Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Mobil berwarna hitam melaju membelah pekatnya malam menuju tempat yang tersembunyi dari jangkauan siapa pun.
Di kursi belakang, Laila terbaring pingsan tak berdaya dalam dekapan Musa yang memeluknya erat, sementara Yusuf fokus mengendalikan kemudi di depan.
Kondisi di dalam mobil terasa begitu hening dan sarat akan ketegangan.
Yusuf beberapa kali melirik dari kaca spion tengah, menatap tuannya yang terus menatap lurus wajah polos Laila yang terlelap di bawah pengaruh obat bius.
"Apa yang kita lakukan sekarang, Bos?" tanya Yusuf memecah keheningan dengan suara rendah dan ragu.
"Menyiksa Umi untuk menggali informasi?"
Musa seketika menggelengkan kepalanya tegas. Sepasang matanya menatap tajam ke arah spion tengah, memancarkan pendar dingin yang tak terbiaskan.
"Tidak," jawab Musa dengan suara berat, dalam, dan tak terbantahkan.
"Dia tetap istriku, jadi aku yang akan mengurus dan memastikannya sendiri."
Yusuf mengangguk patuh, tak berani membantah keputusannya.
Musa kembali memindahkan pandangannya pada wajah Laila, mengusap pelan pipi istrinya di balik kain cadar dengan jemarinya yang tegap—meninggalkan batas tipis antara cinta yang mendalam dan kewaspadaan seorang penguasa kegelapan.
Mobil terus melaju menembus kegelapan malam hingga akhirnya berhenti di halaman sebuah kediaman pribadi milik Musa—sebuah rumah mewah berkeamanan tingkat tinggi yang jauh dari area pesantren maupun rumah sakit.
Musa menggendong tubuh Laila yang masih terkulai lemas di lengannya, membawanya masuk ke dalam kamar utama yang luas dan remang.
Dengan perlahan, ia membaringkan istrinya di atas tempat tidur empuk, lalu melepaskan sepatu dan merapikan selimut hingga menutup dada Laila.
Yusuf berdiri tegak di ambang pintu dengan wajah tegang.
"Bos, penjagaan di luar sudah diperketat. Tidak akan ada yang bisa keluar atau masuk tanpa izin."
Musa tidak berpaling dari Laila. Tangan tegapnya mengusap lembut helai rambut istrinya yang terurai setelah cadar dan penutup kepalanya dilepas pelan.
"Bagus. Kamu bisa keluar, Yusuf."
"Baik, Bos." Yusuf mengangguk hormat, menyilangkan tangan di dada sejenak sebelum mundur dan menutup pintu kayu jati yang tebal itu tanpa suara.
Kini, hanya ada mereka berdua di dalam kamar.
Musa menarik kursi kayu berukir dan duduk tepat di samping tempat tidur.
Ia menyandarkan siku di lutut, menautkan jemarinya, dan menatap raut wajah Laila yang begitu tenang dalam lelapnya.
Pandangan mata tajam pria itu memancarkan pergolakan batin yang dahsyat—antara rasa cinta yang mengakar kuat dan kewaspadaan seorang penguasa dunia bawah tanah yang tak pernah membiarkan adanya pengkhianatan.
"Siapa kamu sebenarnya, Laila?" bisik Musa rendah, suaranya hampir menyerupai helaan napas yang sarat akan rasa penasaran dan kepedihan.
"Apakah semua kelembutan dan senyumanmu selama ini hanya bagian dari peranmu?" gumam Musa sambil menunggu istrinya yang sadar dari bius.
Beberapa jam berlalu. Garis-garis halus di kelopak mata Laila bergerak pelan.
Pengaruh obat bius mulai mengikis, mengembalikan kesadarannya secara perlahan.
Laila meringis kecil, merasakan sensasi pening yang menusuk di kepala.
Jemari lenturnya bergerak meregang, sebelum akhirnya matanya perlahan terbuka.
Pandangannya yang semula kabur kini berangsur jelas, menangkap langit-langit kamar bernuansa gelap dan mewah yang sama sekali asing baginya.
Seketika instingnya menyala. Laila mencoba bangkit dengan cepat, namun rasa lemas masih menggelayuti tubuhnya.
