Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 Kabar dari Lantai Tiga
Senin pagi di kantor cabang Wiratama Group Bandung biasanya dimulai dengan suara mesin kopi dan keluhan tentang macet. Pagi itu berbeda. Lia baru saja meletakkan tasnya ketika ia mendengar bisik-bisik menjalar dari meja ke meja seperti api di rumput kering.
"Katanya hari Kamis."
"Serius? Sekarang yang datang langsung dia?"
"Bukan direktur regional, bukan tim audit. Dia sendiri."
Ophelia Puspa , yang biasa dipanggil Lia, menyalakan komputernya tanpa terburu-buru. Tiga puluh satu tahun, tujuh tahun di perusahaan yang sama, dan selama itu ia sudah belajar satu hal: kepanikan kantor selalu lebih besar daripada penyebabnya.
"Lia!" Dinda menyeret kursinya mendekat, wajahnya pucat. "Kamu sudah dengar? Pak CEO mau inspeksi. Navin Sundara. Kamis!"
"Sudah, barusan. Semua orang sudah menceritakannya padaku sebelum aku sempat duduk."
"Kok kamu santai banget?"
"Terus aku harus bagaimana? Menangis di pantry?"
Dinda meringis. "Kamu belum dengar ceritanya, ya? Cabang Surabaya, bulan lalu. Ada kepala divisi yang presentasi, baru lima menit, Pak Navin bilang, 'Berhenti. Saya tidak membayar Anda untuk membuang waktu saya.' Besoknya orangnya resign."
"Itu rumor."
"Cabang Medan juga."
"Itu juga rumor, Dinda."
"Umurnya baru dua puluh delapan, Lia. Dua puluh delapan! Dan dia bisa membuat orang berumur lima puluh menunduk seperti murid SD."
Lia menyandarkan punggung ke kursi. Ia pernah melihat foto Navin di majalah bisnis dan di sampul laporan tahunan: pria muda berjas gelap, rahang tegas, mata yang seperti tidak sedang menatap siapa pun. Tampan, harus diakui. Tapi tampan dan berhati dingin bukan kombinasi yang membuat Lia terkesan. Ia terlalu sering bertemu pria seperti itu di pertemuan keluarga, hanya saja versi yang lebih murah.
"Dengar," katanya sambil membuka berkas laporan bulanan. "Dia manusia. Dia makan, dia tidur, dia mungkin juga pernah salah ketik email. Kalau pekerjaan kita rapi, dia tidak punya alasan untuk marah."
"Kamu lupa dia bisa marah tanpa alasan."
"Kalau begitu yang salah dia, bukan kita."
Dinda menatapnya dengan campuran kagum dan putus asa. "Kamu itu... aku iri dan kesal sekaligus."
Lia tertawa kecil. Tapi diam-diam ia menghitung. Kalau Navin benar-benar datang untuk mencari kesalahan, ia butuh bahan yang tidak bisa dibantah, bukan sekadar keberanian. Dan bahan itu, ia yakin, tersembunyi di tumpukan kontrak yang selama ini tidak dibaca siapa pun.
Pukul sembilan, Bu Retno, kepala cabang, mengumpulkan semua orang di ruang rapat lantai tiga. Perempuan lima puluhan itu biasanya sangat tenang. Hari ini jemarinya tak berhenti memutar cincin.
"Bapak-Ibu sekalian," ia memulai, "seperti yang sudah beredar, Pak Navin akan datang Kamis pagi. Beliau akan meninjau operasional, keuangan, dan struktur tim. Saya minta semua laporan sudah rapi paling lambat Rabu sore."
Seseorang di belakang mengangkat tangan. "Bu, beliau datang karena ada masalah?"
Bu Retno terdiam sejenak, terlalu lama untuk disebut santai. "Angka cabang kita menurun dua kuartal berturut-turut. Itu sebabnya."
Ruangan bergemuruh pelan. Lia menghitung dalam kepala. Penurunan itu bukan salah divisinya. Penyebabnya adalah kontrak distribusi tahun lalu yang dibuat orang yang kini sudah pindah tugas. Tapi ia tahu, di telinga orang yang datang dari atas, penjelasan seperti itu terdengar seperti pembelaan diri.
Setelah rapat, ia kembali ke mejanya dan menemukan Pak Harto, manajer divisinya, berdiri di sana dengan wajah setengah memohon.
