Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan malam
Badan Aira rasanya mau remuk setelah berjam-jam bantu Ibunya, Bu Ismi menyiapkan pesanan 250 toples kue kering. Begitu urusan dapur selesai, dia langsung meluncur ke kamar untuk rebahan. Tapi, omongan pedas dari kakaknya soal suami Aira terus berputar-putar di kepala. Merasa terganggu, Aira akhirnya mengambil ponsel dan langsung menelpon suaminya.
Di tempat lain, Devan baru saja menyelesaikan urusannya ketika ponselnya berdering. Senyumnya langsung mengembang begitu melihat nama istrinya tertera di layar.
"Halo, Sayang." sapa Devan lembut.
"Halo, Mas. Lagi apa? Pekerjaan kamu udah beres?" tanya Aira mendesak.
Jujur, tadi Aira sempat mikir yang enggak-enggak. Dia takut telponnya tak diangkat karena suaminya lagi asyik sama cewek lain. Tapi ternyata, Devan merespons secepat itu.
"Alhamdulillah, baru banget kelar, Sayang. Hari ini semuanya lancar." jawab Devan santai. "Kenapa? Istriku yang manis ini udah kangen ya?" godanya.
Pipi Aira seketika memanas. Untung saja Devan enggak bisa melihat wajahnya yang mendadak merona merah, sifat pemalu Aira yang selalu bikin Devan gemas setengah mati.
"Dih, baru juga sehari enggak ketemu masa udah kangen aja. Aku cuma mau tahu kabar kamu kok." elak Aira gengsi.
"Yah, padahal aku berharap kamu beneran kangen. Soalnya aku udah kangen banget sama kamu, padahal baru berpisah sehari."
"Gombal terus! Kalau kangen ya buruan pulang dong, Mas." sahut Aira.
Ucapan Aira mendadak bikin Devan teringat pesan Ayahnya tadi. Padahal rencananya, begitu selesai urusan kerjaan, Devan mau langsung tancap gas pulang demi memeluk istrinya. Tapi berhubung Ayahnya mewajibkan dia mampir ke rumah utama, niat itu terpaksa tertahan.
"Maaf ya, Sayang. Malam ini Mas kayaknya enggak bisa pulang ke rumah."
*Deg.*
Jantung Aira serasa berhenti berdetak detik itu juga. Pikiran buruk langsung bergentayangan. Apa jangan-jangan omongan kakaknya benar? Suaminya punya cewek simpanan? Buat apa lagi Devan menginap di luar kalau pekerjaannya saja sudah selesai?
"Kenapa enggak bisa pulang, Mas? Katanya urusan kerjaan udah beres?" suara Aira mulai terdengar menuntut.
Sadar istrinya butuh kepastian, Devan langsung mengubah panggilan suara menjadi video call. "Sayang, kita video call aja ya."
Aira menyetujui panggilan itu. Dan begitu layarnya terhubung, Aira sempat terpaku beberapa detik. Wajah suaminya terpampang jelas di layar terlihat kelewat tampan dengan kemeja kantor yang masih melekat sempurna di tubuh atletisnya.
"Mas Devan... ka-kamu lagi di mana itu? Terus kenapa udah ganti baju? Tadi pagi kan enggak pakai stelan itu?" tanyal Aira bertubi-tubi.
Bukan cuma Devan yang kelihatan terlalu memesona malam ini, tapi latar belakang tempat Devan berdiri juga terlihat seperti gedung perkantoran super mewah.
"Aku masih di gedung kantor, Sayang. Tadi ada klien penting yang datang mendadak buat bahas kerja sama. Dia baru aja balik." jawab Devan jujur.
Klien asing itu memang cuma punya waktu hari ini sebelum terbang kembali ke negaranya besok pagi. Pembahasan proyek mereka cukup alot dari sore sampai malam, tapi berkat kecerdasan Devan, kesepakatan besar berhasil mereka kunci.
Di dalam hati, Aira malah makin kebingungan. *Hah? Klien? Kerja sama? Sejak kapan kuli bangunan tugasnya menemui klien di gedung megah begini?*
"Trus, kenapa kamu enggak langsung pulang ke rumah kita, Mas? Ini kan baru jam 7 malam, kalau kamu jalan sekarang juga masih sempat." desak Aira lagi.
"Masalahnya Papa tiba-tiba nyuruh aku mampir ke rumah utama. Gak apa-apa ya, Sayang, kalau malam ini aku nginep di rumah Papa? Sepertinya ada hal penting yang mau dibicarakan." terang Devan lembut.
"Oh... gitu. Ya udah Mas, enggak apa-apa. Aku kira ada alasan lain." sahut Aira. Kelegaannya langsung membuncit seketika. Tuduhan sang kakak terbukti salah besar.
"Kamu jangan lupa makan ya, Sayang. Besok pagi-pagi Mas usahain udah pulang. *Love you*, Sayang. Mmmuuaaachh." pamit Devan manja sambil melempar ciuman ke kamera.
"Love you too, Mas." balas Aira malu-malu sebelum Devan melambaikan tangan dan mematikan sambungan.
...****************...
Sementara itu di kediaman keluarga Devan, suasana terasa cukup formal.
"Gimana, Ma? Makanan buat nyambut Devan udah siap semua?" tanya Fandi pada istrinya.
"Udah dong, Pa." sahut Arum manis. "Oh iya, gimana soal ide Mama yang mau menjodohkan Devan sama Anggun, Pa?"
