Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 LAPTOP YANG TIDAK PERNAH KEMBALI
Pesan perpisahan itu dikirim melalui laptop milik Kaluna. Masalahnya, laptop tersebut sudah tidak berada di ruangannya ketika pesan dikirim.
Tiga hari sebelum kecelakaan, perangkat berkode KA-OFFICE-02 dipindahkan ke Sekretariat Ketua Dewan dengan alasan sinkronisasi data rapat direksi.
Setelah itu, jejaknya berhenti.
Pagi itu, Kaluna datang ke kantor pusat Mahardika Medika bersama Naren dan Salindri. Arsen telah memberi izin tertulis agar mereka memeriksa riwayat inventaris perangkat. Izin itu hanya berlaku untuk dokumen yang berhubungan dengan laptop Kaluna, tetapi setidaknya mereka tidak perlu berdebat dengan petugas di setiap lantai.
Bagian teknologi informasi berada di lantai lima. Ruangan itu dipenuhi meja panjang dan monitor ganda. Lemari perangkat berjajar di belakang. Suara pendingin udara terdengar lebih keras daripada di lantai lain.
Kepala bagian itu bernama Raka Pradipta. Lelaki itu tampak tidak nyaman sejak membaca kode perangkat yang mereka bawa.
“Laptop ini sudah lama tidak aktif,” katanya.
“Tidak aktif atau hilang?” tanya Kaluna.
Raka membuka sistem inventaris di komputernya.
“Status terakhirnya pemindahan sementara.”
“Pemindahan sementara selama tiga tahun?”
Raka tidak menjawab.
Naren berdiri di samping meja sambil memperhatikan layar.
“Buka seluruh riwayat perangkat.”
Raka menoleh kepada Arsen yang ikut hadir pagi itu.
Arsen mengangguk. “Tampilkan.”
Raka membuka halaman lain. Riwayat laptop dimulai sejak perangkat dibeli. Awalnya digunakan sebagai laptop perjalanan Kaluna untuk rapat di luar kantor, kunjungan cabang, dan pemeriksaan lokasi.
Dua bulan sebelum kecelakaan, perangkat sempat masuk untuk penggantian baterai. Kemudian, tiga hari sebelum kecelakaan, laptop kembali masuk dengan alasan pembaruan keamanan dan sinkronisasi data.
“Siapa yang membawa laptop ke sini?” tanya Salindri.
Raka membuka formulir digital.
“Persetujuannya atas nama Ibu Kaluna.”
“Aku tidak ingat menyerahkan laptop itu.”
“Formulir diajukan dari akun direksi.”
“Seperti dokumen lain yang memakai namaku,” kata Kaluna.
Raka tidak menanggapi.
“Setelah pembaruan selesai, siapa yang mengambil?” tanya Naren.
“Perangkat tidak diambil oleh pemilik.”
“Lalu?”
“Dipindahkan ke Sekretariat Ketua Dewan untuk sinkronisasi berkas rapat.”
“Siapa yang memintanya?”
Raka menggulir layar.
“Permintaan masuk melalui tiket internal.”
“Nama peminta?”
Kolom itu kosong.
Kaluna mendekat. “Kenapa kosong?”
“Sistem lama memungkinkan permintaan dibuat melalui akun unit. Nama individu tidak selalu muncul.”
“Jadi siapa pun yang punya akses ke akun sekretariat bisa meminta laptopku?”
“Secara teknis... iya.”
Arsen menumpukan kedua tangannya di tepi meja.
“Siapa yang membawa perangkat dari lantai ini?”
Raka membuka dokumen serah terima. Sebuah formulir muncul di layar. Terdapat tanggal, waktu, kode perangkat, dan tujuan pemindahan. Bagian penerima tampak kosong. Di bawahnya masih tersisa nomor pegawai.
“Nama penerima dihapus,” kata Naren.
Raka menggeleng. “Bisa juga gagal terbaca saat migrasi sistem.”
“Kolom lain terbaca jelas,” jawab Naren.
Salindri memperbesar tampilan. Bekas huruf masih tampak samar di bagian nama, tetapi tulisannya terlalu kabur untuk dibaca. Isinya seperti pernah dihapus sebelum data lama dipindahkan.
“Nomor pegawainya masih ada,” kata Kaluna.
Raka melihat deretan angka tersebut.
“Nomor itu bisa ditelusuri?”
“Seharusnya.”
“Lakukan.”
Raka memasukkan nomor itu ke basis data pegawai. Tidak ada hasil.
“Kenapa?” tanya Arsen.
“Mungkin pegawai kontrak.”
“Cari arsip lama.”
Raka membuka sistem lain yang menyimpan data pegawai tidak aktif. Kali ini pencarian membutuhkan waktu lebih lama.
Sambil menunggu, perhatian Kaluna beralih ke lemari penyimpanan perangkat di belakang ruangan. Puluhan laptop lama tersusun dalam rak. Beberapa sudah diberi label rusak atau menunggu penghapusan aset.
“Apakah KA-OFFICE-02 pernah dikembalikan ke sini?” tanyanya.
Raka menggeleng. “Tidak ada catatan pengembalian.”
“Dinyatakan hilang?”
“Tidak.”
“Dihapus dari inventaris?”
“Juga tidak.”
“Jadi selama tiga tahun laptop ini tidak pernah kembali, dan tidak ada yang mencarinya?”
Raka terlihat semakin tidak nyaman.
“Perangkat direksi kadang berada di unit lain untuk waktu lama.”
“Tiga tahun?”
“Tidak biasanya.”
“Apakah ada pemeriksaan setelah aku dinyatakan meninggal?”
Arsen menoleh kepada Raka. Raka memeriksa beberapa catatan.
“Ada permintaan daftar aset milik Ibu Kaluna.”
“Siapa yang meminta?” tanya Salindri.
“Bagian legal perusahaan.”
“Apakah laptop ini termasuk?”
“Iya.”
“Lalu?”
“Statusnya ditulis berada dalam proses pemindahan.”
“Tidak ada yang bertanya kenapa belum dikembalikan?”
Raka menggeleng pelan.
Kaluna berpaling kepada Arsen.
“Bagian legal memeriksa barang-barangku, tetapi laptop yang berisi akun dan data pribadiku dibiarkan berada di sekretariat dewan.”
“Aku tidak menerima daftar itu secara langsung,” kata Arsen.
“Tentu.”
“Kaluna.”
“Aku mulai lihat polanya. Setiap kali ada sesuatu yang penting, kamu tidak menerima dokumennya, tidak hadir, atau tidak memeriksa.”
Arsen tidak membalas.
Komputer Raka mengeluarkan bunyi pendek. Data nomor pegawai itu akhirnya muncul. Halaman tersebut hanya menampilkan keterangan terbatas.
Jenis pegawai: kontrak.
Unit penempatan: layanan administrasi dewan.
Status: tidak aktif.
Nama pegawai tidak muncul.
“Kenapa namanya tetap tidak ada?” tanya Kaluna.
Raka membuka detail arsip.
“Data personalnya sudah dihapus dari sistem aktif.”
“Pegawai yang sudah keluar tetap ada arsipnya,” kata Arsen.
“Seharusnya begitu.”
“Seharusnya?”
Raka memeriksa beberapa menu.
“Dokumen kepegawaiannya dipindahkan ke arsip sumber daya manusia. Di sini hanya tersisa nomor dan unit.”
“Hubungi sumber daya manusia,” kata Kaluna.
Raka melirik jam. “Saya bisa mengajukan permintaan.”
“Jangan ajukan dulu. Telepon sekarang.”
Salindri menyentuh lengan Kaluna pelan.
“Kita tetap membutuhkan prosedur agar datanya bisa dipakai.”
Kaluna menahan rasa kesal. Raka menelepon bagian sumber daya manusia. Ia menyebut nomor pegawai itu dan meminta identitas lamanya dicari. Jawaban dari seberang membuat Raka terdiam.
“Apa?” tanya Arsen.
Raka menutup mikrofon telepon.
“Nomor pegawai itu ternyata pernah dipakai dua orang.”
“Bagaimana bisa?”
“Sistem kontrak lama mendaur ulang nomor setelah pegawai keluar.”
“Pegawai mana yang aktif saat laptop dipindahkan?” tanya Naren.
Raka kembali berbicara dengan petugas sumber daya manusia. Beberapa menit kemudian, sebuah surel masuk.
Surel itu memuat dua nama.
Pegawai pertama keluar dua tahun sebelum kecelakaan Kaluna. Artinya, bukan dia yang menerima laptop.
Pegawai kedua mulai bekerja tujuh bulan sebelum kecelakaan dan berhenti sebelas hari setelah mobil Kaluna jatuh ke sungai.
Kaluna belum pernah mendengar nama itu.
Damar Wicaksana.
“Posisinya?” tanya Salindri.
“Staf kontrak administrasi,” jawab Raka. “Ditempatkan melalui perusahaan penyedia tenaga kerja.”
