NovelToon NovelToon
Ola, Tuan Mafia!

Ola, Tuan Mafia!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Romansa Fantasi
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Four

Pengantin Pengganti Untuk Mafia.

Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.

Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

OTM — BAB 05

PENGANTIN BARU?

Kamar itu sunyi, namun keheningannya terasa lebih mencekam daripada dentuman suara apa pun saat Killian berdiri tak jauh dari pintu, kedua tangannya di belakang punggung, tatapannya menancap tajam ke arah Laura seakan hendak membongkar setiap lapis keberadaan gadis itu.

Langkah kakinya tak terdengar — ia seakan bagian dari bayangan yang kini menyelimuti ruangan itu.

“Ada sesuatu yang menarik perhatian mu, Nona?”

Laura menelan ludah, mundur selangkah hingga punggungnya menyentuh dinding. Ia ingin berbicara, ingin menegaskan keberadaannya, namun lidahnya terasa berat.

Namun ia tak mau terlihat lemah hingga Laura mengangkat dagunya, menatap balik sekuat tenaga meski jantungnya berdegup kencang hingga sesak di dada.

"Sejak kapan kau berdiri di sana?" suaranya terdengar lebih tegas daripada yang ia kira mampu diucapkan.

Killian melangkah maju perlahan, mendekat tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. "Apakah itu penting bagimu?"

"I-iya," jawab Laura, berusaha menjaga nada bicaranya agar tak bergetar. "Kau masuk tanpa mengetuk. Kau menakutiku."

Pria itu berhenti tepat di hadapannya — begitu dekat hingga Laura dapat mencium kembali aroma wangi kayu cendana yang membalutnya, begitu kuat namun menenangkan sekaligus mengerikan. Ia dapat melihat jelas setiap garis tegas di wajahnya, sorot mata biru yang tajam dan dingin, tak menyisakan ruang untuk kelembutan apa pun.

"Ketakutan adalah hal yang wajar di sini," ucapnya rendah, suaranya berat dan menusuk. "Terutama bagimu. Kau adalah putri McManaman — putri dari keluarga yang selama puluhan tahun menjadi musuh Marcano."

Laura terdiam. Ia tak dapat menyangkalnya, tak dapat berkata apa pun.

"Kau pikir pernikahan ini benar-benar akan mendamaikan kita?" lanjutnya, mendekatkan wajahnya hingga napasnya menyentuh pipi Laura. "Kau pikir dengan berdiri di sini, dengan memakai cincin ini, dendam yang sudah mengakar bertahun-tahun akan hilang begitu saja? Tidak. Darah tidak begitu mudah dihapus, Laura."

Ia menyebut namanya — dengan nada yang penuh penekanan, seakan ia sudah tahu sesuatu yang tersembunyi.

"Hubungan antara dua keluarga ini tidak akan pernah damai," ucapnya lagi, matanya meneliti setiap perubahan ekspresi wajah gadis itu. "Dan kau... kau adalah bagian dari mereka. Sampai kapan pun, kau tetap darah musuhku. Jangan pernah bermimpi aku akan mempercayaimu."

Napas Laura tertahan. Ia ingin berteriak, ingin berlutut dan berkata ia bukan putri McManaman, bahwa ia hanyalah orang biasa yang dipaksa menggantikan posisi yang tak ia minta — namun kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Ia teringat wajah adiknya, teringat ancaman Kieran. Ia tak boleh bicara. Ia tak boleh membongkarnya.

"Aku tidak..." kalimatnya terhenti.

"Kau tidak apa?" Killian mendekatkan wajahnya lebih dekat, bibirnya hampir menyentuh telinga Laura. "Kau tidak seperti mereka? Kau tidak penuh tipu daya? Jangan coba membohongiku. Aku tahu bagaimana mereka dididik. Aku tahu kebusukan yang ada di dalam keluarga itu."

Ia menangkup dagu Laura dengan jari yang kuat, memaksanya menatap lurus ke mata yang tajam itu.

"Aku tahu apa yang dikirimkan ke sini. Kau adalah jaminan, sekaligus pengintai. Dan aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa melangkah keluar dari garis yang kutetapkan." bisiknya, suaranya berubah menjadi sesuatu yang lebih rendah, lebih menggetarkan — ancaman sekaligus godaan yang membuat Laura hampir tak mampu bernapas.

Laura merasakan panas merambat di wajahnya, bukan karena malu semata, melainkan karena perpaduan rasa takut dan sesuatu yang asing yang membuatnya gugup. Ia mencoba melepaskan diri dari cengkeraman itu, namun jari-jari pria itu tak bergeming.

"Aku tidak akan melakukan apa-apa..." ucapnya pelan, berusaha tegar. "Aku hanya ingin... aku hanya ingin ini selesai."

Killian menatapnya lekat-lekat, seakan mencoba mencari kepalsuan di balik tatapan itu. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa lagi, ia melepaskan dagu Laura perlahan, mundur selangkah.

"Tetaplah di tempatmu," ucapnya dingin. "Jangan mencoba mencari tahu hal-hal yang bukan urusanmu, dan jangan mencoba berbicara dengan siapa pun tanpa izinku. Terutama tentang apa yang kau lihat di halaman tadi."

Belum, dia tidak takut. Laura hanya harus mencari sesuatu untuk bisa melawan balik mereka yang membuatnya kesal dan marah.

Sementara pria itu melangkah ke ruang ganti.

.

.

.

Sementara di ruang tengah yang luas dan diterangi cahaya lampu yang hangat namun dingin suasananya, Alessandra dan Zoey duduk berhadapan di kursi berlapis beludru gelap. Di atas meja kecil di antara mereka tersaji teh yang mulai mendingin, namun tak ada yang menyentuhnya.

