NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jendral Sains Di Kultus Iblis

Reinkarnasi Jendral Sains Di Kultus Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:173
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad Mikyail Ilham

Sinopsis:
Ethan Vance—Panglima Tertinggi Pasukan Gabungan Bumi dan jenius biomekanika—tewas mengenaskan akibat sabotase reaktor fusi. Namun, bukannya masuk neraka, jiwanya justru terlempar ke dunia Murim dan lahir kembali sebagai Cheon Ryeon, bayi dari klan paling bawah di Kultus Iblis.
​Keluarga Cheon yang dulunya berjaya kini hanya dianggap sampah dan terus ditindas oleh klan-klan utama lainnya. Tidak punya pil energi mahal atau kitab pusaka? Tidak masalah. Bagi seorang mantan jenderal, Dantian manusia tidak ada bedanya dengan reaktor mikro, dan jurus pedang tak lebih dari kalkulasi arah dan sudut jatuh!
​Bersama sahabat-sahabat senasib yang tak kalah aneh—mulai dari anak buangan ahli racun yang matre, gadis perkasa bertulang tebal, sampai pembunuh jalanan yang sinis—Ryeon mulai membangun kekuatannya dari nol.
​"Dunia ini bertarung pakai takdir dan mistis? Lucu sekali. Mari kuajarkan cara bertarung menggunakan logika dan sains!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Mikyail Ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Panen di Puncak Bukit

Matahari mulai condong ke barat, memancarkan warna jingga keperakan di atas kanopi Hutan Bayangan. Di area puncak bukit—beberapa ratus meter sebelum gerbang utama Akademi Kultus Iblis—suasana terasa sangat berbeda dibanding bagian bawah hutan.

​Di sana berdiri sebuah lapangan batu yang luas, dikelilingi jurang terjal di kedua sisinya. Tempat itu adalah jalur tunggal menuju gerbang akhir.

​Di tengah lapangan batu tersebut, sekitar lima puluh murid dari klan-klan papan atas seperti Klan Ma, Klan Baek, dan Klan Lu sedang berkumpul. Di depan mereka, tumpukan Batu Identitas menggunung di atas meja kayu sementara puluhan peserta dari klan-klan kecil terbaring lemas dengan luka-luka memar di sekelilingnya.

​Di depan tumpukan batu itu, berdiri seorang pemuda berbaju merah menyala. Dia adalah Ma Cheon-Wo, sosok yang dijuluki sebagai jenius nomor satu generasi muda Klan Ma.

​"Baru dikumpul sembilan puluh batu?" Ma Cheon-Wo mendesis dingin sambil menatap anak buahnya dengan mata tajam. "Kalian ini becus kerja tidak?! Target kita lima ratus batu supaya klan-klan sampah itu tidak ada yang bisa lulus satu pun!"

​"M-maaf, Tuan Muda Ma!" salah satu pengikutnya membungkuk gemetaran. "Beberapa kelompok klan bawah sepertinya bersembunyi di dalam gua-gua bawah bukit. Mereka tidak berani naik ke puncak!"

​"Penakut tetaplah penakut," Ma Cheon-Wo menyeringai hina, mengibaskan lengan bajunya yang menggelembung berisi Ki padat. "Biar saja. Begitu waktu habis, mereka semua bakal langsung didiskualifikasi dan dijadikan pekerja tambang oleh Akademi."

​"Siapa bilang kami tidak berani naik?"

​Sebuah suara tenang bergema mendadak dari arah semak-semak pintu masuk lapangan.

​Seluruh pandangan puluhan murid elit itu seketika tertuju ke arah sumber suara.

​Dari balik kegelapan hutan, dua figur pemuda melangkah keluar dengan santai. Yang satu adalah anak gempal yang membawa tas kain berisi kantong-kantong racun, dan yang di depan adalah seorang pemuda beralis tajam dengan jubah hitam polos yang sudah agak berdebu: Cheon Ryeon.

​Melihat jubah hitam yang dikenakan Ryeon, Ma Cheon-Wo dan para pengikutnya sempat tertegun sejenak sebelum meledak dalam tawa ejekan yang keras.

​"Hahaha! Lihat siapa yang datang!" tawa salah satu anak buah Klan Ma pecah. "Bukankah itu si sampah dari Klan Cheon urutan ke-10?!"

​"Bagaimana bisa dua ekor tikus dari klan bangkrut ini bisa selamat sampai ke puncak bukit?" tambah yang lain heran sambil mencabut pedang besi mereka.

​Ma Cheon-Wo melangkah ke depan dengan tatapan penuh rasa jijik. Dia memandangi Ryeon dari atas ke bawah. Sebagai sosok yang diselimuti kemewahan dan dipuji-puji sejak kecil, keberadaan anak dari klan terendah yang berani menatap matanya secara langsung adalah sebuah penghinaan besar.

