Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SURAT DARI JAKARTA DI ATAS KOTAK SEIKO
Malam itu di rumah papan beratap seng berkarat milik Abdullah Bin Rais Payobadar, dua lampu petromaks dipompa sampai mendesis keras, ssssssttt... ces... ces... ces... Cahayanya yang kuning keputihan terang benderang, bergetar-getar tertiup angin malam yang masuk dari celah dinding papan yang sudah lapuk. Cahaya itu membuat tikar pandan anyaman Siti Aminah yang digelar di tengah rumah terlihat seperti panggung sandiwara, setiap anyaman, setiap benang yang miring terlihat jelas.
Asap tipis dari sumbu petromaks naik pelan-pelan ke atap seng, bercampur dengan asap kayu surian dari dapur yang masih menyala. Bau minyak tanah yang menyengat, bau gulai ayam kampung yang baru diangkat dari kuali besar, bau sambal lado cengkeh yang pedasnya menusuk hidung, dan bau harum tikar pandan yang baru dicuci pagi tadi, semua bercampur menjadi satu. Itulah bau syukuran besar di rumah Abdullah kalau ada tamu dari rantau jauh.
Semua keluarga besar Payobadar masih duduk melingkar, bersila rapat. Ada Abdullah Bin Rais Payobadar dengan sarungnya yang sudah pudar warnanya karena sering dipakai ke sawah pusako, ada Siti Aminah Sikumbang dengan baju kurung tenun halus yang ia tenun sendiri selama tiga bulan tanpa listrik, hanya dengan lampu minyak tanah, ada Andi Rajo Alam Sikumbang yang 19 tahun yang baru dapat NEM tertinggi se-SMA Negeri 1 X Koto dengan NEM 52, ada Arlan Rasyad Sikumbang dan Darlin Aminuddin Chaniago yang seumuran 13 tahun yang baru naik Kelas VIII peringkat satu dan dua, ada Arya Arsyad Sikumbang yang 12 tahun yang baru lulus SMP Danem 42 di atas rata-rata kecamatan, ada Ibrahim Sulaiman Chaniago yang 14 tahun dan Faizal Tanjuang yang 15 tahun, ada Mamak Usman Bin Rais Payobadar sang guru Silek Tuo Harimau di Pos Satu yang sorbannya masih terikat rapi, dan ada tamu dari rantau Jakarta, Ali Bin Rauf Payobadar beserta istrinya, Etek Upik, yang baru saja memberikan dua jam tangan Seiko yang mengkilap itu.
Dua jam tangan Seiko itu masih di atas kotak beludrunya yang kecil, kotak biru tua yang masih bau toko jam di Cakung. Andi Rajo Alam baru saja memakai jam itu di pergelangan tangan kirinya yang kapalan dan hitam karena sering membantu ayahnya mengukir kayu surian dan mengangkat kayu balok besar. Arya yang 12 tahun juga sudah memakainya, kebesaran sedikit di tangannya yang masih kecil, tangan yang masih bekas hitam minyak gemuk bekas latihan bongkar pasang guci besi berminyak bersama Mamak Usman di Pos Satu. Jam itu terlalu besar, jadi ia harus melipat karetnya dua kali.
Suasana haru dan tawa masih memenuhi ruangan. Siti Aminah dengan cekatan menyendokkan gulai ayam kampung ke piring-piring seng yang sudah disusun berderet. Ayam itu ayam peliharaan sendiri, ayam jago merah yang besar, dipotong khusus untuk menyambut Uwo dari Jakarta. Tidak ada listrik PLN sama sekali di rumah itu. Di tahun 1977 ini, seluruh Pande Sikek, dari SD sampai SMP, kalau malam memang hanya diterangi petromaks dan lampu minyak tanah. Listrik diesel hanya ada di gedung SMA Negeri 1 X Koto yang jauh di bawah, itupun hidupnya cuma pagi sampai siang untuk praktik mengetik dan praktik mesin. Sore jam tiga, diesel dimatikan untuk hemat solar yang harus dibeli dari Bukittinggi. Jadi cahaya petromaks yang mendesis inilah yang menjadi matahari malam bagi keluarga ini selama belasan tahun, tempat Andi dan Arya belajar dengan lidi dan butir cengkeh.
