Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.
Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.
Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.
Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.
Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Mia dan juga Rian. Setelah berpacaran selama dua tahun, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menikah.
Pagi itu, sinar matahari menembus dedaunan pohon-pohon besar di halaman gereja tua yang berdiri megah di pinggiran kota. Udara masih sejuk, bercampur aroma bunga mawar putih dan melati yang baru saja disusun para florist di sepanjang lorong menuju pintu masuk. Bunga-bunga itu seolah ikut merayakan. Satu per satu tamu undangan mulai memenuhi gereja. Langkah mereka terdengar lembut di atas karpet merah yang membentang panjang, sementara bisik-bisik bahagia dan senyum hangat saling bersahutan.
Di ruang persiapan di sisi kanan gereja, Mia duduk di depan cermin besar berbingkai kayu ukir. Gaun pengantin putihnya yang elegan, dengan renda lembut di bagian dada dan rok yang mengalir panjang, membuatnya terlihat seperti tokoh dalam dongeng. Rambutnya disanggul setengah dengan beberapa helai yang jatuh di pipi, dihiasi tusuk konde kecil berhiaskan mutiara. Ibu Mia berdiri di belakangnya, memegang tisu, berusaha menahan air mata.
“Cantik sekali, sayang,” bisik ibunya pelan. “Mama dan papa bangga bisa melihatmu hari ini.”
Mia tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca. Mia memeluk mamanya erat.
Di sisi lain gereja, di ruang yang lebih sederhana, Rian sedang di kelilingi ibu, adiknya, dan juga adik iparnya. Jas hitamnya yang pas di badan membuat postur tingginya semakin menonjol. Ia menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan degup jantung yang tak berhenti berdegup kencang.
“Setelah ini kakak bakal tinggal dimana?" tanya Lukman adik Rian.
"Tinggal di rumah Mia" jawab Rian.
“Mia sudah punya rumah sendiri?" tanya Yanti ibu Rian.
"Iya bu" jawab Rian.
Yanti dan Lukman saling tatap, lalu keduanya tersenyum.
Di luar, organ gereja mulai dimainkan pelan. Melodi lembut mengisi ruangan yang semakin penuh. Kerabat dari kedua belah pihak sudah duduk di bangku-bangku kayu panjang. Ada yang saling berpelukan, ada yang masih sibuk mengabadikan momen dengan kamera ponsel. Nenek Mia yang sudah berusia delapan puluh tahun duduk di barisan depan, memegang dompet kecil berisi foto Mia dan Rian saat masih berpacaran. Ia tersenyum lebar, seolah mengulang kenangan masa mudanya sendiri.
Suasana semakin khidmat ketika pendeta memasuki altar. Cahaya dari kaca patri di atas kepala memancarkan warna-warna indah, biru, merah, dan emas yang jatuh di lantai seperti lukisan hidup. Bau dupa tipis bercampur dengan aroma bunga, menciptakan atmosfer yang sakral sekaligus hangat.
Di ruang persiapan, Mia berdiri. Gaunnya sedikit berdesir saat ia bergerak. Sahabatnya, Nova, merapikan sedikit kerutan di ujung gaun.
“Siap?” tanya Nova sambil memegang buket bunga mawar putih dan baby’s breath.
Mia mengangguk. “Siap. Aku sudah lama menunggu momen ini bersama Rian" jawab Mia.
Ia teringat kembali momen itu. Dua tahun yang lalu, di bawah langit senja yang berwarna oranye keunguan, Rian berlutut di pasir pantai sambil memegang cincin sederhana. Suaranya gemetar, tapi matanya penuh keyakinan. “Mia, aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu. Maukah kau menikah denganku?”
Dan sekarang, hari itu telah tiba.
Pintu gereja terbuka pelan. Musik organ berubah menjadi lagu pernikahan klasik yang sudah mereka pilih bersama. Semua tamu berdiri. Kepala mereka menoleh ke belakang, menunggu sosok yang akan berjalan menyusuri lorong.
Rian sudah berdiri di depan altar, tangan digenggam erat di depan dada. Jantungnya berdegup semakin kencang. Ketika pandangan matanya menangkap Mia yang muncul di ujung lorong, waktu seolah berhenti sejenak.
Mia berjalan pelan, digandeng oleh ayahnya. Setiap langkahnya diiringi oleh suara organ yang merdu dan tatapan penuh kasih dari orang-orang yang mereka sayangi. Senyum Mia lembut, tapi matanya hanya tertuju pada sosok Rian yang sudah berdiri di atas altar.
Ketika mereka sampai di depan altar, ayah Mia melepaskan genggaman tangannya dan menyerahkan Mia kepada Rian.
Rian menerima tangan itu dengan lembut, jari-jarinya sedikit gemetar.“Kamu cantik sekali hari ini,” bisik Rian pelan, hanya didengar Mia.
Mia tersenyum. “Kamu juga tampan. Aku senang akhirnya kita di sini.”
Pendeta mulai berbicara dengan suara yang tenang dan penuh makna. Ia berbicara tentang cinta, tentang komitmen, tentang perjalanan dua jiwa yang memilih untuk berjalan bersama melewati suka dan duka. Tamu-tamu mendengarkan dengan khidmat. Beberapa di antara mereka mengusap air mata.
Ketika tiba saatnya mengucapkan janji, suara Rian sedikit serak, tapi jelas.
“Aku, Rian, menerima engkau, Mia, menjadi istriku. Aku berjanji untuk mencintaimu dalam suka dan duka, dalam kesehatan dan sakit, dan setia kepadamu sepanjang hidupku.”
Mia menatapnya dalam-dalam. Air matanya jatuh perlahan di pipi, tapi senyumnya tetap ada.
“Aku, Mia, menerima engkau, Rian, menjadi suamiku. Aku berjanji untuk mencintaimu dalam suka dan duka, dalam kesehatan dan sakit, dan setia kepadamu sepanjang hidupku.”
Cincin emas sederhana yang mereka pilih bersama akhirnya dikenakan di jari masing-masing. Di luar, lonceng gereja berdentang pelan, seolah memberi restu.
Ketika pendeta mengucapkan, “Dengan ini aku menyatakan kalian sebagai suami istri. Kalian boleh saling mencium,” Rian menarik Mia mendekat dan menciumnya dengan lembut di bibir. Tepuk tangan dan sorak-sorai memenuhi seluruh ruangan. Beberapa tamu berdiri, mengabadikan momen itu dengan kamera.
Mia dan Rian saling memandang, tangan masih bergandengan erat. Di mata mereka, bukan hanya kebahagiaan hari ini yang terlihat, tetapi juga harapan akan hari-hari panjang yang akan mereka lalui bersama, pagi yang tenang, malam yang penuh tawa, dan segala tantangan yang akan mereka hadapi berdua.
Di luar gereja, langit masih cerah. Angin sepoi-sepoi menggerakkan dedaunan. Tamu-tamu mulai berhamburan keluar, siap melempar beras dan bunga melati sebagai tanda doa dan restu. Mia dan Rian berdiri di ambang pintu, siap melangkah menuju babak baru kehidupan mereka.
Hari yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba. Dan kisah mereka baru saja dimulai.
THOR BUAT YG HAJAR MIA DI JEBLOSKAN PENJARA TANPA ADA NEGOSIASI BIAR IPAR DAN MANTAN MERTUA TAU ARTINYA K.A.R.M.A😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈
kl masih bertahan ya goblok saja jd wanita. dah di pukul juga kn, foto trus lapor kan polisi lo.