​"Kau... Cheon Ryeon, kan?" tanya Ma Cheon-Wo dingin, suara tekanan Ki-nya membuat debu di tanah sekitar kakinya terangkat pelan. "Aku dengar kau yang bikin sepupuku berlutut di pemukimanmu dua tahun lalu. Rupanya rumor soal anak aneh dari Klan Cheon itu beneran kau."

​Ryeon berhenti melangkah, berdiri lima meter di depan Ma Cheon-Wo dengan posisi tangan dimasukkan ke dalam saku jubahnya.

​"Pengamatanmu lumayan," sahut Ryeon datar tanpa ada riak emosi di wajahnya. "Dan melihat tumpukan batu di belakangmu... sepertinya kami tidak perlu capek-capek mengelilingi hutan lagi."

​Jin-Bao yang berdiri di samping Ryeon menyeringai tipis sambil menyilangkan kedua tangannya. Rasa tegangnya sudah hilang total sejak mereka melumpuhkan belasan kelompok musuh di sepanjang jalan naik tadi.

​"Maksudmu apa, Bocah?!" bentak salah satu pengawal Ma Cheon-Wo murka. "Kau mau merampok Tuan Muda Ma?! Cari mati kalian?!"

​"Bukan merampok," ralat Ryeon santai. "Cuma mengambil alih apa yang kalian kumpulkan dengan cara yang lebih efisien."

​"Sombong sekali!" Ma Cheon-Wo mendesis murka. Muka tampannya mendadak mengeras akibat amarah yang membakar. "Aku mau lihat sejauh mana mulut besarmu bisa bertahan setelah aku mematahkan kedua tangan dan kakimu!"

​BAM!

​Ma Cheon-Wo menghentakkan kakinya ke tanah. Menerjang maju bagaikan kilat merah, dia melepaskan jurus andalan Klan Ma: Telapak Api Iblis (Demonic Flame Palm).

​Aura Ki berwarna merah membara menyelimuti kedua telapak tangannya, menciptakan hawa panas yang sanggup melumerkan kulit manusia biasa dari jarak satu meter.

​Anak-anak klan lain yang menyaksikan serangan itu menahan napas. Puncak Ranah Kondensasi! Kecepatan dan daya ledak serangan Ma Cheon-Wo benar-benar berada di tingkat yang berbeda dari murid-murid biasa!

​"Mati kau, Sampah!" teriak Ma Cheon-Wo sambil mengarahkan hantaman telapak tangannya tepat ke dada Ryeon.

​Namun, di mata Cheon Ryeon yang telah melewati ratusan pertempuran masa depan di Bumi, gerakan Ma Cheon-Wo terasa sangat lambat dan penuh dengan celah fatal.

​Kecepatan bergerak: delapan meter per detik. Masa pemadatan Ki: nol koma empat detik. Kelemahan: bahu kiri terangkat terlalu tinggi akibat beban Ki yang tidak seimbang di dada, analisis otak Ryeon bekerja kilat bagaikan komputer kuantum.

​Di saat telapak tangan membara itu tinggal berjarak sepuluh sentimeter dari dadanya, Ryeon tidak bergeming sedikit pun untuk menangkis.

​Dia hanya menggeser titik tumpu badannya miring 15 derajat ke kanan—membiarkan hantaman panas Ma Cheon-Wo memotong udara kosong tepat di samping rusuknya.

​SWOOSH!

​Hawa panas yang lewat hanya sempat mengibarkan ujung jubah hitam Ryeon.

​"Apa?!" Ma Cheon-Wo terbelalak kaget saat serangannya mengenai angin.

​Sebelum Ma Cheon-Wo sempat menarik kembali tangannya atau mengubah arah dorongan momentumnya, Ryeon menggerakkan tangan kirinya kilat. Dua jarinya yang sudah dimampatkan dengan Sistem Kompresi Kinetik menotok tepat di ketiak kiri Ma Cheon-Wo—pusat simpul saraf pencetus aura api tersebut.

​TAK!

​"Ugh!"

​Seketika itu juga, pasokan Ki membara di tangan Ma Cheon-Wo padam mendadak seperti api disiram air es. Rasa sakit yang luar biasa menjalar menghancurkan kestabilan Dantiannya.

​"Satu," bisik Ryeon dingin di samping telinga Ma Cheon-Wo.

​Tanpa memberi jeda satu milidetik pun, Ryeon memutar tumit kakinya, memanfaatkan momentum dorongan Ma Cheon-Wo sendiri, lalu melayangkan siku kanannya menghantam tepat di ulu hati Ma Cheon-Wo.

​BOOM!

