Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Otot Mengganjal
Arka membisu. Tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun pasir. Tatapan polos tanpa dosa dari Naya yang menuntut jawaban jujur benar-benar menghantam pertahanan dirinya hingga hancur berkeping-keping.
Mana mungkin seorang Arka Dirgantara, pria berwibawa yang disegani banyak orang harus menjelaskan reaksi biologis alaminya di pagi hari pada perempuan yang sedang menindihnya?
Apalagi mengaku kalau kejantanannya terbangun gara-gara gesekan dan aroma tubuh gadis itu sendiri? Bisa jatuh bebas harga dirinya nanti!
Wajah Arka makin memerah, sementara remasan tangannya di pinggang Naya refleks terlepas begitu saja seolah-olah tangan itu baru saja menyentuh lahar panas.
“Bukan apa-apa!” potong Arka cepat dengan suara yang naik satu oktav, sangat jauh dari kesan tenang yang biasanya ia tampilkan.
Pria itu buru-buru mendorong bahu Naya secara perlahan namun tegas, menggeser tubuh perempuan itu ke samping hingga Naya terduduk di atas lantai karpet dengan wajah linglung.
Arka langsung bangkit berdiri seraya membelakangi Naya. Tangannya bergerak cepat membenahi posisi celana piyama dan bagian depan bajunya yang kusut, berusaha menyembunyikan area bawah tubuhnya yang masih tegang.
“Itu... cuma refleks otot pagi hari! Masalah biologis biasa, tidak perlu dibahas!”
tangkis Arka panik, berusaha keras mengendalikan napasnya yang masih memburu. Pria itu berdehem keras beberapa kali untuk menetralkan nada suaranya yang bergetar.
Sementara Naya mengerjapkan matanya beberapa kali, masih duduk di karpet sambil memegangi paha gaun tidurnya. Rautnya terlihat bingung
“Otot?” gumam Naya sembari menggaruk pelipis.
“Otot apa yang bisa gerak-gerak begitu? Mana mengganjal lagi?”
“Naya, cukup!” tegas Arka cepat, memotong pertanyaan Naya sebelum perempuan itu makin melantur.
Ia membalikkan badan dengan posisi tangan bersedekap tepat di depan pinggangnya, berusaha tampil formal meski kedua ujung telinganya masih merah padam.
“Lebih baik kamu bangun dan mandi sekarang. Bukannya tadi kamu bilang mau buat sarapan?” Arka mengalihkan pembicaraan dengan cepat, matanya menatap lurus ke arah pintu kamar mandi, sama sekali tidak berani menatap mata Naya.
Naya menyipitkan matanya ragu, tetapi melihat raut Arka yang mendadak tegang dan salah tingkah, ia akhirnya memilih tidak memperpanjang masalah.
“Ya... ya sudah kalau tidak mau kasih tahu,” gumam Naya sambil pelan-pelan berdiri dan menepuk-nepuk gaun tidurnya.
“Saya kan cuma tanya, lagian panik banget.”
Arka menahan napas saat Naya berjalan melewatinya menuju kamar mandi. Tepat sebelum menyentuh gagang pintu, Naya menghentikan langkah dan menoleh ke belakang.
“Bapak mau dibuatkan sarapan apa?” tanya Naya polos.
“Terserah kamu,” sahut Arka cepat tanpa menengok. “Apa saja. Cepat sana mandi.”
Begitu pintu kamar mandi tertutup rapat dan terdengar gemericik air shower, Arka langsung mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya.
Ia menjatuhkan dirinya kembali ke sofa, bersandar pasrah sambil memejamkan mata rapat-rapat, merutuki reaksi tubuhnya sendiri yang sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama.
“Lain kali kamu bangun lagi tanpa permisi, awas kamu ya. Bikin malu saja,” umpatnya pada tubuh bagian bawahnya sendiri.
*
*
Pintu kamar mandi yang tertutup rapat tak lantas membuat kekacauan di kepala Arka reda. Pria itu mengacak rambutnya frustrasi, masih terduduk pasrah di tepi sofa.
Detik demi detik berlalu, napasnya perlahan melambat, beriringan dengan tensi tubuhnya yang mulai surut seiring gemericik air dari dalam.
Arka melirik celana piyamanya yang kini sudah kembali normal. Ia pun bernapas lega, meski rasa malu setebal tebing masih menempel di wajahnya.
“Gila. Benar-benar gila,” gumamnya pelan seraya memijit pangkal hidung.
