"Woy sampah rendahan."
"Sampah? Sampah? Sampah seperti ku masih bisa di daur ulang, tapi sampah seperti mu pantasnya dihancurkan."
Juna Adiwiyata hanya siswa beasiswa yang datang dengan tangan kosong ke Akademi Arcapolis—sekolah elite tempat nama keluarga menentukan siapa yang berhak menunduk dan siapa yang berhak menginjak.
Di sana, tidak ada yang peduli seberapa keras kau belajar. Yang ada hanya empat faksi, empat Raja, dan satu aturan tak tertulis: yang lemah akan diinjak sampai lupa cara berdiri.
Juna pernah jadi bagian dari yang lemah itu. Dihina, dipukuli, diseret ke gudang gelap sampai tubuhnya nyaris tak bernyawa—sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dari titik matinya sendiri dan mengubah segalanya.
Bukan sistem yang memberi kekuatan cuma-cuma. Sistem yang mengukur kekuasaan.
"Aku bangkit bersama orang-orang terbuang, dan akan menghancurkan mereka yang membuang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Juna mundur beberapa langkah, sengaja membiarkan jarak antara dirinya dan Ben sedikit lebih jauh, matanya melirik cepat ke arah dinding beton di belakang lawannya yang kini mulai retak akibat pukulan tadi.
'Kalau strategiku benar,' batinnya, mengatur napas sambil menyeka darah di sudut bibirnya, 'aku cuma perlu memancing dia beberapa kali lagi.'
"Segitu doang tenaga Gorila Gunung?" Juna berseru, suaranya sengaja dibuat meremehkan, cukup keras untuk terdengar di seluruh arena. "Kupikir kamu bakal lebih menakutkan dari ini. Ternyata cuma badan gede doang, otaknya ketinggalan di kandang."
Sorakan tribun mendadak senyap sejenak, terkejut mendengar seseorang berani mengejek Ben secara terbuka. Ben sendiri mendongak, matanya yang tadinya kosong kini berkilat penuh amarah, giginya bergemerutuk keras.
"Woy, jaga mulut lu!" salah satu penonton berteriak dari tribun, seolah lebih tersinggung daripada Ben sendiri. "Berani-beraninya ngehina jenderal kami!"
"Anak baru emang nggak tahu tempat," yang lain menambahkan, suaranya penuh geram. "Nanti kalau udah remuk baru nyesel."
Juna tidak peduli dengan teriakan-teriakan itu, matanya tetap terpaku pada Ben yang mulai menggeram, urat di lehernya semakin menonjol menahan amarah yang siap meledak.
"BANGSAT!" suaranya menggelegar, jauh lebih keras dari sebelumnya, dan tanpa berpikir panjang ia melesat maju dengan kecepatan penuh, tinjunya terayun lurus ke arah kepala Juna dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari pukulan-pukulan sebelumnya.
Juna menunggu sampai detik terakhir, jantungnya berdegup kencang menghitung waktu dengan presisi yang nyaris membuatnya sendiri gemetar, sebelum akhirnya menjatuhkan tubuhnya merunduk tepat waktu.
Kepalan tangan Ben melesat lurus di atas kepalanya, menghantam dinding beton yang sudah retak itu dengan suara ledakan kecil yang menggetarkan seluruh ruangan. Debu dan pecahan beton berhamburan, dan kali ini erangan kesakitan yang keluar dari mulut Ben terdengar jauh lebih nyaring dari sebelumnya.
Tribun yang tadi riuh mengejek kini mendadak diam, beberapa orang saling berbisik dengan wajah bingung, tidak menyangka jenderal kebanggaan mereka bisa terlihat kesakitan seperti itu.
"Lagi," Juna berbisik pada dirinya sendiri, bangkit cepat dan kembali menjaga jarak. "Cuma butuh beberapa kali lagi."
"Ternyata cuma bisa mukul tembok doang," Juna kembali melontarkan ejekan, kali ini sengaja menyeringai lebar meski wajahnya sendiri penuh luka dan darah. "Untung tembok itu nggak bisa mukul balik, ya? Kalau bisa, mungkin dia menghajarmu habis-habisan, Gorila Gunung apanya, sekarang kau malah terlihat seperti babi guling."
Tawa kecil dari beberapa penonton di tribun mulai terdengar, memancing amarah Ben semakin memuncak. Wajahnya memerah padam, uratnya menonjol di sepanjang lehernya yang tebal.
"Diem lu semua!" salah satu anak buah Kaisar Dirgantara yang berdiri dekat tribun berteriak, mencoba meredam tawa yang mulai menyebar di antara penonton sendiri. "Ben masih bisa berdiri, jangan sok-sokan ketawa!"
Namun bisik-bisik kecil tetap terdengar di sela-sela keributan, beberapa penonton mulai saling melirik dengan ekspresi tidak yakin, seolah keyakinan mereka pada kemenangan mutlak Ben mulai retak seiring dengan dinding beton di belakangnya.
"DIAM KALIAN BANGSAT!" Ben kembali menyerang membabi buta, kali ini dengan kedua tangan sekaligus, ayunan ganda yang jauh lebih liar dan tidak terkontrol dibanding serangan-serangan sebelumnya.
Juna melompat mundur, menghindari ayunan pertama dengan jarak tipis, lalu berguling ke samping menghindari ayunan kedua. Kedua kepalan Ben kembali menghantam dinding beton yang sama, kali ini dengan kekuatan ganda yang membuat retakan sebelumnya melebar jauh lebih besar.
Ben terhuyung sejenak, kedua tangannya yang sudah memar parah bergetar hebat, napasnya mulai memburu tidak teratur. Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, tubuh raksasa itu tampak goyah, seolah tenaga luar biasa yang tadinya terasa tak terbatas kini mulai menunjukkan batasnya.
"Ayo, Ben! Jangan kalah sama anak kemarin sore!" salah satu penonton akhirnya berteriak lagi, mencoba membangkitkan semangat yang mulai goyah di seluruh tribun.
"Habisin dia sekarang, jangan kasih ampun!" yang lain menambahkan, suaranya kini terdengar lebih seperti permohonan daripada perintah.
'Ketiga kalinya,' batin Juna, mengamati tangan Ben yang kini berlumuran darah akibat benturan berulang dengan beton kasar. 'Tenaganya pasti sudah terkuras banyak. Sekarang tinggal satu langkah lagi. Dan setelah ini selesai, biar semua yang tadi teriak-teriak itu diam sendiri.'
Ia menegakkan tubuhnya, mengatur napas dalam-dalam meski setiap bagian tubuhnya masih berdenyut nyeri, matanya menatap lurus ke arah Ben yang kini berdiri limbung, terengah-engah dengan kedua tangan gemetar di sisi tubuhnya.
[Analisis Sistem: Stamina Musuh Menurun Drastis]
[Peluang Kemenangan Meningkat]
Panel kecil itu muncul sekilas di sudut pandangannya, dan Juna tidak bisa menahan seringai tipis yang terbentuk di sudut bibirnya yang berdarah.
'Sekarang,' batinnya, melangkah maju perlahan namun pasti ke arah Ben yang mulai kehilangan tenaganya, 'giliranku menyerang balik.'