NovelToon NovelToon
Hacker Cantik Incaran Mafia

Hacker Cantik Incaran Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Ibu Pengganti
Popularitas:18.6k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍

Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.

​Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.

Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.

​Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Keesokan paginya, sinar matahari pagi menembus celah ventilasi berdebu, menyorot debu-debu yang menari di udara kamar petak berukuran tiga kali tiga meter itu.

Bau apek dari kasur kapuk dan dinding yang berjamur menjadi hal pertama yang menyengat penciuman Alana.

​Bahu gadis itu terasa kaku akibat tidur bersandar di dinding. Namun, sebuah rintihan serak dari atas kasur seketika membangunkannya sepenuhnya.

"Daddy, Mommy, Kai takut," rintih Kai dalam tidurnya yang gelisah dan menggigil.

​Alana segera bergegas berlutut di sisi kasur. Mencoba membangunkan Kai. "Astaga! suhunya panas bangat, Kai demam." seru Alana mulai panik. Wajah bocah lima tahun itu pucat pasi.

​Di sudut kasur yang sama, Kael duduk memeluk kedua lututnya. Tidak ada tangisan, namun tatapan kosong Kael yang terus menatap ke arah pintu kayu lapuk itu justru jauh lebih menyayat hati.

​"Bunda..." suara Kael terdengar parau dan sangat pelan. Jari telunjuk mungilnya menunjuk sang adik. "Kai sakit."

​Tenggorokan Alana serasa tercekik melihat sorot ketakutan di mata keponakannya. Ia menelan ludah dengan susah payah, memaksakan seulas senyum tegar, lalu mengusap rambut Kael yang sudah dipangkasnya semalam.

​"Iya, Sayang. Kai demam. Bunda akan keluar sebentar beli obat sekalian cari sarapan, ya? Kael, bisa bantu bunda jaga Kai sebentar?"

​Kael mengangguk kaku.

​"Dengar Bunda." Alana menangkup wajah Kael, menatap lurus ke mata kemerahan bocah itu.

"Kunci pintunya dari dalam. Jangan bersuara, Apa pun yang terjadi di luar sana, jangan buka pintu ini untuk siapa pun kecuali kalau itu Bunda. Mengerti?"

​Setelah mendengar bunyi klik dari slot pintu yang dikunci Kael dari dalam, Alana akhirnya bisa melangkah pergi.

​Ia menaikkan tudung hoodie abu-abunya hingga menutupi separuh wajah. Berbekal uang tunai yang tersisa di saku, Alana menunduk, menyusuri gang-gang sempit yang becek dan berbau anyir dari air selokan. Ia membaur di antara ibu-ibu berdaster dan kuli panggul yang mulai memulai hari di pasar tradisional pinggiran kota tersebut.

​Napas lega sempat berembus dari bibir Alana begitu ia berhasil membeli parasetamol sirup, plester penurun panas, dan tiga bungkus roti dari sebuah apotek kecil. ​Namun, baru dua langkah ia keluar dari apotek, kakinya mematung.

​Suara bising pasar, teriakan tukang sayur dan tawar-menawar ibu-ibu mendadak senyap. Tiga unit SUV hitam pekat merangsek masuk ke jalanan pasar yang sempit, menggilas aspal becek tanpa mempedulikan keranjang sayur atau lapak pedagang yang terpaksa digeser panik oleh pemiliknya.

​Pintu-pintu mobil itu terbuka serentak. Belasan pria bertubuh tegap dalam balutan jas hitam turun, langsung memblokir setiap ujung jalan pasar.

​Jantung Alana seolah berhenti berdetak. Cengkeramannya pada kantong plastik obat mengerat hingga urat tangannya menonjol.

​Faksi mafia, entah yang membantai kakaknya semalam atau kelompok lainnya, insting Alana meneriakkan peringatan maut. Mereka sedang menyisir kota.

​Pria bertubuh paling besar dengan bekas luka codet di rahang melangkah maju, mencengkeram kerah kaus seorang pedagang ayam, lalu menyodorkan sebuah foto.

​"Pernah lihat dua anak kembar ini? Usia lima tahun! Mungkin sedang bersama orang dewasa yang mencurigakan!" Suara berat pria itu menggelegar, membuat si pedagang gemetar ketakutan dan menggeleng cepat.

​Alana menunduk dalam-dalam. Kepanikan merayapi tengkuknya, tapi di saat yang sama, akal sehatnya bekerja kilat.

​Ini adalah momen di mana ia sangat bersyukur Raka telah bertindak kejam dengan membuangnya jauh-jauh ke luar negeri selama bertahun-tahun. Kakaknya itu tidak pernah membiarkan nama atau wajah Alana tercatat dalam dokumen manapun menyangkut dengan klan Adithama.

Di mata dunia bawah tanah, Raka hanya hidup untuk istri dan anak kembarnya. Tidak ada yang tahu bahwa Raka memiliki seorang adik perempuan. ​Itu adalah satu-satunya perisai Alana saat ini.

​Melihat dua pria berjas mulai berjalan ke arahnya, menyisir wajah setiap orang, Alana membuat keputusan impulsif. Ia membungkuk, meraup lumpur basah bercampur tanah kotor dari pinggir jalan becek, lalu dengan cepat mengusapkannya ke pipi, dahi, dan punggung tangannya sendiri.

