Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Waktu merambat seperti jarum es yang membekukan segalanya. Setelah pintu depan tertutup rapat dan menyisakan keheningan yang mencekik, aku menundukkan kepala. Perlahan, aku membuka telapak tanganku yang terasa semakin kaku dan mendingin di bawah temaram lampu gantung.
Di kulitku, garis ghaib penanda tanggal kematian itu kini terlihat semakin meredup, memancarkan sisa-sisa energi terakhir yang kian menipis tanpa bisa dihentikan.
"Sisa satu jam lagi ...," ucapku lirih pada kesunyian yang menemaniku malam ini.
Sebuah senyuman getir terukir di bibirku yang mulai kehilangan warna merahnya. Bersamaan dengan itu, runtuhlah air mata yang sejak tadi sekuat tenaga kubendung di depan Olivia. Air mata itu mengalir deras membasahi pipi, menetes satu demi satu ke atas lantai marmer.
Ternyata, takdir benar-benar sekikir itu padaku. Takdir bahkan tidak mengizinkanku untuk menghabiskan sisa satu jam terakhir di dunia ini dengan kehangatan sebuah keluarga. Di hari ulang tahunku, dan di malam terakhir dalam hidupku, aku tetap kembali menjadi Bella yang terasing. Bella yang sendirian mendekati garis akhir.
"Kak Ethan mungkin tidak akan pernah mau mengangkat telepon dariku," ucapku lirih di tengah kesunyian. Aku merosot sedikit dari kursi, tangan gemetarku memegang perut yang rasanya mendadak begitu sakit, seperti diremas dan dihantam dengan sangat kuat.
Air mataku kembali mengalir, menetes melewati dagu dan jatuh ke atas lantai marmer.
Inikah rasanya mau mati? tanyaku pilu dalam hati. Aku... aku sudah sangat lama menunggu momen ini datang.
Rasa sakit fisik yang menyiksa ini mendadak membangkitkan kembali memori-memori kelam yang terkubur di benakku. Ingatan masa lalu itu berputar seperti kaset rusak. Aku mengingat kembali saat pertama kali aku dibuang dan dilupakan di ruang bawah tanah yang dingin. Mengingat bagaimana aku terpaksa menghabiskan malam demi malam seorang diri dalam kegelapan yang pekat.
Namun, yang paling menghancurkan dadaku adalah ingatan saat aku melihat untuk pertama kalinya gelang rajut buatanku—yang kubuat dengan sepenuh hati sebagai hadiah—dipotong begitu saja oleh Kak Aaron tanpa belas kasihan di depan mataku.
Sejak detik menyakitkan itulah, jiwaku mati. Sejak saat itu, aku mulai berpikir bahwa aku memang tidak akan pernah diingat atau diharapkan oleh siapapun lagi di dunia ini. Statusku di rumah ini hanyalah kutukan yang mereka benci.
"Setelah aku mati, keluarga ini pasti akan jauh lebih baik tanpa diriku," ucapku lirih. Suaraku nyaris tak terdengar, melebur bersama keheningan malam.
Sebuah senyuman pasrah terukir di bibirku yang kian memutih. Kakak-kakakku pasti akan merasa lega. Olivia akan tetap menjadi tuan putri kecil yang paling disayangi di rumah ini, dan aku... tidak akan ada seorang pun yang mengingat keberadaanku.
Aku mengulurkan tangan yang kian mendingin, mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja makan. Selama beberapa menit, aku hanya terduduk merenung di kursi utama, menatap layar digital yang menampilkan foto profil Kak Ethan. Dadaku bergemuruh hebat, berkejaran dengan rasa sakit fisik yang kian menggerogoti kesadaranku.
Dengan sisa-sisa keberanian dan harapan yang paling kecil, jemariku bergerak menekan tombol panggil ke nomor Kak Ethan. Aku tahu ini adalah tindakan bodoh. Aku tahu harapanku agar Kak Ethan mau menerima panggilan dariku hanyalah kesia-siaan yang semu. Namun, di ambang kematianku ini, ego kecilku tetap menjerit, merindukan suara kakak sulungku untuk yang terakhir kali.
Ponsel itu kini melekat di telingaku, menyisakan bunyi nada sambung yang berputar lambat, menanti takdir yang akan segera menjemputku.
Tuuut ... Tuuut ... Tuuut ...