Ia lalu merapikan pakaiannya sebentar, kemudian bangkit berdiri menuju cermin besar di sudut kamar.
Di sana, pantulan dirinya sendiri menatap balik dengan ujung telinga yang masih menyisakan rona merah. Sebagai seorang CEO yang biasa menghadapi negosiasi alot dan intimidasi para petinggi perusahaan, dikuasai rasa panik cuma gara-gara pertanyaan polos seorang gadis adalah reputasi buruk.
Cklek.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Arka refleks membalikkan badan dan membusungkan dada, kembali memasang topeng wibawanya seketika.
Naya keluar dengan rambut basah yang terikat asal, mengenakan kaus santai dan celana kain semata kaki. Wajahnya tampak segar tanpa sapuan riasan sedikit pun. Ia menatap Arka yang berdiri tegap di tengah ruangan dengan alis terangkat sebelah.
“Lho, Bapak belum siap-siap?” tanya Naya santai, seolah insiden 'otot mengganjal' beberapa menit lalu sudah sepenuhnya menguap dari ingatannya.
Arka berdehem pelan, berusaha menjaga suaranya agar tetap berada pada nada terendah yang berwibawa.
“Saya mandi setelah ini. Kamu mau langsung turun ke dapur?”
“Iya, mau cek isi kulkas dulu. Kalau ada bahan, saya masak Nasi Goreng aja ya?”
“Terserah,” jawab Arka singkat, berpaling dan berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambil handuk.
Naya mengedikkan bahu lalu melangkah keluar kamar. Namun baru dua langkah melewati pintu, gadis itu menghentikan langkahnya dan menoleh kembali.
“Oiya, Pak.”
Arka mematung seketika, mendadak tegang. “Apa lagi?”
Naya menunjuk ke arah pinggangnya sendiri dengan polos.
“Otot yang tadi... nanti kalau kram lagi, dipijat aja Pak. Kata orang tua dulu, kalau otot tegang dipaksain, bisa menjalar ke mana-mana.”
Tanpa menunggu respon, Naya melengos pergi melintasi koridor sambil bersenandung kecil.
Sementara di dalam kamar, Arka berdiri kaku bak patung porselen. Tangannya yang memegang handuk meremas kain tebal itu kuat-kuat, matanya melotot tak percaya menatap pintu yang terbuka lebar.
“Dipijat...?” bisiknya dengan suara tercekat.
“Dia pikir aku in apaan? Main solo saja aku tidak pernah. Apa dia... ah, sudahlah!”
Arka melempar handuknya ke bahu dan melangkah cepat ke kamar mandi, berniat mengguyur kepalanya dengan air dingin paling membekukan yang ada di rumah itu.
Namun, guyuran air dingin yang menerpa kepalanya sama sekali tidak mempan mengusir rasa panas yang membakar dadanya. Setiap tetes air yang mengalir di wajahnya justru seolah memicu ingatan visual yang semakin jelas.
Begitu ia memejamkan mata, memori beberapa menit lalu langsung berputar ulang tanpa permisi. Ia bisa merasakan kembali bobot tubuh Naya yang menindihnya, kelembutan kulit gadis itu yang bersentuhan langsung dengan tubuhnya, serta aroma manis alami yang terhirup jelas saat jarak mereka terkikis habis.
Sensasi gesekan halus di area sensitifnya mendadak hadir kembali, begitu nyata hingga membuat Arka refleks mengepalkan tangan dan bersandar pada dinding keramik kamar mandi yang dingin.
“Astaga, Arka... sadar! Pernikahan kalian cuma sandiwara!” gumamnya serak, memukul pelan dadanya yang berdegup kencang bak maraton.
Ia mencoba mengalihkan pikiran ke laporan keuangan perusahaan, jadwal rapat direksi, hingga pergerakan saham mingguan.
Akan tetapi, bayangan wajah polos Naya dengan mata bulatnya yang menatap lurus persis di atas wajahnya terus menerobos masuk, merusak seluruh benteng pertahanan logikanya. Reaksi tubuhnya yang sempat mereda itu bahkan mengancam akan tegang kembali hanya karena imajinasi liar tersebut.
Frustrasi dengan pikirannya sendiri, ia lantas memutar keran shower hingga batas maksimal, membiarkan air dingin mengguyur seluruh tubuhnya lebih lama. Ia berdiri membisu di bawah kucuran air, berusaha keras menetralisasi sisa-sisa gairah dan rasa malu yang menguasai dirinya.
–tbc–
lanjut
buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak