hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍
Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?
Itulah yang terjadi sama Ema.
Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.
Tapi ternyata, Ema salah besar.
Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.
Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.
Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 3
"Kau mau ke mana?" tanya Damian dari sofa dengan tatapan dingin yang mengikuti pergerakan Emma.
" Tidur. Memangnya kau pikir aku harus melayani semua kebutuhanmu layaknya seorang istri yang sempurna?" Emma menjawab santai tanpa repot-repot menoleh. Ia sibuk menunduk sambil melepaskan sepatu hak tingginya satu per satu. "Kalau kau menginginkan pelayanan seperti itu, sewa saja perempuan di luar sana. Banyak, kok."
Damian mengangkat sebelah alisnya. Rupanya, perempuan yang baru beberapa jam resmi menjadi istrinya itu benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menjaga ucapan di hadapannya.
Namun, Emma sama sekali tidak peduli. Setelah berhasil melepaskan kedua sepatu hak tingginya, ia melangkah menuju tempat tidur dengan santai.
Akan tetapi, langkahnya mendadak terhenti.
Kedua matanya membulat ketika mendapati Damian sudah berbaring nyaman di atas ranjang. Padahal, beberapa detik yang lalu laki-laki itu masih duduk di sofa.
Emma berkedip beberapa kali, memastikan bahwa penglihatannya tidak sedang bermasalah.
"Astaga! Sejak kapan kau pindah ke sana?" serunya spontan.
Damian meliriknya sekilas sebelum kembali mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Siapa yang meminta kau melayaniku?" balas Damian datar. "Aku hanya menyuruhmu tidur di sofa. Aku tidak suka tidur bersebelahan dengan orang asing."
Emma terdiam selama beberapa detik.
Orang asing?
Laki-laki itu benar-benar menyebutnya orang asing, padahal mereka baru saja menikah!
"KAU GILA, YA?!" bentak Emma sambil menunjuk Damian tak percaya. "Kamar ini lebar banget, ranjangnya juga besar! Kenapa aku harus tidur di sofa? Kau pikir aku ini barang yang bisa kau letakkan sembarangan?"
Damian sama sekali tak terpengaruh oleh teriakannya. Ia bahkan terlihat terlalu santai untuk seseorang yang baru saja dimarahi oleh istrinya sendiri.
"Ini kamarku, dan aku yang berkuasa di sini," jawabnya tenang. "Kau hanya punya dua pilihan. Tidur di sofa atau keluar dari kamar ini."
Setelah mengatakan itu, Damian membalikkan tubuhnya, membelakangi.
Emma menatap punggung laki-laki itu Ingin rasanya untuk menarik bantal yang berada di dekat kepala Damian dan melemparkannya tepat ke wajah menyebalkannya.
"Isy, dasar pelit" gerutunya kesal.
Ia berjalan mondar-mandir sebentar sambil sesekali melirik ranjang yang begitu luas. Sungguh tidak masuk akal. Tempat tidur sebesar itu bahkan cukup untuk beberapa orang, tetapi suaminya malah menyuruhnya tidur di sofa.
"Pelit! Suami pelit!" cibir Emma dengan sengaja mengeraskan suaranya. "Ranjang segede lapangan, tetapi tidak rela berbagi sedikit saja. Memangnya kasurnya bisa berkurang kalau aku tidur di situ?"
Damian tidak menjawab.
"Dasar batu! Dingin, menyebalkan, pelit pula. Lengkap sekali penderitaanku malam ini."
"Matikan lampunya," perintah Damian tiba-tiba.
Emma yang sedang sibuk mengomel langsung menoleh ke arahnya.
"Hah?"
"Matikan lampunya," ulang Damian dengan suara lebih tegas.
Emma memandang sakelar di dekat pintu, kemudian kembali menatap laki-laki yang masih berbaring membelakanginya itu.
"Kau punya kaki, Damian."
"Kau juga punya kaki," balas Damian tanpa sedikit pun merasa bersalah. "Jadi, lakukan apa yang kuperintahkan, Emma."
Emma membuka mulutnya, hendak membalas ucapan itu. Namun, sebelum ia sempat mengeluarkan satu kata pun, Damian kembali berbicara.
"Dan dengarkan baik-baik." Kali ini, nada suaranya berubah lebih rendah. "Jangan pernah mencoba naik ke tempat tidurku tanpa izinku."
Emma memutar bola matanya dengan malas.
