Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, sudah lima hari Musa dan Laila menikmati masa-masa bulan madu yang penuh ketenangan dan kehangatan di hotel mewah tersebut.
Luka tembak di dada Musa telah pulih dengan baik berkat pengawasan telaten dari sang istri, dan kini saatnya bagi mereka untuk kembali menjalani rutinitas harian—Musa kembali aktif mengajar, sementara Laila kembali bertugas di rumah sakit.
Sebelum kembali disibukkan dengan jadwal masing-masing, Musa menepati janji manisnya.
Sesuai pembicaraan mereka di balkon beberapa hari lalu, ia telah menghubungi Ayahnya, Kyai Adam, untuk membantu mewujudkan impian Laila mendirikan sebuah klinik gratis bagi masyarakat yang membutuhkan.
Pagi itu, di sela persiapan mereka meninggalkan kamar hotel, Musa merengkuh pinggang Laila dengan penuh kasih sayang, menatap mata istrinya lekat-lekat.
"Sayang, ayo kita berangkat. Sesuai janji Abah, beliau sudah menyiapkan segalanya untuk klinik impianmu," ucap Musa lembut.
"Nah, untuk lokasi pertamanya, kira-kira kamu ingin buka di mana, Bidadariku?"
Laila mengerjap, tampak berpikir sejenak sebelum menatap suaminya dengan penuh harap.
"Hmm, enaknya di mana, Musa? Aku ingin tempat yang benar-benar strategis dan mudah dijangkau oleh warga yang kurang mampu."
Musa tersenyum hangat, jemarinya mengusap lembut puncak kepala Laila.
Ia pun menyampaikan ide yang sudah dipikirkannya matang-matang.
"Bagaimana kalau kita pakai bangunan ruko milik yayasan Abah di dekat perbatasan kota pinggiran?" usul Musa penuh antusias.
"Lokasinya cukup luas, akses transportasinya mudah dijangkau oleh warga dari berbagai perkampungan padat, dan di sana juga masih minim fasilitas kesehatan gratis yang layak. Kita bisa renovasi bagian dalamnya jadi klinik yang nyaman, lengkap dengan ruang periksa dan apotek obat gratis."
Mata Laila langsung berbinar cerah mendengar ide brilian tersebut.
Senyum simpul terkembang di balik wajahnya yang kini berseri-seri.
"Ide yang luar biasa, Mas!" seru Laila antusias, lalu mendaratkan pelukan hangat di dada suaminya.
"Terima kasih banyak, Musa. Kamu benar-benar mewujudkan impianku."
Musa membalas pelukan itu dengan dekapan erat, membenamkan wajahnya di celah leher Laila dan menghirup aroma harum istrinya sebelum mereka benar-benar melangkah keluar.
"Apapun untuk kebahagiaanmu, Sayang," bisik Musa penuh kelembutan.
"Nanti sore setelah selesai mengajar di pondok dan kamu selesai bertugas di rumah sakit, kita langsung mengecek lokasinya bersama Abah, ya?"
Laila mengangguk mantap dengan binar mata yang memancarkan rasa syukur mendalam.
"Siap, Musa!"
Keduanya akhirnya melangkah keluar dari hotel. Di area lobby, mobil jemputan sudah bersiaga.
Musa mengantar Laila terlebih dahulu ke rumah sakit tempatnya bertugas, memastikan sang istri turun dengan aman sebelum ia melanjutkan perjalanan menuju area kampus untuk kembali ke dunianya sebagai seorang tenaga pengajar.
Sementara itu, di kediaman Kyai Adam, suasana terasa hening namun diliputi ketegangan yang tersembunyi.
Musdalifah duduk di tepi ranjang kamarnya yang baru saja dirapikan oleh pelayan.
Wajahnya pucat pasi, tatapan matanya kosong namun memendam amarah yang pekat.
Ia mendengarkan kabar bahwa Musa dan Laila hari ini sudah kembali beraktivitas normal dan berencana membuka klinik kesehatan baru.
"Kalian tertawa bahagia di atas kehancuranku?" desis Musdalifah lirih, jemarinya mencengkeram sprei hingga meremuk.
Pintu kamarnya diketuk pelan, lalu Umi Mina masuk membawa semangkuk bubur dan segelas air hangat.
Wajah ibunya tampak begitu cemas melihat kondisi putrinya yang terus mengurung diri sejak diselamatkan.
"Anakku, makan sedikit ya, Nak? Kamu dari kemarin belum makan apa-apa," bujuk Umi Mina lembut, mendudukkan diri di samping Musdalifah.
Musdalifah menepis pelan tangan ibunya, menolak mangkuk tersebut.
"Aku tidak lapar, Umi."
"Jangan begini, Nak. Laila dan Musa sudah berjuang mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkanmu dari orang-orang jahat itu. Kita harus bersyukur kamu bisa pulang dengan selamat," ujar Umi Mina dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar nama Laila dan Musa disebut dengan nada sanjungan, darah Musdalifah seketika mendidih.
Ia mengepalkan tangannya rapat-rapat di bawah selimut, menahan diri agar tidak meledak di depan ibunya sendiri.
"Umi tidak tahu apa-apa," gumam Musdalifah dingin, memalingkan wajahnya ke arah jendela.
"Mereka bukan pahlawan!!"
Suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari arah luar, sebelum akhirnya pintu kamar terdorong terbuka lebar.
Kyai Adi berdiri di ambang pintu dengan wajah memerah tahan amarah, dadanya naik-turun menahan emosi yang meluap setelah mendengar perkataan putrinya sendiri.
