NovelToon NovelToon
[~ Seluruh Keluargaku Adalah Mafia ~]

[~ Seluruh Keluargaku Adalah Mafia ~]

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Misteri / Sistem
Popularitas:98
Nilai: 5
Nama Author: Bintang Pury A.

Di Tengah papan catur yang berkilauan, berdiri bidak ratu emas raksasa yang gagah dan berkuasa menjadi pusat perhatian, dikelilingi barisan bidak-bidak setia yang tak tergoyahkan. Langit di belakangnya bergolak dengan pijar galaksi, seolah menggambarkan dunia yang luas namun penuh rahasia dan kekuatan tersembunyi.

Simbol sempuna dari sebuah keluarga satu pemimpin utama yang memegang kendali, didukung seluruh anggota yang berdiri tegak bersama tak terpisahkan, tak terkalahkan. Di balik kemewahan dan keanggunan, tersimpan jarring kekuasaan yang mengatur segalanya. Setiap langkah adalah taktik, setiap senyuman menyimpan rahasia, dan setiap anggota adalah bagian dari permainan yang tak semua orang pahami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Pury A., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 Ujian di Balik Senyuman

Beberapa hari berlalu sejak kapal-kapal itu mundur. Mereka tak lagi mendekat, tak lagi mengirim sinyal mengancam namun tak juga pergi, hanya diam mengawasi dari kejauhan, bagai bayang yang tak hilang. Di permukaan, suasana di Secret Land tampak kembali tenang. Robot-robot bergerak seperti biasa, kebun-kebun hijau membentang segar, langit di atas pulau tetap biru cerah setiap pagi. Namun di antara keluarga Margaretha, ada kesadaran yang tak bisa diucapkan ketenangan ini hanyalah jeda.

Pagi itu, Grace duduk di ruang kerjanya, menatap laporan di layar. Semua sistem aman, semua jalur berjalan lancar. Namun ia merasa ada sesuatu yang tidak beres bukan pada mesin, bukan pada data, melainkan pada hal-hal kecil yang hampir tak terlihat.

Ia berdiri, berjalan menyusuri lorong menuju ruang perakitan. Di sana, Kael sedang memeriksa unit robot baru. Tiba-tiba, lampu biru di dahi Kael berkedip pelan, lalu berubah menjadi ungu sesaat sebelum kembali biru. Grace berhenti.

"Kael?" panggilnya pelan.

Robot itu menoleh, bergerak sedikit lebih lambat dari biasanya. "Ya, Nyonya Grace?"

"Tadi… ada yang kau rasakan?"

Kael diam sejenak, seolah memproses pertanyaan itu lebih lama dari biasanya. "Tidak ada, Nyonya. Semua sistem berjalan normal."

Grace mengerutkan kening. Ia tahu Kael ia yang merancang dan merakitnya sendiri. Ada perubahan halus, seolah ada yang menyentuh ingatannya.

Siang harinya, hal yang sama terulang George melaporkan bahwa beberapa rancangan yang ia simpan berubah sedikit tanpa izin. Henry menemukan ketidaktepatan kecil dalam catatan energi yang sebelumnya selalu sempurna. Sophie menerima pesan dari rekan kerja sama yang terdengar bingung, seolah ada yang menyampaikan hal berbeda dari yang ia ucapkan.

Di ruang tengah, mereka berkumpul dengan wajah-wajah serius.

"Mereka tidak menyerang dengan kekuatan," ucap Edward pelan, suaranya berat. "Mereka menyusup. Mengacaukan dari dalam. Mengubah sedikit demi sedikit, hingga kita tidak lagi percaya pada apa yang kita lihat atau dengar."

Grace mengepalkan tangan. "Jadi mereka ingin membuat kita saling curiga."

"Itulah cara mereka," suara Daddy terdengar dari pintu. Ia masuk perlahan, tatapannya jauh melayang ke arah laut. "Dulu, musuh keluarga kami juga melakukan hal serupa. Mereka tahu kita kuat jika bersatu jadi mereka berusaha memecah belah dari dalam."

Mommy duduk di samping mereka, meraih tangan Grace. "Kuncinya bukan mencari siapa yang salah, melainkan memastikan kita tetap saling percaya. Keraguan adalah pintu yang mereka cari."

Sore itu, suasana berubah. Setiap kata diucapkan lebih hati-hati, setiap pesan diperiksa dua kali, setiap perintah dikonfirmasi langsung bukan lewat perangkat, melainkan lewat tatap muka. Namun keraguan itu tetap merayap.

