Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.
Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.
Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6
Bau amis darah yang telah mengering beradu dengan aroma udara lembap di sudut lorong belakang gedung Seni Rupa.
Garis polisi berwarna kuning cerah terbentang membatasi area kejadian, memisahkan kerumunan petugas kepolisian dan tim forensik dari sisa dunia yang gempar.
Jameson Baxter Ashford berdiri di balik garis pembatas tersebut.
Sepasang matanya yang tajam menyipit, memperhatikan sosok jasad yang kini tergeletak tak berdaya di atas lantai semen yang dingin.
Di hadapannya, jasad seorang pria muda—yang diidentifikasi sebagai salah satu mahasiswa jurusan seni yang dilaporkan hilang—terbaring kaku dengan posisi telentang.
Kulitnya pucat pasi, nyaris putih bersih seperti porselen tanpa dialiri setetes darah pun.
Di bagian lehernya, sebuah irisan rapi dan presisi memotong pembuluh darah utama, menjadi satu-satunya luka mematikan yang merenggut nyawanya.
Jameson melihat kondisi itu dengan sedikit meringis.
Matanya memperhatikan tekstur kulit yang mengeras serta persendian korban yang sudah tidak bisa digerakkan sama sekali.
Jasad pria itu benar-benar kaku.
Jameson menarik kesimpulan cepat di dalam kepalanya: pria ini mungkin saja telah dibunuh beberapa hari yang lalu, dan jasadnya sengaja dibuang di tempat ini tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
Pelakunya sudah sangat ahli dan terlatih, Batin Jameson menggelap.
Siapa pun yang melakukannya, orang itu paham betul cara mengeksekusi korban secara efektif, mengeringkan darahnya di lokasi terpisah, lalu memindahkan mayat yang sudah membeku ini ke dalam area kampus di bawah hidung para penjaga keamanan.
"Profesor Ashford," panggil seorang detektif senior yang mengenakan mantel cokelat, melangkah mendekati Jameson.
"Tim forensik akan mengambil alih tugas sekarang. Kami menyarankan Anda kembali ke area akademik dan mengondisikan para mahasiswa."
"Bagaimana dengan rekaman kamera pengawas di lorong ini?" tanya Jameson dengan suara berat, pandangannya tak beralih dari tim forensik yang mulai memasukkan jasad ke dalam kantong mayat hitam.
Detektif itu menggelengkan kepala pasrah.
"Mati. Semua sinyal kamera di sektor ini diretas dan dimatikan secara periodik dari kemarin hingga jam 7 pagi ini. Seperti yang Anda duga, ini dilakukan oleh profesional."
Jameson mengangguk pelan, memperketat rahangnya.
Insting kewaspadaannya meronta. Kasus ini bukan sekadar kriminalitas biasa; ada pola berbahaya yang sedang merayap masuk ke dalam wilayah kekuasaannya.
Sementara itu, suasana di dalam ruang kelas utama jauh dari kata tenang.
Meskipun pintu-pintu telah dikunci sesuai instruksi keamanan, kehebohan dan rasa penasaran tidak mampu dibendung.
Suara bisik-bisik yang riuh mengudara di setiap sudut amfiteater.
Seraphina dan teman-teman sekelasnya yang lain berkumpul di barisan tengah, mendiskusikan setiap desas-desus mengerikan yang beredar melalui obrolan grup kampus.
"Kau tahu tidak? Katanya korbannya ditemukan dalam kondisi benar-benar kering!" bisik Seraphina dengan mata membelalak antusias bercampur merinding.
Ia memajukan tubuhnya ke arah kerumunan mahasiswi di depannya.
"Tidak ada darah sama sekali di sekitar jasadnya! Bukankah itu sangat gila? Jangan-jangan di kampus kita ada vampir atau semacam makhluk penyedot darah?"
"Jangan konyol, Seraphina!" sahut seorang mahasiswi lain, merapatkan kardigan tebalnya.
"Ini pasti ulah pembunuh berantai!"
”Dan kau tahu hal yang paling membuatku merinding?“
Bukannya takut dan menghentikan pembahasan yang makin liar itu, mereka justru makin penasaran.
Mahasiswi itu menyambung pembicaraan dengan suara yang makin memelan namun menusuk, "Temanku yang transferan dari pantai timur bilang... pola pembunuhan dengan irisan presisi seperti ini pernah terjadi di kampus New York beberapa bulan lalu!"
"Di New York?!" seru Seraphina heboh.
"Iya! Dan yang paling aneh, korbannya itu semuanya laki-laki!" lanjut wanita itu dengan raut wajah tegang.
"Sama persis seperti korban yang ditemukan di belakang gedung Seni Rupa tadi. Semuanya pria muda, mati karena kehabisan darah dari irisan di leher, lalu jasadnya ditinggalkan kaku begitu saja. Entah psikopat mana yang melakukannya... dan apa motif sebenarnya?"
