Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.
Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.
Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Embun Beku di Musim Semi dan Utusan Tiga Pilar
Keheningan yang menyelimuti Grand Ballroom Gedung Opernhaus Zurich terasa begitu pekat, seolah waktu itu sendiri telah membeku bersama gas nitrogen yang menyelimuti lantai panggung. Ratusan penguasa dunia bawah tanah—para pria dan wanita yang kekejamannya telah melegenda di benua masing-masing—kini hanya bisa berdiri mematung. Mata mereka terpaku pada layar raksasa yang menampilkan saldo triliunan rupiah milik klan Mawar Hitam merosot tajam menjadi angka nol dalam hitungan detik.
Tidak ada ledakan peluru. Tidak ada teriakan pembantaian. Namun, malam ini, mereka baru saja menyaksikan eksekusi kekuasaan yang paling mematikan dalam sejarah.
Xander von Hapsburg menatap tajam ke sekeliling ruangan, memastikan tidak ada satu pun dari para bos mafia itu yang berani melakukan gerakan gegabah. Beberapa pemimpin Triad dari Hong Kong dan oligarki Rusia perlahan menundukkan kepala mereka, memberikan gestur penghormatan mutlak sebelum melangkah mundur menuju pintu keluar. Mereka tahu, menantang Dominus Umbrae yang kini telah bersatu kembali dengan ahli waris Mawar Hitam adalah sebuah tindakan bunuh diri massal.
Di bawah panggung, Dirga dan dua agen elite menyergap Sebastian Vance yang masih terbatuk-batuk mengeluarkan darah. Pria tua yang penuh ambisi busuk itu diborgol dengan rantai titanium. Ambisinya untuk menjadi kaisar dunia bawah tanah telah hancur lebur menjadi debu bersalju di bawah telapak sepatu Tania.
"Bawa dia ke fasilitas penahanan kita di Pegunungan Ural," perintah Xander tanpa menoleh pada Sebastian. "Pastikan dia tetap hidup. Kematian terlalu mewah untuk pengkhianat sepertinya."
Dea berdiri di depan terminal biometrik yang kini telah meredup. Gadis remaja itu memandangi kedua telapak tangannya sendiri. Selama belasan tahun, darah yang mengalir di nadinya ini dianggap sebagai kutukan. Darah ini yang membuat ibunya diracun, darah ini pula yang membuatnya disiksa oleh keluarga Hendra. Namun malam ini, dengan jari-jarinya sendiri, ia telah mengubah darah itu menjadi berkah bagi ribuan anak yatim piatu di seluruh dunia yang bernasib sama sepertinya.
Tania melangkah mendekat, merangkul bahu Dea dari belakang dan menyandarkan dagunya di puncak kepala gadis itu. Kehangatan tubuh sang ibu sambung seketika mengusir sisa-sisa hawa dingin di atas panggung.
"Kau melakukannya, Sayang," bisik Tania lembut, penuh kebanggaan yang menggetarkan dada. "Ibu Diana pasti sedang tersenyum sangat lebar dari surga melihat putrinya malam ini."
Dea membalikkan badannya, memeluk pinggang Tania erat-erat dan membenamkan wajahnya di gaun merah anggur wanita itu. Helaan napas panjang meluncur dari bibir Dea, melepaskan beban raksasa yang selama ini menghimpit paru-parunya.
"Apakah kita sudah bisa pulang ke Bogor sekarang, Ibu?" gumam Dea pelan. "Aku merindukan masakan Kakek Suratman. Aku merindukan aroma pinus di pagi hari."
Xander yang baru saja menyelesaikan instruksinya pada Freya melangkah menghampiri kedua wanita yang menjadi pusat semestanya itu. Ia tersenyum—sebuah senyuman yang kini terasa begitu tulus dan manusiawi. Pria berambut perak itu mengusap punggung Dea dengan lembut.
"Tentu saja, Putriku," jawab Xander dengan suara berat yang menenangkan. "Kita akan kembali ke Indonesia besok pagi. Vila Pinus akan menjadi rumah permanen kita, dan aku akan memastikan tidak ada satu pun bayangan masa lalu yang berani menginjakkan kakinya di halaman rumah kita."
Satu jam kemudian, konvoi limosin Maybach berarmor tebal itu melaju meninggalkan pusat kota Zurich, mendaki jalanan berkelok menuju Kastil Schloss von Hapsburg. Badai salju di luar kaca jendela tampak semakin lebat, menutupi aspal dengan hamparan putih yang murni. Di dalam kabin mobil yang hangat, Dea telah tertidur pulas dengan kepala bersandar di pangkuan Tania.
Tania dengan telaten menyisir rambut Dea menggunakan jemarinya, sementara matanya menatap siluet kota Zurich yang perlahan menghilang ditelan badai.
"Kau tampak gelisah, Xander," tegur Tania tanpa memalingkan pandangannya dari jendela. Meskipun ini adalah malam kemenangan mereka, insting tajam Tania sebagai seorang pesilat menangkap perubahan ritme napas Xander yang duduk di kursi seberang.
