NovelToon NovelToon
Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Petualangan
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Narishea

Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.

Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.

Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.

Itulah kesalahan fatal mereka.

Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.

Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.

Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.

Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?

Berhasilkah mereka keluar??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 6 : Post 4

Hari sudah semakin sore.

Langit oranye yang tadi terlihat indah saat mereka berhasil merobek perut hutan, sekarang perlahan berubah menjadi ungu keabu-abuan. Kabut tipis mulai turun di antara pohon pinus. Suhu hutan turun drastis. Dingin.

Mereka berempat berjalan lesu ke arah pita kuning itu. Pita kuning panitia yang bertuliskan *POS 4 - ISTIRAHAT & CHECK POINT* yang berkibar pelan tertiup angin sore.

Jaraknya hanya 2 meter dari tanah tempat Elina hilang. Tapi 2 meter itu terasa seperti 2 kilometer. Setiap langkah kaki mereka berat. Bukan karena carrier yang masih mereka gendong, tapi karena energi mereka benar-benar habis. Terkuras.

Bukan hanya fisik. Mental mereka juga terkuras habis.

Bima jalan paling depan, tapi kepalanya tertunduk. Tangan kanannya masih berlumuran lendir hitam kering yang sudah mengeras seperti lem. Dia tidak mengelapnya. Seolah kalau dia lap, bukti terakhir kalau Elina pernah hampir keluar itu akan hilang.

Maira jalan di belakang Bima, menggandeng tangan Gilang. Gilang yang bekas hitam lima jari di keningnya sekarang sudah tidak berasap, tapi warnanya menjadi lebih pekat, seperti lebam. Matanya kosong menatap ke depan. Sejak Elina ketarik, dia tidak ngomong sama sekali.

Arga jalan paling belakang. Dia beberapa kali menoleh ke belakang, ke tanah tempat Elina hilang. Tanah itu sekarang terlihat biasa saja. Tanah hutan pinus normal yang keras, ditutupi daun kering. Tidak berdenyut. Tidak ada suara tangisan lagi. Seolah-olah tanah itu sudah kenyang dan tidur lagi setelah menelan Elina.

POS 4..

Saat mereka sampai di pos 4, mereka berharap ada panitia. Ada orang. Ada bapak-bapak penjaga pos yang bisa mereka ceritain kejadian barusan dan minta tolong.

Tapi pos 4 kosong.

Hanya ada sebuah pondok kayu kecil yang sudah tua, beratap seng berkarat, dengan satu meja kayu panjang dan dua bangku kayu panjang di dalamnya. Di samping pondok ada papan petunjuk kayu yang sudah lapuk, cat putihnya mengelupas, bertuliskan dengan cat hitam yang sudah pudar:

POS 4

→ POS 5 LURUS TERUS KEBAWAH 800M

→ POS 3 BALIK ATAS 1.2KM

Tidak ada panitia. Tidak ada HT yang menyala. Tidak ada logbook. Hanya pondok kosong yang di atas mejanya ada sisa bungkus mie instan yang sudah berjamur, tanda pos ini sudah lama tidak dijaga.

Mereka berempat masuk ke dalam pondok itu dengan langkah gontai dan langsung menjatuhkan carrier mereka ke lantai kayu pondok.

BRAKK...

Tidak ada yang ngomong.

Bima duduk di bangku kayu, menatap papan petunjuk yang lapuk itu. Maira duduk di lantai pondok, menyandarkan punggungnya ke tiang pondok, memeluk lututnya. Arga membuka carrier, mengambil botol air minum yang isinya tinggal setengah, tapi tidak diminum, hanya dipegang. Gilang duduk di pojok pondok, menatap bekas hitam di keningnya lewat pantulan layar HP-nya yang sudah mati.

Hening.

Hening yang lama. Sekitar 15 menit tidak ada yang berbicara. Hanya suara angin sore yang masuk dari sela-sela papan pondok yang sudah bolong, dan suara napas mereka yang masih ngos-ngosan.

Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Maira mikirin tangan Elina yang lepas dari tangannya. Arga mikirin Kak Reza yang wajahnya nempel jadi daging di tubuh induk. Gilang mikirin wajah Elina yang kaget saat ketarik lagi. Bima mikirin kata-kata bapak penjaga pos di basecamp tadi pagi, "Jangan noleh kalau dipanggil dari belakang di jalur pos 4..."

