NovelToon NovelToon
Tale Of Mumei

Tale Of Mumei

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Liang Hou

Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Bocah Liar

Sementara derap langkah kaki ratusan ribu samurai dan derak roda pedati logistik bergulir di sepanjang Jalur Tokaido menuju benteng Odawara di Sagami, dunia di belahan barat Jepang bernapas dalam irama yang sangat berbeda.

Provinsi Mimasaka di wilayah barat—tanah dengan perbukitan terjal dan hutan bambu yang rapat—seolah terisolasi dari megahnya drama politik yang dimainkan oleh Toyotomi Hideyoshi dan Tokugawa Ieyasu. Di tempat ini, perang unifikasi bukanlah tentang panggung kehormatan para daimyo, melainkan tentang isi perut yang kering dan siapa yang sanggup mengayunkan kayu paling keras.

Di tepi sebuah desa kecil tak jauh dari perbatasan Harima, sebuah unit rombongan prajurit samurai kelas menengah yang baru saja ditarik dari wilayah Kyushu sedang beristirahat di pinggir hutan. Kuda-kuda diikat pada tiang kayu, api unggun dinyalakan untuk memanggang ikan sungai dan menanak nasi, sementara aroma gurih kuah miso hangat membumbung tinggi menyiksa perut siapa pun yang terlantar di balik semak-semak.

Di balik rimbunnya daun pakis yang lembap, sepasang mata bulat berwarna cokelat gelap menatap tajam ke arah periuk nasi gantung tersebut.

Anak itu berusia tidak lebih dari enam tahun. Rambut hitamnya yang mencuat liar ke segala arah tidak pernah disentuh minyak atau diikat rapi seperti anak samurai pada umumnya. Pakaian kimono kumalnya robek di bagian bahu dan bernoda lumpur kering, memperlihatkan kulit cokelatnya yang kasar akibat tersengat matahari dan angin liar perbukitan. Di tangan kanannya, ia mencengkeram erat sebilah bokken—pedang kayu yang diukir kasar dari dahan pohon oak tebal yang ukurannya hampir separuh dari tinggi tubuhnya sendiri.

Orang-orang di desanya memanggilnya Bennosuke. Kelak, dunia akan mengenalnya dengan nama yang menggetarkan seluruh pelosok tanah Jepang: Miyamoto Musashi. Namun sore ini, ia hanyalah bocah liar bermuka kotor yang kelaparan.

"Hei, lihat itu! Ada tupai pohon merayap keluar dari semak-semak!"

Seorang samurai bertubuh gempal bernama Gorobei tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk ke arah Bennosuke yang mendadak melangkah keluar dari rimbunnya hutan tanpa rasa takut sedikit pun. Bennosuke melangkah santai, memikul pedang kayunya di atas bahu kanan seperti seorang veteran yang habis memenangi perang raksasa.

"Tupai matamu!" teriak Bennosuke dengan suara nyaring khas anak kecil, namun bervolume cukup keras untuk membuat tiga samurai lain yang sedang minum sakramen tersedak. "Tupai tidak membawa pedang kayu sebesar ini, Pria Gemuk! Aku datang sebagai ksatria!"

Para samurai itu saling berpandangan sejenak, sebelum ledakan tawa membahana memenuhi perkemahan kecil tersebut.

"Ksatria katanya!" sahut samurai kedua yang berkumis tebal. "Lihat mukamu yang dipenuhi cemot jelaga itu, Bocah! Kau lebih mirip iblis lumpur yang keluar dari rawa ketimbang ksatria!"

Bennosuke tidak tersinggung sedikit pun. Ia mendengus kasar, lalu dengan gerakan liar yang sangat alami, ia menancapkan ujung pedang kayunya ke tanah datar. Ia mengendus udara berulang kali seperti anjing pemburu yang mencium jejak mangsa.

"Aroma nasi hangat itu..." kata Bennosuke, matanya berbinar tanpa malu-malu menatap periuk kayu di dekat api unggun. "Perutku berbunyi sekeras guruh di langit sejak tadi pagi. Singkat saja, wahai Pria-Pria Berzirah Mewah... aku menantang pahlawan terkuat di antara kalian untuk berduel!"

Gorobei menyipitkan matanya, mengusap perutnya yang buncit. "Menantang duel? Kau tahu siapa kami, Bocah? Kami adalah samurai veteran dari Kyushu! Kami memotong leher musuh untuk sarapan!"

"Apalagi aku!" balas Bennosuke cepat seraya menepuk dadanya yang telanjang dengan bangga. "Aku makan batu untuk camilan sore! Dan kalau kalian memang sehebat itu, kenapa hanya duduk-duduk di sini seperti induk ayam yang sedang mengerami telur?"

"Bocah kurang ajar ini!" samurai berkumis tebal berdiri, mengepalkan tangannya. Namun Gorobei mengangkat tangan, menahan rekannya sambil tersenyum geli.