Beliau melangkah masuk dengan tegas, menatap Musdalifah yang masih duduk memalingkan wajah di tepi ranjang.
"Kamu benar-benar tidak tahu terima kasih, Musdalifah!" bentak Kyai Adi dengan suara berat yang menggelegar di dalam ruangan.
Umi Mina yang terkejut langsung berdiri dan memegang lengan suaminya, mencoba menenangkan.
"Astaqfirullah, Abah. Sabar, Bah. Anak kita baru saja lolos dari bahaya."
"Sabar bagaimana, Umi?!" potong Kyai Adi dengan pendar mata yang dipenuhi rasa kecewa mendalam.
"Laila dan Musa hampir kehilangan nyawa mereka demi menyelamatkan kamu dari genggaman Zafar! Musa bahkan baru saja sembuh dari luka tembak di dadanya! Tapi apa balasanmu? Kamu malah meracuni hatimu dengan kebencian dan menyalahkan orang-orang yang sudah mengorbankan nyawa untukmu!"
Musdalifah tertawa sinis, sebuah tawa pahit yang sarat akan keputusasaan dan rasa sakit yang teramat sangat.
Ia mendongak, menatap ayahnya dengan mata yang memerah dan berkaca-kaca.
"Abah tidak tahu apa-apa!" teriak Musdalifah dengan suara bergetar dipenuhi emosi yang akhirnya pecah.
"Abah cuma melihat mereka sebagai pahlawan! Tapi Abah tidak pernah tahu apa yang harus aku tanggung gara-gara perselisihan mereka!"
Kyai Adi mengerutkan dahi, tertegun melihat reaksi histeris putrinya yang tak seperti biasa.
Namun rasa kecewa yang telanjur memenuhi dadanya membuat Kyai Adi kembali menegaskan batasannya.
"Apapun alasanmu, tidak ada pembenaran untuk sikap ketidakmampuanmu berterima kasih!" tegas Kyai Adi dengan raut wajah dingin.
"Mulai hari ini, buang semua rasa irimu pada Laila dan Musa. Jangan pernah sekali-kali kamu mencoba merusak kebahagiaan dan rumah tangga mereka lagi!"
Setelah mengucapkan kalimat tegas itu, Kyai Adi memutar badannya dan melangkah keluar dari kamar, meninggalkan Musdalifah yang menangis terisak dalam kehancuran jiwanya yang tak dipahami oleh siapa pun.
Di sisi lain Mobil sedan hitam yang dikemudikan Yusuf tiba di pelataran rumah sakit tempat Laila bertugas.
Sebelum Laila membuka pintu, Musa menoleh ke samping dan menatap istrinya dengan senyum teduh penuh perhatian.
"Fokus dulu sama tugasmu ya, Sayang. Nanti sore, tepat jam pulang kerja, aku akan menjemputmu ke sini," ujar Musa lembut.
Laila menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis di balik cadarnya.
"Iya, Musa. Hati-hati di jalan ya."
Setelah Laila turun dan melangkah masuk ke dalam gedung rumah sakit, Yusuf kembali melajukan kendaraannya membelah jalanan kota, membawa Musa menuju pondok pesantren tempat ia biasa mengajar dan mengabdikan diri.
Tak butuh waktu lama, mobil yang mereka tumpangi memasuki gerbang pesantren yang asri.
Begitu mobil terparkir di halaman utama, Kyai Adam dan Umi Sinta tampak sudah menunggu di teras ndalem.
Melihat putra mereka turun dalam keadaan sehat
dan bugar setelah melewati masa-masa kritis, raut wajah kedua orang tua itu langsung diliputi rasa syukur yang luar biasa.
"Alhamdulillah, Musa, anakku," sapa Umi Mina—atau Umi Sinta—dengan mata berkaca-kaca, menyambut dan memeluk putranya dengan penuh kehangatan.
Kyai Adam berdiri di samping istrinya, menepuk pelan pundak tegap Musa dengan senyum bangga.
"Alhamdulillah, badai itu sudah berlalu, Nak. Badanmu sudah benar-benar pulih?"
"Alhamdulillah sudah jauh lebih baik, Abah, Umi. Berkat doa dan perhatian Abah, Umi, serta Laila," jawab Musa sopan dan penuh takzim.
Kyai Adam melirik arloji di pergelangan tangannya, lalu tersenyum bijak.
"Baguslah kalau begitu. Santri-santri sudah menunggu di kelas untuk jadwal mengajarmu hari ini. Mengajar lah dulu, Nak. Nanti sore setelah semuanya selesai, kita bisa mengobrol santai dan membahas rencana klinik untuk Laila."
"Baik, Abah. Musa izin ke kelas dulu," pamit Musa dengan takzim sebelum melangkah tegap menuju ruang kelas para santri, meninggalkan masa lalu yang kelam untuk menyongsong masa depan yang tenang dan penuh berkah bersama Laila.
tp kak ,, khawatir juga sih kalo org udh gelap mata oleh rasa iri gx bisa di bendung ,, bisa berbuat nekat senekat nekat ny ,,
jgn sampe deh rumah tangga Musa dan Laila di ganggu oleh fitnah Musdalifah
😒😒😒😒😒🥱🥱🥱
makany jgn coba2 ngusik umi Laila ,,
jd hancur lebur kn Hrga diri kalian ,, 😏😏😏😏😏
umi Sinta bisa menerima Laila dg baik ,,
bisa2 ny pak kiyai nikahin perempuan model gtuu ,,
semangat Musa berantas semua org2 yg udh nyakitin Laila ,,
sedangkan Nakula ny B aj ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
msh aj di pilih ,, buka mata mu lebar2 umiiiiii