Kamu juga akan berumur panjang bahkan bisa mencapai keabadian dan tetap awet muda," kata para binatang legendaris itu satu per satu menjelaskan kepada Bima.
Mendengar itu, Bima mengangguk seraya berterima kasih dengan sangat tulus.
"Terima kasih banyak, Eyang Naga, Eyang Phoenix, Eyang Kura. Saya janji akan menggunakan kekuatan ini hanya untuk kebaikan dan melindungi orang-orang yang saya sayangi, terutama ketujuh kakak seperguruan saya di kota-kota besar nanti."
Ketiga binatang legendaris itu tersenyum puas mendengar janji Bima, lalu perlahan-lahan menghilang menjadi tiga cahaya, merah, biru, dan putih, yang masuk ke dalam dada Bima.
Bima pun terbangun dari meditasinya di lantai atas Joglo Perguruan Anggrek Putih. Matanya terbuka, dan kini di dalam sorot matanya ada tiga cahaya kecil yang berputar-putar.
Ia kini bukan lagi hanya seorang pendekar Alam Nirvana, tapi juga pewaris tiga binatang legendaris Nusantara.
Dan petualangannya di dunia bawah Gunung Lawu baru saja dimulai.
BERSAMBUNG
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?