"Memangnya aku sebegitu menginginkan tempat tidurmu? Jangan terlalu percaya diri, Tuan Damian."
Damian perlahan menoleh. Tatapannya yang tajam langsung membuat Emma menghentikan gerakan bibirnya, meskipun ia berusaha keras untuk tidak terlihat gentar.
"Aku tidak sedang bercanda," tegas Damian
"Ada pistol yang kusimpan di beberapa tempat di rumah ini," lanjutnya dingin. "Jadi, kalau kau tidak ingin membuat masalah untuk dirimu sendiri, ikuti aturan yang sudah kuberikan."
"Ya ampun, memangnya aku maling?" protesnya sambil berkacak pinggang. "Baru juga menikah beberapa jam, kau sudah mengancamku dengan pistol. Kau pikir aku ini musuh bebuyutanmu?"
"Kalau kau sudah selesai mengoceh, matikan lampunya."
Emma mengatupkan bibir rapat-rapat. Ia benar-benar ingin melemparkan sesuatu ke arah laki-laki itu, tetapi sayangnya, ia masih cukup waras untuk tidak mencari masalah pada malam pertamanya di rumah asing.
"Baiklah! Semoga kau mimpi dikejar-kejar hantu malam ini!" gerutunya sambil berjalan menuju sakelar.
Sebelum mematikan lampu, Emma sempat menoleh sekali lagi ke arah Damian."Dan semoga besok kasur kesayanganmu itu berubah jadi batu!" tambahnya kesal.
Klik!
Ruangan itu seketika menjadi gelap.
Emma berjalan meraba-raba menuju sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya di sana dengan kasar. Ia menarik bantal dan memeluknya erat-erat, sementara matanya menatap langit-langit kamar yang nyaris tidak terlihat.
"Suami macam apa itu? Menikah denganku atau mengadopsi musuh?" bisiknya kesal.
Dari atas ranjang, suara Damian terdengar dingin memecah keheningan.
"Aku masih bisa mendengarmu, Emma."
Emma langsung membekap mulutnya dengan bantal.Beberapa detik kemudian, ia menyingkirkan bantal itu dan berbisik dengan suara yang sengaja dipelankan.
"Bagus. Berarti pendengaranmu masih normal. Kukira kau cuma punya hati batu."
Tidak ada jawaban dari Damian.Emma tersenyum puas dalam kegelapan Namun, senyumnya perlahan menghilang ketika ia mencoba mencari posisi tidur yang nyaman di sofa Punggungnya terasa pegal bahkan sebelum ia benar-benar memejamkan mata.
Sementara itu, Damian sudah kembali memunggunginya, Emma menarik selimut tipis yang tersedia di sofa hingga menutupi tubuhnya.
"Sial. Kalau begini caranya, aku harus mencari cara supaya laki-laki itu menyesal sudah menyuruhku tidur di sini," gumamnya penuh tekad.
Malam itu,Pernikahan mereka mungkin dimulai dengan ancaman dan aturan yang menyebalkan, tetapi Emma bukan perempuan yang akan diam hanya karena seseorang merasa dirinya paling berkuasa.
Terlebih lagi, laki-laki bernama Damian itu sekarang adalah suaminya sendiri Dan kalau Damian berpikir ia bisa mengatur seluruh hidup Emma sesuka hatinya, laki-laki itu jelas belum mengenal siapa Emma sebenarnya.
Belum sempat Emma benar-benar memejamkan mata, ia merasakan sesuatu yang aneh.
Suara endus-endus terdengar samar di dekatnya. Awalnya, Emma mengira itu hanya suara angin yang menyelinap melalui celah jendela. Namun, semakin lama, suara itu justru terdengar semakin dekat.
Sangat dekat.
Bahkan, Emma bisa merasakan embusan napas seseorang menyentuh lehernya.
Keningnya berkerut. Ia yang tadinya sudah nyaman memeluk bantal sontak menegang ketika merasakan sesuatu bergerak di sampingnya.
"Siapa, sih?" gerutunya malas sambil membuka mata. "Ganggu orang tidur aja."
Namun, begitu menoleh ke samping, Emma langsung membeku.
Dua bola mata merah menyala menatapnya dalam kegelapan. Sepasang taring tajam terlihat jelas dari mulut seseorang yang kini berada begitu dekat dengan lehernya.
Emma terdiam selama dua detik.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu—
"AAAAAAAHHHH!"