"Lia, tolong ya. Analisis kontrak itu kamu yang pegang. Kalau beliau bertanya, kamu yang jawab."
"Kenapa saya, Pak?"
"Karena kamu satu-satunya yang tidak gemetar kalau bicara."
Lia menahan senyum. "Baik, Pak."
Ia kembali duduk dan menyadari, dengan sedikit geli, bahwa reputasinya sebagai perempuan yang tidak gemetar telah menjadikannya perisai kantor. Bukan gelar yang buruk. Hanya saja tidak ada yang bertanya apakah perisai juga boleh lelah.
Siang harinya, sambil mengunyah nasi kotak di mejanya, Lia membongkar ulang kontrak distribusi itu klausul demi klausul. Di lampiran ketiga, ia menemukan sesuatu: ketentuan denda keterlambatan yang hanya berlaku sepihak dan merugikan cabang. Ia menandainya dengan stabilo kuning, lalu menggarisbawahinya dua kali. Kalau Pak Navin memang sekejam yang dibicarakan orang, setidaknya ia akan bertemu satu jawaban yang tidak bisa ia bantah.
Ponselnya bergetar di samping kotak nasi. Basti.
Basti: Kabarnya kantormu heboh. Nica cerita, CEO-nya mau turun gunung.
Lia: Cepat sekali beritanya. Kamu di Cirebon, kok tahu?
Basti: Grup alumni. Semua tahu semuanya.
Lia: Doakan aku selamat.
Basti: Kamu tidak butuh doa. Yang butuh doa itu CEO-nya. Siapa suruh cari gara-gara sama Ophelia.
Lia terkekeh sendirian, dan beberapa kepala di sekitarnya menoleh heran. Ia buru-buru membalas dengan stiker jempol, lalu kembali ke tabel-tabelnya. Tapi hangat itu tertinggal. Basti selalu begitu: satu kalimat pendek darinya cukup untuk mengingatkan Lia bahwa ia tidak sendirian di dunia yang rasanya makin ribut ini.
Sore itu ia lembur dua jam merapikan tabel dan grafik. Ketika kantor sudah setengah kosong, ponselnya bergetar. Nama Ibu muncul di layar.
"Lia, sudah makan?"
"Belum, Bu. Masih di kantor."
"Jangan lupa makan. Kamu itu kalau sudah kerja suka lupa perut." Ibu terdiam sebentar. "Tante Ratna kemarin cerita ke Ibu soal... yah, kamu tahu sendiri. Ibu cuma mau bilang, jangan dimasukkan hati."
Lia tersenyum, matanya melembut. "Sudah biasa, Bu. Tante Ratna kalah telak."
"Ibu dengar dari Nenek." Ada tawa kecil di suara Ibu. "Ayahmu sampai tersedak teh."
"Ayah tidak marah?"
"Ayahmu bilang, 'Itu anakku.'" Suara Ibu turun, lebih lembut. "Lia, Ibu dan Ayah tidak pernah menuntut apa-apa. Ibu cuma ingin kamu bahagia, dengan siapa pun, kapan pun."
Lia menatap layar komputer yang sudah gelap dan melihat bayangannya sendiri di sana: perempuan berkemeja rapi, rambut dikuncir seadanya, mata yang lelah tapi tegak.
"Aku bahagia kok, Bu."
"Kalau begitu Ibu tenang."
Telepon ditutup. Lia duduk diam beberapa saat. Bahagia, katanya tadi. Itu bukan kebohongan, tapi juga bukan seluruh kebenaran. Ada sudut kecil di dalam dirinya yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun, sudut yang bertanya-tanya apakah suatu hari akan ada seseorang yang membuatnya berhenti memakai baju zirah.
Ia menepis pikiran itu cepat-cepat, mematikan komputer, dan meraih tasnya.
Di lift, ia berdiri sendirian dan menatap angka lantai yang turun satu per satu. Kamis. Tiga hari lagi, seorang CEO berumur dua puluh delapan tahun akan berjalan masuk ke gedung ini dan mengubah suasana seisi kantor.
"Dia manusia," gumamnya pada bayangannya di pintu lift. "Cuma manusia."
Pintu lift terbuka. Lia melangkah keluar, tanpa menyadari betapa salahnya ia soal satu hal: bahwa pria itu akan menjadi manusia yang paling sulit ia lupakan.