Rakanza Elson adalah mimpi buruk bagi musuh-musuhnya. Dingin, tak tersentuh, dan bos terkuat organisasi Teratai Hitam. Namun di balik kekuasaan dan ketampanannya, Rakanza menyimpan dua rahasia. Mysophobia parah dan ketakutan akan sentuhan yang membuatnya menganggap pernikahan sebagai sebuah kutukan.
Hingga suatu malam di Meksiko, sebuah misi membawanya pada Annabella. Gadis misterius yang terkurung di laboratorium eksperimen ilegal. Dipenuhi rasa jijik pada tempat yang kotor dan terkontaminasi, Rakanza seharusnya membiarkan gadis itu tewas. Namun, karena tuntutan orang tuanya untuk segera menikah, Rakanza terpaksa menikahi gadis itu. Namun tak sangka, setelah wajah istrinya disembuhkan, ternyata istrinya mirip dengan adik iparnya.
Di sisi lain, Rafandra, adik Rakanza merasa telah menemukan cinta sejati saat berhasil melamar Luviana Winston. Namun, dibalik senyum manis Luviana sang pianis terkenal, ada kebohongan besar yang siap menghancurkan segalanya. Luviana yang dicintainya ternyata menyimpan agenda balas dendam yang mematikan.
Siapa sebenarnya Annabella? Dan apa hubungannya dengan keluarga Winston?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangat Aneh
Di salah satu Taman Jakarta Pusat, suasana sore terasa begitu syahdu. Arsen duduk terdiam di atas bangku taman bersama Adara. Pria paruh baya itu menatap kosong ke arah anak-anak yang asyik berlari dan bermain, hatinya masih tak percaya dengan perubahan sikap putri kesayangannya.
Adara memegang erat jemari suaminya, menatap wajah Arsen dengan hati-hati. "Sayang... kenapa dari tadi mukanya murung begitu?"
Arsen menghela napas berat yang terdengar sangat sesak. Ia membalas genggaman tangan istrinya. "Dara... Aku merasa putri kita bukan Luvia yang dulu lagi. Ada yang sangat aneh darinya. Tatapan matanya itu terasa begitu asing. Aku merasa makin hari makin jauh darinya sejak dia kembali dari New York."
Adara tersenyum lembut, mencoba mengikis keraguan dan menghibur hati suaminya. "Kamu cuma terlalu cemas. Luvia itu sudah dewasa. Apalagi sebentar lagi dia mau menikah dengan Rafa. wajar kalau sikapnya agak berubah karena perhatiannya mulai terbagi. Nanti setelah menikah, dia pasti ikut Rafa."
Mendengar kata-kata itu, air mata Arsen mengalir di pipinya yang mulai dimakan usia. Pria itu menangis dalam diam. Sebuah pemandangan yang membuat dada Adara seketika terasa amat sesak.
Dengan lembut, Adara menarik tubuh suaminya ke dalam dekapan hangat, memeluk Arsen erat-erat. Ia berbisik di dekat telinga suaminya, "Ssstt... Jangan menangis. Kita tidak akan sendirian. Kita masih punya putri bungsu kita, kan? Meskipun sekarang dia masih menemani Kakek dan Neneknya di New York untuk sekolah di sana, nanti kalau sudah selesai dia pasti pulang untuk kita."
Meski dihibur seperti itu, Arsen tetap merasa hatinya begitu berat melepaskan Luviana. Air matanya terus berderai tanpa henti, meratapi jarak tak kasat mata yang kini membentang antara dirinya dan sang putri.
Sementara itu, di mansion Elson, Julian sudah merapikan tas medisnya dan bersiap pulang. Namun, putri kecilnya yang bernama Lily itu mendadak merajuk dan menolak diajak pulang.
"Lily ndak mau pulang, Ayah. Di lumah ndak ada yang bisa diajak main. Kalau di sini kan Lily bisa main sama Uncle Lafa sama Opa Layden," seru anak itu polos nan cadel.
"Di rumah masih ada kakakmu, Lily," ucap Julian.
"Ndak mau, Ayah. Kakak keljaannya malah-malah telus. Sampai sakit telinga Lily dengalnya," tolak Lily sambil menunjuk-nunjuk kedua telinganya.
Julian pun menatap sepupunya dengan tatapan memohon maaf. Rakanza membalas dengan raut wajah penolakan. Pria itu paling tidak suka jika ada anak kecil di dekatnya. Namun, saat mata bulat Lily mendongak dengan binar kepolosan, benteng es Rakanza mendadak goyah. Ia tidak tega.
"Terserah," ucap Rakanza pasrah, terpaksa mengizinkan.
Lily pun melompat riang di sebelah Raka. "Meski muka Uncle Laka kayak batu es, tapi Uncle belhati malaikat, Ayah!”
Tawa kecil Julian lolos dari bibinya mendengar pujian setengah hati itu. "Ya sudah, Raka, aku pamit dulu ya. Masih ada pasien yang harus aku tangani hari ini."
Julian melambaikan tangannya, dan Lily pun balas melambai heboh seraya memamerkan deretan gigi kecilnya yang putih bersih.
"Dadah! Ayah Yantooo!"