​Suara benturan keras bergema di tengah lapangan batu.

​"GUAAGH!"

​Ma Cheon-Wo menyemburkan air liur bercampur darah. Matanya melotot lebar hampir keluar dari rongganya saat tubuhnya terlempar ke udara sejauh lima meter sebelum menghantam tanah berlumpur dan terseret beberapa kali.

​Keheningan yang mencekam langsung melingkupi seluruh puncak bukit.

​Puluhan murid elit yang tadi bersorak-sorak mendadak membeku bagaikan patung. Mulut mereka menganga lebar, mata mereka menatap tubuh Ma Cheon-Wo yang tergeletak kejang-kejang di tanah dengan rasa tidak percaya yang amat sangat.

​Jenius nomor satu Klan Ma... dilumpuhkan hanya dalam dua gerakan sederhana oleh seorang anak dari klan urutan ke-10?!

​"T-Tuan Muda Ma?!" panggil pengikutnya dengan suara gemetaran hebat.

​Ma Cheon-Wo berusaha keras untuk bangkit, tapi seluruh otot di dadanya kejang parah. Dantiannya bergetar liar akibat gelombang kinetik yang ditanamkan Ryeon di ulu hatinya. Dia bahkan tidak sanggup mengeluarkan suara selain rintihan kesakitan yang menyedihkan.

​Ryeon berjalan pelan mendekati tumpukan Batu Identitas di atas meja, mengibaskan debu di jubah hitamnya seolah baru saja melakukan pekerjaan menyapu jalanan.

​Dia menatap puluhan murid elit klan-klan atas yang berdiri ketakutan di sekelilingnya.

​"Ada lagi yang mau mempertahankan batu-batu ini?" tanya Ryeon datar, matanya menyapu mereka satu per satu dengan tekanan aura dingin yang membuat bulu kuduk mereka berdiri.

​Tak ada satu pun yang berani menjawab. Mereka semua melangkah mundur secara refleks, menurunkan senjata mereka dengan tangan gemetaran. Anak di depan mereka ini bukan manusia... dia adalah monster berotak dingin yang tidak bisa diukur dengan tingkatan Ki biasa!

​"Bagus," kata Ryeon tenang. Dia melirik Jin-Bao. "Jin-Bao, kemasi semua batunya. Ambil secukupnya buat kita dan bagikan sisanya ke anak-anak dari klan bawah yang pingsan di sana."

​"S-siap, Bos!" seru Jin-Bao dengan cengiran lebar, langsung bertindak menguras tumpukan batu giok hitam tersebut.

​Dari atas menara pengawas gerbang benteng, dua figur pria dewasa sedang berdiri mengamati seluruh kejadian tersebut dari balik celah jendela kayu.

​Salah satunya adalah Instruktur Dokgo, pria bermata satu yang tadi membuka ujian. Di sebelahnya berdiri seorang pria tua berambut putih panjang yang mengenakan jubah keemasan—Tetua Utama Akademi.

​"Anak itu..." bisik Instruktur Dokgo dengan mata terbelalak kaget. "Dia sama sekali tidak menggunakan Ki yang besar saat memukul Ma Cheon-Wo. Dia memanfaatkan momentum dan titik lemah struktur otot musuh!"

​Tetua Utama membelai jenggot putihnya pelan, matanya yang tajam menatap sosok Cheon Ryeon di bawah sana dengan binar ketertarikan yang sangat dalam.

​"Sirkulasi meridian yang aneh, gaya bertarung yang presisi tanpa ada gerakan sia-sia..." gumam Tetua Utama pelan. "Siapa nama anak itu?"

​"Cheon Ryeon, Tetua," jawab Dokgo cepat sambil memeriksa lembaran kertas pendaftaran. "Dia berasal dari Keluarga Cheon... klan urutan ke-10 yang paling bawah."

​Tetua Utama tersenyum misterius, menganggukkan kepalanya pelan.

​"Keluarga Cheon yang hampir punah itu rupanya melahirkan seekor naga rahasia," bisik Tetua Utama. "Akademi tahun ini... bakal jadi sangat menarik."

​Beberapa menit kemudian, suara gong raksasa kembali bergema menandakan waktu ujian telah berakhir.

​Gerbang raksasa Akademi Kultus Iblis terbuka lebar. Cheon Ryeon melangkah masuk sebagai Peringkat Pertama ujian seleksi, diikuti oleh Tang Jin-Bao di sebelahnya.

​Matahari tenggelam di balik pilar-pilar batu Akademi, menyinari sosok Ryeon yang berjalan mantap menuju kehidupan barunya. Langkah pertamanya untuk merebut dan merombak seluruh tatanan dunia Murim... kini resmi dimulai di sini.

1
Scorpy
mencoba baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!