Dikhianati oleh pria yang sangat ia cintai demi sebuah tahta, membuat Ningmas Danastri Kartawidjaja benar-benar terluka.
Dibawah aturan keluarga, Raden Dwipa Soeradiningrat, tak bisa berbuat apa-apa demi tahta sebagai pewaris dari Trah Soeradiningrat. Ia bahkan harus kehilangan Ningmas Danastri yang sangat ia cintai.
Namun, takdir justru membawa Ningmas Danastri ke arah yang tak disangka-sangka. Karena keterpurukannya, ia justru tanpa sadar menghabiskan malam dengan pria yang memiliki hubungan dekat dengan mantan kekasihnya.
Selain itu, satu persatu rahasia dua Trah (Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja) yang tak pernah akur pun terbuka. Hal yang menyebabkan dua generasi terakhir selalu bersitegang itu, ternyata karena ada masa lalu yang masih belum selesai.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Ningmas Danastri Kartawidjaja?
Akankah ia jatuh cinta pada orang yang tepat?
Apakah rahasia masa lalu dari dua keluarga yang masih belum tuntas?
Simak terus keseruan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Semakin Hancur
Serayu hanya tersenyum, kemudian memberikan sentuhan-sentuhan liar hingga membuat Raden Dwipa makin terang sang.
"Aaahh... Astri..." Raden Dwipa mengecupi leher Serayu.
Tangannya bergerilya dan menyusup ke dalam pakaian yang dikenakan oleh Serayu. Ia pun mulai melucuti pakaian yang dikenakan istrinya.
Raden Dwipa kemudian mengecupi wajah Serayu dengan lembut. Ia memagut bibir Serayu yang sesekali mende sah karena sentuhan Raden Dwipa. Semakin lama, ciuman itu pun semakin dalam dan menuntut.
Tanpa ragu, Raden Dwipa semain bergerak liar. Serayu pun tak kalah 'memanjakan' Suaminya dengan mengusap-usap pusaka sang suami yang sudah menegang.
"Teruskan, Astri... Enak sekali..." Racau Raden Dwipa yang keenakan. Ia kemudian naik ke atas tubuh Serayu dan mulai menggagahi wanita yang ia kira Astri itu.
Serayu sendiri tak keberatan sat Raden Dwipa selalu meracau nama Astri saat mereka sedang berhubungan suami-istri. Yang terpenting baginya adalah bisa mendapatkan benih dari sang suami dan melahirkan penerus Trah Soeradiningrat untuk mengikat Suaminya.
"Mas... Aaaahhh, Mas Dwipa..." Serayu merasakan kenikmatan yang amat sangat ketika Raden Daksa memompanya dengan begitu semangat. Pria yang 'hilang kesadaran' itu pun tak kalah menikmati tubuh Serayu yang ia sangka sebagai Astri.
Malam itu, mereka habiskan dengan pergulatan yang panjang dan panas. Tak hanya satu kali, bahkan hingga tiga kali permainan sebelum keduanya tertidur pulas setelah mencapai puncak kenikmatan di permainan terakhir mereka.
...****************...
Raden Dwipa mengerjapkan mata. Kepalanya terasa berdenyut nyeri, efek dari minuman alkohol yang ia tenggak semalam. Perlahan ia mengamati sosok wanita yang tidur dalam pelukannya. Netranya langsung terbelalak kala sadar siapa yang berada dalam pelukannya ini.
"Serayu!" seru Raden Dwipa sambil menarik tangannya yang menjadi bantalan kepala Serayu.
Serayu pun tersentak kaget. Ia langsung bangun dan menatap ke arah Raden Dwipa yang masih memelototinya.
"M-Mas..." lirihnya dengan terbata-bata. Ia menelan ludah saat melihat tatapan tajam Raden Dwipa ke arahnya. Serayu benar-benar takut jika Suaminya itu akan mengamuk, meskipun ia sudah menyiapkan jawaban jika Raden Dwipa mencecarnya dengan pertanyaan.
"Kenapa kamu disini? Apa ini? Kamu pasti menjebakku, kan?" Cecar Raden Dwipa, sesuai dengan dugaan Serayu.
"Kamu yang menarikku, Mas. Aku cuma membantumu ke kamar karena kamu sedang mabuk. Tapi, saat sampai di kamar, kamu justru-"
"Pakai pakaianmu dan keluar dari sini." Ujar Raden Dwipa yang langsung memotong ucapan dari Serayu.
Sementara itu, ia bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Meninggalkan Serayu yang tersenyum tipis sembari menatap punggung Raden Dwipa.
Saat kembali setelah membersihkan diri, Raden Dwipa tak mendapati lagi Serayu di kamarnya. Seprai di kamarnya pun sudah di ganti. Mungkin Serayu yang membereskan kamarnya tadi, pikir Raden Dwipa.
Namun, ia tak peduli. Raden Dwipa kemudian duduk di tepi ranjang sambil menatap foto Astri yang terpajang rapi. Ia menatap wajah Astri yang tersenyum pada foto itu.
"Lagi-lagi aku tidak bisa menepati janjiku, Astri." Ujar Raden Dwipa dengan lirih.
"Aku memang pengecut! Benar apa katamu, aku memang pria pengecut."
