NovelToon NovelToon
Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: HaLiAs

Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kertas Formulir 3

‎   Ratusan kilometer dari ketegangan di rumah sakit Depok, sebuah bus ekonomi berasap hitam merayap memasuki gapura pembatas Kota J.

‎

‎Reza terbangun dari tidurnya saat bus mengerem mendadak. Ia mengusap matanya, menatap keluar jendela. Papan reklame usang dan deretan ruko yang familiar menyambut pandangannya. Jantung Reza yang tadinya tenang selama tidur kini berdegup kencang layaknya genderang drum *marching band*. Ia sudah sampai di kampung halamannya.

‎

‎"Tak, bangun, Tak. Kita udah sampai," Reza mengguncang bahu Poltak yang tertidur pulas dengan mulut terbuka lebar, lengkap dengan seuntai air liur yang menetes di kerah kemejanya.

‎

‎Poltak gelagapan, mengusap mulutnya dan melihat ke luar jendela. "Hah? Udah sampai kita? Bah, panas betul kota kau ini, Za. Macam di dalam *oven* kita."

‎

‎Mereka turun di terminal kecil di pinggiran kota. Reza berjalan memimpin dengan langkah yang semakin lama semakin pelan. Setiap sudut jalan yang ia lewati membawanya pada pusaran nostalgia. Ia melewati lapangan tanah merah tempat ia dulu sering bermain bola. Ia melewati pertigaan tempat ia dulu sering menyetop angkot.

‎

‎Dan yang paling menyiksa, ia berjalan melewati bangunan bercat biru pudar yang dulunya adalah Toko Kelontong Sinar Makmur. Toko itu kini sudah berubah menjadi agen beras grosiran yang kaku. Pintu lipat besinya yang dulu sering dibuka oleh Koh Aseng dengan suara berderak, kini tertutup sebagian.

‎

‎Reza menghentikan langkahnya di seberang toko itu. Tangannya tanpa sadar merogoh saku celananya, menggenggam kelereng baret motif pusaran merah-biru yang selalu menjadi kompasnya. Bayangan Chintya dengan rambut sebahunya yang diikat asal-asalan, tersenyum dengan gigi gingsulnya, melintas jelas di benaknya.

‎

‎*Gue hampir nyerah, Chin,* batin Reza pedih. *Gue udah diusir dari kampus. Tapi lo tenang aja, jalan ke tempat lo masih panjang. Kelereng ini bakal pulang ke tangan lo, dengan cara apa pun.*

‎

‎"Heh, ngelamun aja kau di pinggir jalan! Nanti kesambet penunggu agen beras itu baru tahu rasa kau," tegur Poltak, membuyarkan lamunan Reza. "Mana rumahmu? Perutku udah konser ini minta diisi gado-gado ibumu."

‎

‎"Di ujung jalan sana, Tak. Belok kiri masuk gang," jawab Reza dengan suara bergetar.

‎

‎Mereka kembali berjalan. Semakin dekat dengan rumahnya, kaki Reza terasa semakin berat. Rasanya seperti ada bandul besi sepuluh kilogram yang diikat di pergelangan kakinya. Harum bumbu kacang yang diulek mulai tercium di udara, menandakan bahwa warung gado-gado ibunya sedang beroperasi.

‎

‎Dan benar saja. Di ujung gang sempit, tampak sebuah rumah sederhana dengan halaman depan yang disulap menjadi warung makan kecil. Di balik meja kayu, seorang wanita paruh baya berdaster sedang sibuk mengulek bumbu di atas cobek batu besar, sesekali menyeka keringat di dahinya dengan ujung lengan baju. Di sebelahnya, seorang pria paruh baya berkacamata tebal sedang duduk membaca koran bekas sambil menyesap kopi hitam.

‎

‎Melihat kedua orang tuanya yang tampak sehat namun gurat kelelahan jelas tergambar di wajah mereka, pertahanan Reza hancur. Ia mematung di ujung gang, hanya sepuluh langkah dari warung itu. Nyalinya menguap tanpa sisa.

‎

‎"Tak..." bisik Reza panik, wajahnya pucat pasi. "Gue nggak bisa, Tak. Gue nggak sanggup ngomongnya. Balik aja yuk ke Jakarta. Gue palsuin aja tanda tangannya di terminal, habis itu kita posin suratnya."

‎

‎Poltak mendengus keras. Ia melempar tas *carrier* raksasanya ke tanah, lalu mencekik leher Reza dengan lengannya secara bersahabat, menyeret pemuda kurus itu maju layaknya menyeret anak kucing yang takut air.

‎

‎"Enak aja kau suruh aku balik! Pantatku udah tepos duduk di bus ekonomi, sekarang kau mau kabur?!" omel Poltak, terus menyeret Reza melangkah maju. "Tarik napasmu dalam-dalam. Tegakkan badanmu! Kau itu calon penakluk negeri Tiongkok, masa sama bapak sendiri keder! Ayo, jalan!"

‎

‎Suara langkah kaki dan gerutuan Poltak yang berisik menarik perhatian ibu Reza. Wanita paruh baya itu menghentikan ulekannya, memicingkan mata ke arah dua pemuda yang sedang bergulat di ujung gang. Saat matanya mengenali sosok kemeja putih lungsuran yang sangat ia kenal, wajahnya seketika berbinar terang.

‎

‎"Bapak! Ya ampun, Pak! Itu anak kita pulang, Pak!" teriak ibunya histeris, meletakkan ulekannya dan setengah berlari keluar dari warung. Bapak Reza yang sedang membaca koran nyaris tersedak kopi panasnya. Ia buru-buru meletakkan cangkirnya dan menyusul istrinya.

‎

‎Reza tidak punya pilihan lagi. Poltak melepaskan cekikannya dan mendorong Reza ke depan.

‎

‎"Ibu... Bapak..." suara Reza pecah. Ia langsung berlutut di tanah berdebu itu, meraih tangan ibunya dan menciumnya dalam-dalam, lalu beralih meraih tangan bapaknya. Air mata yang sejak ia di-DO mati-matian ia tahan, akhirnya jebol tak terbendung di pangkuan kedua orang tuanya.

‎

‎"Reza... *Le*, kamu kok pulang nggak ngabarin? Ya Allah, anak Ibu kok kurusan gini. Ini mukamu kenapa lebam-lebam begini, Nak?!" tanya ibunya panik, mengelus pipi Reza yang masih memar.

‎

‎Bapaknya menatap Reza dengan penuh kebanggaan yang belum pudar. "Udah, Bu, namanya juga anak laki-laki merantau di ibukota. Pasti capek belajar. Bangun, *Le*. Ini temanmu dari kampus?" Bapak beralih menatap Poltak yang berdiri canggung sambil nyengir lebar, terlihat seperti beruang sirkus dengan tas gunungnya.

‎

‎"Siang, Bapak, Ibu. Saya Poltak Hasibuan. Kawan karibnya Reza dari kampus UI," sapa Poltak dengan suara baritonnya yang sopan, membungkuk hormat.

‎

‎"Wah, jauh-jauh dari Jakarta. Ayo masuk, masuk. Ibu buatkan gado-gado paling spesial buat kalian," sambut ibunya hangat, menarik tangan Reza agar berdiri.

‎

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!