Rata-rata mahasiswa yang mendengar penjelasan itu mendadak bergidik ngeri.
Bulu kuduk mereka berdiri membayangkan ada seorang psikopat berdarah dingin yang sedang berkeliaran di antara mereka, mengincar para pria muda tanpa alasan yang jelas.
Suasana kelas yang tadinya riuh berubah menjadi tegang dan penuh kecemasan.
Di tengah keheningan mencekam dan tatapan ketakutan dari teman-temannya, Hazel yang sejak tadi diam memangku buku catatannya perlahan mendongakkan kepala.
Wajahnya tetap tenang, jernih, dan tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun.
Dengan nada suara yang begitu halus, datar, namun bergetar dingin di udara ruangan, Hazel berkata lirih:
"Mungkin mereka memiliki dosa... dan seseorang sedang menghukumnya."
Deg.
Kalimat singkat itu merayap membelah keheningan ruangan bagai belati yang mengiris es.
"What?!" Seraphina spontan berseru pelan, membelalakkan matanya menatap Hazel dengan pandangan tak percaya.
Seluruh mahasiswi di sekitar mereka membisu seketika.
Tatapan mata Hazel yang dingin dan tanpa ekspresi saat mengucapkan kalimat itu terasa jauh lebih menakutkan daripada rumor pembunuh berantai atau teori vampir yang baru saja mereka bahas.
Kata-kata itu terdengar bukan seperti tebakan, melainkan sebuah vonis yang diucapkan oleh seseorang yang memahami betul arti penghakiman.
"Hazel... kau... kau bercanda, kan?" bisik Seraphina ragu, mengelus lengannya sendiri yang mendadak merinding hebat.
"Suaramu barusan membuatku merasa seolah-olah kau yang memegang pisau itu."
Hazel tidak menjawab. Ia hanya mengukir senyum tipis yang amat sangat anggun—sebuah senyuman misterius yang menyembunyikan rapat-rapat apa yang ada di dalam pikirannya.
Ia kembali menunduk, membuka halaman buku catatannya, dan menggoreskan ujung penanya membentuk garis-garis sketsa tanpa memedulikan tatapan heran dari orang-orang di sekitarnya.
Tepat saat ketegangan di dalam kelas mencapai puncaknya, bunyi klik keras terdengar dari pintu utama aula.
Pintu ganda itu terbuka, dan sosok Jameson Baxter Ashford melangkah masuk.
Aura intimidatif yang dibawanya seketika membungkam seluruh sisa bisik-bisik di dalam ruangan.
Jas hitamnya terpasang rapi, namun garis-garis di wajah tampannya tampak lebih keras dan dingin dari biasanya.
Pandangan matanya yang tajam menyapu seluruh isi amfiteater sebelum akhirnya berhenti dan mengunci sosok Hazel yang sedang menunduk di barisan tengah.
Jameson melangkah menuju podium, mematikan sinyal bahaya dengan tenang.
"Sektor Seni Rupa sudah diamankan oleh pihak kepolisian," ujar Jameson dengan suara beratnya yang mantap dan berwibawa.
"Penyelidikan sedang berjalan, dan pihak kampus memastikan bahwa seluruh area utama sudah berada di bawah pengawasan ketat. Kalian tidak perlu panik."
Meskipun kata-katanya ditujukan untuk seluruh mahasiswa, mata hazel milik Jameson sama sekali tidak teralih dari Hazel.
Ketenangan wanita bertato kupu-kupu itu di tengah kekacauan kampus benar-benar menyengat rasa ingin tahunya.
Ada sesuatu yang tidak cocok dari diri Hazel Rosemary Brooks—seorang wanita berdarah Inggris yang mengaku sebagai mahasiswi seni, memiliki ketenangan abnormal di hadapan bahaya, dan mampu meruntuhkan harga diri seorang Ashford hanya dengan segepok uang.
"Perkuliahan hari ini resmi ditutup," lanjut Jameson tegas. "Seluruh mahasiswa dihimbau langsung pulang ke tempat tinggal masing-masing dan tidak berkerumun di luar gedung."
Para mahasiswa menghela napas lega, dengan terburu-buru mulai merapikan tas dan barang-barang mereka untuk segera pergi dari kampus yang mendadak terasa mencekam tersebut.
"Kecuali Miss Brooks," potong Jameson dingin saat Hazel mulai berdiri menyandang tas tangannya.
Langkah Hazel terhenti.
Seraphina di sampingnya menatap Hazel dengan pandangan campuran antara kasihan, penasaran, dan rasa takut yang masih tersisa dari ucapan Hazel tadi.
"Ada berkas administrasi asisten yang harus kau selesaikan di ruangan saya sekarang," tambah Jameson tanpa memberikan ruang untuk tawar-menawar.