Jeritan Emma membelah keheningan kamar.
Ia langsung bangkit dari sofa hingga hampir terjatuh karena kakinya tersangkut selimut. Dengan wajah pucat dan mata membelalak, Emma buru-buru menjauh dari sosok mengerikan yang berada di hadapannya.
"ASTAGA! APAAN ITU?!" pekiknya panik sambil menunjuk wajah orang tersebut dengan tangan gemetar. "SETAN?! HANTU?! VAMPIR?! YA TUHAN, AKU BELUM SIAP MATI!"
"Emma! Tolong aku!" teriak sosok itu dengan suara tertahan.
Emma yang sudah bersiap kabur mendadak menghentikan langkahnya.
Tunggu.
Suara itu terdengar familier.
Sangat familier.
Sosok bermata merah itu memegangi kepalanya sendiri. Tubuhnya terlihat menegang, sementara napasnya terdengar semakin berat. Ia berusaha menjauh dari Emma, tetapi seolah ada sesuatu yang terus menariknya kembali ke arah perempuan itu.
"Tolong aku, cepat!" serunya lagi dengan nada mendesak. "Sebelum aku kehilangan kendali dan mengisap darahmu!"
Mata Emma semakin membulat.
"M-MENGISAP DARAHKU?!" ulangnya nyaris menjerit. "KAU BILANG APA TADI?!"
"Sialan!" umpat sosok itu sambil mencengkeram sisi sofa. "Cepat lakukan sesuatu! Ini sakit!"
Emma menatapnya dengan wajah campuran antara takut, bingung, dan tidak percaya.
Bagaimana mungkin orang yang beberapa jam lalu mengancamnya dengan pistol sekarang justru meminta pertolongan sambil memperlihatkan taring seperti monster dalam film?
Emma menelan ludah susah payah.
"T-tolong apa? Aku harus melakukan apa?!" tanyanya terbata-bata sambil mundur selangkah. "Kau mau darahku? Memangnya aku ini kantong darah berjalan?!"
"Stok darahku!" jawab sosok itu dengan suara bergetar menahan rasa sakit. "Aku butuh stok darah!"
Emma melongo.
"Stok darah?" ulangnya dengan suara kecil.
Ia menatap sosok itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Rambut hitam, wajah yang sangat dikenalnya, serta suara dingin yang sejak tadi terus memerintahnya.
Perlahan, Emma mulai menyadari sesuatu.
"J-jangan bilang...."
Sosok itu mengangkat wajahnya. Sepasang mata merahnya kembali menatap Emma dengan sorot yang sulit dijelaskan.
"Emma, cepat!"
"D-Damian?"
"Ya, aku Damian!" bentaknya frustrasi. "Memangnya kau pikir siapa?!"
Emma spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"YA TUHAN!"
Ia kembali menjerit, kali ini lebih keras daripada sebelumnya.
"K-KAU VAMPIR?! SUAMIKU VAMPIR?!"
"Jangan berteriak!" bentak Damian sambil memejamkan mata rapat-rapat. "Kau membuat kepalaku semakin sakit!"
"KAU MENYURUH AKU JANGAN BERTERIAK SETELAH MENUNJUKKAN TARING DI DEPAN MUKAKU?!" balas Emma tidak terima. "KAU PIKIR AKU BISA TENANG MELIHAT SUAMIKU BERUBAH JADI MONSTER?!"
"Aku tidak berubah menjadi monster!"
"LALU ITU APA? GIGI KELINCI?!"
Damian menatapnya tajam, tetapi kemarahan itu hanya bertahan sesaat sebelum ia kembali meringis kesakitan.
"Emma, kumohon...." Suaranya mendadak melemah. Ia menundukkan kepala sambil berusaha mengatur napasnya. "Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi."
Mendengar perubahan nada suaranya, Emma akhirnya terdiam.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia melihat Damian benar-benar kesakitan. Laki-laki yang sejak tadi bersikap seolah bisa mengendalikan segalanya kini bahkan kesulitan berdiri tegak.
Namun, rasa iba itu tidak serta-merta menghilangkan ketakutannya.
"T-tapi aku harus melakukan apa?" tanyanya hati-hati. "Aku harus menelepon dokter? Memanggil ambulans? Atau menelepon pemburu vampir?!"
"Pemburu vampir apanya?!" Damian membalas kesal.