"Aku hancur tanpamu, Astri... Tolong kembalilah padaku. Jangan hukum aku seperti ini." katanya lagi. Kali ini ia terisak. Raden Dwipa menangis sambil memeluk foto gadis yang sangat ia cintai.
Dirinya benar-benar hancur. Ratusan pesan yang ia kirimkan ke ponsel Astri, sama sekali tak pernah di hiraukan oleh Astri. Kini, penyesalan terasa membelenggu jiwa Raden Dwipa. Semua andai, kini berkelebat di benaknya.
Dengan langkah gontai, Raden Dwipa menyusuri lorong perusahaan tempatnya bekerja. Rasanya semangatnya hilang, tak seperti dulu lagi. Dulu ia selalu bersemangat saat bekerja karena ada Astri di sisinya. Sekarang, ia hanya melanjutkan perjuangan yang sudah ia lakukan dengan Astri sebelumnya.
Siang itu, Raden Dwipa mengemudikan mobilnya menuju ke Perusahaan milik Astri. Ia sengaja datang kesana setelah bertemu Klien di sebuah Restoran yang berada di dekat Perusahaan Astri.
Namun, dari kejauhan ia sudah melihat mobil milik Raden Daksa yang ada disana. Gareng, supir pribadi Raden Daksa pun tampak duduk bersantai di dekat mobil yang terpakir itu.
Tak berselang lama, Raden Daksa keluar bersama Astri dan Sasmaya. Astri tampak tersenyum bahagia sambil menggelitik pinggang Sasmaya yang berada di gendongan Raden Daksa.
Sementara itu, Tangan Raden Daksa tampak melingkar dengan protektif di pinggang ramping Astri. Ia memberi tau secara tersirat jika Astri adalah miliknya.
Raden Dwipa mencengkram erat kemudi mobil. Ia benar-benar cemburu melihat kemesraan Astri dan Raden Daksa. Terlebih lagi, Astri terlihat sangat bahagia saat bercanda dengan Sasmaya di gendongan Raden Daksa.
"Aku gak menyangka akan melihatmu begitu bahagia bersama laki-laki lain, Astri. Terlebih lagi, laki-laki itu adalah Kakakku sendiri." Ujarnya.
"Dulu, aku kira senyuman bahagia dan tatapan manja itu hanya untukku. Ternyata sekarang bukan aku pemiliknya." Imbuh Raden Dwipa dengan perasaan yang hancur.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Raden Daksa sempat menangkap keberadaan mobil Raden Dwipa yang berhenti di depan Perusahaan Astri.
"Mas..." Panggil Astri saat Raden Daksa berdiri cukup lama di depan pintu mobil.
"Ya, Dek Ayu." Jawab Raden Daksa yang kemudian masuk ke dalam mobil.
"Ada apa, Mas?" Tanya Astri.
"Gak apa-apa, Dek Ayu." Jawab Raden Daksa yang menutupi apa yang ia lihat barusan.
Astri pun tersenyum. Panggilan Dek Ayu dari Raden Daksa terasa begitu menenangkan. Selain merasa jika dicintai, panggilan itu juga membuatnya merasa memiliki penjaga dan tempat berlindung lain selain Bapaknya.
Mereka saat ini hendak menuju ke sebuah attire untuk melakukan pemilihan busana yang akan mereka kenakan saat acara pernikahan.
"Mas, boleh aku bertanya?" Tanya Astri.
"Mau tanya apa, Dek Ayu?" Tanya Raden Daksa sambil menatap manik mata kecoklatan milik Astri.
"Setelah menikah, apa aku boleh mengurus bisnisku? Karena kan wanita di keluarga Trah Soeradiningrat-"
"Boleh, Dek Ayu. Kamu boleh berbisnis dan bekerja jika kamu mau. Aku sama sekali tidak akan membatasi hal itu." Jawab Raden Daksa yang mengerti kemana arah pembicaraan Astri.
"Tapi, bagaimana dengan Pakde dan Bude?" Tanya Astri lagi.
"Biar itu jadi urusan Mas, kalau Bapak dan Ibu mempermasalahkan masalah itu." Jawab Raden Daksa.
"Aku ndak mau Mas dan orang tua Mas berselisih paham. Tapi, aku ndak bisa melepaskan begitu saja Perusahaan yang sudah ku rintis dari nol." Ujar Astri yang masih terlihat bimbang.
"Tenang saja. Kamu bisa melanjutkan karirmu dengan tenang, Dek Ayu. Mas yang akan menjagamu kalau ada dari keluarga Mas yang menyudutkanmu." Jawab Raden Daksa.
"Mas tidak mau kamu merasa terkekang dengan aturan dari Trah Soeradiningrat yang tidak fleksibel." Imbuhnya lagi.
Ucapan Raden Daksa yang siap pasang badan untuk membelanya, tentu membuat Astri merasa tenang. Ia merasa jika kini memiliki orang yang sangat bisa diandalkan.
"Terima kasih banyak, Mas. Aku akan berusaha untuk membatasi kegiatan supaya bisa mengurus Mas dan Sasmaya." Kata Astri yang dijawab anggukan dan senyuman oleh Raden Daksa.
🤔🤔
othor kie...🤣😄