Tiba-tiba, Ali Bin Rauf Payobadar yang dari tadi duduk bersandar di tiang rumah yang kayunya sudah dimakan rayap sedikit, menepuk dahinya dengan keras, plak! Suaranya mengagetkan semua orang.
"Astaga, ampia lupo Uwo," kata Ali dengan logat Jakarta yang kental, campuran Minang dan Betawi yang sudah 17 tahun ia bawa sejak jadi kuli las di Tanjung Priok. Suaranya berat, suara orang yang tiap hari berteriak di bengkel karoseri di tengah suara gerinda dan las karbit. "Adiaku Abdullah, tadi di simpang Pasar Baso, sabalun masuak jalan satapak Pande Sikek nan becek ko, Uwo bapapasan jo pagawai pos nan naiak sapeda jengki butuik tu. Inyo bao tas kuliak gadang panuah surek, berat bana sampai sapeda jengkinyo oleng-oleng. Inyo batanyo ka Uwo, 'Pak Ali, Pak Ali nan punyo bengkel di Cakung tu ya? Ko rumah Andi Rajo Alam Sikumbang di ma ya? Ado surek pantiang bana dari Jakarta, stempelnyo Universitas Indonesia, indak buliah hilang, ko surek maso depan anak urang.'"
Seketika, satu rumah papan yang tadinya ramai dengan tawa dan sendok beradu dengan piring seng itu hening total. Hening yang aneh, hening yang membuat bulu kuduk berdiri. Bahkan suara jangkrik di luar yang dari tadi mengerik keras di kebun cengkeh milik Abdullah, bahkan suara air sungai kecil yang mengalir di bawah jembatan bambu tempat dulu Arya, Arlan, Darlin, Ibrahim, Faizal berkelahi melawan sepuluh sepupu jauh Marga Piliang, Coto, Jambak: Yusman, Ramli, Rusli, Marzuki, Muchtar, Burhan, Anwar, Idris, Yamin dan Dasril itu, terdengar jelas masuk ke dalam rumah, gemericik.
Semua sendok berhenti di udara.
Andi Rajo Alam yang 19 tahun yang sedang memandangi jam Seiko barunya yang berdetak tik... tik... tik... langsung berdiri, wajahnya yang sawo matang itu pucat pasi seperti kertas HVS. Keringat dingin keluar di pelipisnya, padahal angin malam Gunung Singgalang dingin menusuk tulang.
"Surek... dari Jakarta, Uwo Ali? Universitas Indonesia? UI? Fakultas... Fakultas apo, Uwo?" tanyanya dengan suara bergetar hebat, hampir tidak terdengar, seperti berbisik.
Ali Bin Rauf Payobadar mengangguk pelan, matanya yang sudah tua dan sedikit rabun karena sering kena asap las karbit dan gerinda itu berkaca-kaca. Ia merogoh saku dalam kemeja batik lengan panjangnya yang mahal dari Jakarta itu, batik halus yang tidak akan pernah dipakai orang Pande Sikek untuk ke sawah karena takut kena lumpur. Ia mengeluarkan sebuah amplop besar warna cokelat, kertasnya tebal, amplop pos kilat khusus yang ada benang pengikatnya. Ada stempel merah dan biru yang besar, ada cap pos kilat Jakarta - Padang, dan ada logo bulat yang dicetak tebal dengan tinta emas bertuliskan UNIVERSITAS INDONESIA - JAKARTA - PANITIA PUSAT UMPTN / SIPENMARU 1977.