"Kau melihatnya?" tanya Zoey, suaranya rendah namun penuh keraguan. "Putri sulung McManaman itu."

Sandra tersenyum tipis, menyesap tehnya pelan, seakan hal itu tak terlalu penting baginya. "Ya. Aku melihatnya, aku punya mata."

"Kau tidak merasa aneh?" Zoey mencondongkan tubuh sedikit, matanya menyala penuh kecurigaan. "Selama ini nama saja tidak pernah terdengar. Foto tak pernah beredar. Bahkan orang-orang yang pernah bekerja di sana bertahun-tahun pun tidak tahu wajahnya. Lalu tiba-tiba... dia muncul begitu saja?"

"Mereka menyembunyikannya, itu saja," jawab Sandra santai, penuh kesombongan yang khas. "Kieran selalu posesif. Ia tak ingin putrinya dilihat siapa pun, tak ingin siapa pun menyentuh apa yang menjadi miliknya. Wajar jika dia tertutup begini."

"Tapi tatapannya..." Zoey mengerutkan kening. "Dia tidak terlihat seperti gadis yang dibesarkan dalam keluarga seperti itu. Dia terlihat... lugu.”

Sandra tertawa pelan, suara tawanya terdengar lembut namun meremehkan. “Jangan terlalu memikirkan hal itu, Zoey. Kau melupakan satu hal, bahwa jangan meremehkan seseorang.”

Ia meletakkan cangkirnya perlahan di atas piringan, menatap menantu perempuannya dengan tatapan yang menegaskan kedudukannya.

"Daripada sibuk memikirkan gadis yang tak penting itu, lebih baik kau fokus pada suamimu," ucapnya tenang namun tajam. "Muchus... dia tampak santai, namun kau tahu sifatnya. Dia bisa saja beralih kepada wanita lain kapan saja jika kau tak mampu mengikatnya. Jangan sampai kau sibuk mengurusi urusan orang lain sementara urusanmu sendiri tergelincir dari genggaman."

Wajah Zoey mengeras. Ia menatap ibu mertuanya itu dengan pandangan sinis, tak menyembunyikan ketidaksukaan yang mendalam.

"Terima kasih atas nasihatnya, Ibu," jawabnya dingin. "Namun aku tahu bagaimana menjaga suamiku. Dia sama bajingan nya denganku."

Sandra menyeringai kecil, tak peduli. Ia bersandar pada sandaran kursinya, menatap ke arah jendela yang menampilkan langit malam yang mulai turun.

"Semoga saja," gumamnya pelan. "Karena jika ada yang salah, yang akan jatuh pertama kali bukan hanya mereka yang datang dari luar..."

Kalimat itu menggantung di udara, samar namun mengancam. Zoey terdiam, menatap ke arah lantai, menahan amarah yang membara di dadanya. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres dengan gadis itu — sesuatu yang belum dapat ia buktikan, namun ia yakin benar. Dan ia tak akan berhenti mencari tahu kebenarannya.

1
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪🤗
Four.: wokayyyy/Determined//Determined/
total 1 replies
vnablu
Okeeee thorr akuu ngikut ajaaa🤭🤭🤭... Semangat terus buatt up nyaa yaa 😄
Four.: wokayyyy/Scream//Determined/
total 1 replies
Tiara Bella
jangan² yg marganya vettel mantannya Laura 🤭
Four.: yap benar sekali ferguso 😌
total 1 replies
Kinara Widya
siap kak...🥰🥰🥰
Four.: /Good//Good//Good/
total 1 replies
Mia Camelia
ehmm pasti ini ulah nya Muchus nyerang meraka😂
Four.: yakinnn
total 1 replies
Tiara Bella
cepat pergi dr sana Nico drpd nanti kena serangan....
Four.: ho, oh
total 1 replies
Eci Rahmayati
nahhh udah ada yg ngincer sebaiknyaa pindahh
Four.: cuman tukang tani kok
total 1 replies
Kinara Widya
Nico bawa pergi semuanya...tempat Lily sudah tidak aman.
Four.: harusnya yee
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪🤗
Four.: wokayyy
total 1 replies
vnablu
kapann nih romantis nyaa kalian 😌
Four.: bentar lagi 😌
total 1 replies
vnablu
SEMANGAT terus thorrr up nyaaa😄😄
Four.: wokayyyyy
total 1 replies
Mia Camelia
kiliian dingin banget sih ke laura😔, kapan bisa romantis nya nih😂
Four.: kapan kapan 😁
total 1 replies
Tiara Bella
Laura km bertanya tanya.....aku pun sama😄🤭
Four.: aku pun juga
total 1 replies
Eci Rahmayati
apa mereka pernah bertemu seblm nya dalam keadannnn mabuk atau apalah ya.. 🤔
Four.: mungkin aja sihhh
total 1 replies
Tiara Bella
what happen ya....
Four.: sesuatu yang..... 😮
total 1 replies
Kinara Widya
ada apa dg masalalu Laura atau mungkin masalalu mereka
Four.: gak ada kokkk/Slight/
total 1 replies
Eci Rahmayati
musuhnya kiliannn
Four.: yap, benar
total 1 replies
Tiara Bella
Fiona dibeli sm orng bermarga vattel ternyata....
Four.: ho,oh
total 1 replies
vnablu
🤭🤭🤭anehhh" ajaaa kamu Killian mana mungkin itu racun
Four.: eh mungkin aja lohh/Slight/
total 1 replies
Tiara Bella
Lily aja tw soal Santiago....
Four.: ho,oh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!