Hazel menghela napas pelan, menepuk lembut bahu Seraphina untuk memintanya pulang terlebih dahulu, lalu mengangguk singkat.
"Baik, Profesor."
...****************...
Beberapa menit kemudian, di dalam ruang kerja pribadi Profesor Ashford yang luas dan bernuansa kayu mahoni yang elegan, pintu kayu tebal tertutup rapat.
Suasana di dalam ruangan itu begitu hening. Jameson melepaskan jas hitamnya, menyangkutkannya di sandaran kursi kerja mewahnya, lalu berbalik menatap Hazel yang berdiri tenang di depan meja kerjanya.
"Kau tidak kelihatan takut, Miss Brooks," buka Jameson, bersedekap dada sembari menatap Hazel dari atas ke bawah.
"Seorang mahasiswa baru saja ditemukan tewas mengenaskan di dekat gedung Seni Rupa—gedung yang sangat ingin kau kunjungi siang ini—dan kau berdiri di sini seolah baru saja menyelesaikan sesi minum teh sore."
Hazel menatap Jameson dengan sepasang mata jernihnya yang tak bergeming.
"Ketakutan tidak akan mengubah fakta bahwa orang itu sudah mati, Profesor. Lagipula, bukankah Anda sendiri yang bilang bahwa kampusnya sudah diamankan?"
Jameson terkekeh sinis, melangkah mendekati Hazel hingga jarak di antara mereka kembali terkikis.
"Jawaban yang sangat diplomatis. Tapi aku melihat matamu saat kita berhadapan di lorong tadi. Kau tidak terkejut mendengar modus pembunuhan itu."
Jameson memiringkan kepalanya, menatap lurus ke dalam iris mata Hazel.
"Irisan presisi di leher. Menguras habis darah korban tanpa menyiksa setetes pun. Pola eksekusi yang sangat rapi... persis seperti kasus-kasus pembunuhan misterius yang terjadi di New York beberapa bulan lalu. Kau datang dari Inggris, tapi apakah kau yakin tidak pernah singgah di New York sebelum mendarat di Los Angeles?"
Pertanyaan itu adalah sebuah jebakan terselubung.
Jameson sedang menguji apakah wanita di hadapannya ini memiliki keterkaitan dengan latar belakang gelap yang sedang membayangi kampus mereka.
Namun Hazel hanya tersenyum tipis—senyuman tenang yang selalu berhasil memancing amarah tertahan di dalam diri Jameson.
"Dunia ini luas, Profesor Ashford," sahut Hazel dengan nada suara yang halus dan lembut.
"Ada banyak hal mengerikan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Jika setiap pola kejahatan harus dihubungkan dengan orang asing yang baru tiba di kota ini, maka Anda harus memeriksa seluruh pendatang di California."
Hazel mengambil satu langkah maju, berani memotong jarak di antara mereka hingga aroma wangi Mawar dan Kayu Cedar miliknya menyapu indra penciuman Jameson.
"Atau mungkin..." bisik Hazel lirih, menatap bibir tegas Jameson sebelum kembali menatap matanya, "...Anda hanya sedang mencari alasan agar bisa terus menahanku di ruangan ini?"
Deg.
Satu kalimat itu membalikkan posisi kekuasaan dalam sekejap.
Jameson merapatkan bibirnya kaku, merasakan sapuan gairah dan kekesalan yang meledak bersamaan di dalam dadanya.
Wanita di hadapannya ini adalah teka-teki paling berbahaya yang pernah ia temui—seorang wanita yang tampak begitu lembut dan rapuh, namun memiliki lidah setajam belati dan keberanian yang sanggup mengimbangi dominasi seorang Ashford.
"Jangan bermain api denganku, Hazel," bisik Jameson dengan suara serak yang berat, menyebut nama depannya untuk pertama kali dengan nada menuntut.
"Aku tidak pernah bermain api, Profesor," balas Hazel tenang, melangkah mundur satu langkah dengan keanggunan sempurna. "Saya hanya ingin menyelesaikan tugas saya sebagai asisten Anda, lalu kembali ke kehidupan saya. Jadi, di mana berkas yang harus saya tandatangani?"
Jameson menatap Hazel dalam-dalam selama beberapa detik, mencoba menembus topeng ketenangan itu, namun nihil.
Pria itu akhirnya berbalik, berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil sebuah map dokumen.
Namun jauh di dalam hatinya, Jameson tahu pasti: pembunuhan berdarah di gedung Seni Rupa, pola New York yang membayangi, dan kehadiran Hazel Rosemary Brooks di kampusnya bukanlah sebuah kebetulan belaka.
Benang-benang takdir yang rumit dan berbahaya baru saja terikat di kota Los Angeles, dan ia tidak akan melepaskan wanita bertato kupu-kupu ini sampai seluruh kebenaran terungkap.
...----------------...
Happy reading 🦋
up up up 🤣