Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.
Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.
Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan di pagi hari
Sinar samar pagi yang mulai menerobos celah gorden membuat mata Celeste terbuka perlahan. Kepalanya terasa sangat berat, berputar hebat akibat efek alkohol semalam. Namun, sebelum nyawanya kumpul sepenuhnya, Celeste merasakan sebuah lengan yang berat dan kokoh sedang melilit erat pinggang telanjangnya dari belakang.
Celeste membeku. Jantungnya berdegup kencang secara mendadak.
Secara perlahan, ia menunduk menatap balik selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Saat ia menyibak sedikit selimut itu, matanya membelalak sempurna. Ia telanjang bulat! Di sampingnya, seorang pria bertelanjang dada sedang tertidur pulas dengan napas teratur.
Sensasi nyeri dan berdenyut yang teramat sangat di bagian kewanitaannya langsung menyengat kesadaran Celeste. Sakitnya luar biasa, membuat ia meringis pelan.
Gila! Aku... Aku sudah tidak perawan lagi?! memekik Celeste dalam hati. Airmata hampir saja menetes di sudut matanya. Seharusnya perawananku disimpan untuk suamiku nanti. Tapi... eh...
Celeste mendadak tertegun. Pria mana yang mau menikah dengan wanita penyakitan seperti dia? Wanita yang punya penyakit langka bagai bom waktu, yang bahkan tidak bisa tersentuh sinar matahari?
Celeste menghela napas panjang dan pahit. Memikirkan nasibnya saja sudah membuat dadanya sesak.
Penasaran, Celeste menggeser duduknya perlahan untuk melihat wajah pria di sebelahnya. Begitu wajah ketampanan yang tajam itu terlihat jelas, Celeste menepuk mulutnya sendiri, menahan jeritan yang hampir lolos dari tenggorokannya.
Lucian St. Claire?! jeritnya dalam hati. Demi apa aku tidur dengan pengusaha raksasa yang dingin ini?!
Belum habis rasa terkejutnya, mata Celeste tak sengaja melirik jam dinding di sudut kamar. Jarum jam menunjukkan pukul lima lewat empat puluh menit pagi. Sinar matahari sebentar lagi akan memancar penuh!
"Mati aku! Jika aku terlambat, aku bisa mati terpanggang di tempat ini!" gumam Celeste panik setengah mati.
Ia langsung melompat turun dari ranjang tanpa memedulikan rasa nyeri di antara paha bawahnya. Celeste memunguti gaun malam hitam dan pakaian dalamnya yang tersebar di lantai, lalu memakainya dengan terburu-buru. Tangan dan kakinya gemetaran.
Namun, langkahnya terhenti secara mendadak saat ia berbalik hendak mengambil tasnya. Mata hazel-nya menatap nanar ke arah kasur bergaya king size dengan sprei putih bersih itu.
Di atas kain putih tersebut, terdapat bercak darah merah segar yang mencolok.
Itu... darah keperawanan ku?! batin Celeste syok berat.
Celeste menatap kesal ke arah Lucian yang masih terlelap tanpa dosa. Pria itu benar-benar gila! Semalam Lucian bergerak seperti memakai tenaga kuda, menghajarnya tanpa ampun berjam-jam sampai Celeste tak berdaya.
Dengan perasaan campur aduk dan jengkel, Celeste mengambil sebuah bantal empuk di sampingnya, lalu menepukkannya agak keras ke wajah Lucian.
"Kau sangat beruntung... uh!" bisik Celeste penuh kekesalan.
Tanpa menunggu reaksi Lucian, Celeste langsung menyambar tas dan sepatu hak tingginya. Ia berlari kecil keluar dari kamar hotel itu, pincang menahan sakit di bagian bawah tubuhnya sebelum pria itu terbangun. Celeste bertekad melupakan kejadian gila ini. Bagi Celeste, ini cuma kecelakaan semata yang tak boleh terulang. Pasti mereka saling nggak tahu satu sama yang lain.
Di area parkir luar yang masih agak remang, Celeste bernapas lega saat melihat mobil convertible hitam milik Roxy masih terparkir di sudut yang sama. Ia berlari terseok-seok mendatangi mobil itu dan langsung menggedor kacanya dengan keras.
Klek!
Roxy yang ketiduran di dalam mobil langsung tersentak kaget dan membuka kunci pintu. Celeste dengan cepat meluncur masuk ke kursi penumpang dan menutup pintunya rapat-rapat.
"Celeste?! Ya ampun, kau dari mana aja?! Aku mencarimu semalaman!" semprot Roxy bertubi-tubi dengan mata merah kurang tidur. "Aku panik sekali?!"
"Nanti... nanti aku ceritakan semuanya," potong Celeste dengan napas terengah-engah dan wajah pucat. "Sekarang cepat jalankan mobilnya, Rox! Cepat pulang!"
"Tapi kau dari mana..."
"Rox, pliss! Cepat jalan sebelum matahari terbit dan sebelum keluarga harimau bangun!" potong Celeste lagi dengan nada memohon yang amat sangat.
Melihat ekspresi ketakutan Celeste yang luar biasa dan menyadari langit yang mulai terang, Roxy tidak banyak tanya lagi. Ia langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, membawa mobil itu membelah jalanan pagi yang dingin menuju kediaman Delacroix.
Sementara itu, di kamar hotel, Lucian perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa sangat pening dan berat akibat sisa-sisa pengaruh obat bius semalam.
Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang sambil memegang pelipisnya. Ingatannya perlahan memutar kembali kejadian panas yang terjadi beberapa jam lalu. Lucian ingat betul sentuhan wanita itu, kehangatannya, dan wajah cantik yang ia lihat di bawah remang lampu bar.
Dalam ingatan kaburnya, wajah wanita itu sangat mirip dengan foto gadis dari keluarga Delacroix yang rencananya akan dijodohkan dengannya, Caelia Delacroix. Karena Caelia adalah model terkenal yang sering muncul di media, Lucian langsung menyimpulkan bahwa wanita yang tidur dengannya semalam adalah Caelia.
Saat Lucian hendak beranjak berdiri, matanya tertuju pada noda darah segar yang tercetak jelas di atas sprei putih.
Lucian membeku. Tatapannya berubah horor dan rasa bersalah yang sangat besar langsung menghantam dadanya. Wanita itu... masih perawan, dan ia telah merenggutnya dalam keadaan tidak sadar.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Lucian meraih ponselnya di atas meja nakas. Karena tidak bisa berbicara akibat trauma masa lalunya, Lucian mengetik sebuah pesan singkat dengan cepat dan mengirimkannya kepada sang ayah.
[Daddy, aku terima perjodohan dengan putri keluarga Delacroix. Segera lamar gadis itu untukku.]
Selesai mengirim pesan itu, Lucian menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang, bernapas berat.
Sebenarnya, sejak awal Lucian menolak keras perjodohan ini. Ia takut pasangannya kelak tidak bisa menerimanya yang bisu dan hanya memanfaatkan kekayaannya. Lucian lebih memilih melajang seumur hidup daripada harus terjebak dalam hubungan yang toxic.
Namun sekarang, situasinya sudah berbeda. Lucian punya alasan kuat untuk menikahi gadis itu. Ia harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi semalam, terutama untuk menjaga kemungkinan jika wanita dari keluarga Delacroix itu mengandung benihnya.