"Entahlah, Ma. Papa rada ragu Devan mau menerima rencana ini." cetus Fandi bimbang.
"Aduh Pa, Devan itu udah dewasa banget, udah matang buat berumah tangga. Papa enggak takut apa melihat dia cuek terus sama cewek? Anak kita kan cowok semua. Raka juga berhak buat nikah, tapi kalau Devan sebagai kakak enggak nikah-nikah, kasihan Raka jadi tertahan, Pa. Lagian Anggun itu kurang apa coba? Cantik, terhormat, sopan, wanita karier, dari keluarga terpandang lagi. Pas banget buat Devan." cerca Arum gencar memprovokasi suaminya.
Fandi mengangguk-angguk pelan, terpengaruh. "Ya sudah, Papa setuju. Nanti kita bicarakan bertiga bareng Devan. Toh mereka juga udah saling kenal."
Dalam hati, Arum langsung bersorak puas. *Yes! Rencanaku berhasil. Tinggal paksa si Devan biar mau terima perjodohan ini,* batinnya licik.
Tak lama kemudian, suara raungan mesin mobil terdengar memasuki halaman. Sebuah mobil sports mewah edisi terbatas yang jumlah pemiliknya di Indonesia bisa dihitung pakai jari berhenti mulus. Raka yang mengintip dari jendela cuma bisa mengepalkan tangan, menahan rasa iri yang membakar dada.
Devan melangkah masuk ke rumah dengan gaya santai tapi karismatik. Begitu sampai di ruang tamu, dia hanya menyalami Ayahnya, sama sekali tidak menyentuh atau melirik Arum.
"Selamat ya, kamu berhasil memenangkan tender besar itu. Papa bangga sama kamu, Devan." puji Fandi bangga.
Devan tersenyum tipis dan mengangguk. "Makasih, Pa."
"Iya, selamat ya Devan! Mama juga bangga banget sama kamu. Kamu hebat deh." potong Arum sok manis. "Nanti jangan lupa bimbing adik kamu ya. Raka kan baru terjun ke dunia bisnis, jadi belum seandal kamu."
Aslinya, Arum muak setengah mati harus memuji Devan. Tapi di depan suaminya, dia harus terus bersikap seperti ibu tiri penyayang. Raka sendiri cuma bisa terdiam sambil mengepalkan tangan ketat, benci melihat Ayahnya yang selalu membangga-banggakan Devan.
Devan tidak sudi merespons sedikit pun kepalsuan Ibu tirinya itu. Dia tahu betul Arum cuma sedang bersandiwara di depan sang Ayah. Kalau bukan demi menghargai Ayahnya, Devan tak akan pernah mau menginjakkan kaki di rumah ini.
"Ya sudah, yuk langsung ke meja makan aja." ajak Fandi memecah kecanggokkan.
"Mama sengaja masak hidangan spesial buat kamu lho, Devan. Hitung-hitung perayaan kecil buat kemenangan tender kamu." selutuk Arum lagi.
Lagi-lagi Devan memilih tidak peduli dan langsung mengambil posisi duduk.
"Kita rayakan dengan makan bareng ya. Rasanya udah lama banget Papa enggak makan seatap sama kamu." ucap Fandi hangat. "Lihat deh, ini semua makanan favorit kamu."
"Makasih ya, Pa. Sebenarnya Papa enggak perlu repot-repot begini." balas Devan tenang.
Di sudut lain meja, Arum meremas serbet di pangkuannya sampai remuk. Amarahnya memuncak karena setiap perkataannya dianggap angin lalu oleh Devan. *Sialan kamu Devan! Sekarang kamu boleh sombong dan cuek, tapi lihat saja nanti.* geramnya dalam hati.
Arum adalah ibu tiri Devan. Ibu kandung Devan meninggal tepat saat Devan baru saja menyandang gelar sarjana. Momen yang harusnya jadi hari paling membahagiakan dalam hidup Devan berubah menjadi duka paling dalam.
Sialnya, baru sembilan bulan berlalu, Ayahnya malah memutuskan menikah lagi dengan seorang janda beranak satu yaitu Arum, yang membawa anak laki-lakinya, Raka, untuk tinggal bersama.
Sejak awal, Devan tak pernah menyukai Arum maupun Raka. Firasatnya selalu mengatakan ada yang tidak beres dari Ibu dan anak itu. Sikap Arum yang manis di depan Ayahnya sangat berbanding terbalik dengan tatapan sinis dan nada dingin yang kerap ditunjukkannya saat Ayahnya tidak ada.
Karena muak dengan suasana rumah yang penuh kepalsuan, Devan akhirnya memilih angkat kaki dan tinggal bersama Nenek dari pihak almarhumah Ibunya. Menjadikan alasan sang Nenek yang sudah tua dan butuh teman, Ayahnya pun mengizinkan Devan menetap di sana.
"Oh iya, Devan... Kamu masih ingat kan sama Anggun?" tanya Arum tiba-tiba di tengah-tengah makan malam.
Perasaan Devan mendadak tidak enak. Dia hanya mengangguk singkat tanpa minat.
"Nah, rencananya Mama sama Papa mau menjodohkan kamu sama Anggun. Kamu pasti mau, kan?"
*Uhuk! Uhuk! Uhuk!*
Devan yang baru saja menyuap makanannya seketika tersedak hebat.
**(Bersambung)**