Norman Turner mengira Grace Wills, wanita yang mudah dibodohi, sayangnya ia tidak memahami istrinya dengan baik.
Grace Wills malah memilih langkah yang paling berbeda saat mengetahui suaminya mendua.
Apa yang dilakukan Grace Wills? Penasaran, kepoin yuk ceritanya ...
Untuk tahu info update, follow IG: @nana_vinli
Diusahakan update setiap hari, 1 sampai 3 bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puncak Acara
Grace tampak sangat panik.
"Pergi kau sekarang. Jangan sampai terlihat oleh Norman," kata Grace sambil mendorong dada Kevin dengan cepat ke kamar sebelah.
Grace segera menutup pintu penghubung antar kamar.
Begitu pintu tertutup rapat, Kevin hanya diam. Namun, dia tetap menuruti perkataan Grace. Kevin segera keluar dari ruangan dengan cepat. Beruntung, Norman sudah masuk ke kamar Grace sekarang. Kevin sempat melirik ke ruangan itu sebelum akhirnya menghilang.
"Sayang," panggil Norman dengan sedikit mengernyit saat melihat Grace berdiri di depan pintu penghubung dan membelakanginya.
Grace sedikit tersentak. Secepat kilat, dia membalikkan badan lalu berusaha bersikap biasa saja.
"Ada apa, sayang?" tanya Grace.
Norman tak segera menjawab. Tatapannya tertuju pada posisi Grace sekarang.
Menyadari hal itu, Grace langsung menarik tangan Norman dan membawanya agak jauh dari situ.
"Sayang, kenapa diam? Apa ada masalah?" tanya Grace sambil tersenyum lebar.
Norman menggeleng cepat. "Tidak, aku hanya heran kenapa kau ada di sini dan kenapa kau berteriak tadi?" tanyanya penasaran.
Beberapa menit sebelumnya, Norman kembali ke meja Allison. Namun, dia dibuat keheranan saat tak melihat keberadaan Grace. Norman pun bertanya kepada Allison. Mamanya mengatakan Grace pergi begitu saja tanpa memberitahu.
Entah karena suatu hal, Norman merasa gelisah. Dia pun bertanya kepada para tamu di acara tersebut, bahkan kepada satpam hotel. Salah seorang tamu melihat Grace pergi ke lorong kamar khusus yang mereka tempati. Norman segera melangkah menuju kamar. Akan tetapi, betapa terkejutnya dia saat mendengar teriakan Grace dari dalam kamar yang terhubung dengan kamar tempat dia dan Kevin tadi berada.
Grace melirik ke atas sekilas. Dia segera memutar otak, mencari alasan yang masuk akal.
"Aku baru saja selesai teleponan dengan Carmen. Aku kesal dengannya. Hari ini dia membuat kesalahan dengan gaun klienku. Sebagai pemilik, tentu saja klienku marah padaku, bukan dengannya," balas Grace cepat.
Untuk kedua kalinya, Norman tak langsung membalas. Dia berusaha mengingat apa yang diteriakkan Grace tadi. Namun, karena suara Grace tidak jelas, Norman hanya mengangguk-angguk.
"Oh begitu, tapi sejak kapan kau di sini, sayang?" Norman langsung bertanya. Dia berharap Grace tak bertemu Kevin tadi. Entah mengapa, dia merasa cemburu jika mereka bertemu.
"Belum lama. Aku tidak bisa memprediksikan seberapa lama aku di sini. Yang pasti, saat aku masuk, aku langsung pergi ke toilet, lalu sempat bertelepon di dalam sama Carmen dan mengumpatnya saat aku berjalan-jalan di kamar barusan," kilah Grace dengan ekspresi yang meyakinkan.
Norman terdiam beberapa saat. Sebenarnya masih ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Namun, dia memilih untuk tidak mempermasalahkannya.
Mendengar jawaban Grace, Norman akhirnya bernapas lega. "Baiklah, ayo kita keluar. Mama mencari kita."
Grace mengangguk sambil membuang napas kasar sesaat. Dia pun melangkah keluar bersama Norman.
Sesampainya di ambang pintu, Norman melirik ke kamar sebelah. Pintu sudah tertutup rapat, menandakan Kevin sudah keluar dari sana.
"Ada apa, sayang?" tanya Grace, hendak memastikan.
Norman menoleh cepat. "Tidak ada, ayo kita pergi."
Grace mengangguk dan bergelayut manja di lengan Norman. Seolah-olah mereka pasangan suami istri yang romantis. Namun, siapa sangka di balik kemesraan itu ada banyak dusta dan kebohongan yang tersembunyi.
Tak lama kemudian, mereka telah sampai di ballroom. Acara masih berlanjut dan semakin meriah. Kali ini, sang pembawa acara berdiri di depan para tamu undangan.
Norman dan Grace berjalan pelan menuju meja Allison, tepatnya terletak di bagian paling depan, dekat dengan panggung pembawa acara.
"Baiklah, sebelum dansa bersama dimulai, mari kita lihat video ucapan selamat untuk Nyonya Allison!" kata MC dengan sangat antusias.
Dalam sekejap, suara riuh dan tepuk tangan menggema di ruangan.
Allison tersenyum lebar. Dia terlihat sangat bahagia dan sesekali melempar senyum kepada para tamu undangan.
Sang pembawa acara segera bergeser sedikit. Sebab, layar tepat berada di belakangnya. Para tamu mulai memusatkan perhatian ke depan.
Grace dan Norman pun sudah bergabung bersama Allison di meja sekarang.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Empat detik.
Layar di depan seketika menyala. Sebuah video tak senonoh langsung terpampang jelas. Dua orang dengan wajah tak familiar menjadi pemeran utama dalam rekaman tersebut.
Mata Norman membelalak sempurna.
"Astaga ..."
"Apa-apaan ini?!"
Bersambung ~
Akan bahagia klo video perselingkuhan Edmund juga juga viral 🤣
Mona yang haus status Turner hingga tak sadar bahwa Mona membuka jalan untuk keruntuhan Turner sekeluarga 🤣