"Tunggu dulu," ujar Gorobei, tertarik dengan kegilaan anak kecil di depannya. "Duel dengan aturan apa, Bocah Liar?"

Bennosuke menunjuk periuk nasi dengan ujung bokken-nya.

"Aturannya sederhana!" seru Bennosuke nyaring. "Jika aku bisa memukul kepalamu sampai bersuara 'TAK!' dengan pedang kayu ini, seluruh isi periuk nasi itu dan tiga ekor ikan bakar menjadi milikku! Tapi jika aku kalah..." Bennosuke menggaruk kepalanya yang gatal dengan gaya acuh tak acuh. "...kalian boleh menyuruhku mengangkat kayu bakar sampai malam!"

"Hahaha! Tawaran yang sangat tidak adil!" tawa Gorobei pecah lagi. "Kau bertaruh tenaga yang tidak ada harganya demi makanan kami!"

"Tentu saja adil!" potong Bennosuke dengan cengiran lebar yang memamerkan giginya yang putih dan salah satunya ompong di bagian depan. "Kalian mendapatkan kehormatan karena bertarung melawan calon ahli pedang nomor satu di bawah kolong langit! Mana ada tawaran semurah itu di Odawara?!"

Gorobei, yang merasa terhibur oleh keberanian sang bocah, mengambil sebilah pedang kayu latihan milik pasukannya sendiri. Ia melangkah maju ke tengah area terbuka perkemahan. Tubuh Gorobei yang tinggi dan tegap tampak teramat kontras jika dibandingkan dengan tubuh mungil Bennosuke yang baru berusia kurang dari enam tahun.

"Baiklah, Bocah Liar," tantang Gorobei dengan gaya angkuh, memegang pedang kayunya dengan satu tangan. "Aku tidak akan menggunakan dua tangan. Kalau aku sampai menyakitimu, jangan menangis memanggil ibumu!"

"Ibu?" Bennosuke meludah ke samping dengan gaya yang teramat kasar untuk bocah seusianya. "Ibu tidak bisa memberiku nasi hangat! Hanya ujung pedang ini yang bisa!"

Atmosfer di perkemahan kecil itu mendadak berubah saat Bennosuke mengambil posisi bertarung.

Sifat bercanda dan nada bicaranya yang jenaka menguap dalam sekejap. Tubuh kecilnya merendah, kedua kakinya mencengkeram tanah basah bagaikan akar pohon yang kokoh, dan pedang kayu beratnya dipegang menggunakan dua tangan tepat di depan dada. Matanya yang cokelat gelap tidak melotot marah, melainkan memancar dengan fokus liar yang sangat murni—sebuah insting membunuh alami yang belum pernah tersentuh oleh aturan atau formalitas perguruan pedang mana pun.

Gorobei yang tadinya tersenyum meremehkan, mendadak merasakan hawa dingin yang aneh melintas di tengkuknya. Anak ini... cara berdirinya tidak punya celah.

"Maju kau, Pria Gemuk!" teriak Bennosuke.

Tanpa menunggu aba-aba, Bennosuke menerjang maju. Langkah kakinya tidak teratur seperti teknik suriasi samurai istana, melainkan melompat-lompat liar bagaikan babi hutan yang mengamuk di semak-semak.

Gorobei mengayunkan pedang kayunya dari atas ke bawah untuk menangkis. Brak!

Bennosuke tidak menangkis benturan itu secara langsung. Dengan kelincahan yang luar biasa, ia merunduk rendah, membiarkan pedang Gorobei menebas udara kosong di atas kepalanya. Dari posisi membungkuk hampir menyentuh tanah, Bennosuke memanfaatkan momentum dorongan kakinya untuk meloncat tinggi ke udara.

TAK!

Suara benturan kayu tebal menyengat telinga. Ujung bokken Bennosuke menghantam tepat di samping pelindung kepala kulit milik Gorobei dengan kekuatan yang tak masuk akal untuk anak seusianya.

Gorobei terhuyung tiga langkah ke belakang, matanya berkunang-kunang akibat guncangan keras di kepalanya. "A-apa-apaan tenaga anak ini..."

Sebelum Gorobei sempat memulihkan keseimbangannya, Bennosuke yang mendarat di tanah kembali memutar tubuhnya dengan cepat bagaikan gasing. Ujung pedang kayunya menyapu bagian belakang lutut Gorobei.

Brak!

Samurai bertubuh gempal itu roboh terlentang di atas tanah berdebu, menatap langit sore dengan napas terengah-engah dan wajah yang dipenuhi rasa syok yang mendalam.

Hening. Tiga samurai lainnya yang menonton pertempuran itu terpaku kaku, cangkir sakramen di tangan mereka hampir terlepas.

Bennosuke berdiri di samping tubuh Gorobei yang tergeletak. Bocah liar itu mengusap hidungnya yang berdebu dengan punggung tangannya, memikul kembali pedang kayunya di atas bahu, lalu menyeringai lebar.