"Ambiaklah, Uda Andi. Iko surek ang, surek maso depan ang," kata Ali dengan suara pelan tapi jelas, suaranya bergetar menahan haru. "Pagawai pos tu titipkan ka Uwo karano inyo tau Uwo saudara ayah ang, Uwo baru datang dari Jakarta jo plat B hijau tu, inyo kenal Uwo dari dulu. Inyo bilang, 'Pak Ali, tolong sampaikan ka kemenakan Pak Ali tu, iko surek hasil pambaritauan luluih ujian UMPTN. Katonyo pangumuman baru kalua minggu lalu di koran Kompas Jakarta, dikirim lewat pos ka saluruah Sumatera, banyak nan hilang di jalan, banyak nan talambek karano banjir. Uwo takuik hilang, makonyo Uwo simpan di saku dalam baju batik Uwo, Uwo jago sampai ka Pande Sikek.'"
Abdullah Bin Rais Payobadar yang tangannya masih memegang piring seng berisi nasi dan gulai, tangannya gemetar hebat sampai nasinya tumpah sedikit ke tikar pandan, berderai. Nasi itu nasi baru, beras dari sawah pusako yang baru dipanen seminggu lalu. Siti Aminah Sikumbang yang duduk di depan panta tenunnya yang belum selesai, langsung berdiri, kain tenun yang sedang ia lipat itu jatuh ke lantai papan, berdebu.
Andi Rajo Alam menerima amplop itu dengan kedua tangan yang bergetar hebat, jauh lebih gemetar daripada saat ia menerima ijazah NEM tertinggi SMA sebulan lalu di balai desa Pande Sikek. Jam Seiko baru pemberian Uwo-nya dari Jakarta itu berdetak tik... tik... tik... semakin keras di pergelangan tangannya yang kurus, detaknya terdengar oleh semua orang karena rumah itu hening.
Dengan pelan, dengan jari yang kaku dan berkeringat, Andi merobek ujung amplop cokelat itu. Jari-jarinya yang biasa menulis rumus-rumus kalkulus, rumus fisika, rumus kimia, yang biasa menulis UUD 1945 dengan lidi dan butir cengkeh di atas tikar pandan di bawah petromaks yang harus dipompa setiap satu jam, ces... ces... itu kini susah merobek kertas. Kertas itu tebal dan keras.
Di dalamnya ada satu lembar kertas putih tebal, kertas HVS yang bagus, tidak seperti kertas stensil ijazah SMP yang tipis, diketik dengan mesin tik listrik IBM yang rapi, ada kop surat resmi Universitas Indonesia dengan lambang makara, dan ada tanda tangan Rektor dan stempel basah.
Andi membacanya dalam hati dulu, matanya bergerak cepat dari atas ke bawah, dari kiri ke kanan. Bibirnya bergetar mengeja huruf-huruf latin itu. Lalu matanya berkaca-kaca. Lalu air matanya jatuh, menetes, satu tetes, dua tetes, tiga tetes, jatuh ke kertas putih itu, membuat tinta ketikan itu sedikit luntur di bagian bawah.
Ia tidak bisa bicara. Tenggorokannya tercekat, seperti ada batu besar di sana. Ia hanya menyerahkan kertas itu kepada ayahnya Abdullah dengan tangan masih gemetar.
Abdullah Bin Rais Payobadar yang buta huruf latin tapi hafal huruf Arab dan hafal ukiran surian dan hafal mantra padi, tidak bisa membaca ketikan mesin tik itu. Huruf-huruf latin itu menari-nari di matanya yang sudah tua karena debu kayu surian. Ia dengan hormat, dengan takzim, menyerahkannya kepada kakak iparnya, kepada Mamak Usman Bin Rais Payobadar, orang yang paling dituakan dalam hal ilmu dan adat di kampung itu setelah guru dan kepala desa.