Sore semakin gelap. Jam di tangan Bima menunjukkan jam 17:40. Sebentar lagi maghrib. Kalau mereka lanjut ke pos 5 sekarang dalam kondisi seperti ini, mereka pasti mati di jalan.

Akhirnya Bima yang buka suara. Suaranya serak, pelan, tapi semua dengar karena pondok itu sepi.

"Kita gak bisa lanjut malam ini..."

Maira, Arga, Gilang menatap Bima.

"Tenaga kita habis... air tinggal dikit... senter baterainya habis... kalau kita maksa turun ke pos 5 malam-malam dengan kondisi kayak gini, kita bukan nolong Elina, kita malah nyasar lagi..."

Bima menatap papan petunjuk *POS 5 LURUS TERUS KEBAWAH*. Kata "lurus terus kebawah" itu sekarang terasa seperti jebakan lagi.

Arga mengangguk pelan. "Gue setuju... kita harus isi ulang energi dulu... makan... minum... istirahat... besok pagi baru kita mikir..."

Gilang yang dari tadi diam, akhirnya ngomong, suaranya kecil. "Elina... di dalam sana... dia sendirian... gelap..."

Maira langsung nangis lagi pelan. "Gue tau, Lang... gue tau dia sendirian... tapi Bima bener... kita gak bisa masuk lagi malam ini dengan keadaan kosong gini... kita aja hampir mati tadi..."

Bima berdiri, mengambil botol air setengah itu dan membaginya ke tutup botol untuk mereka berempat minum sedikit-sedikit. Dia juga mengambil satu bungkus biskuit Roma yang masih ada di carrier Maira dan membaginya jadi empat.

"Kita istirahat dulu di sini malam ini. Kita nggak bisa cuma ngandelin tenaga kita doang buat ngambil Elina balik. Kita butuh bantuan."

Arga menatap Bima. "Bantuan siapa? Panitia lomba aja nggak ada di pos 4 ini. Pos ini kosong."

Bima menatap ke arah atas, ke arah jalur pos 3 tempat mereka tadi datang. Ke arah basecamp.

"Bapak penjaga pos basecamp. Yang tadi pagi ngingetin kita jangan noleh. Dia pasti tau sesuatu tentang gerbang kelima itu. Tentang rimba larangan. Dia orang sini."

Maira langsung nyambung. "Iya, dia yang bilang jangan noleh kalau dipanggil.Berarti dia tau kalau di jalur pos 4 ini memang ada yang manggil."

"Besok pagi, begitu matahari naik, kita balik naik ke basecamp. Kita ceritain kejadian ini ke orang-orang yang lebih tau. Ke bapak penjaga pos, ke panitia, ke warga sekitar. Kita gak bisa berempat doang lawan induk sebesar rumah itu. Kita butuh orang yang tau cara manggil gerbang itu lagi, atau cara ngerobek perutnya dari luar."

Bima menatap teman-temannya satu per satu.

"Tugas kita malam ini cuma satu: bertahan hidup sampai pagi. Jaga api tetap nyala. Jangan ada yang noleh kalau ada yang manggil dari luar pondok. Dan jangan ada yang tidur sendirian."

Mereka berempat mengangguk.

Arga mulai mengumpulkan ranting kering untuk bikin api kecil di depan pondok. Maira merapikan bangku kayu untuk jadi tempat tidur darurat. Bima mengecek sisa baterai HP mereka yang tinggal 3% untuk senter darurat. Gilang... Gilang hanya duduk di pojok, memegang bekas hitam di keningnya yang terasa semakin panas.

Malam mulai turun di pos 4.

Pondok kecil itu diterangi api unggun kecil yang mereka buat. Di luar pondok, hutan pinus mulai gelap gulita. Kabut makin tebal.

Dan di bawah pondok itu, di bawah tanah tempat pondok itu berdiri...

Tanah itu berdenyut pelan sekali.

Dug...

Sangat pelan, tidak ada yang mendengar karena tertutup suara api unggun.

Tapi di dalam perut hutan yang ada di dimensi lain di bawah tanah itu, Elina masih di sana. Kakinya kembali terjerat akar hisap, pinggangnya masih dililit akar hitam besar, dan di depannya, wajah induk sebesar mobil truk dengan ribuan lubang kecil itu menatapnya dalam gelap, menunggu teman-temannya kembali.

***

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!