Suasana menegang saat sebuah laporan muncul ada perintah yang tercatat atas nama Grace, mengarahkan robot-robot penjaga menjauh dari sisi barat pulau, tempat yang paling rawan.

"Ini bukan perintahku!" seru Grace, matanya membelalak terkejut.

Edward menatap layar, wajahnya kaku. "Namanya tertera jelas. Dan tanda sandinya… persis milikmu."

"Aku tidak melakukannya!" Grace menatap mereka satu per satu, berharap ada yang berkata ia dipercaya begitu saja. Namun keheningan itu menyakitkan. Will tampak ragu, Henry mengerutkan kening, George menunduk.

Hingga Charlotte maju selangkah, menatap Edward lurus-lurus. "Grace tidak akan melakukan itu. Kita mengenalnya. Selama ini ia yang menjaga pulau ini lebih dari siapa pun."

Sophie mengangguk mantap. "Tanda sandi bisa ditiru. Suara bisa direkam dan diubah. Tapi hati seseorang tidak bisa dipalsukan."

Grace menahan napas, matanya berkaca-kaca. Ia hampir lupa mereka bukan sekadar rekan kerja. Mereka adalah keluarga.

Edward menghela napas panjang, menatapnya lekat-lekat. "Maafkan aku, Grace. Aku seharusnya tahu lebih baik. Kau benar. Ini ulah mereka."

Ia berbalik ke arah mereka semua. "Dengar! Itulah yang mereka inginkan kita saling curiga, kita terpecah, kita melemah. Jangan biarkan mereka menang tanpa bertarung!"

Mereka pun bergerak bersama bukan menuduh, melainkan mencari jejak. Grace memeriksa sistem dari akar, Henry melacak asal perintah itu, George memperbarui kode keamanan seketika, Will mengawasi pergerakan di luar, Edward mengerahkan pengawasan tambahan, Charlotte dan Sophie memastikan semua orang di pulau merasa aman. Kael juga membantu kali ini dengan perhatian penuh, lampu birunya menyala teguh.

Menjelang malam, mereka menemukan jejaknya bukan seseorang, melainkan sebuah program kecil yang menyusup diam-diam lewat sinyal jarak jauh. Program itu tidak bisa melukai secara fisik, tapi mampu meniru identitas, menyebarkan kebohongan, menanam benih keraguan.

Grace menatap layar tempat program itu kini terisolasi, tak berdaya.

"Mereka tidak berani datang secara langsung," ucapnya pelan, namun ada kekuatan dalam suaranya. "Karena mereka tahu keluarga Margaretha tidak mudah dihancurkan."

Malam itu, mereka berkumpul di halaman terbuka di puncak menara, seperti biasa. Angin laut berhembus sejuk, bintang-bintang bersinar terang di atas kepala.

"Kita hampir saja terjebak," ucap Will jujur. "Keraguan itu cepat sekali tumbuh."

"Tapi kita sadar tepat waktu," kata George tersenyum tipis.

Grace berdiri di tengah-tengah mereka, menatap wajah-wajah yang kini terasa lebih dekat dari sebelumnya.

"Selama ini aku berpikir, kekuatan Secret Land ada pada teknologi dan robotnya," ucapnya lembut namun tegas. "Ternyata bukan. Kekuatan sejatinya ada di sini di antara kita. Di kepercayaan yang kita berikan satu sama lain."

Edward meletakkan tangan di bahunya. "Dan tidak ada yang boleh meragukan itu lagi. Apa pun yang terjadi."

Mommy tersenyum lembut, merangkul mereka semua. "Kalian adalah kekayaan terbesar kami. Tidak ada harta, tidak ada pulau, yang lebih berharga daripada kalian."

Daddy menatap cakrawala tempat kapal-kapal bayang itu masih terlihat samar. "Mereka akan mencoba lagi. Mungkin dengan cara lain. Tapi sekarang kita tahu ujian terberat bukan dari luar, melainkan dari hati kita sendiri."

Mereka berdiri berdekatan, membiarkan angin malam menyapu lelah mereka. Tidak ada janji bahwa hari esok akan mudah. Tapi ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada jaminan aman ada keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, mereka akan menghadapinya bersama.

Grace tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi memikirkan cara melindungi rahasia atau mempertahankan kekuasaan. Ia hanya tahu satu hal ia tidak sendirian. Dan itu sudah cukup.

...~ Bersambung ~...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!