Mamak Usman yang dulu mengajari Andi Silek Tuo Harimau di Pos Satu di bawah pohon beringin besar, yang dulu melihat Andi masih kecil umur 10 tahun sudah mengajari adik-adiknya berhitung di bawah petromaks yang apinya kecil hampir mati, kini menerima kertas itu dengan kedua tangan, seperti menerima kitab suci. Ia berdiri tegak, membusungkan dadanya yang bidang, dan membacanya dengan suara keras, dengan logat Minang Agam yang bergetar karena bangga dan haru yang ditahan-tahan, agar seluruh keluarga besar yang melingkar di atas tikar pandan itu mendengar, agar kebun cengkeh di luar juga mendengar, agar Gunung Singgalang juga mendengar.
Mamak Usman berdehem, membersihkan tenggorokannya yang serak.
PANITIA PUSAT SEKRETARIAT KERJA SAMA ANTAR LIMA UNIVERSITAS.. 1977
UNIVERSITAS INDONESIA - JAKARTA
HASIL UJIAN MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI
Nama: ANDI RAJO ALAM SIKUMBANG
Asal Sekolah: SMA Negeri 1 X Koto, Sumatera Barat
NEM SMA: 52 - TERTINGGI SE-KECAMATAN X KOTO
Nomor Ujian: 01-077-PDG
Dinyatakan: LULUS / DITERIMA SEBAGAI MAHASISWA BARU
Fakultas: FAKULTAS HUKUM
Universitas: UNIVERSITAS INDONESIA, JAKARTA
Keterangan: Harap Daftar Ulang Tanggal 15 Agustus 1977 di Kampus UI Salemba, Jakarta. Membawa ijazah asli, materai, dan surat ini. Terlambat dianggap mengundurkan diri.
Hening.
Hening selama tiga detik yang terasa seperti tiga jam, tiga tahun. Hanya suara petromaks yang mendesis, ssssssttt... dan suara detak jantung Andi dan Abdullah yang berdebar keras.
Sedetik kemudian, rumah papan beratap seng berkarat itu meledak seperti gunung Singgalang meletus.
"Allahu Akbar! Allahu Akbar! Hukum! Fakultas Hukum UI!" teriak Mamak Usman Bin Rais Payobadar paling keras, suaranya parau dan pecah, suaranya sampai terdengar ke kebun cengkeh milik Abdullah di lereng, sampai terdengar ke surau kecil di ujung kampung.
Siti Aminah Sikumbang yang sudah 19 tahun menenun siang malam, yang matanya sudah rabun karena menenun di bawah lampu minyak tanah yang redup untuk menyekolahkan Andi, yang tangannya kapalan karena memintal benang, langsung pingsan terduduk di atas tikar pandan, tidak kuat menahan haru yang terlalu besar. Ia dipeluk oleh Etek Upik, istri Uwo Ali dari Jakarta, yang juga menangis. Air mata Siti Aminah tidak berhenti mengalir, membasahi kerudung tenunnya yang baru.
Abdullah Bin Rais Payobadar yang selama ini hanya bisa mengukir kayu surian dan mencangkul sawah pusako dengan cangkulnya yang sudah tumpul dan gagang kayunya sudah licin karena keringat, yang tangannya kapalan tebal seperti batu kali, kini memeluk anak sulungnya Andi Rajo Alam yang 19 tahun itu dengan pelukan yang sangat erat, pelukan seorang ayah yang tidak pernah sekolah tinggi, yang tidak pernah keluar dari Pande Sikek kecuali ke Pasar Baso, tapi anaknya diterima di Fakultas paling bergengsi di Universitas tertinggi di Indonesia, di Jakarta.
"Andi... anak ayah... anak ayah diterima di Hukum... di Universitas Indonesia... di Jakarta... Fakultas Hukum... Ya Allah... cucu-cucu tukang ukir kayu surian jadi sarjana hukum di Jakarta..." hanya itu yang bisa diucapkan Abdullah dengan suara parau dan gemetar, air matanya jatuh deras ke bahu anaknya, membasahi baju putih anaknya.