Xander menumpukan sikunya di sandaran jendela, memijat pangkal hidungnya perlahan. "Penyerahan dana amal itu berjalan terlalu mulus, Tania. Sebastian memang telah kalah, tapi dunia bawah tanah tidak bekerja sesederhana itu. Kekosongan kekuasaan sebesar ratusan triliun rupiah dalam satu malam... biasanya akan memancing monster yang lebih besar keluar dari persembunyiannya."
"Biar saja mereka datang," sahut Tania dengan nada ringan namun berbahaya, matanya menyala dalam keremangan kabin. "Aku masih punya banyak pisau lempar, dan kau masih punya pasukan elite. Kita akan potong kepala monster itu satu per satu sampai mereka mengerti bahwa keluarga ini tidak bisa disentuh."
Xander terkekeh pelan mendengar keberanian wanita di depannya. Ia benar-benar mengagumi ketangguhan Tania. Namun, tawa Xander tidak bertahan lama. Ponsel taktis kuantum di saku jasnya tiba-tiba bergetar hebat, memancarkan kedipan lampu indikator berwarna ungu pekat—warna darurat tingkat tertinggi yang belum pernah menyala selama lima belas tahun terakhir.
Xander menarik ponsel itu. Wajahnya yang tegap mendadak memucat.
"Ada apa?" tanya Tania, tubuhnya langsung menegang, bersiap untuk segala kemungkinan.
"Pesan dari markas komunikasi utama di kastil," bisik Xander, suaranya terdengar serak. "Freya melaporkan adanya anomali pada transfer dana amal Dea."
"Anomali bagaimana? Apakah ada peretas dari sisa anak buah Sebastian yang mencoba mencuri dananya di tengah jalan?"
"Bukan," Xander menggeleng pelan, matanya terpaku pada layar ponsel. "Sembilan puluh sembilan koma sembilan persen dana berhasil masuk ke ribuan yayasan amal. Namun... ada satu rekening penerima di sebuah panti asuhan kecil di pinggiran Jenewa yang menolak transfer tersebut. Rekening itu bukan sekadar menolak, tapi memantulkan kembali dana sebesar sepuluh triliun rupiah itu dengan kode override absolut yang langsung menonaktifkan seluruh satelit pertahanan kita di atas langit Eropa."
Napas Tania tercekat. "Siapa yang memiliki kemampuan seperti itu? Bahkan kau sebagai Dominus Umbrae tidak bisa menembus satelit pertahananmu sendiri semudah itu."
"Hanya ada satu entitas di dunia ini yang bisa melakukannya," desis Xander, matanya menatap kegelapan badai salju di luar dengan kewaspadaan maksimal. "Mereka bukan dari dunia bawah tanah, Tania. Mereka adalah orang-orang yang duduk di atas cahaya... para pencipta aturan. The Elysium Court."
Limosin perlahan memasuki gerbang utama Kastil Schloss von Hapsburg. Namun, pemandangan yang menyambut mereka sama sekali di luar dugaan. Seluruh pasukan elite Freya yang biasanya berjaga dengan formasi tempur di pelataran kastil kini berdiri mematung. Senjata mereka tergeletak di atas salju, sementara tubuh mereka tidak bisa bergerak, seolah-olah ditekan oleh gravitasi buatan yang tak kasatmata.
Di tengah pelataran bersalju itu, berdiri sebuah kereta kuda hitam klasik bergaya Victoria yang ditarik oleh empat ekor kuda Friesian raksasa tanpa cacat. Tidak ada jejak roda atau tapak kuda di atas salju, menandakan bahwa kereta itu tidak datang dari jalanan biasa, melainkan mungkin diturunkan dari pesawat siluman tanpa suara.
Di depan pintu utama kastil, seorang pria tinggi semampai mengenakan setelan jas putih bersih berdiri di bawah rintik salju. Ia tidak memakai mantel, namun anehnya, tak ada satu pun kepingan salju yang menempel di pundaknya. Pria itu memegang sebuah tongkat perak bertahtakan batu safir biru yang menyala terang.
Mobil berhenti perlahan. Dea terbangun dari tidurnya, mengusap matanya yang masih berat. "Ibu... apakah kita sudah sampai? Kenapa di luar banyak orang yang diam saja?"
"Dea, tetap di dalam mobil," perintah Xander cepat, nada suaranya memancarkan otoritas mutlak yang tak bisa dibantah. Pria itu mengeluarkan pistol taktisnya dan menatap Tania. "Apapun yang terjadi, jangan biarkan pria berbaju putih itu mendekati Dea."
Xander membuka pintu mobil dan melangkah keluar menuju badai salju. Tania mengikutinya dari belakang, memosisikan dirinya tepat di depan pintu mobil tempat Dea berada, kedua tangannya sudah bersiaga dengan kuda-kuda rendah Silat Harimau.
Pria bersetelan jas putih itu menoleh ke arah Xander. Wajahnya luar biasa tampan, nyaris tanpa dosa, dengan mata berwarna emas keabuan yang memancarkan ketenangan absolut. Pria itu membungkuk sedikit, sebuah gestur kesopanan bangsawan kuno.
