Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.
Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.
Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.
Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.
Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?
Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.
Dan dunia belum siap sama akibatnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: PENDEKATAN HALUS DR. YOSIA
Kesempatan itu datang di acara dies natalis fakultas, perayaan tahunan yang selalu dihadiri hampir semua dosen dan pimpinan struktural, lengkap dengan seremoni formal, pidato panjang dari dekan, dan sesi ramah tamah yang biasanya jadi ajang para dosen saling bertegur sapa sambil menikmati hidangan prasmanan yang lumayan mewah untuk ukuran acara kampus.
Bang Tua datang bersama Pak Ferdinand, keduanya duduk di meja yang sama, menikmati hidangan sambil sesekali berkomentar ringan soal pidato dekan yang menurutnya terlalu panjang, "ini pidato apa disertasi kedua, Pak, udah lewat setengah jam belum ada tanda tanda mau kelar", bisiknya ke Pak Ferdinand yang langsung menahan tawa supaya tidak terlihat tidak sopan di depan podium.
Di tengah acara ramah tamah, seorang pria berjas rapi, senyumnya lebar dan terlihat terlatih, menghampiri meja mereka, membawa piring berisi hidangan yang sepertinya sengaja dia jadikan alasan untuk mendekat. "Pak Ferdinand, apa kabar? Lama nggak ngobrol kita," sapanya ramah, sebelum menoleh ke Bang Tua dengan senyum yang sama lebarnya, "dan ini pasti Pak Sahat ya, saya sering dengar nama Bapak belakangan ini, katanya berani kali membela mahasiswa di forum seminar."
Bang Tua langsung mengenali sosok itu dari deskripsi yang pernah diceritakan Pak Ferdinand, Dr. Yosia, dengan gaya bicara yang begitu halus dan menyenangkan, jenis orang yang membuat siapa pun merasa nyaman berbicara dengannya, meski dalam hati Bang Tua langsung waspada, "ini orang senyumnya lebar kali, kayak sales asuransi yang lagi nawarin produk, tapi produk apa ya kira kira yang mau dia jual ke bapak".
"Kabar baik, Pak Yosia," jawab Pak Ferdinand, nadanya terdengar sopan tapi sedikit kaku, jelas berusaha menjaga jarak meski tetap ramah secara permukaan.
Dr. Yosia duduk di kursi kosong sebelah mereka tanpa diminta, mulai mengobrol santai soal berbagai hal, perkembangan jurusan, rencana rencana besar untuk meningkatkan kualitas akademik, sampai akhirnya, dengan gaya yang begitu halus sampai nyaris tidak terasa seperti sedang menggiring opini, dia mulai menyinggung soal pemilihan Ketua Prodi yang akan datang.
"Saya rasa jurusan kita butuh pemimpin yang punya visi jelas, yang bisa bawa kita lebih maju lagi, terutama menghadapi akreditasi berikutnya," katanya, matanya sesekali melirik ke arah Bang Tua dan Pak Ferdinand bergantian, seolah mengukur reaksi mereka. "Kalau boleh tau, Bapak berdua condong ke arah mana untuk periode depan?"
Pak Ferdinand tersenyum diplomatis, jawabannya sudah dia siapkan sejak lama untuk pertanyaan semacam ini. "Wah, kami dosen biasa aja, Pak Yosia, belum kepikiran jauh jauh soal itu, yang penting fokus ngajar dan bimbing mahasiswa dulu."
Dr. Yosia mengangguk, meski senyumnya tidak sepenuhnya hilang, jelas dia sudah terbiasa mendapat jawaban diplomatis semacam itu. "Tentu, tentu, saya paham. Tapi nanti kalau sudah waktunya, saya harap Bapak berdua bisa pertimbangkan dukungan untuk saya. Saya yakin dengan pengalaman dan jaringan yang saya punya, bisa bawa banyak perubahan positif buat jurusan kita, termasuk soal kesejahteraan dosen dan mahasiswa."
Bang Tua yang sejak tadi lebih banyak diam mengamati, akhirnya ikut menimpali dengan nada yang sengaja dibuat ringan, "kesejahteraan dosen sama mahasiswa itu penting kali, Pak. Btw, ngomong ngomong soal itu, Bapak tau nggak soal beberapa mahasiswa yang lagi kesulitan bimbingan gara gara dosennya kewalahan beban kerja? Kira kira kalau Bapak jadi Ketua Prodi, ada rencana buat benerin soal itu?"