Andi Rajo Alam yang terkenal pandai dan cerdas, yang selama ini selalu menjadi guru bagi adik-adiknya di bawah lampu petromaks, yang mengajari Arya, Arlan, Darlin, Ibrahim dan Faizal dengan lidi dan cengkeh, yang tidak pernah tidur sebelum jam dua belas malam karena harus memompa petromaks setiap jam, ces... ces... dan harus menghafal pasal-pasal UUD 1945 di bawah cahaya kuning itu, kini menangis seperti bayi 3 bulan di pangkuan ayahnya. Tangisnya pecah, bukan tangis sedih, tapi tangis lega 19 tahun belajar tanpa listrik PLN, tangis seorang anak kampung dari Pande Sikek yang berhasil menembus Fakultas Hukum UI di Salemba, Jakarta, tempat para calon hakim dan jaksa agung belajar.
Arya Arsyad Sikumbang yang 12 tahun yang baru lulus SMP Danem 42 di atas rata-rata, Arlan 13 tahun dan Darlin 13 tahun yang seumuran yang baru naik Kelas VIII peringkat satu dan dua, mereka bertiga memeluk kakak sulung mereka, Uda Andi, dengan erat. Jam Seiko di tangan Andi dan Arya beradu, berdenting kecil, teng... Jam yang satu kebesaran di tangan anak SMP calon pewaris bengkel, jam yang satu pas di tangan calon mahasiswa Hukum UI.
Ali Bin Rauf Payobadar, Uwo Ali, yang pengusaha bengkel karoseri sukses di Cakung, Jakarta Timur itu, yang datang dari Jakarta dengan mobil kijang pick-up plat B hijau tua penuh debu perjalanan 2 hari 2 malam lewat lintas Sumatera, yang tangannya keras karena pegang stang las karbit dan gerinda, kini matanya juga merah, air matanya jatuh tanpa ia sadari, mengalir di pipinya yang hitam terbakar matahari bengkel. Ia berdiri dan berkata dengan suara lantang sebagai Uwo tertua dari rantau Jakarta, sebagai pucuk adat dari pihak ayah, sebagai pengganti ayah almarhum.
"Abdullah, adiak denai. Siti, adiak ipar denai. Iko bukan kabatulan Uwo pulang dari Jakarta hari ko. Iko takdir dari Allah, takdir nan lah ditulih di Lauhul Mahfuz. Allah suruah Uwo pulang bawo surek Hukum ko. Pagawai pos tu kalau indak batamu Uwo di simpang Pasar Baso tadi, mungkin surek Fakultas Hukum UI ko nyasar tigo hari lai baru sampai, atau hilang dimakan hujan dan becek, karano jalan satapak Pande Sikek ko becek bana kalau hujan, tukang pos malas masuak kalau indak musim kamarau."
"Andi Rajo Alam Sikumbang, kemenakan Uwo, Buyuang Uwo, diterima di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Bukan Teknik Mesin, tapi Hukum! Di Salemba! Itu labiah tinggi dari Teknik, Diak! Itu Fakultas orang-orang pintar bicara, orang-orang yang akan jadi hakim, jaksa, pengacara besar di Jakarta, yang akan membela orang-orang kecil seperti kita tukang ukir dan tukang tenun!"
"Iko pas bana, pas bana. Andi indak paralu kos jauah-jauah di Salemba nan mahal dan banyak copet tu. Beko Andi tingga di rumah Uwo di Cakung, dakek bengkel Uwo, satu atok jo Uwo jo Etek Upik. Uwo nan biayai daftar ulangnyo tanggal 15 Agustus beko di Salemba, Uwo nan antar pakai pick-up plat B Uwo tu, Uwo nan kenalkan jo kawan-kawan Uwo pengacara di Jakarta. Bia inyo kuliah Hukum, bia inyo jadi sarjana hukum pertama dari Pande Sikek, dari keluarga Payobadar dan Sikumbang. Beko kalau ada masalah tanah pusako kito disengketakan orang, masalah karoseri Uwo disengketakan orang, masalah hukum apa pun, ada Uda Andi yang akan membela kita dengan hukum, dengan pasal-pasal!"