Setiap nada sambung yang menggema di telingaku terasa seperti dentangan jam dinding yang menghitung mundur sisa napasku. Suara digital itu terdengar begitu nyaring dan dingin di dalam ruangan yang sunyi ini. Jantungku berdegup kencang, memompa rasa sakit yang kian menjalar ke seluruh pembuluh darah. Aku meremas ujung meja makan marmer dengan tangan kiriku, mencari pegangan karena tubuhku sudah mulai kehilangan keseimbangan.
Angkat, Kak ... Kumohon, angkat sekali ini saja, bisikku dalam hati, sebuah permohonan terakhir dari seorang adik yang akan segera pergi.
Di sela-sela bunyi nada sambung itu, benakku mendadak melemparkan kilasan memori masa kecil yang sangat jauh. Memori dari waktu ketika malam ulang tahunku tidak sepi dan sedingin ini. Aku mengingat kilasan samar saat Kak Ethan tersenyum lebar, menggendongku di pundaknya yang kokoh, sementara Papa dan Mama bertepuk tangan menyanyikan lagu ulang tahun untukku. Dulu, Kak Ethan adalah pelindungku. Dulu, dia adalah kakak laki-laki yang berjanji tidak akan pernah membiarkanku menangis.
Dengan jemari yang semakin gemetar dan sisa kesadaran yang kian mengabur, aku mencoba menghubungi nomor Kak Ethan sekali lagi. Sembari merenung lesu di kursi utama meja makan, air mataku menetes tanpa suara, menodai layar ponsel yang retak.
"Apa yang sebenarnya kuharapkan dari Kak Ethan?" ucapku lirih pada kesunyian yang mencekam. "Sikapnya selama belasan tahun ini sudah sangat jelas. Kak Ethan membenciku. Dia sengaja mengabaikanku."
Aku memejamkan mata erat-erat, meremas dadaku yang kian dihantam rasa sakit yang luar biasa.
Kenapa? Kenapa aku masih saja tidak bisa menyerah untuk mengharapkan kasih sayang mereka? batinku penuh kenaifan.
Tuuut ... Tuuut ...
Nada sambung itu kembali berputar. Rasanya seperti sebuah perjudian terakhir yang menyedihkan dengan sisa hidupku. Namun, tepat pada saat aku ingin menurunkan ponsel dari telinga dan benar-benar menyerah, bunyi nada sambung itu mendadak berhenti.
Klik.
Keheningan melanda sejenak sebelum sebuah suara bariton yang dingin dan teramat kukenali terdengar dari seberang telepon.
"Ada apa?"
Suara Kak Ethan. Jantungku seketika mencelos. Setelah sekian tahun nomor panggilanku selalu dialihkan, diblokir, dan diabaikan, malam ini—di satu jam terakhir sisa umurku—Kak Ethan akhirnya menerima panggilan dariku.
Kak Ethan ...," ucapku lirih. Suaraku bergetar hebat saat panggilan itu akhirnya tersambung dan diterima oleh Kak Ethan.
Mendengar suara itu, Ethan yang berada di kantornya seketika tertegun di kursinya. Pria itu menatap layar ponselnya sesaat dengan kening berkerut dalam.
Bella? Dia biasanya tidak pernah berani meneleponku, bahkan tidak berani lagi memanggilku "Kakak" selama bertahun-tahun ini. Ada apa dengan dia hari ini? batin Kak Ethan heran.
Meski hatinya mendadak diselimuti rasa bingung dan getaran aneh yang tidak ia pahami, Ethan dengan cepat mengunci kembali emosinya. Ia berdeham pelan, lalu menyahut dengan suara baritonnya yang tetap terdengar dingin dan datar.
"Ada apa, Bella? Jangan membuang waktuku," ucap Ethan dari seberang telepon.
Di ruang makan yang sunyi, air mataku luruh semakin deras begitu mendengar suaranya yang begitu asing. Rasa sakit di perut dan dadaku kian memuncak, seolah-olah tubuhku sedang memberikan sinyal bahwa waktu satu jamku kini telah mengikis menjadi hitungan.
"Kak Ethan, hari ini adalah hari ulang tahunku," ucap Bella lirih dari balik sambungan telepon. Air matanya kian deras membasahi pipi. "Bisakah Kakak pulang ke rumah malam ini? Tolong suruh Kak Aaron, Kak Charles, dan Olivia juga untuk pulang malam ini. Hanya malam ini saja, Kak ... untuk menemaniku makan."