​Dalam hitungan detik, wajah cantik gadis itu tertutup noda lumpur. Ia membungkukkan bahunya, menyeret langkahnya bak pekerja kasar yang kelelahan, lalu menabrakkan dirinya perlahan ke arah kerumunan warga.

​"Berhenti."

​Sebuah tangan besar mencengkeram bahu Alana dengan kasar, menghentikan langkahnya. Pria berjas hitam itu menyodorkan foto Kael dan Kai tepat di depan hidungnya.

​"Permisi. Kau pernah lihat anak kembar ini di sekitar sini?" tanyanya dingin. Tatapan pria itu tajam, menguliti setiap inci penampilan Alana.

​Keringat dingin membasahi punggung Alana, namun ia mengatur napasnya. Mengubah tatapan paniknya menjadi sorotan mata malas dan kesal.

​"Kagak ngeliat, Bang," jawab Alana dengan nada sengau, memelencengkan dialeknya menjadi kasar layaknya warga lokal pinggiran. Ia mendengus sambil mengusap hidungnya yang kotor oleh tanah.

"Anak hilang atau gimana? Tapi maaf ya, boro-boro ngurusin anak orang, saya aja belom sarapan dari pagi!"

​Pria berjas itu mengerutkan kening. Bau lumpur got dan penampilan lusuh Alana membuatnya membuang muka dengan ekspresi jijik. Ia melepaskan cengkeramannya dari bahu gadis itu.

​"Ah, buang-buang waktu!" Pria itu menoleh ke rekannya.

"Gak ada di sini! Lanjut sisir gang sebelah!"

​Alana mendecak sebal, menyempurnakan akting terakhirnya, lalu melangkah gontai melewati mereka.

Di luar ia tampak tenang, namun di dalam dadanya, jantungnya berdebar tak karuan.

​Begitu ia berbelok di ujung gang yang kumuh dan lepas dari jangkauan mata para pria itu, Alana langsung berlari sekencang mungkin.

Saat tiba di depan ​pintu kamar nomor dua belas, ia bersandar sebenarnya di dinding sambil menetralkan detak jantungnya.

Setelah merasa lebih terkontrol baru ia mengetuk pintu, dan tak lama terdengar suara putaran kunci.

Begitu pintu terbuka sedikit, Alana menerobos masuk lalu langsung menguncinya rapat-rapat.

​

Tangannya yang masih gemetar memeluk kantong plastik obat di dadanya.

​"Bunda...?" Kael yang berdiri tak jauh darinya memanggil dengan mata bulat yang sarat akan kewaspadaan.

​Alana menatap Kael, lalu menatap Kai yang napasnya masih berat karena demam di atas kasur. Kenyataan pahit menampar kewarasannya pagi ini.

​Menyamar dan bersembunyi di kota ini ibarat duduk di atas bom waktu. Orang-orang itu memiliki kuasa yang sangat besar. Mereka mampu mengunci satu pasar tradisional dan menyisir rumah penduduk di pagi buta. Hanya masalah waktu sebelum mereka mendobrak pintu kontrakan ini.

​Bersembunyi saja tidak akan cukup. Jika ia ingin membawa kedua keponakannya hidup-hidup keluar dari kota ini, ia harus menyerang balik sistem mereka.

​Alana mengusap wajahnya yang kotor oleh tanah, membiarkan raut kepanikannya lenyap, digantikan oleh sorot mata tajam yang dingin. Lalu mendekat ke arah Kai.

​Bersambung...

​

1
Lucyana H
aku doakan semoga author selalu sehat biar bisa update tiap hari,bsk episode yg paling menegangkan.....💪😘😍👍🏼
Lucyana H
wih..bakal .seru nih......🥰😍👍😘😁
PengGeng EN SifHa
Baru di awal sudah merinding disco bulu romaku thooorrr
PengGeng EN SifHa: kebawa arus cerita e thooorrr
total 2 replies
Munas Tuti
aduduuu El dah manggil sayang uuuy 😄😄
Munas Tuti
brangkaaat El...
Munas Tuti
weidiiih El segitu pd nya diaa 😄
Munas Tuti
akhirnya El akan sll mekindungi c kembar
Munas Tuti
horeee akhirnya bisa ketemu...
Munas Tuti
waaah rame nihh 💪💪💪
Munas Tuti
kasian banget c kembar yg dah kecapean
Munas Tuti
semoga ajha mereka beberan berjodoh 🤣🤣
Munas Tuti
keknya Elvano mulai tertarik ni sama Al...
Munas Tuti
wuiiiih makin seruu ni mbak...💪💪
Munas Tuti
ternyata Al jg wanita terlatih yaa..
Munas Tuti
uluuuh judesnya Alana 😄
Munas Tuti
Alana beneran jenius..👍👍
Munas Tuti
Alana berpacu dg waktu....smg kamu dan anak2 kuat yaa
Munas Tuti
akhirnya anak 2 balita bisa ketemu tantenya
riniasyifa
terima kasih kakiku atas supportnya sejauh ini😄😍 semoga kakaknya sehat, dan mudah rejekinya selalu amin.
Munas Tuti
bakalan seruuni keknya 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!