Malam itu, dua lampu petromaks di rumah papan itu terasa seperti dua lampu sorot panggung yang paling terang di dunia, jauh lebih terang dari lampu diesel 1000 watt di SMA Negeri 1 X Koto. Di luar, kabut di lereng Gunung Singgalang sudah hilang total, diganti cahaya bulan purnama yang terang benderang menyinari sawah pusako yang menguning siap panen, menyinari jalan setapak becek tempat mobil pick-up plat B hijau tua penuh debu itu terparkir dengan gagahnya.
Andi Rajo Alam Sikumbang yang 19 tahun yang akan berangkat ke Fakultas Hukum UI, memeluk adik bungsunya Arya yang 12 tahun yang baru lulus SMP Danem di atas rata-rata, yang jam Seikonya kebesaran.
"Buyuang Arya... dengakan Uda," bisik Andi dengan suara masih sesenggukan, air matanya masih mengalir. "Jago ayah jo ibu, Yo. Jago Arlan jo Darlin nan saumua 13 tahun tu, jan biaran inyo nakal-nakal lai main di jembatan bambu. Jago tikar pandan jo petromaks kito. Jago lidi jo cengkeh kito. Dulu Uda nan ajari kalian pakai lidi jo cengkeh di bawah petromaks ko untuk baraja hitung dan baraja UUD 1945, kini giliran kalian nan musti malanjuikan, ajari Ibrahim jo Faizal."
"Uda ka Jakarta dulu, ka tampek Uwo Ali di Cakung, ka Fakultas Hukum UI di Salemba. Uda akan baraja hukum di Jakarta, baraja pasal-pasal. Uwo Ali alah janji, bengkel karoseri 30 karyawan di Cakung tu beko akan diwariskan ka ang, ka Buyuang Arya, nan pandai besi dan pandai bongkar guci. Uda yang akan jago dari segi hukumnya, ang yang akan jago dari segi mesin dan karoserinya. Kita baduo, abang hukum dan adiak mesin, dari Pande Sikek untuak Jakarta, dari Pande Sikek untuak Indonesia."
Arya yang 12 tahun dengan jam Seiko baru di tangannya yang kebesaran itu mengangguk dengan air mata mengalir deras. Ia yang dulu masih bayi 3 bulan waktu Ibrahim naik Si Baluang dengan ingus naik turun, yang dulu berkelahi di bawah beringin melawan sepuluh orang, kini ia sudah mengerti, bahwa pematang sawah pusako yang licin itu tidak hanya ada di Pande Sikek, tapi juga ada di Jakarta, di Salemba Hukum, di Cakung Karoseri, di Universitas Indonesia. Pematang itu lebih tinggi, lebih licin, lebih keras dari pematang sawah, tapi harus dilewati dengan Seiko di tangan.
Dan malam itu, di bawah dua lampu petromaks yang mendesis dan harus terus dipompa, ces... ces... di atas tikar pandan yang penuh dengan ijazah Danem 42 tulis tangan bau tinta stensil, ijazah NEM 52, rapot peringkat pertama Kelas VIII, dan surat lulus Fakultas Hukum UI di atas kotak Seiko yang mengkilap, keluarga besar Payobadar dan Sikumbang makan bersama untuk terakhir kalinya sebelum Andi berangkat ke Jakarta, kota rantau tempat Uwo-nya Ali Bin Rauf Payobadar sukses menjadi pengusaha bengkel karoseri.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam 19 tahun, Siti Aminah tidak mematikan petromaks sampai pagi. Petromaks itu dibiarkan menyala sampai minyaknya habis, sampai pagi, sebagai tanda syukur, karena di rumah itu telah lahir seorang calon sarjana hukum dari Universitas Indonesia.