Saat itulah pandangan matanya tertuju pada sosok pria yang duduk tak jauh dari tepi ranjang, menatapnya lurus tanpa kedipan dalam remang cahaya lampu kamar.
"Musa,"
"Sudah bangun, Sayang?" suara Musa mengalun dingin, begitu datar namun bergema kuat di dalam ruangan yang sunyi itu.
Laila refleks menarik selimut mendekat ke dadanya, menatap suaminya dengan iris mata yang menyiratkan kecemasan luar biasa.
"Musa, ini, kita di mana?" tanya Laila yang melihat kamar bukan di Markas kemarin.
Musa menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, mengulas senyum tipis yang tak sampai ke matanya.
"Di rumah kita yang sebenarnya, Laila. Tempat di mana kita bisa berbicara jujur, tanpa ada rahasia atau identitas palsu di antara kita."
Laila menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani menatap pendar mata Musa yang sarat akan dominasi dan rasa penasaran yang mematikan.
Jemari lenturnya meremas kuat kain selimut, menahan gejolak ketakutan dan rasa bersalah yang membakar dadanya.
Musa memajukan posisinya, condong ke arah Laila hingga jarak mereka kian terkikis.
Suaranya mengalun rendah, berat, namun menyiratkan ketegasan tak terbantahkan.
"Siapa kamu sebenarnya dan siapa yang mengirimmu? Apa kejadian satu tahun lalu sudah kamu rencanakan?" cecar Musa dingin.
Laila makin terdiam, bibirnya bergetar hebat di balik keheningan kamar.
"Jawab, Istriku," bisik Musa, kini melebutkan intonasinya meski tatapannya tetap mengunci Laila.
"Aku tidak akan marah kalau kamu jujur."
Mendengar kata 'Istriku' dan janji lembut dari suaminya, perlahan Laila memberanikan diri mengangkat wajahnya.
Matanya yang berkaca-kaca menatap lurus ke dalam iris mata hitam milik Musa, menyalurkan kejujuran yang selama ini terpendam rapat.
"Malam itu, mereka menyuruhku untuk membunuhmu, Musa," aku Laila dengan suara bergetar dan napas tersengal.
"M-mereka mengancam akan memperkosaku kalau aku tidak melakukannya."
Gurat wajah Musa seketika mengetat. Otot rahangnya mengeras mendengar ancaman keji yang hampir menimpa istrinya.
Sorot matanya membakar penuh amarah pada sosok-sosok di balik bayang-bayang itu.
"Apakah kamu mengenal mereka?" tanya Musa cepat.
Laila menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, aku sama sekali tidak kenal."
"Lalu bagaimana kamu bisa terjebak dengan mereka?"
"Saat itu aku pulang kerja dan tiba-tiba ada yang membiusku sampai aku hilang kesadaran. Begitu bangun, aku sudah berada di sebuah gudang kumuh," kenang Laila dengan sorot mata trauma.
"Di sana ada seorang lelaki dengan tato kalajengking di lehernya."
"Lalu?" kejar Musa, mengingat betul lambang tato kalajengking yang tak asing dalam peta persaingan dunia bawah tanahnya.
"Lelaki itu bersiap memegang senjata dan mengarahkan tembakan padamu. Insting dokterku. aku tidak bisa melihat nyawa dicabut di depan mataku. Aku harus menolongmu," tutur Laila lirih.
"Aku memukulnya dari belakang saat dia lengah, lalu merebut perhatiannya dan mengajakmu lari sampai kita sembunyi di rumah kosong itu."
Musa menyipitkan matanya, meresapi setiap kata yang keluar dari bibir Laila.
Potongan teka-teki itu mulai menyatu dengan ingatan masa lalu yang sempat mengganjal di benaknya.
"Lalu, kemampuan beladiri kamu?" tanya Musa lagi, teringat refleks cepat Laila di Dalem dan saat penyergapan tadi.
Laila menunduk lagi, membasahi bibirnya yang kering.
"Aku sudah bisa dari dulu, Musa. Sebelum masuk kedokteran, aku pernah belajar beladiri intensif untuk melindungi diriku sendiri."
Setetes air mata akhirnya lolos membasahi pipi Laila.