“Perusahaan apa?”
Raka membaca data pada layar.
“Prima Karya Solusi.”
Naren langsung mencatat.
“Masih menjadi rekanan Mahardika?” tanyanya.
“Tidak. Kontraknya berakhir dua tahun lalu.”
Kaluna kembali ke foto pegawai yang muncul di berkas. Seorang lelaki di akhir dua puluhan dengan wajah biasa. Wajah itu tidak terasa familiar.
“Apakah dia orang yang disebut Bayu?” tanya Kaluna.
“Namanya Damar,” jawab Salindri.
“Bisa memakai nama lain.”
“Bisa juga tidak ada hubungannya.”
Kaluna memperhatikan foto itu lagi.
“Cetak.”
Sebelum mencetak dokumen, Raka meminta izin Arsen. Ia mengangguk.
Naren mengambil gambar tersebut dan mengirimkannya kepada pengemudi yang pernah mengantar dua pria ke sekolah Elara. Naren juga akan menunjukkan foto itu kepada Veyra untuk memastikan apakah Damar adalah orang yang mengambil paket rekening.
“Alamat terakhir?” tanya Kaluna.
Raka membuka berkas.
“Tidak tercantum di sistem teknologi informasi.”
“Bagian sumber daya manusia punya?”
“Mereka sedang mencarinya.”
Salindri menunjuk riwayat perangkat.
“Kita belum selesai dengan laptop. Setelah dibawa Damar dari bagian ini, ada catatan berikutnya?”
Raka menggulir ke bawah.
“Tiga jam setelah serah terima, perangkat terhubung ke jaringan Sekretariat Ketua Dewan.”
“Itu sesuai lokasi pemindahan,” kata Arsen.
“Bagaimana dengan malam saat pesan dikirim?” tanya Naren.
Raka membuka log jaringan lama.
Data tidak lengkap. Banyak catatan sudah dihapus otomatis karena usia penyimpanan. Beberapa jejak masih tersimpan dalam arsip keamanan.
Laptop tersebut kembali terhubung ke jaringan selama empat puluh tiga menit pada malam pesan dikirim kepada Veyra.
Waktu masuk jaringan pukul sebelas lewat tiga puluh delapan.
Pesan dikirim pukul sebelas lewat empat puluh tujuh.
“Bisa tahu akun yang masuk ke laptop?” tanya Kaluna.
Raka mencari data pengguna.
“Perangkat menggunakan akun lokal.”
“Nama akunnya?”
“Admin-KA.”
“Itu akun milikku?”
“Bukan akun pribadi. Akun administrasi dibuat untuk pemulihan atau pembaruan.”
“Siapa yang tahu kata sandinya?”
“Tim teknologi informasi yang menangani perangkat.”
“Dan sekretariat dewan?”
“Kalau kata sandinya ikut diberikan waktu serah terima, bisa saja.”
“Apakah biasanya diberikan?”
“Seharusnya tidak.”
Kaluna menoleh kepada Raka.
“Tapi kali ini?”
Raka membuka dokumen serah terima. Di bagian catatan tambahan terdapat satu kalimat:
Akses sementara diberikan untuk keperluan sinkronisasi rapat.
“Berarti mereka sempat tahu kata sandinya?” kata Naren.
Raka mengangguk pelan.
Laptop Kaluna berada di ruang sekretariat dewan. Akun pesannya masih tertaut. Tidak perlu masuk lagi untuk mengirim pesan.
“Setelah malam itu, laptop digunakan lagi?” tanya Salindri.
Raka menelusuri log berikutnya.
“Ada satu sambungan pagi hari setelah kecelakaan.”
Kaluna mengangkat wajah.
“Untuk apa?”
“Tidak ada rincian aplikasi. Hanya tercatat perangkat terhubung ke jaringan internal selama tujuh belas menit.”
“Kemudian?”
“Keluar dari jaringan.”
“Tidak pernah kembali?”
“Tidak.”
“Apakah perangkat dibawa keluar gedung?”
Raka membuka sistem akses barang. Awalnya tidak ada hasil. Kemudian ia mencari berdasarkan nomor seri laptop, bukan kode inventaris.
Sebuah surat tugas muncul.
Tanggalnya dua hari setelah kecelakaan. Tujuannya tercatat sebagai pemeriksaan data di lokasi luar kantor.
Perangkat dibawa keluar melalui gerbang parkir bawah tanah.
“Siapa yang menandatangani surat tugas?” tanya Arsen.