"Suaranya tadi 'TAK!' kan? Kalian semua mendengarnya!" teriak Bennosuke girang. "Sesuai janji, periuk nasi itu milikku!"

Tanpa mempedulikan para samurai yang masih terperangah, Bennosuke berlari kencang menuju api unggun. Tanpa menggunakan sendok atau alas kain, ia mengangkat periuk kayu yang masih panas itu dengan kedua tangan telanjang, lalu duduk bersila di atas batu besar di tepi perkemahan.

"Panas! Panas! Tapi enak!" gumam Bennosuke sambil menyuap genggaman demi genggaman nasi hangat ke dalam mulutnya yang masih imut. Ia mengunyah dengan rakus, membiarkan butiran nasi menempel di pipinya, menikmati kemenangan kecilnya dengan kebebasan yang mutlak.

Gorobei perlahan duduk sambil memegang kepalanya yang pening. Ia menatap bocah liar yang sedang melahap makanan mereka dengan campuran rasa kesal, kagum, dan heran yang mendalam.

"Bocah..." panggil Gorobei, suaranya masih agak parau. "Siapa nama ayahmu? Siapa yang mengajarimu cara bertarung gila seperti tadi?"

Bennosuke tidak berhenti mengunyah. Ia melirik Gorobei dari sudut matanya, menelan gumpalan nasi di tenggorokannya dengan susah payah sebelum menjawab.

"Namaku Bennosuke!" serunya bangga. "Ayahku bernama Shinmen Munisai... tapi dialah yang mengajariku bahwa kalau aku meniru gaya orang lain, aku akan mati kelaparan! Pedangku adalah gayaku sendiri!"

Gorobei menggeleng-gelengkan kepala. "Shinmen Munisai dari Mimasaka... pantes saja. Anaknya ternyata lebih gila dari ayahnya."

Gorobei berdiri, membetulkan pakaiannya yang kotor, lalu melangkah mendekati Bennosuke. Ia melemparkan seekor ikan bakar yang hangat ke pangkuan sang bocah.

"Makanlah yang banyak, Bennosuke," ujar Gorobei, kali ini tanpa nada meremehkan. "Dunia di luar sana sedang bergerak menuju Kanto. Para samurai besar bertarung di Odawara untuk memperebutkan tanah dan nama... tapi aku punya firasat, sepuluh atau dua puluh tahun dari sekarang, dunia justru akan dibuat gempar oleh bocah liar sepertimu."

Bennosuke menangkap ikan bakar itu dengan sigap, menggigit dagingnya yang gurih tanpa ragu-ragu.

"Odawara?" gumam Bennosuke dengan mulut penuh makanan. "Aku tidak peduli dengan Odawara atau Hideyoshi! Peta dunia mereka terlalu sempit! Suatu hari nanti... aku akan keliling ke seluruh tanah ini dan mengalahkan siapa saja yang mengaku sebagai petarung terkuat!"

Bocah itu mendongak, menatap ke arah langit barat yang mulai dihiasi oleh warna merah keemasan matahari terbenam.

Di tempat yang sangat jauh dari pertapaan mistis Mumei di Gunung Kurama, serta jauh dari intrik berdarah Kuroda Kanbei dan Tokugawa Ieyasu di Odawara, sebutir benih takdir lainnya telah mulai berkecambah di tanah liar Mimasaka—sebuah jiwa murni yang kelak akan melintasi zaman, membawa jalan pedang yang akan berbenturan dengan takdir sang pewaris Oda.

Tetapi sore ini, bagi Bennosuke kecil, tidak ada hal yang lebih penting di seluruh dunia selain rasa gurih ikan bakar dan perut yang kenyang di bawah naungan pohon-pohon liar Mimasaka.

1
Xiao Qiao
keknya makanan kesukaan dia babi asap nih 🤣
Xiao Qiao
😭
Friend_A
bagus
Xiao Qiao
ngakak tengil bnget nih bocah wkwk🤣
Liang Hou: sesuai sifat aslinya kak 😭😭
total 1 replies
Xiao Qiao
bentar banget thor pertarungannya
Liang Hou: masih agak bingung bikin pertarungan panjang lawan Yokai 🙏
total 1 replies
Xiao Qiao
hmm lumayanlah untuk fiksi sejarah, tapi politiknya terlalu kental jadi agak susah dicerna
Liang Hou: thanks udah baca
total 1 replies
Liang Hou
🤏
penajalanan_
gak jelas banget authornya arc 1 gini doang
penajalanan_
kurang menarik
penajalanan_
bertele-tele sampah
penajalanan_
campur aduk, ini cerita sejarah apa fantasi sih. Sejak kapan tengu ikut perang, lagian mana ada tengu di desa tengu itu tinggal di gunung
penajalanan_
sotoi, Takenaka Hanbei aja udah meninggal tahun 1579 masa ketemu sama Hanbei saat menuju Yamazaki emangnya bisa hidup lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!