Ethan terdiam di seberang sana. Di tengah sepihnya ruang kantornya, dadanya mendadak terasa dihantam oleh rasa aneh yang menyesakkan mendengar suara adiknya yang begitu rapuh.
"Bella sudah masak iga kecap manis kesukaan Kak Ethan," lanjut Bella, suaranya mulai putus-putus menahan rasa sakit yang kian menggerogoti tubuhnya. "Bella juga masak ikan bakar kesukaan Kak Aaron. Juga ... juga ayam goreng mentega kesukaan Kak Charles. Kak Charles kan tidak suka bawang putih, jadi aku tadi tidak memasukkannya ke dalam bumbu. Aku juga sudah buat puding karamel kesukaan Adik Olivia."
Bella menjeda kalimatnya demi menarik napas lambat yang terasa begitu berat. Di ujung meja makan yang sunyi, ia menatap deretan hidangan yang kini tak lagi mengepulkan asap.
"Tadi Adik Olivia sempat mampir ke rumah, tapi dia sudah pergi lagi dijemput sopir atas perintah Kak Aaron. Makanya ... makanya makanannya sekarang jadi dingin, Kak," ucap Bella dengan sangat hati-hati, seolah takut jika kalimatnya akan kembali memicu kemarahan kakak sulungnya.
"Aku masih ada di kantor. Aku masih harus rapat dan masih banyak laporan yang harus kuperiksa," ucap Kak Ethan dingin dari seberang telepon.
"Kak Ethan ... aku selalu mengerti," bisik Bella lirih. Air matanya kian deras membanjiri pipi. Ia menunduk, menatap nanar telapak tangan kirinya sendiri di mana garis ghaib itu berpendar redup, menghitung mundur sisa menit kehidupannya. "Aku ... aku cuma bisa melihat hitung mundur."
Napas Bella mulai terasa sesak. Rasa sakit yang mematikan kembali meremas dadanya.
"Tapi kenapa ... kenapa semua orang selalu menganggapku pembawa sial, Kak? Memangnya ... memangnya aku salah apa? Kak Ethan, kasih tahu aku ...." Bella menangis sesengukan, meratapi nasibnya yang sebentar lagi akan menjemput ajal tanpa ada satu pun orang di sisinya.
Di tengah isak tangisnya yang kian melemah, ingatan Bella mendadak terlempar jauh ke masa lalu. Kilasan kenangan kelam itu berputar hebat di kepalanya. Bella mengingat kembali malam-malam penuh teror saat ia melihat tanggal kematian kakek, ayah, dan ibunya terpampang jelas di telapak tangan mereka.
Dulu, kakeknya meninggal tragis karena jatuh dari tangga. Ibunya mengembuskan napas terakhir saat berjuang melahirkan Olivia. Sementara ayahnya tewas seketika dalam kecelakaan beruntun yang mengerikan.
Semua takdir kematian itu selalu berhasil Bella tebak dengan tepat melalui kutukan di tangan kirinya. Karena kemampuan ghaib itulah, saudara-saudaranya tumbuh dengan kebencian yang mendalam. Mereka menganggap Bella adalah iblis pembawa petaka, anak pembawa sial yang menyebabkan kematian beruntun di keluarga mereka. Mereka tidak pernah tahu, Bella tidak pernah membunuh siapa pun. Ia hanya bisa melihat garis akhir, termasuk garis akhirnya sendiri malam ini.
"Bella, apa yang terjadi? Kamu kenapa?!" tanya Kak Ethan berondong-berondong di seberang telepon. Nada suaranya tidak bisa lagi menyembunyikan getaran cemas karena tiba-tiba saja Bella berbicara hal yang aneh dan terdengar sangat putus asa.
Namun, di ruang makan yang sunyi, Bella sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk menyembunyikan kerapuhannya. Sisa kesadarannya kian mengikis, tersedot oleh kegelapan yang perlahan mulai menutup pandangannya.
"Kak Ethan ... aku mau mati," bisik Bella teramat lirih. Air mata terakhirnya luruh membasahi pipi yang kian mendingin. "Takdirku sudah tiba, Kak."
Mendengar pengakuan jujur itu, jantung Ethan serasa berhenti berdetak seketika. Seluruh tubuhnya menegang kaku di atas kursi. Firasat buruk yang dibawa Olivia beberapa menit lalu kini menghantam kepala sang kakak sulung dengan telak, menghancurkan topeng dingin yang selama belasan tahun ini selalu ia gunakan untuk membenci Bella.
eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~