Raka membuka dokumen hasil pindai. Nama penanggung jawab di bagian atas telah dihapus. Nomor pegawai penerima masih tercantum.
Nomornya sama dengan nomor Damar Wicaksana.
“Dia membawa laptop keluar gedung,” kata Kaluna.
“Kalau saat itu nomor tersebut memang masih dipakai Damar,” jawab Salindri.
“Dua hari setelah kecelakaanku. Berarti pesannya sudah terkirim saat itu.”
Naren menunjuk kolom kendaraan.
“Ada nomor mobil.”
Raka memperbesar formulir. Nomor kendaraan tercatat sebagai mobil operasional perusahaan penyedia tenaga administrasi.
“Prima Karya Solusi,” kata Naren.
Kaluna kembali ke foto Damar di tangannya.
Pegawai kontrak itu menerima laptop. Laptop tersebut digunakan untuk mengirim pesan. Dua hari setelah Kaluna jatuh ke sungai, Damar membawa perangkat itu keluar dari gedung dan tidak pernah mengembalikannya.
Telepon Naren bergetar.
Ia membaca balasan dari pengemudi kendaraan yang pernah berada di sekolah Elara.
“Dia tidak mengenali Damar,” katanya.
Kaluna tidak terlalu terkejut.
Ancaman kepada Elara baru terjadi tiga tahun setelah Damar keluar dari perusahaan.
“Orangnya bisa saja berbeda,” kata Salindri.
Pesan berikutnya datang dari Veyra. Naren memperlihatkan layar kepada Kaluna.
Orang di foto bukan orang yang mengambil paket dari rumah.
Kaluna kembali ke foto Damar.
“Berarti dia bukan Bayu.”
“Begitu kata Veyra,” kata Salindri.
Arsen meminta bagian keamanan mencari rekaman lama dari gerbang parkir, tetapi Raka menjelaskan bahwa rekaman tiga tahun lalu sudah tidak tersedia. Mereka hanya memiliki surat tugas, nomor kendaraan, dan identitas pegawai kontrak.
“Cari alamat Damar,” kata Kaluna.
Salindri mengangguk.
“Kita akan meminta data resmi dari perusahaan penyedia tenaga kerja.”
“Kalau perusahaan itu sudah tidak menjadi rekanan?”
“Arsip pegawai tetap harus ada.”
Arsen melihat dokumen surat tugas sekali lagi.
“Kenapa nama penanggung jawabnya dihapus?”
Kaluna mengalihkan pandangan kepadanya.
“Mungkin justru nama itu yang harus kita cari.”
Arsen tidak membantah.
Sebelum meninggalkan ruang teknologi informasi, Raka menyerahkan salinan seluruh riwayat perangkat.
Kaluna berdiri di depan pintu, lalu berhenti.
“Ada kemungkinan laptop itu masih aktif?”
“Kalau belum rusak dan pernah terhubung ke internet, mungkin.”
“Bisa dilacak?”
“Bukan setelah tiga tahun, kecuali perangkat masih memakai sistem pengelolaan perusahaan.”
“Apakah sistemnya pernah dihapus?”
Raka membuka satu catatan terakhir.
Perangkat tersebut dikeluarkan dari sistem pengelolaan jarak jauh pada hari yang sama ketika dibawa keluar gedung.
“Siapa yang menghapusnya?”
“Permintaan datang dari Sekretariat Ketua Dewan.”
Nama peminta kembali kosong.
Kaluna tidak merasa terkejut lagi.
Semua jejak berhenti di tempat yang sama: kantor ketua dewan. Setiap nama yang seharusnya menunjukkan siapa pemberi perintah telah dihapus. Yang tersisa hanya nama-nama di bawahnya: Revan, Dian, Damar, dan Bayu, yang bahkan belum diketahui nama sebenarnya.
Saat mereka keluar dari ruangan, telepon Salindri menerima surel dari bagian sumber daya manusia.
Alamat terakhir Damar telah ditemukan, tetapi ada catatan di bawahnya.
Sebelas hari setelah kecelakaan Kaluna, Damar berhenti datang dan tidak pernah menyelesaikan proses pengunduran dirinya.
Perusahaan penyedia tenaga kerja tidak pernah menerima kabar darinya setelah hari itu. Gaji terakhirnya tidak diambil. Nomor teleponnya tidak aktif. Alamat tempat tinggalnya sudah kosong ketika didatangi petugas.
Damar menghilang.
Kaluna kembali ke foto pegawai itu.
Laptop itu tidak pernah kembali ke perusahaan. Damar juga tidak pernah muncul lagi.