Gavin yang berdiri tak jauh dari sana terlonjak kaget. "Yanto? Kenapa Nona panggil Ayahnya seperti itu? Padahal namanya sudah keren lho…” tanyanya heran.
"Nama asli Ayah ya Julianto, Uncle Gabin," sahut Lily lugas.
"Hah, Gabin? Nona kecil, itu bukan nama saya! Masa Nona kecil sudah lupa?!" protes Gavin tak terima.
"Oh, Gasing!"
Plak!
Gavin menepuk jidatnya sendiri, wajahnya cemberut kesal. "Nona kecil ternyata pikun! Cantik-cantik tapi sudah pelupa!"
Melihat Gavin ngambek, Lily malah tertawa. Raka yang kepalanya mulai berdenyut, ia mengabaikan interaksi konyol itu. Ia melirik tajam Gavin.
"Gavin, urus anak ini sebentar. Aku mau ke dapur."
"Buat apa, Uncle? Bikin bubul buat Lily ya?" celetuk Lily memotong cepat.
"Bukan kamu. Tapi istriku," jawab Rakanza datar.
Lily membelalak polos. "Istli? Emang Uncle benelan punya istli? Dapat dali mana? Jangan-jangan ambil punya olang?"
"Heh! Nona!" Gavin yang panik melihat raut wajah Bosnya yang menggelap, ia buru-buru menyambar tubuh Lily dan membawanya pergi sebelum Bosnya murka.
Celotehan anak kecil adalah salah satu yang paling dihindari Rakanza karena selalu berhasil membuat kepalanya pusing tuju keliling.
Namun, hanya berselang beberapa menit setelah ditinggalkan, Gavin kembali panik. Anak kecil itu sudah hilang dari pengawasannya hanya dalam hitungan detik!
Di saat Gavin kelimpungan mencari di koridor, anak kecil itu rupanya sudah menyelonong masuk ke dalam kamar VIP. Lily berdiri tegak di samping tempat tidur tempat Ella terbaring. Dengan jari mungil menempel di dagu, Lily mengamati wajah misterius di balik cadar gadis itu dengan sangat penasaran. Gadis itu tampak anggun tapi lemah.
Mata kecilnya berbinar, tangannya terangkat ke udara hendak membuka kain cadar tersebut. Namun, tepat sebelum jarinya menyentuh, mata Ella perlahan terbuka. Kedua pasang mata indah mereka saling beradu.
Ella yang baru siuman dan masih dibayangi trauma refleks tersentak. Ia menggeser tubuhnya mundur ke sudut kasur.
Melihat reaksi tersebut, Lily ikut terkejut, namun anak kecil itu dengan cepat mengangkat kedua tangannya ke udara untuk menenangkan.
"Jangan takut, Aunty. Lily anak baik bukan penculik," oceh Lily menenangkan dengan nada menggemaskan.
Lily lalu mendekat sedikit, memasang wajah manisnya. "Aunty ini siapa? Teman Uncle? Kalo iya... mau ndak jadi Bunda Lily? Ayah Yanto duda ting-ting. Punya lumah sakit becaall. Belobat ndak pellu bayal lagi. Glatis!"
“Astaga naga, Nona! Bukannya tidur siang malah nawarin bapaknya ke Istri Bos saya! Sungguh terlalu!” seru Gavin tepuk jidat di ambang pintu kamar.
“Kesempatan ndak datang dua kali, Uncle!”
“Ya ampun, kecil-kecil sudah pintar kamu ya?”
“Lily memang pintal. Kalo ndak pintal, bukan Liliyana namanya… hehe….”
“Iya-Iya… pintar-pintar bikin saya darting.”
Sontak saja perdebatan itu terhenti karena Ella yang tidak ada di tempat tidurnya.
“Aduh! Uncle Gabin, Aunty hilang! Gawat! Uncle Laka pasti malah-malah ini! Uncle yang tanggung jawab!”
Heh...
Panik, bocah cilik itu dan Gavin bergegas mencari Ella. Yang dicari-cari justru saat ini menuju dapur di mana Bos Mafia sudah selesai memasak bubur.
Gadis itu berdiri dengan kedua tangan mengepal erat. Matanya lurus memandangi punggung suaminya itu, seolah ingin mengatakan sesuatu yang terasa berat untuk diungkapkan.
“Kamu? Kenapa tidak istirahat di kamar saja?” tanya Rakanza yang terkejut melihat Ella sudah ada di dapur. Di tangannya terdapat semangkuk bubur hangat yang harum.
Bukannya bicara, gadis itu malah menundukkan kepala dalam-dalam dengan bahu bergetar hebat menahan tangis membuat Rakanza makin bingung.
Apa karena aku buatkan bubur ini dia terharu begitu?
Pasti! Dia pasti sangat senang makan bubur premium buatan aku ini, saking senangnya sampai mau nangis!
__
Pede amat Bos...
Visual Lily..
Semoga suka dan mohon dukungannya, Like, Komen, Vote dan subscribe supaya Mom Ilaa terus semangat menulis! Terima kasih...
dasar anabella hantu gila astaga 😡😡😡
jangan lama ya thor 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