Pertanyaan itu, meski dilontarkan dengan nada santai, membuat Prof. Bonar yang kebetulan lewat di dekat meja mereka sempat menoleh sejenak, matanya bertemu sekilas dengan Bang Tua sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya tanpa menyapa, sebuah momen singkat yang tidak luput dari perhatian Bang Tua, semakin menguatkan dugaannya bahwa kedua orang itu memang saling terhubung lebih dari sekadar kolega biasa.
Pertanyaan itu, meski dilontarkan dengan nada santai, membuat mata Dr. Yosia berkedip sedikit lebih lama dari biasanya, seolah tidak menyangka akan mendapat pertanyaan sedetail itu dari dosen yang selama ini dianggapnya kalem dan tidak banyak bicara. "Tentu, itu salah satu prioritas saya, Pak Sahat. Saya akan tata ulang sistem pembagian beban supaya lebih adil," jawabnya, meski jawabannya terdengar general, tidak sedetail pertanyaan yang diajukan, semacam jawaban standar yang sudah dia siapkan untuk berbagai pertanyaan serupa.
Bang Tua mengangguk, tersenyum sopan, meski dalam hati dia mencatat baik baik keanehan kecil itu, jawaban yang terlalu umum untuk pertanyaan yang cukup spesifik, seperti orang yang pandai bicara tapi tidak benar benar punya jawaban konkret. "Menarik kali, Pak. Saya tunggu realisasinya nanti," balasnya, masih dengan nada ringan, meski kalimat itu sengaja dia lontarkan sebagai semacam sinyal bahwa dia tidak akan mudah begitu saja terpikat janji janji manis tanpa bukti nyata.
Dr. Yosia tertawa kecil mendengar balasan itu, tawa yang terdengar sedikit dipaksakan, sebelum akhirnya mengalihkan topik ke hal lain yang lebih ringan, menceritakan pengalaman perjalanan dinasnya ke luar kota beberapa waktu lalu, seolah berusaha mengembalikan suasana yang sempat sedikit menegang akibat pertanyaan tajam Bang Tua barusan.
Selama beberapa menit berikutnya, Dr. Yosia terus mengobrol dengan gaya yang begitu lancar dan menghibur, sesekali melontarkan lelucon ringan yang membuat meja mereka sempat tertawa bersama, keahlian bersosialisasi yang menurut Bang Tua memang patut diakui, dalam hati dia berkomentar, "orang ini kalau nggak jadi Ketua Prodi, cocok kali jadi pembawa acara talkshow, pinter kali bikin suasana cair, sayang isinya kosong kalau ditanya yang serius serius". Sesekali Dr. Yosia juga menyapa dosen dosen lain yang lewat di dekat meja mereka, menunjukkan betapa luasnya jaringan pertemanannya di lingkungan fakultas, seolah dia mengenal hampir semua orang secara personal.
Menjelang acara berakhir, Dr. Yosia berdiri, merapikan jasnya, dan sebelum benar benar pergi, dia sempat menepuk pundak Bang Tua sekali lagi, "senang ngobrol sama Bapak, jarang jarang saya ketemu dosen yang berani nanya detail kayak gitu, kebanyakan cuma manggut manggut doang. Saya suka itu, Pak Sahat, tandanya Bapak peduli beneran sama jurusan kita." Kalimat itu terdengar seperti pujian tulus, tapi entah kenapa Bang Tua merasakan ada nada lain di baliknya, semacam peringatan halus bahwa dirinya sudah masuk radar perhatian Dr. Yosia, baik dalam artian positif maupun sebaliknya.
Setelah Dr. Yosia benar benar pergi menjauh menuju meja lain, Bang Tua menghela napas panjang, baru menyadari betapa tegangnya dia sepanjang percakapan tadi meski berusaha tampil santai di permukaan. Dia meraih gelas minumnya, meneguknya perlahan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang sejak tadi berdegup lebih cepat dari biasanya, sensasi yang jarang sekali dia rasakan kecuali saat menghadapi situasi situasi penting dalam hidupnya.