Ia menatap suaminya penuh penyesalan dan kepasrahan.
"Maaf, Musa. Aku sudah mengecewakan kamu. Maafkan aku." tangis Laila pecah, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya.
Musa menghela napas panjang, membuang seluruh ketegangan yang sempat menguasai dadanya.
Rasa amarah dan kecurigaan yang semula membakar seketika lebur, berganti dengan rasa iba serta dorongan protektif yang teramat kuat.
Tanpa ragu, Musa mengulurkan kedua tangan tegapnya, merengkuh dan menarik tubuh Laila ke dalam pelukan hangatnya.
Laila menangis sesenggukan di dalam dekapan Musa, meluapkan seluruh rasa takut, trauma, dan beban rahasia yang selama ini menghimpit dadanya.
Jemari Musa bergerak lembut mengusap punggung dan rambut istrinya, membiarkan Laila menumpahkan air matanya hingga tenang.
Musa menunduk, menatap Laila yang bersandar di dadanya, lalu berbisik rendah tepat di samping telinganya.
"Apakah kamu mencintaiku?" tanya Musa tulus.
Laila menganggukkan kepalanya pelan tanpa ragu. Ditatapnya iris mata Musa yang kini memancar hangat.
"Aku mencintaimu, sejak aku menolongmu satu tahun lalu," aku Laila dengan suara parau.
Musa memicingkan mata pelan, teringat momen awal pertemuan mereka kembali di pesantren.
"Tapi, kenapa kamu berpura-pura tidak mengenalku saat aku akan menikahi Musdalifah?"
Laila menunduk, bibirnya bergetar menahan perih. "A-aku merasa tidak pantas untukmu, Musa. Kamu seorang ustaz terpandang, sedangkan aku,"
Kalimat Laila terhenti. Dengan jemari yang sedikit gemetar namun mantap, Laila perlahan melepaskan pakaian bagian atasnya, menyingkap kain yang selama ini menutupi tubuhnya.
Musa mendadak membeku. Sepasang matanya membelalak menatap gurat-gurat luka parut, bekas cambukan, serta luka bakar lama yang membekas di kulit mulus istrinya—jejak kejam dari siksaan dan penganiayaan yang diterima Laila setahun lalu demi melindunginya dari kelompok bertato kalajengking itu.
Suasana kamar seketika hening mencekam. Musa menyentuh gurat luka itu dengan jemarinya yang tegap, menyalurkan rasa perih yang teramat sangat di dalam dadanya sendiri.
"Jadi, ini alasan kamu kenapa kamu selalu menghindar dan belum siap untuk malam pertama kita?" bisik Musa dengan suara bergetar dan penuh penyesalan.
Laila menganggukkan kepalanya pelan, menyembunyikan rasa malunya di balik rintihan air mata.
Musa langsung merengkuh kembali tubuh Laila, memeluknya teramat erat seolah tak ingin membiarkan satu pun bahaya menyentuhnya lagi.
Ia mengecup puncak kepala Laila berulang kali dengan pendar kasih dan tekad yang membara di dalam jiwanya.
"Maafkan aku, Laila. Maafkan aku yang tidak tahu," bisik Musa rendah namun sarat akan ancaman mematikan untuk orang-orang yang telah menyakiti istrinya.
"Mulai malam ini, siapapun mereka yang sudah meninggalkan luka ini di tubuhmu, akan kubuat membayar semuanya tanpa sisa." ucap Musa.
tp kak ,, khawatir juga sih kalo org udh gelap mata oleh rasa iri gx bisa di bendung ,, bisa berbuat nekat senekat nekat ny ,,
jgn sampe deh rumah tangga Musa dan Laila di ganggu oleh fitnah Musdalifah
😒😒😒😒😒🥱🥱🥱
makany jgn coba2 ngusik umi Laila ,,
jd hancur lebur kn Hrga diri kalian ,, 😏😏😏😏😏
umi Sinta bisa menerima Laila dg baik ,,
bisa2 ny pak kiyai nikahin perempuan model gtuu ,,
semangat Musa berantas semua org2 yg udh nyakitin Laila ,,
sedangkan Nakula ny B aj ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
msh aj di pilih ,, buka mata mu lebar2 umiiiiii