"YA MANA AKU TAHU! AKU BARU TAHU SUAMIKU VAMPIR LIMA MENIT YANG LALU!"
Damian mengembuskan napas berat, lalu menyandarkan tubuhnya pada sofa. Jemarinya mencengkeram kain sofa kuat-kuat, ia sedang berusaha menahan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada yang bisa Emma bayangkan.
"Di lemari sebelah kanan," katanya terbata-bata. "Ada kotak hitam. Ambilkan untukku."
Emma menatapnya curiga.
"Kotak hitam?"
"Ya."
"Isinya apa?"
"Stok darahku!"
Emma langsung menggeleng kuat-kuat.
"Enggak! Enggak, enggak, enggak! Aku tidak mau membuka lemari yang isinya darah manusia!"
"Emma!"
"Apa?!"
"Ambilkan sekarang!"
Emma hampir saja membalas, tetapi sorot mata Damian membuatnya mengurungkan niat. Ia berlari kecil menuju lemari yang ditunjuk, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan suaminya tidak tiba-tiba menerjangnya.
Dengan tangan gemetar, Emma membuka pintu lemari itu Benar saja, sebuah kotak hitam tersimpan di dalamnya Ia mengambil kotak tersebut, lalu membukanya sedikit.
Begitu melihat beberapa kantong berisi cairan merah di dalamnya, Emma langsung menutup kotak itu kembali.
"YA AMPUN! DARAH BENERAN!"
"Emma, berikan kepadaku!" desak Damian dari sofa.
Emma berjalan mendekat dengan langkah ragu-ragu. Ia mengulurkan kotak itu sejauh mungkin dari tubuhnya, seolah benda tersebut bisa menggigitnya kapan saja.
"Nih! Ambil sendiri! Dan setelah ini, kau harus menjelaskan semuanya kepadaku!" katanya cepat. "Dari mana kau mendapatkan darah sebanyak itu? Kenapa matamu merah? Kenapa gigimu seperti itu? Dan yang paling penting, APAKAH KAU SELAMA INI MEMAKAN MANUSIA?!"
Damian mengambil kotak tersebut dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
"Diamlah sebentar," gumamnya sebelum kembali menunduk.
Emma buru-buru mundur hingga punggungnya menempel pada dinding. Kedua tangannya memeluk tubuh sendiri, sementara matanya tidak pernah lepas dari Damian.
Beberapa saat kemudian, ia memberanikan diri bertanya dengan suara lirih.
"Damian...."
Laki-laki itu tidak menjawab.
"Kau benar-benar vampir?"
Kali ini, Damian mengangkat wajahnya.
Mata merah itu masih menatapnya dalam kegelapan.
"Ya," jawabnya singkat.
Emma merasa seolah seluruh isi kepalanya mendadak kosong Ia baru menikah beberapa jam. Ia bahkan belum sempat menikmati malam pertamanya dengan tenang, dan sekarang ia harus menerima kenyataan bahwa suaminya bukan manusia biasa.
Perlahan, Emma menoleh ke arah pintu kamar.
Kemudian, ia kembali menatap Damian.
"Kalau begitu...." Ia menelan ludah, lalu menunjuk pintu dengan tangan gemetar. "Aku boleh pulang ke rumah ayah, kan?"
Damian terdiam sejenak.
Lalu, dengan wajah datar yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah, ia menjawab, "Tidak."
hanya itu kemudian damian melangkahkan kakinya menuju ke atas ranjangnya, cuman kali ini ia tidak membelakangi Emma.
Emma memejamkan mata rapat-rapat.
"YA TUHAN, KENAPA AKU MENIKAH DENGAN VAMPIR PELIT?!"
“Ta-tapi, dia tampan juga, ternyata,” gumam Emma sambil mengintip Damian dari balik sofa. Rasa takutnya perlahan bercampur dengan kekaguman saat melihat wajah suaminya yang begitu sempurna.
“Ya Tuhan, baru sadar ternyata suamiku setampan itu,” bisiknya sambil memegangi pipinya sendiri.
Namun, detik berikutnya, Emma langsung menggelengkan kepala.
“Eh, sadar, Emma! Dia itu vampir, amit amit sekarang waspada saja okey Emma jangan sampai kau terbangun di surga !” gumamnya, berusaha menyadarkan diri sendiri.
"diam Emma tidur " ucap Damian suara nya Masi sama masih kesakitan namun masih bisa di tahan Damian.
eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