"Salam hangat, Xander von Hapsburg, Sang Dominus Umbrae," sapa pria itu. Suaranya mengalun sangat merdu, terdengar jelas menembus deru angin badai seolah ia berbicara tepat di telinga mereka. "Namaku Valerius. Aku datang sebagai Utusan Pertama dari Tiga Pilar Kuno The Elysium Court."
"Aku tidak pernah mengundang anjing pesuruh dari Elysium ke pekaranganku," geram Xander, mengarahkan moncong pistolnya lurus ke dahi Valerius. "Sistem pertahananku mungkin lumpuh, tapi peluru timah ini tetap bisa menembus tengkorakmu."
Valerius tersenyum lembut, sama sekali tidak terintimidasi oleh ancaman penguasa bawah tanah tersebut. "Tembaklah jika itu bisa menenangkan hatimu, Xander. Namun aku datang bukan untuk bertarung. Aku datang untuk menyampaikan sebuah teguran... dan sebuah undangan."
Pria berbaju putih itu melangkah maju dengan sangat pelan. Tania langsung merendahkan kuda-kudanya, bersiap menerkam. Namun, saat Valerius menatap mata Tania, wanita pesilat tangguh itu merasakan tekanan aura yang begitu masif, seolah-olah ia sedang berdiri di bawah kaki gunung berapi yang siap meletus. Ini bukan aura pembunuh seperti milik Sebastian atau Baskoro. Ini adalah aura kekuasaan murni yang telah bertahan selama ribuan tahun.
"Kalian baru saja membagikan ratusan triliun rupiah ke yayasan amal global," lanjut Valerius dengan nada bicara seperti seorang guru yang sedang menasihati anak kecil yang nakal. "Niat putri Anda sungguh mulia, Xander. Namun, uang di dalam brankas Mawar Hitam itu bukanlah sekadar harta warisan. Itu adalah Pajak Ekuilibrium—upeti yang selama ini menyeimbangkan batas antara dunia bawah tanahmu dan dunia atas milik kami."
Valerius berhenti tepat lima langkah di depan Xander. "Dengan menghancurkan brankas itu dan mendistribusikan dananya secara acak ke pasar ekonomi kelas bawah, putri Anda telah merusak tatanan keseimbangan ekonomi dunia. Kalian telah menyulut kemarahan Tiga Pilar Kuno."
"Lalu apa maumu?" potong Xander tajam, urat-urat di lehernya menonjol. "Jika Elysium menginginkan uang itu kembali, kalian terlambat. Uang itu sudah tersebar. Kalian tidak akan bisa menariknya dari ribuan panti asuhan tanpa menarik perhatian dunia internasional."
"Kami tidak peduli pada uang receh itu, Xander," senyum Valerius melebar, kali ini memancarkan kedinginan yang mengerikan. "Yang kami butuhkan adalah pengganti dari keseimbangan yang hilang. Karena putri Anda, Nona Dea, telah berani mengambil peran sebagai 'Tuhan' dengan mengubah nasib jutaan nyawa malam ini, maka Tiga Pilar Kuno mengundang putri Anda untuk hadir di Pengadilan Absolut di puncak Gunung Olympus, tujuh hari dari sekarang."
Valerius mengangkat tangan kirinya, memunculkan sebuah amplop hitam bersegel emas murni dari balik jasnya. Ia melemparkan amplop itu. Amplop tersebut melayang di udara melawan arah angin, lalu mendarat tepat di atas kap mobil limosin di depan Tania.
"Jika Nona Dea tidak hadir," bisik Valerius, matanya yang keemasan menatap lurus menembus kaca mobil, tepat ke arah Dea yang sedang mengintip dengan wajah pucat, "maka Tiga Pilar Kuno akan menghapuskan Indonesia dari peta ekonomi dunia, dimulai dari kota kecil bernama Bogor, tempat panti-panti asuhan dan kakek angkat yang kalian sayangi itu berada."
Sebelum Xander sempat menarik pelatuknya, tubuh Valerius seolah memudar menjadi ribuan serpihan cahaya putih yang terbawa oleh angin badai salju. Kereta kuda di tengah pelataran itu pun lenyap tanpa jejak, meninggalkan keheningan malam dan pasukan Freya yang tiba-tiba terjatuh lemas ke atas salju, terbebas dari tekanan gravitasi gaib.
Di tengah badai salju yang kian mengamuk, Xander dan Tania berdiri membeku, menatap amplop hitam berlambang burung hantu emas di atas kap mobil. Kemenangan mereka atas Sebastian Vance dan masa lalu yang kelam ternyata hanyalah sebuah babak pendahuluan. Dengan menghancurkan sangkut paut Mawar Hitam, Dea tanpa sengaja telah membuka gerbang peperangan baru—sebuah perang epik melawan penguasa sebenarnya dari dunia ini, di mana takdir bukan lagi tentang memperebutkan harta, melainkan tentang mempertahankan hak umat manusia untuk hidup bebas dari kendali para dewa palsu di atas awan. Kisah perburuan yang sesungguhnya... baru saja dimulai.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor